Perjalanan sebuah produk agroindustri hingga sampai ke tangan konsumen melibatkan proses yang panjang. Produk pertanian tidak berhenti setelah dipanen oleh petani, tetapi melalui tahapan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, pemasaran, hingga akhirnya dikonsumsi masyarakat. Setiap tahapan tersebut melibatkan berbagai pelaku dengan kepentingan, risiko, biaya, dan kontribusi nilai yang berbeda.
Dalam kondisi tersebut, pengembangan agroindustri tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menghasilkan produk. Diperlukan sistem rantai pasok yang mampu menghubungkan petani, kelompok usaha, industri pengolahan, distributor, hingga konsumen secara efisien, transparan, adaptif, dan berkelanjutan. Pendekatan inilah yang menjadi bagian penting dari bidang keilmuan Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan yang dikembangkan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S., dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.
Bidang tersebut berkembang dari latar belakang keilmuan Teknik Industri dan Agroindustrial Technology Management yang kemudian diterapkan pada berbagai persoalan agroindustri, mulai dari analisis rantai nilai, efisiensi sistem produksi, keterlacakan produk, penerimaan konsumen, sistem jaminan halal, hingga pengembangan nilai tambah komoditas pertanian. Rekam jejak tersebut terlihat antara lain pada penelitian mengenai Javanese Halal Food Supply Chain Performance, kinerja rantai nilai biji kakao di Banjaroya, serta sejumlah penelitian mengenai sustainable traceability pada rantai pasok pangan halal.
Menurut Wildan, tantangan agroindustri saat ini tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meningkatkan jumlah produksi. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan nilai ekonomi dapat terdistribusi lebih baik di sepanjang rantai pasok, bagaimana produk dapat ditelusuri asal-usul dan prosesnya, bagaimana kehilangan produk selama rantai distribusi dapat ditekan, serta bagaimana sistem produksi mampu memenuhi tuntutan konsumen terhadap mutu, keamanan, kehalalan, dan keberlanjutan.
Salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut terlihat pada komoditas kakao. Penelitian mengenai Value Chain Performance of Cocoa Beans in Banjaroya, Kulon Progo menunjukkan perhatian terhadap hubungan antara pelaku, aliran produk, serta penciptaan nilai sepanjang rantai agroindustri kakao. Kajian seperti ini penting karena keberhasilan agroindustri tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk akhir, tetapi juga dipengaruhi oleh kinerja setiap mata rantai mulai dari produsen bahan baku hingga pasar. Penelitian mengenai rantai nilai kakao tersebut menjadi salah satu bagian dari rekam jejak penelitian Wildan di bidang agroindustri.
Pendekatan rantai pasok kemudian berkembang pada aspek traceability atau ketelusuran produk. Pada sistem agroindustri modern, konsumen semakin membutuhkan informasi mengenai asal bahan baku, proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi produk. Dalam konteks pangan halal, penelitian Wildan mengenai halal food sustainable traceability menunjukkan pentingnya integrasi antara ketelusuran, kepatuhan proses, serta kepercayaan konsumen. Rekam jejak tersebut mencakup publikasi Halal Food Sustainable Traceability Framework for the Meat Processing Industry pada 2024 dan Halal Food Sustainable Traceability: A Multi-Group Consumer-Centric Acceptance and Preference Analysis pada 2025.
Pemanfaatan sistem keterlacakan juga membuka peluang transformasi rantai pasok agroindustri melalui teknologi digital. Informasi mengenai bahan baku, proses produksi, mutu, distribusi, dan status produk dapat dikelola secara lebih transparan sehingga memberikan manfaat tidak hanya bagi industri, tetapi juga konsumen dan pemasok. Pada penelitian terkait rantai pasok halal, pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan blockchain juga direkomendasikan sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas rantai pasok.
Dari Efisiensi Menuju Penciptaan Nilai
Rantai pasok agroindustri berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai pergerakan bahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Konsep ini juga berkaitan dengan bagaimana setiap aktivitas dapat menghasilkan nilai tambah secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Pada tingkat produsen, peningkatan nilai tambah dapat dilakukan dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Hal tersebut antara lain tergambar dalam penelitian kelayakan pengembangan keripik salak menggunakan teknologi vacuum frying. Pengolahan salak menjadi produk bernilai tambah merupakan salah satu pendekatan untuk memperkuat agroindustri berbasis komoditas lokal sekaligus mengurangi risiko hasil pertanian yang tidak terserap pasar.
Aspek kelayakan ekonomi kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan rantai pasok. Teknologi atau produk baru tidak cukup hanya dapat diproduksi, tetapi harus memiliki pasar, dapat dioperasikan secara efisien, serta memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha. Penelitian keripik salak tersebut menggunakan analisis pasar, aspek teknis, manajemen, dan finansial untuk menilai potensi pengembangan usaha.
Dengan demikian, konsep Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan menempatkan nilai tambah, efisiensi, keterlacakan, mutu, keamanan produk, kelayakan ekonomi, dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan. Pendekatan ini memungkinkan persoalan agroindustri dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari satu titik produksi.
Mendukung Pencapaian SDGs
Pengembangan bidang Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Kontribusi utama berada pada SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengelolaan rantai pasok yang lebih baik dapat mendukung efisiensi penggunaan bahan baku, menekan kehilangan hasil pertanian, meningkatkan keterlacakan produk, serta mendorong proses produksi yang lebih bertanggung jawab. Prinsip tersebut juga mendukung konsumen memperoleh produk dengan informasi yang semakin transparan.
Bidang ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama melalui peningkatan nilai tambah komoditas pertanian, efisiensi usaha, penguatan UMKM agroindustri, dan terciptanya peluang ekonomi di sepanjang rantai pasok. Ketika hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, manfaat ekonomi yang dapat diperoleh masyarakat berpotensi semakin besar.
Kontribusi terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur diwujudkan melalui pengembangan sistem produksi, inovasi pengolahan, digitalisasi rantai pasok, serta pemanfaatan teknologi keterlacakan untuk meningkatkan daya saing industri. Teknologi dalam konteks ini bukan hanya digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga untuk menghasilkan sistem agroindustri yang semakin efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, penguatan sistem agroindustri berbasis komoditas pertanian lokal juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan meningkatkan produktivitas serta nilai ekonomi sektor pertanian. Kolaborasi antara petani, akademisi, pemerintah, industri, UMKM, dan konsumen selanjutnya memperkuat kontribusi terhadap SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bagi Wildan, pembangunan agroindustri berkelanjutan pada akhirnya membutuhkan perubahan cara pandang dari sekadar menghasilkan produk menjadi membangun sebuah sistem. Produk yang berkualitas perlu didukung bahan baku yang baik, proses yang efisien, pelaku rantai pasok yang memperoleh manfaat secara proporsional, sistem informasi yang transparan, serta pasar yang mampu memberikan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Melalui pengembangan keilmuan Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan, berbagai penelitian dan kegiatan akademik diharapkan dapat terus diarahkan untuk menghasilkan model rantai pasok yang semakin efisien, tangguh, transparan, inklusif, dan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya pertanian Indonesia. Pendekatan dari hulu hingga hilir tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan agroindustri yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Penulis : Dr. Wildan Fajar Bachtiar












