Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Informasi Terkini
Arsip:

Informasi Terkini

Terjun ke Lini Produksi Mondelez, Mahasiswa Dalami Kualitas Produk dan Efisiensi Manufaktur Pangan

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Bekasi — Dunia industri manufaktur pangan menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan analisis yang kuat dalam setiap tahapan produksi. Pengalaman tersebut diperoleh Ferania Yusuf, melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, yang berlokasi di Jl. Jababeka VII Kav-K2, Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan magang berlangsung pada 12 Januari hingga 4 April 2026. Selama program berjalan, Ferania ditempatkan pada Production Line. Melalui penempatan tersebut, ia berkesempatan mempelajari secara langsung alur produksi, pengendalian mutu, performa mesin, hingga proses pengemasan dalam industri pangan berskala besar.

Melalui kegiatan ini, Ferania memperoleh pemahaman bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh kestabilan proses produksi, ketepatan pengaturan mesin, efektivitas kerja tim, serta konsistensi pengawasan di lapangan.

Salah satu project utama yang dikerjakan adalah Analisis Variasi Berat Produk pada Proses Sandwiching. Kegiatan ini berfokus pada pengamatan dan pengambilan data berat produk biskuit sandwich, khususnya pada proses pengisian krim. Pengambilan data dilakukan secara berkala pada seluruh row produksi untuk membandingkan berat base cake, krim, dan produk akhir. Melalui project ini, mahasiswa dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi berat produk serta kualitas hasil produksi.

Selain project utama, Ferania juga terlibat dalam kolaborasi project terkait Evaluasi Penyebab Waste Produk dan Performa Mesin. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi langsung terhadap proses produksi, termasuk kondisi operasional mesin, perbedaan jenis mesin, kecepatan produksi, serta sistem pengaturan pada masing-masing row. Pengamatan tersebut membantu mahasiswa memahami hubungan antara performa mesin dan kualitas produk yang dihasilkan.

Project lainnya adalah Analisis Loss Packaging dan Monitoring Proses Produksi. Pada kegiatan ini, Ferania melakukan pengamatan terhadap proses pengemasan untuk mengidentifikasi penyebab kehilangan material packaging. Fokus pengamatan meliputi proses pergantian roll, tahap awal produksi, serta berbagai bentuk ketidaksesuaian kemasan, seperti seal yang tidak sempurna, lipatan yang kurang presisi, dan ketidaksesuaian cetakan. Selain itu, dilakukan pula monitoring terhadap checklist produksi dan cleaning untuk memastikan kesesuaian antara pencatatan dan kondisi aktual di lapangan.

“Selama magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga, terutama dalam memahami alur produksi di industri pangan berskala besar. Saya belajar bahwa kualitas produk tidak hanya bergantung pada bahan baku, tetapi juga pada ketelitian proses, performa mesin, kerja sama tim, dan pengawasan yang konsisten di lapangan,” ujar Ferania.

Kegiatan magang ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan pengalaman pembelajaran langsung di dunia industri. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja profesional.

Pembelajaran mengenai efisiensi produksi, performa mesin, dan pengurangan waste juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pengalaman ini, mahasiswa memahami pentingnya proses produksi yang efisien, terkontrol, dan berorientasi pada kualitas.

Tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, Ferania juga mengembangkan berbagai soft skill, seperti komunikasi profesional, kerja sama tim, kemampuan beradaptasi, ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Kemampuan berpikir analitis juga semakin terasah melalui proses identifikasi masalah dan pencarian solusi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Ferania menyampaikan bahwa salah satu hal paling berkesan selama magang adalah kesempatan untuk merasakan langsung dinamika dunia kerja di industri manufaktur pangan berskala besar. Lingkungan kerja yang terbuka dan suportif turut mendukung proses pembelajaran karena memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan terlibat langsung dalam kegiatan produksi.

Melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, diharapkan mampu memperkuat kompetensi teknis dan profesional di bidang industri pangan. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia kerja secara lebih nyata serta siap berkontribusi di lingkungan industri yang dinamis, kompetitif, dan berorientasi pada mutu.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Mahasiswa PPA UGM Pelajari Riset Pasar dan Pengembangan Produk Bersama Praktisi dari Nestlé

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM telah menyelenggarakan kuliah tamu bagi mahasiswa angkatan 2025 pada hari Sabtu, 30 Mei 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari mata kuliah Pemasaran yang diampu oleh Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. Kuliah tamu menghadirkan Aldian Farabi, S.T.P., M.S., National Key Account Manager di Nestlé, dengan topik “Penerapan Riset Pasar dalam Pengembangan Produk dan Pengambilan Keputusan pada Industri Food and Beverage.”

Melalui kuliah tamu, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya riset pasar dalam mendukung pengembangan produk dan pengambilan keputusan bisnis di industri pangan dan minuman. Narasumber menjelaskan bagaimana data dan informasi konsumen dapat dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan pasar, mengidentifikasi peluang bisnis, serta meminimalkan risiko dalam peluncuran produk baru. Pemahaman tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Selain membahas konsep dasar riset pasar, praktisi juga membagikan berbagai studi kasus yang relevan dengan industri pangan dan fast-moving consumer goods (FMCG). Melalui contoh produk yang beredar di pasar, mahasiswa diajak memahami bagaimana perusahaan menggunakan hasil riset pasar sebagai dasar dalam proses pengembangan produk, mulai dari tahap pencarian ide, pengujian konsep, hingga peluncuran produk. Materi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai keterkaitan antara riset pasar, inovasi produk, dan strategi bisnis yang diterapkan di industri.

Sesi diskusi berlangsung secara interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa. Berbagai pertanyaan diajukan terkait tantangan pelaksanaan riset pasar, pemanfaatan data konsumen dalam pengembangan produk pangan, serta penerapan strategi pemasaran yang relevan dengan kondisi industri di Indonesia. Antusiasme mahasiswa menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap penerapan ilmu pemasaran dalam dunia kerja, khususnya pada sektor pangan dan minuman.

Penyelenggaraan kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya Program Studi PPA dalam menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri. Kehadiran praktisi industri diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai penerapan konsep pemasaran dalam industri food and beverage.

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman praktis dari industri, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kompetensi mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan riset pasar untuk mendorong inovasi produk dan pengambilan keputusan berbasis data.

Persiapkan Kurikulum Terbaru, PPA Bekali Mahasiswa Angkatan 2024 Hadapi Program Magang di Industri 

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Pada Rabu, 3 Juni 2026, program studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM menyelenggarakan Workshop Magang bagi mahasiswa angkatan 2024 sebagai persiapan pelaksanaan magang industri pada semester 6. Kegiatan ini menghadirkan Arza Mandega P., S.T.P., selaku Manager Produksi PT Mazaraat, dan Gayuh Ardian Fajri sebagai narasumber yang membagikan pengalaman serta wawasan terkait dunia industri, khususnya dalam hal kesiapan mahasiswa menghadapi proses magang, pengembangan jejaring profesional, serta strategi memanfaatkan peluang di lingkungan kerja. 

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari pihak program studi mengenai implementasi kurikulum terbaru yang mulai diterapkan pada angkatan 2024. Kepala Program Studi PPA UGM, Dr.Eng. Annie Mufyda Rahmatika, menjelaskan bahwa magang merupakan bagian penting dari proses pembelajaran Vokasi yang bertujuan memperkuat keterkaitan antara kompetensi akademik dan kebutuhan industri.

Data Sosialisasi Magang 2026 

Workshop juga menghadirkan Nadia ABM, S.T.P., M.FoodScTech. selaku penanggung jawab program magang PPA yang memaparkan alur pelaksanaan magang serta berbagai persiapan yang perlu dilakukan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Materi yang disampaikan mencakup proses pencarian industri, pengajuan magang, hingga berbagai hal yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan magang.

Antusiasme mahasiswa terlihat selama sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan terkait pemilihan perusahaan, bidang magang yang sesuai dengan minat, serta strategi menghadapi proses seleksi. Diskusi ini menunjukkan tingginya minat mahasiswa dalam mempersiapkan diri memasuki dunia industri secara lebih terarah.

Melalui workshop magang ini, PPA UGM berharap mahasiswa, khususnya angkatan 2024, dapat mempersiapkan diri dengan lebih matang sebelum memasuki dunia industri. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen program studi dalam menghadirkan pendidikan vokasi yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan industri, serta mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.

Kegiatan tersebut juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman kerja, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kesiapan mahasiswa memasuki dunia profesional, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Inovasi Hijau UGM: Sulap Limbah Sekam Padi Menjadi Bioplastik Kemasan Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Tuesday, 16 June 2026

YOGYAKARTA – Tim peneliti dari Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan sebuah inovasi material ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah sekam padi menjadi bahan baku bioplastik. 

Penelitian yang dipimpin oleh Annie Mufyda Rahmatika bersama timnya ini mengusung tema besar “Exploring the green syntheses, Technologies, and Material for Sustainable Future”. Langkah inovatif ini menjadi sumbangsih nyata dari dunia akademis dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. 

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen padi terbesar dunia, dengan hasil giling kering mencapai sekitar 54,75 juta ton per tahun. Namun, proses penggilingan ini juga menghasilkan limbah berupa sekam padi yang melimpah, yakni sekitar 20% dari total berat gabah kering. 

Selama ini, potensi sekam padi belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal, limbah pertanian ini memiliki kandungan kimiawi yang sangat berharga, yaitu selulosa sekitar 36–40%, hemiselulosa 12–19%, dan lignin 20%. Karakteristik selulosa dari sekam padi ini menyimpan keunggulan alami berupa kemampuan terurai secara hayati (biodegradability), struktur kristalinitas yang baik, kekuatan mekanis yang kokoh, serta sifatnya yang tidak beracun (nontoxic). 

Berbeda dengan proses isolasi selulosa konvensional di industri yang kerap menggunakan zat kimia berbahaya seperti klorin, amonia, atau asam kuat (seperti H2SO4 dan HCl) yang berisiko mengalami kebocoran dan mencemari lingkungan , tim peneliti UGM memilih jalur kimia hijau. 

Proses delignifikasi (pemisahan lignin) dilakukan menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) dan peracetic acid (asam perasetat). Penggunaan asam lemah sekaligus oksidan kuat ini dinilai jauh lebih aman, efisien, tidak menghasilkan produk sampingan pembusukan yang berbahaya, serta mampu memisahkan lignin dengan tingkat kemurnian selulosa yang tinggi. 

Secara teknis, proses pembuatan bioplastik ini melalui tiga tahapan utama:

  1. Isolasi Selulosa: Sekam padi diekstraksi di dalam autoklaf menggunakan NaOH dan dihidrolisis dengan peracetic acid, menghasilkan bubuk selulosa putih murni dengan rendemen (yield) mencapai 40% dan tingkat kristalinitas 30%. 
  2. Sintesis Carboxymethyl Cellulose (CMC): Selulosa yang didapat kemudian diubah menjadi CMC melalui proses alkalisasi dan karboksimetilasi menggunakan asam monokloroasetat, yang terbukti memenuhi standar nasional yang ditetapkan Indonesia. 
  3. Pembuatan Bioplastik: Bubuk CMC hasil sintesis diformulasikan dengan senyawa Polyethylene Glycol (PEG) sebagai agen pelentur (plasticizer), kemudian dicetak dan dikeringkan menjadi lembaran bioplastik. 

Karakteristik Unggul: Siap Gantikan Plastik Konvensional

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, formulasi terbaik ditemukan pada komposisi rasio seimbang  antara CMC dan PEG. Formulasi ini menghasilkan bioplastik dengan tingkat kejernihan (clarity) paling optimal. 

Lebih dari itu, bioplastik berbasis sekam padi ini menunjukkan karakteristik mekanis yang sangat bersaing dengan Polylactic Acid (PLA)—jenis plastik biodegradable komersil yang saat ini umum digunakan di dunia dari sisi Kekuatan Tarik (Tensile Strength), Regangan Putus (Elongation at Break), Massa Jenis (Density), dan Kemampuan Segel Panas (Heat-Sealability).

Melalui publikasi riset ini, tim Sekolah Vokasi UGM membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya terbarukan yang dilakukan secara bertanggung jawab mampu menjawab tantangan lingkungan global. Inovasi bioplastik sekam padi ini secara langsung mempercepat pencapaian tiga poin penting SDGs, yaitu: 

  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Mendorong lahirnya inovasi teknologi material baru berbasis riset sirkular domestik dan proses manufaktur berkelanjutan.
  • SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Mengurangi penumpukan limbah sektor agrikultur sekaligus menyediakan alternatif kemasan ramah lingkungan guna menekan ketergantungan pada plastik sekali pakai.
  • SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Berpotensi menekan emisi karbon global karena proses produksinya menghindari bahan bakar fosil dan tidak menghasilkan residu beracun yang merusak ekosistem bumi. 

Riset ini memberikan pandangan baru yang berharga bahwa dengan meminimalkan penggunaan asam kuat berbahaya, industri masa depan tetap mampu memproduksi material fungsional bernilai ekonomi tinggi tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan hidup. 

Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 16 June 2026

Semarang — Pengembangan produk pangan tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam menciptakan formula, tetapi juga ketelitian dalam memahami karakteristik bahan, melakukan pengujian, serta mengevaluasi hasil secara berulang. Pengalaman tersebut diperoleh Latifah Khoirun Nisa, melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kegiatan magang dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan, mulai 2 Februari hingga 25 Mei 2026. Selama program berlangsung, Latifah ditempatkan pada Divisi Research and Development (R&D). Melalui divisi ini, ia berkesempatan mempelajari secara langsung proses riset dan pengembangan produk, mulai dari identifikasi karakteristik bahan, penyusunan formula, trial-and-error formula produk, hingga evaluasi hasil agar sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan.

Dalam kegiatan magang tersebut, Latifah juga terlibat dalam proses uji hedonik, yaitu pengujian tingkat kesukaan panelis terhadap sampel produk. Hasil uji hedonik kemudian dianalisis sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan formula yang paling sesuai. Proses ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan produk pangan memerlukan tahapan yang sistematis, mulai dari percobaan, pengujian, analisis, hingga penyempurnaan formula.

Selain mempelajari formulasi produk, Latifah juga memperoleh pengalaman dalam pengujian beberapa jenis tepung. Pengujian tersebut meliputi kadar air, pH, gelatinisasi, dan parameter lainnya yang berkaitan dengan karakteristik bahan. Data hasil pengujian ini menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk karena dapat memengaruhi kualitas, tekstur, stabilitas, dan kesesuaian produk akhir.

Kegiatan magang ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya adalah SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran berbasis praktik langsung di dunia industri. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan analisis, serta kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Selain itu, kegiatan riset, formulasi, dan pengujian produk juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Proses pengembangan formula dan evaluasi produk menunjukkan pentingnya inovasi dalam industri pangan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu dan kebutuhan konsumen.

Pemahaman mengenai karakteristik bahan, efisiensi penggunaan bahan, serta evaluasi produk juga mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan R&D, mahasiswa belajar bahwa proses produksi pangan perlu memperhatikan kualitas, ketepatan formulasi, serta tanggung jawab dalam menghasilkan produk yang aman dan bermutu.

Pengalaman magang ini turut mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis yang relevan dengan dunia kerja. Selama magang, Latifah tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga belajar mengenai ketelitian, kedisiplinan, kemampuan menyelesaikan masalah, serta pentingnya beradaptasi dalam lingkungan kerja industri.

Latifah menyampaikan bahwa pengalaman paling berkesan selama menjalani magang adalah dapat melihat secara langsung proses di balik pembuatan suatu produk, mulai dari tahap awal pengembangan hingga produk siap diarahkan sesuai kebutuhan konsumen.

Melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri UGM diharapkan mampu memperkuat kompetensi di bidang riset dan pengembangan produk pangan. Program ini juga menjadi sarana penghubung antara dunia pendidikan dan dunia industri, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman nyata sebagai bekal untuk berkontribusi di dunia profesional.

Penulis: Melany Ayudya

Editor: AMR

Di Balik Mutu Nanas Kaleng: Mahasiswa Agroindustri Belajar Quality Control di Great Giant Foods

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Wednesday, 3 June 2026

LAMPUNG TENGAH – Di balik produk pangan yang sampai ke tangan konsumen, terdapat proses pengendalian mutu yang panjang dan ketat. Hal inilah yang dipelajari secara langsung oleh dua mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Octhateani dan Mutia, selama mengikuti program magang industri di Great Giant Foods (PT Great Giant Pineapple), Lampung Tengah.

Magang yang berlangsung pada 19 Januari hingga 2 Mei 2026 ini dilaksanakan di fasilitas perusahaan yang berlokasi di Jl. Raya Lintas Timur Arah Menggala, Km. 77 Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung. Selama kegiatan berlangsung, kedua mahasiswa ditempatkan di Divisi Quality Control yang berperan penting dalam menjaga kualitas produk agar tetap sesuai dengan standar perusahaan maupun permintaan buyer.

Melalui kegiatan magang ini, Octhateani dan Mutia tidak hanya belajar mengenai proses pengujian mutu, tetapi juga mengasah kemampuan profesional seperti manajemen waktu, analisis dan penyajian data, komunikasi, serta pemecahan masalah. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami ritme kerja industri secara langsung.

Dalam proyeknya, Octhateani berfokus pada validasi proses termal atau pasteurisasi produk nanas kaleng. Pengujian dilakukan menggunakan pendekatan worst case untuk memastikan proses pasteurisasi mampu mencapai standar yang ditetapkan, terutama dalam mendukung inaktivasi mikroba. Ia juga melakukan pengujian distribusi panas pada retort untuk melihat pemerataan suhu, serta validasi raw juice dalam buffer tank guna mengetahui batas waktu penundaan sebelum kualitas produk mengalami penurunan secara sensoris.

Sementara itu, Mutia mengkaji proses pelabelan, pengemasan, dan pengendalian mutu produk akhir. Melalui pendekatan Six Sigma, ia menganalisis penyimpangan pada proses labelling and packaging untuk menyusun rencana perbaikan. Selain itu, ia juga mempelajari pengaruh variasi fill weight dan style produk terhadap perubahan drained weight, sehingga dapat memberikan insight bagi proses produksi nanas kaleng.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Quality Control bukan hanya tentang memeriksa produk akhir, tetapi juga memastikan setiap tahapan produksi berjalan sesuai standar. Mulai dari proses termal, pengemasan, pelabelan, hingga kesesuaian produk dengan kebutuhan buyer, semuanya menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.

Program magang ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pengalaman langsung di industri, mahasiswa dapat memahami bagaimana inovasi, efisiensi, dan pengendalian mutu berperan dalam mendukung produksi pangan yang berkelanjutan.

Bagi Octhateani dan Mutia, salah satu hal paling berkesan selama magang adalah lingkungan kerja yang ramah dan terbuka terhadap mahasiswa magang. Suasana tersebut membuat mereka lebih leluasa untuk belajar, bertanya, dan terlibat dalam kegiatan perusahaan.

“Lingkungan kerja di Great Giant Foods sangat ramah dan terbuka bagi anak magang. Kami merasa diberi kesempatan untuk belajar langsung, berdiskusi, dan memahami proses pengendalian mutu di industri secara lebih nyata,” ungkap mereka.

Melalui program magang ini, mahasiswa diharapkan mampu membawa pengalaman dan wawasan baru dalam bidang Quality Control, sekaligus semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja di industri pangan yang terus berkembang.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Belajar Mutu dari Lini Produksi: Mahasiswa Agroindustri Kembangkan Kompetensi QA di Garuda Beverage Sukses

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Wednesday, 27 May 2026

BOGOR – Dunia industri menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sekaligus memahami penerapan ilmu secara langsung. Melalui program magang industri, dua mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Melany dan Fasa, berkesempatan menjalani pengalaman praktik di PT Triteguh Manunggal Sejati – Garuda Beverage Sukses, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Kegiatan magang yang berlangsung pada 2 Februari hingga 30 April 2026 ini menempatkan kedua mahasiswa di Divisi Quality Assurance. Divisi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga mutu, keamanan, dan konsistensi produk minuman sebelum sampai ke tangan konsumen.

Selama magang, Melany dan Fasa mempelajari berbagai aspek penting dalam industri minuman, mulai dari tahapan proses produksi, analisis alur proses, penerapan standar mutu berbasis Good Manufacturing Practices (GMP), hingga pengenalan HIRADC sebagai bagian dari upaya mendukung Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pengalaman ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan teknis serta kesiapan menghadapi dunia kerja.

Dalam praktiknya, kedua mahasiswa turut mempelajari pengendalian mutu produk Mountea, Okky Jelly Drink, dan Okky Koko Drink melalui pengukuran parameter kritis seperti Brix, pH, dan gramasi nata de coco. Parameter tersebut digunakan untuk memastikan rasa, tingkat keasaman, serta komposisi produk tetap sesuai standar perusahaan. Mereka juga mempelajari proses High Temperature Short Time (HTST) dengan bantuan data logger untuk memantau kestabilan suhu pasteurisasi, sehingga keamanan dan kualitas produk dapat tetap terjaga.

Selain itu, Melany dan Fasa memperoleh pengalaman dalam penyusunan alur proses produksi beserta spesifikasi alat, analisis dan evaluasi mutu produk, uji produksi skala pabrik melalui Pre-Site Acceptance Test (Pre-SAT) dan Site Acceptance Test (SAT), serta uji push-pull pada kemasan produk Mountea dan Okky Jelly Drink. Rangkaian kegiatan tersebut sejalan dengan SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab karena mendukung proses produksi yang lebih terkendali, inovatif, dan berorientasi pada mutu.

“Hal yang paling berkesan adalah mempelajari proses pembentukan jelly yang ternyata penuh dengan tantangan karena rawan cairan yang tidak merata,” ungkap Melany. Proses ini membutuhkan presisi tinggi dalam pengendalian suhu, waktu, dan komposisi bahan untuk menghasilkan tekstur dan konsistensi yang sempurna.

Pengalaman lainnya yang tak terlupakan adalah memahami teori bagaimana nata de coco dapat melayang di dalam medium cair dan jelly. Hal ini membuka wawasan baru tentang hubungan antara kepadatan (density), pH, dan komposisi kimia produk.

“Lingkungan magang sangat menyenangkan karena bertemu dengan mentor berpengalaman dan teman-teman dari universitas lain yang sama-sama bersemangat belajar,” tambah Fasa. Kolaborasi ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan saling mendukung.

Program magang ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan industri dalam menyiapkan mahasiswa yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kerja. Melalui pengalaman langsung di PT Triteguh Manunggal Sejati – Garuda Beverage Sukses, mahasiswa diharapkan mampu membawa wawasan baru dalam pengembangan industri pangan yang berkualitas dan berkelanjutan. 

Penulis : Melany 

Editor : AMR 

Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum

Informasi TerkiniPengabdianRiset Wednesday, 27 May 2026

Dalam inisiatif yang inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong konsumsi yang berkelanjutan, peneliti (Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.) di Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, telah memulai pengembangan susu nabati yang terbuat dari kombinasi sorgum, kedelai, dan biji rami (flaxseed). Produk inovatif ini dirancang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan minuman sehat berbasis tanaman di pasar modern.

Gambar 1. Jenis serealia yang digunakan 
Sumber gambar: ChatGPT

Pemilihan sorgum sebagai bahan utama sangat signifikan, karena merupakan serealia lokal yang kaya serat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional.  Kedelai berperan penting dalam formulasi ini, sebagai sumber utama protein nabati. Penambahan ini meningkatkan nilai gizi produk, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan. Flaxseed, yang dikenal kaya akan omega-3, serat pangan, dan antioksidan, juga ditambahkan untuk mendukung manfaat kesehatan dari susu nabati ini, menjadikannya pilihan yang seimbang bagi mereka yang mencari alternatif bergizi.

Tim peneliti menggunakan pendekatan berbasis konsumen, menganalisis preferensi konsumen terkait rasa, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan warna produk. Metodologi ini memastikan bahwa formulasi akhir sesuai dengan kebutuhan pasar modern dan harapan konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan adopsi pasar yang sukses. Seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup sehat, vegan, dan intoleransi laktosa, produk susu nabati inovatif ini siap memenuhi permintaan dari berbagai kalangan konsumen. 

Lebih jauh lagi, inisiatif ini mendukung diversifikasi sumber pangan lokal, mendorong penggunaan tanaman lokal seperti sorgum. Dengan mengintegrasikan komoditas lokal ini ke dalam rantai pasokan pangan, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mempromosikan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) : Mendukung diversifikasi pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pengembangan sumber pangan alternatif berbasis nabati.
  • SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) : Pengembangan inovasi pangan fungsional berbasis bahan lokal termasuk bentuk inovasi di sektor agroindustri pangan.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan lokal membantu mendorong sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan impor.

Sebagai kesimpulan, pengembangan susu nabati berbasis sorgum merupakan langkah signifikan menuju pencapaian ketahanan pangan, mendorong diversifikasi industri, dan mendorong konsumsi yang bertanggung jawab. Seiring dengan kemajuan penelitian ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak solusi pangan inovatif yang sejalan dengan tujuan global keberlanjutan dan kesehatan.

Gambar 2. Susu Nabati Berbasis Sorgum
Sumber : Dokumentasi Peneliti

Penulis : Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. 

Editor: Putri Rousan Nabila

Dari 81.800 Pendaftar, Mahasiswi PPA UGM Lolos Google Student Ambassador 2026

Informasi TerkiniPrestasi Mahasiswa Monday, 25 May 2026

Mahasiswi Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM angkatan 2024, Kautsarifa Hasna Maulida, berhasil meraih prestasi sebagai Google Student Ambassador 2026. Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Program Studi PPA sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa mampu berprestasi dan berkembang di tingkat nasional.

Dari 81.800 pendaftar yang berasal dari 1.900 universitas di Indonesia, Kautsarifa berhasil terpilih menjadi bagian dari 2.000 Google Student Ambassadors. Perjalanannya berlanjut hingga terpilih sebagai salah satu dari 150 partisipan yang mengikuti kegiatan Inauguration dan Office Tour Google Jakarta secara luring dengan dukungan penuh (fully funded). Selama kegiatan, ia memperoleh kesempatan untuk mengunjungi kantor Google Jakarta dan bertemu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Kautsarifa, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar baru yang mendorong pengembangan diri dan keberanian untuk mencoba peluang di luar zona nyaman. “Jangan pernah takut untuk bersaing dan mengeksplorasi hal-hal baru di luar zona nyaman. Kesempatan besar itu ada, tinggal bagaimana kita berani mengambil langkah untuk mencobanya,” ungkapnya.

Prestasi ini turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kualitas sumber daya manusia, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui perluasan jejaring dan kolaborasi.

Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

AgendaInformasi TerkiniRiset Wednesday, 20 May 2026

Photo source: https://share.google/dQOZ1rqSE4JrHJ0BA 

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal tidak lagi hanya melihat pada tersedianya label semata. Konsumen produk halal ingin tahu lebih jauh, dari mana bahan berasal, bagaimana proses produksinya, hingga bagaimana produk itu sampai ke tangan mereka. Perubahan ini terasa semakin nyata dalam sektor agroindustri, di mana produk pangan berasal dari rantai proses yang panjang, mulai dari petani hingga ke konsumen. Di sinilah konsep traceability atau ketelusuran menjadi semakin penting. Penerapan sistem ketelusuran dalam agroindustri halal tidak hanya meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik produksi dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan rantai pasok pangan halal yang lebih efisien dan terintegrasi. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar selaku dosen program studi Pengembangan Produk Agroindustri menunjukkan bahwa penerapan traceability dan halal supply chain memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan konsumen, khususnya di masyarakat Muslim seperti di Indonesia. Sistem ini memberikan jaminan bahwa produk tidak hanya halal secara klaim, tetapi juga aman, autentik, dan sesuai dengan standar halal di setiap tahap produksi. Dalam agroindustri, hal ini sangat relevan karena produk pangan melewati banyak titik kritis yang berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi non-halal, mulai dari bahan baku hingga distribusi.

Pada studi yang melibatkan 262 responden konsumen halal di Indonesia, para peneliti menemukan bahwa implementasi sistem traceability memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kepercayaan dan penerimaan konsumen. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko kesalahan dalam rantai pasok, serta memastikan kepatuhan terhadap standar halal.

Selain itu, faktor demografi juga mempengaruhi bagaimana konsumen merespon sistem traceability. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia yang lebih matang, khususnya usia 41-50 tahun, cenderung lebih memperhatikan aspek ketelusuran produk. Artinya, pelaku agroindustri perlu menyesuaikan strategi pemasaran dan pendekatan teknologi agar dapat menjangkau berbagai segmen konsumen secara efektif.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Termasuk juga 57 negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang mengutamakan halal dalam meningkatkan kepercayaan konsumen pada produk pangannya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Menurut OIC, setidaknya terdapat 57 negara anggota yang secara kelembagaan terkait dengan ekosistem halal dunia. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Dari sisi bisnis, penerapan rantai pasok halal juga memiliki implikasi ekonomi yang berbeda. Di Indonesia, integrasi halal supply chain relatif lebih mudah karena produksi non-halal lebih terbatas, sehingga biaya operasional cenderung lebih efisien. Akan tetapi, di negara non-Muslim, pemisahan antara proses halal dan non-halal justru meningkatkan kompleksitas dan biaya produksi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku agroindustri yang ingin memperluas pasar secara global, karena strategi harga dan operasional harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Dr. Wildan Fajar Bachtiar beserta timnya merekomendasikan pemanfaatan teknologi seperti blockchain dan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem pelacakan produk. Dengan dukungan teknologi tersebut, transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok halal dapat ditingkatkan, sehingga mampu memperkuat kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, perkembangan ini menunjukkan bahwa dalam agroindustri modern, halal bukan lagi sekadar label, tetapi sebuah sistem yang mencakup transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Traceability dan halal supply chain bukan hanya alat kontrol, tetapi juga menjadi nilai strategis yang menentukan bagaimana produk diterima di pasar. Melalui penelitian ini menegaskan bahwa masa depan industri halal tidak cukup hanya mengandalkan sertifikasi, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu menjamin keterlacakan, keamanan, dan integritas produk dari hulu hingga hilir.

Penulis: Dr. Wildan Fajar Bachtiar

Editor: Putri Rousan Nabila

123…9

Recent Posts

  • Terjun ke Lini Produksi Mondelez, Mahasiswa Dalami Kualitas Produk dan Efisiensi Manufaktur Pangan
  • Mahasiswa PPA UGM Pelajari Riset Pasar dan Pengembangan Produk Bersama Praktisi dari Nestlé
  • Persiapkan Kurikulum Terbaru, PPA Bekali Mahasiswa Angkatan 2024 Hadapi Program Magang di Industri 
  • Inovasi Hijau UGM: Sulap Limbah Sekam Padi Menjadi Bioplastik Kemasan Pangan Berkelanjutan
  • Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY