Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • page. 3
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Optimalkan Manajemen Pergudangan dan Sistem FEFO, Mahasiswa Magang Berikan Kontribusi Strategis di CV Tera Sukses Abadi

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Friday, 15 May 2026

GRESIK – Program magang industri kembali menjadi wadah efektif bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu akademik ke dalam dunia kerja nyata. Hal ini dibuktikan oleh dua mahasiswa, Oktarina dan Leisya yang baru saja menyelesaikan periode magang di CV Tera Sukses Abadi, sebuah perusahaan yang berlokasi di Driyorejo, Kabupaten Gresik.

Selama periode 12 Januari hingga 2 April 2026, kedua mahasiswa tersebut terjun langsung di tiga departemen krusial, yakni Administrasi, Produksi, dan Penggudangan. Tidak sekadar menjalankan tugas rutin, mereka berhasil menyusun rekomendasi strategis guna meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Salah satu proyek utama yang dijalankan adalah Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage. Mengingat pentingnya area penyimpanan suhu dingin, Oktarina dan Leisya melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift.

Selain aspek keamanan fisik, mereka juga berfokus pada kualitas stok melalui evaluasi sistem First Expired First Out (FEFO). Dalam proyek ini, mereka menganalisis alur keluar-masuk barang untuk memastikan produk dengan tanggal kadaluarsa terdekat didistribusikan lebih awal.

Langkah ini berkontribusi langsung pada SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), di mana optimalisasi sistem FEFO berperan penting dalam meminimalisir potensi kerusakan produk atau pemborosan inventaris (efisiensi sumber daya).

Melalui proyek “Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage“, kedua mahasiswa melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift. Evaluasi ini kemudian dikembangkan menjadi proyek puncak berupa Rekomendasi Integrasi Tata Letak.

Proyek desain layout gudang komprehensif ini mendukung dua poin SDGs sekaligus:

  • SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan di area gudang melalui pengaturan jalur forklift dan stabilitas tumpukan yang aman.
  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Meningkatkan efisiensi, kecepatan distribusi, serta modernisasi manajemen logistik industri terintegrasi.

Bagi Oktarina dan Leisya, pengalaman selama hampir tiga bulan ini memberikan kesan mendalam, baik dari segi peningkatan kompetensi teknis di bidang administrasi keuangan dan manajemen produksi, maupun pengembangan soft skills. Hal ini selaras dengan pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam mempersiapkan lulusan yang siap terap di industri. 

“Hal yang paling berkesan adalah saat kami terlibat langsung dalam evaluasi di cool storage. Kami tidak hanya belajar teori, tapi melihat nyata bagaimana penataan produk sangat berdampak pada kualitas,” ungkap mereka.

Mereka juga menambahkan bahwa budaya kerja yang suportif di perusahaan sangat membantu proses adaptasi mereka. “Budaya kerja di sini sangat kekeluargaan. Pembimbing dan rekan kerja sangat terbuka dan ramah, yang membuat kami lebih percaya diri untuk beradaptasi di dunia kerja.”

Dengan berakhirnya masa magang ini, kedua mahasiswa tersebut membawa pulang pengalaman berharga mengenai pentingnya kerja sama tim, komunikasi profesional, dan inovasi dalam mendukung performa perusahaan yang optimal.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Memahami Preferensi Konsumen Produk Segar: Cermin Masa Depan Agroindustri Indonesia dan SDGs

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 May 2026

Pergi ke pasar tradisional sambil membawa keranjang sendiri, atau membuka aplikasi daring untuk memesan sayur organik yang diantar dalam dua jam, keduanya kini menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia. Cara konsumen kita memilih dan membeli produk segar (fresh produce) seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya tengah bergeser cepat. Pergeseran ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal penting bagi pelaku agroindustri dan, jika dicermati lebih jauh, bersinggungan langsung dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Beberapa pola perilaku konsumen produk segar di Indonesia menarik untuk diamati. Pertama, kesadaran terhadap kesehatan meningkat signifikan setelah pandemi COVID-19. Konsumen kelas menengah kota besar mulai mempertimbangkan kandungan gizi, residu pestisida, dan kebersihan produk. Berbagai survei lembaga riset pasar menunjukkan willingness to pay untuk produk organik atau berlabel “bebas pestisida” terus naik, meski harganya bisa 20–40 persen lebih mahal dibanding produk konvensional.

Kedua, kemudahan (convenience) menjadi nilai jual baru. Platform e-grocery seperti Sayurbox, TaniHub, hingga fitur belanja segar di marketplace umum tumbuh pesat. Konsumen tidak hanya tertarik karena harga lebih murah, tetapi karena tidak perlu menyentuh, menawar, dan membawa belanjaan sendiri. Bagi generasi muda perkotaan, “pasar” kini adalah sebuah aplikasi di layar ponsel.

Ketiga, transparansi asal-usul produk semakin diminati. Label seperti “dari petani Sleman” atau “dipanen kemarin pagi” terbukti efektif menggugah minat beli. Praktik ini mendorong tumbuhnya pertanian kontrak dan rantai pasok pendek yang menghubungkan konsumen langsung dengan petani.

Gambar 1. Ilustrasi Kondisi Preferensi Konsumen terhadap Produk Segar

Namun di balik tren tersebut, sebagian besar konsumen Indonesia, terutama di pedesaan dan kota kecil, masih sangat sensitif terhadap harga. Pasar tradisional masih menyumbang lebih dari separuh transaksi produk segar nasional. Artinya, pergeseran preferensi tidak seragam. Agroindustri kita menghadapi dua wajah pasar yang harus dilayani sekaligus: konsumen premium yang mencari kualitas dan “cerita” di balik produk, serta konsumen mayoritas yang mengutamakan keterjangkauan.

Dari sudut pandang penulis, dinamika ini sangat relevan dengan setidaknya enam tujuan dalam SDGs. Tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tersentuh ketika konsumen mulai memilih produk bergizi dan aman. Tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak) dan ke-1 (Tanpa Kemiskinan) terbantu bila rantai nilai yang lebih pendek meningkatkan pendapatan petani kecil. Tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) menjadi inti, sebab keputusan konsumen mendorong produsen mengadopsi praktik yang lebih efisien dan rendah limbah. Tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) ikut terlibat ketika preferensi pada produk lokal mengurangi jejak karbon dari pengiriman jarak jauh.

Tantangannya, banyak petani kecil belum siap merespons pergeseran ini. Mereka masih bekerja dalam pola produksi musiman tanpa standar kualitas yang konsisten, tanpa pencatatan, dan dengan akses pasar yang terbatas. Di sinilah peran pendidikan vokasi agroindustri menjadi strategis: menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani sisi produksi (petani) dengan sisi permintaan (konsumen modern), melalui penanganan pascapanen, pengemasan, pelabelan, hingga manajemen rantai pasok berbasis digital.

Memahami preferensi dan perilaku konsumen produk segar bukan sekadar urusan pemasaran. Ia adalah peta jalan untuk membangun agroindustri Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Konsumen yang semakin kritis bisa menjadi kekuatan pendorong perubahan asalkan petani, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah bergerak bersama. Pendidikan vokasi di bidang Pengembangan Produk Agroindustri memiliki kesempatan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya membaca pasar, tetapi juga mampu menerjemahkan preferensi konsumen menjadi inovasi produk yang berdampak pada pencapaian SDGs. Pada akhirnya, sebuah keranjang sayur yang dipilih konsumen pagi ini bisa menjadi sumbangan kecil—tetapi nyata—bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Penulis: Galih Kusuma Ajii, Ph.D.

Editor: Putri Rousan Nabila

Mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri Perkuat Kompetensi Industri Melalui Magang di CV Ganep Lintas Generasi

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 16 April 2026

SURAKARTA – Dalam upaya mewujudkan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (Rani, Nurul, dan Prasetyaning) telah sukses menyelesaikan program magang intensif selama tiga bulan (8 Februari – 8 Mei 2026) di CV Ganep Lintas Generasi, Surakarta. Magang ini bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan langkah nyata dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik industri di salah satu perusahaan roti legendaris di Kota Solo.

Di tempatkan di Divisi Produksi, ketiga mahasiswa terlibat aktif dari hulu hingga hilir dalam pembuatan roti basah dan kering. Fokus utama mereka adalah memastikan standar mutu yang ketat melalui Quality Control (QC). Hal ini mencakup pengukuran teknis seperti memastikan konsistensi rasa dari kadar gulanya (°Brix) dan menjamin keamanan dan daya simpan produk dari tingkat keasamannya (pH). Kegiatan ini secara langsung mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui optimalisasi proses produksi skala UMKM/Industri menengah menuju standar yang lebih presisi. Tak hanya di area produksi, mereka juga berkontribusi pada manajemen rantai pasok. Mulai dari pengemasan, pelabelan, hingga sistem distribusi berbasis barcode. 

Salah satu poin unik dalam pengalaman ini adalah keterlibatan mereka dalam pengolahan Kecik, produk tradisional ikonik dari CV Ganep. Proses penggilingan hingga penyajian yang membutuhkan ketelitian tinggi memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga warisan kuliner lokal di tengah arus modernisasi.

Di luar aspek teknis, lingkungan kerja di Jalan Sutan Syahrir No. 176 ini menempa kemampuan kolaborasi dan komunikasi mereka.

“Pengalaman ini tidak hanya mempertajam kemampuan analisis kami dalam menyelesaikan masalah produksi, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang pentingnya kerja tim dan hubungan kemanusiaan di dunia kerja,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.

Penutupan program magang ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi dunia industri dan berkontribusi pada pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan melalui keilmuan yang ditekuni.

Penulis: Melany Ayudya Syauma Putri
Editor: AMR

Program Studi PPA UGM Raih Akreditasi Baik Sekali Periode Tahun 2026–2031

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Thursday, 16 April 2026

Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, resmi memperoleh peningkatan status akreditasi menjadi “Baik Sekali”, terhitung mulai tanggal 17 Maret 2026 sampai dengan 17 Maret 2031, yang diberikan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Capaian ini menjadi langkah strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan serta penguatan daya saing program studi di tingkat nasional. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan di PPA telah memenuhi standar yang lebih tinggi. Hal tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari kualitas dosen hingga sistem tata kelola akademik. Dengan capaian ini, PPA semakin memperkuat posisinya sebagai program studi vokasi yang kompetitif.

Peningkatan akreditasi ini tidak hanya mencerminkan kualitas pendidikan yang semakin baik, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pengembangan program studi secara menyeluruh. Aspek kurikulum, fasilitas pembelajaran, serta sistem manajemen akademik mengalami penguatan yang signifikan. Perubahan status ini turut meningkatkan kepercayaan publik terhadap Program Studi PPA sebagai institusi pendidikan yang kredibel. Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan minat calon mahasiswa serta memperkuat daya tarik program studi dalam menjaring mahasiswa berkualitas. Selain itu, peningkatan akreditasi juga memperluas peluang kerja sama dengan mitra industri, pemerintah, maupun institusi internasional.

Dalam aspek pendanaan, status akreditasi “Baik Sekali” membuka peluang lebih besar bagi program studi untuk mengakses berbagai skema hibah, baik nasional maupun internasional. Banyak program pendanaan yang memprioritaskan institusi dengan akreditasi tinggi sebagai indikator kualitas. Hal ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan kegiatan akademik, penelitian, serta inovasi di lingkungan PPA. Selain itu, kolaborasi dalam bidang riset dan pengembangan program bersama juga menjadi lebih terbuka. Dukungan pendanaan ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Dampak positif dari peningkatan akreditasi juga dirasakan oleh lulusan Program Studi PPA. Lulusan memiliki peluang yang lebih besar untuk diterima di dunia kerja maupun melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Status akreditasi menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan oleh industri dan institusi pendidikan dalam menilai kualitas lulusan. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan PPA semakin diakui dan memiliki daya saing yang lebih kuat. Dengan demikian, peningkatan akreditasi turut berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang agroindustri.

Di sisi internal, proses peningkatan akreditasi mendorong penguatan sistem manajemen, pengembangan kurikulum, serta pelaksanaan evaluasi berkelanjutan. Perbaikan ini menjadi fondasi penting dalam memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga dan terus meningkat. Program studi juga menjadi lebih adaptif dalam merespons perkembangan kebutuhan industri dan dunia kerja. Upaya ini dilakukan secara sistematis untuk mencapai standar yang lebih tinggi di masa mendatang. Dengan demikian, PPA memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkembang menuju tingkat keunggulan.

Capaian ini juga sejalan dengan komitmen Program Studi PPA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Peningkatan mutu pendidikan berkontribusi pada pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Peningkatan kualitas lulusan turut berkontribusi pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Selain itu, penguatan kolaborasi dengan industri mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui capaian ini, Program Studi PPA menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas kolaborasi, serta menghasilkan lulusan yang adaptif dan siap berkontribusi di sektor agroindustri.

Meningkatkan Mutu Produk Buah Naga Merah Melalui Teknologi Ramah Lingkungan

AgendaInformasi TerkiniRiset Tuesday, 24 December 2024

Dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), penelitian tentang pengaruh buah naga merah terhadap mutu produk kering-beku menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan dalam sektor pertanian. Penelitian ini fokus pada pengembangan produk pangan berkualitas tinggi dengan metode pengeringan beku ( freeze dry ) yang ramah lingkungan.

Buah naga merah, yang merupakan salah satu komoditas unggulan di Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki umur simpan pendek akibat kerentanannya terhadap kerusakan mikrobiologis. Penelitian yang dilakukan oleh Fahrizal Yusuf Affandi bersama tim dari Sekolah Vokasi UGM ini mengidentifikasi umur panen optimal dan parameter operasional terbaik untuk menghasilkan buah naga kering-beku berkualitas tinggi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat kematangan tidak mempengaruhi kadar air atau betasianin, hasil optimal dicapai dengan mempertimbangkan kekerasan tekstur dan warna produk akhir. Dengan memanfaatkan metode non-termal ini, pengeringan beku mampu mempertahankan tekstur dan warna alami buah, mendukung target SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengurangan limbah pangan.

Inovasi ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan daya saing produk lokal di pasar internasional, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Langkah ini mempertegas pentingnya sinergi antara penelitian dan pemberdayaan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber:

Data diadaptasi dari Prosiding SNTT 2024 oleh Fahrizal Yusuf Affandi dan tim.

Membanggakan! Dosen PPA, Dr. Wildan Fajar Bachtiar, Raih Gelar Doktor Teknik Industri dengan Publikasi Internasional: Dukung Industri Pangan Halal Berkelanjutan Sesuai Target SDGs

Informasi Terkini Friday, 1 November 2024

Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S., dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang Teknik Industri dan diwisuda pada tanggal 24 Oktober 2024. Bukan hanya berhasil lulus doktor, penelitian disertasi beliau juga berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya di bidang industri pangan halal. Melalui disertasinya, Dr. Wildan mengusulkan kerangka kerja keberlanjutan yang mendukung industri pengolahan daging halal, sejalan dengan komitmen SDGs terhadap produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab (SDG 12) serta peningkatan ekonomi berkelanjutan (SDG 8). 

 

Tidak hanya berhasil mempertahankan disertasinya, Dr. Wildan juga menerbitkan hasil penelitiannya dalam Journal of Islamic Marketing yang terindeks Scopus Q2. Dalam artikelnya, “Halal Food Sustainable Traceability Framework for the Meat Processing Industry,” Dr. Wildan menyoroti pentingnya sistem pelacakan terpadu untuk menjamin kehalalan produk sambil mengoptimalkan rantai pasok yang ramah lingkungan. Di tengah tren global yang mendorong produk halal berkelanjutan, sistem ini memberikan panduan praktis bagi industri untuk menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen secara jangka panjang.  

Kehadiran Dr. Wildan sebagai doktor di Sekolah Vokasi UGM menjadi kebanggaan bagi institusi dan diharapkan mampu memberi inspirasi dan dorongan kepada mahasiswa serta rekan-rekan sejawat untuk terus mengembangkan penelitian yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya dalam mendukung perkembangan agroindustri dan sistem pangan yang lebih baik di masa depan. Sekali lagi, seluruh rekan kerja dan mahasiswa PPA mengucapkan selamat dan bangga kepada Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S. 

Penguatan Literasi Keuangan, Wujudkan Wirausaha Difabel yang Berkelanjutan

AgendaInformasi TerkiniInspirasi Kewirausahaan Tuesday, 22 October 2024

Dalam usaha berkontribusi mewujudkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Naik Kelas, Tim Pengabdian Masyarakat Desa Binaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) 2024 yang dipimpin oleh Anjar Ruspita Sari, S.T.P., M.Sc., menyelenggarakan pelatihan terkait Pengelolaan Keuangan. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh perwakilan dari Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) Santika, tetapi juga diikuti oleh peserta dari berbagai kelompok masyarakat seperti KWT Mawar, KWT Bunda Mandiri, Pupuk Organik Degung, Desa Prima, Jamur Crispy Nglotak, Mekar Sari Nglotak, UPPKS Degung, Kelompok Sereinity Kalipeten, Kelompok Nila Lestari Ngrandu, dan UPPKS Kue.

Sesi pelatihan dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama berfokus pada Literasi Keuangan untuk Usaha Kecil, yang disampaikan oleh Ibu Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D. dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Sesi ini memberikan wawasan tentang pemisahan keuangan usaha dan penentuan biaya produksi, memungkinkan UKM untuk menerapkan manajemen keuangan yang efektif dan lebih memahami biaya produksi. Pengetahuan ini sangat penting bagi para wirausaha difabel untuk berkembang di pasar yang kompetitif dan memastikan keberlanjutan usaha mereka.

 

Bagian kedua pelatihan dipimpin oleh Dr. Faiz Zamzami, S.E., M.Acc., QIA., CMA., CAPM., CAPF., CRA., CACP dari Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Sekolah Vokasi UGM. Ia membahas Membangun Motivasi dan Strategi untuk Keberhasilan UKM sebagai kiat untuk mewujudkan wirausaha tangguh. Wawasan yang diberikan bertujuan untuk memberdayakan peserta dalam mengembangkan strategi bisnis yang kuat untuk menghadapi tantangan pasar.

 

Sugeng Nugroho, kepala desa Kaliagung, menyatakan dukungannya yang kuat terhadap program ini, menyoroti kesesuaiannya dengan inisiatif lokal untuk menanam tanaman benguk, yang bertujuan menciptakan lumbung benguk yang berkelanjutan di Kaliagung. Desa telah mengalokasikan dana untuk mendukung penanaman benguk di area seluas 27 hektar dan menyediakan pupuk organik. Inisiatif ini diharapkan dapat memastikan bahwa sumber pangan khas lokal, Koro Benguk, dapat diproduksi secara mandiri. Sugeng menekankan bahwa upaya ini sangat penting untuk membangun semangat wirausaha yang tangguh di Kaliagung, terutama saat desa bersiap untuk menjadi destinasi wisata di masa mendatang.

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada manajemen keuangan tetapi juga menekankan pentingnya kolaborasi komunitas dalam meningkatkan kemampuan para wirausaha lokal. Peserta didorong untuk berbagi pengalaman dan tantangan mereka, menciptakan lingkungan yang mendukung untuk belajar dan berkembang. Pendekatan kolaboratif ini sangat penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan pekerjaan layak untuk semua.

Acara ini merupakan bukti komitmen UGM dan masyarakat lokal dalam membangun ekosistem yang mendukung wirausaha berkelanjutan. Dengan dukungan dan kolaborasi yang berkelanjutan, Kaliagung siap menjadi model bagi desa-desa lain yang ingin meningkatkan ekonomi lokal mereka melalui pemberdayaan UKM.

Inovasi Minuman Cokelat: Transformasi Kakao Indonesia Menuju Pasar Global dan SDGs

Informasi TerkiniLaboratoriumRiset Wednesday, 16 October 2024

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia, namun produk hilir kakao seperti minuman cokelat instan masih belum berkembang secara signifikan. Menurut laporan dari tim peneliti, banyak produsen kecil di wilayah Yogyakarta yang menghasilkan bubuk kakao dengan kandungan lemak tinggi, sekitar 27% hingga 36%. Potensi inilah yang mendorong penelitian untuk mencari solusi inovatif guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk kakao Indonesia.

Inovasi dalam industri minuman instan terus berkembang, dan kakao lokal Indonesia kini mendapat perhatian lebih besar. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., menyoroti potensi bubuk kakao lokal untuk dikembangkan menjadi minuman cokelat instan berkualitas tinggi. Penelitian ini mengkaji penggunaan bubuk kakao rendah lemak dan tinggi lemak, yang diproses dengan dua metode, yaitu spray drying dan freeze drying. Studi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas produk, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 2 tentang ketahanan pangan, dan SDG 8 terkait pertumbuhan ekonomi.

Metode spray drying dikenal lebih efisien dan cepat dalam menghasilkan minuman instan, meskipun dapat mengurangi beberapa kandungan nutrisi, seperti antioksidan, karena suhu tinggi yang digunakan. Sebaliknya, metode freeze drying, meskipun lebih lambat dan memerlukan biaya lebih tinggi, mampu mempertahankan kandungan nutrisi secara lebih optimal. Penelitian ini secara menyeluruh membandingkan kedua metode tersebut dalam hal kelarutan, viskositas, serta kandungan kimia dan fisik minuman cokelat yang dihasilkan.

Selain dari aspek teknis, penelitian ini diharapkan dapat membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi petani dan produsen kakao di Indonesia. Dengan menciptakan produk bubuk minuman cokelat instan yang berkualitas, penelitian ini membuka peluang pasar baru yang lebih luas, sekaligus mendukung peningkatan pendapatan petani lokal. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mendorong praktik pertanian berkelanjutan dan mendukung SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Tantangan bagi petani kakao lokal selama ini adalah meningkatkan nilai tambah produk mereka agar mampu bersaing di pasar global. Penelitian ini berkontribusi dengan memberikan wawasan mengenai optimalisasi penggunaan kakao lokal. Hasil penelitian juga memperkuat peluang Indonesia dalam memasarkan produk minuman instan berkualitas, baik di pasar domestik maupun internasional. Minuman cokelat instan berbasis kakao lokal memiliki potensi besar untuk diekspor, mengangkat posisi Indonesia dalam industri minuman instan di kancah global.

Membangun Ekonomi Inklusif: Sinergi Perguruan Tinggi dan Komunitas Difabel sebagai Motor Penggerak Ekonomi Lokal

AgendaInformasi TerkiniInspirasi Kewirausahaan Wednesday, 9 October 2024

Prodi Pengembangan Produk Agroindustri bersinergi dengan Kelompok Difabel Kalurahan Kaliagung, Kulon Progo untuk mendukung pengembangan UMKM lokal. Inisiatif ini berfokus pada pendampingan perbaikan produksi dan pengelolaan keuangan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing bisnis lokal. Program ini diketuai oleh Ibu Anjar Ruspita Sari, S.T.P., M.Sc., bersama dengan anggota tim yang terdiri dari Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. (Prodi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi UGM), Dr. Faiz Zamzami, S.E., M.Acc., QIA., CMA., CAPM., CAPF.,CRA.,CACP (Prodi Akuntansi Sektor Publik, Sekolah Vokasi UGM), beserta Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D. (Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomikas dan Bisnis UGM). UMKM yang terlibat dalam program ini adalah Dapur Mucuna Chips, yang dikelola oleh Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Santika Kaliagung KDK Santika, yang merupakan akronim dari “Sanajan Alpita Nir Tikel ing Kaliagung” (meski memiliki kekurangan, tetap bermanfaat di Kaliagung). UMKM ini memproduksi keripik berbahan dasar kacang Kara Benguk yang merupakan produk khas lokal.

 

Sejak didirikan pada September 2023, Dapur Mucuna Chips berhasil memberdayakan komunitas difabel dengan menawarkan produk inovatif. Nama “Mucuna” berasal dari nama latin kacang kara benguk, bahan utama produk mereka. UMKM ini telah menunjukkan peranan dalam pemanfaatan komoditas lokal yang memiliki nilai tambah.

Mahasiswa Prodi Pengembangan Produk Agroindustri semester 4 yang terdiri dari Achmad Yoga Sundava, Muhammad Abdullah Muzaki, Woro Puspita,  Nara Husnal Aufa, Nabila Widalista Putri, dan Jihan Dzakiyyatun Habibah juga turut serta dalam program ini melalui kegiatan praktik kerja lapang. Kolaborasi ini menjadi contoh sinergi yang baik antara perguruan tinggi dan komunitas difabel yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, selaras dengan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Winarno, perwakilan dari KDK Santika, mengungkapkan rasa terima kasih atas perbaikan yang dilakukan pada tata letak produksi, menyatakan, “Hasil perbaikan tata letak oleh adik-adik PKL sangat bermanfaat bagi kami. Ketika kami memiliki program perbaikan Dapur Mucuna, kami langsung menerapkannya.”

Dapur Mucuna Chips juga mendapatkan dukungan dari Dana Keistimewaan Yogyakarta dan Bank Syariah Indonesia yang mendukung dalam hal perbaikan infrastruktur dan pemutakhiran fasilitas produksi. Program ini tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga mendukung inklusivitas dengan memberdayakan kelompok difabel, menjadikannya model yang dapat diadopsi oleh UMKM lain di daerah tersebut.

Pelatihan yang disampaikan pada 7 September disampaikan oleh Ibu Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. tentang aturan label kemasan sesuai BPOM No 20 tahun 2021, serta Ibu Anjar Ruspita Sari, S.T.P., M.Sc. tentang Prinsip Umum Higiene Pangan SNI CAC/RCP 1:2011. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas difabel di Kulon Progo menjadi sinar harapan untuk pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Dengan memberdayakan UMKM seperti Dapur Mucuna Chips, inisiatif ini membuka jalan menuju masa depan yang lebih inklusif dan sejahtera bagi semua.

Tim Pengabdian PPA SV UGM Mengoptimalkan Potensi Pertanian Lokal Bawang Merah di Kulon Progo untuk mendukung SDGs nomor 8 dan 17 

AgendaInformasi Terkini Tuesday, 24 September 2024

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada melaksanakan program lanjutan yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi bawang merah di Kelurahan Demangrejo, Sentolo, Kulon Progo. Pengabdiaan yang diketuai oleh Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. ini beranggotakan Galih Kusuma Aji, S.T.P., M.Agr., PhD., Dr.Eng Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., Anjar Ruspita Sari, S.T.P., M.Sc., Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S., Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, S.T.P., M.Sc., Putri Rousan Nabila, S.T., M.T., dan Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc. Terdapat dua agenda utama pada pengabdian yang didanai oleh Sekolah Vokasi UGM ini, yakni sosialisasi dan pelatihan. Kegiatan dilaksanakan sejak Juni hingga November 2024 dengan mendatangkan masyarakat sekitar yang terdiri dari Gabungan Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani (Kelompok Desa Prima). 

“Pengabdian masyarakat di Kelurahan Demangrejo ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para petani untuk melakukan budidaya yang tepat pada komoditas bawang merah, meningkatkan pengetahuan tentang pengembangan produk olahan bawang merah, serta menciptakan satu produk olahan yang dapat dijadikan sebagai produk unggulan disana”, ujar Sang Norma Lintang Asmara, Jum’at (20/9). 

Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi pembibitan bawang merah dan sosialisasi pengembangan produk bawang merah yang dilaksanakan di Balai Keluragan Demangrejo dan dihadiri oleh 20 perwakilan kelompok tani. Rangkaian selanjutnya adalah pelatihan budidaya bawang merah di lahan pertanian setempat dan pelatihan pembuatan produk olahan bawang merah di Gedung Field Research Center UGM. Tim PkM turut menghadirkan narasumber dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Yogyakarta guna memberikan wawasan terkait pembibitan dan pelatihan budidaya bawang merah. Serangkaian kegiatan ini sangat disambut baik oleh masyarakat setempat. Mereka mengharapkan adanya pelatihan dan pendampingan lanjutan agar diperoleh hasil yang maksimal pada hasil budidaya dan pembuatan olahan bawang merah disana.    

Melalui program ini, Tim Pengabdian Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada berkomitmen untuk terus memberikat kontribusi nyata pada pengembangan desa sebagai wujud partisipasi dalam SDGs nomor 8 yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta nomor 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. 

1234

Recent Posts

  • Kick Off Halal Nexus Dorong Kolaborasi Akademisi Perkuat Ekosistem Halal Indonesia
  • Dari Kulit Melon Menjadi Bahan Baku Pangan Fungsional Bernilai: Inovasi Ekonomi Sirkular untuk Industri Pangan
  • Lulusan Pengembangan Produk Agroindustri UGM Angkatan 2020 Raih Penilaian Sangat Positif dari Industri
  • Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer
  • UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY