Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Informasi Terkini
Arsip:

Informasi Terkini

Mengapa Manfaat Kolagen Berbeda pada Setiap Orang? Penelitian Ungkap Peran Penting Enzim Pencernaan

Informasi TerkiniLaboratoriumRiset Friday, 4 September 2026

Sumber foto: Science (AAAS).

Kolagen telah menjadi salah satu bahan pangan fungsional yang banyak dikonsumsi untuk menjaga kesehatan kulit, sendi, tulang, hingga otot. Namun, tidak semua kolagen yang dikonsumsi dapat memberikan manfaat yang sama bagi tubuh. Sebuah penelitian yang melibatkan peneliti Indonesia (Wijanarti et al., 2024) mengungkap bahwa bioavailabilitas kolagen, atau kemampuan tubuh menyerap dan memanfaatkan senyawa aktif kolagen, sangat dipengaruhi oleh cara kerja enzim-enzim pencernaan di dalam tubuh. Temuan ini memberikan pemahaman baru bahwa efektivitas suplemen maupun pangan berbasis kolagen tidak hanya ditentukan oleh kualitas bahan bakunya, tetapi juga oleh proses pencernaan yang terjadi setelah dikonsumsi.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mempelajari bagaimana berbagai enzim di saluran pencernaan memecah peptida kolagen menjadi molekul yang lebih kecil sebelum diserap ke dalam aliran darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua peptida kolagen memiliki nasib yang sama. Peptida yang mengandung hidroksiprolin (Hyp), seperti Pro-Hyp dan Hyp-Gly, terbukti lebih tahan terhadap proses degradasi oleh enzim pencernaan sehingga mampu bertahan lebih lama dan lebih banyak ditemukan dalam sirkulasi darah. Sebaliknya, peptida lain, seperti Gly-Pro, lebih cepat dipecah oleh enzim tertentu sehingga jumlahnya dalam darah sangat sedikit setelah kolagen dikonsumsi.

Temuan ini menjelaskan mengapa beberapa produk kolagen dapat memberikan efek biologis yang lebih baik dibandingkan produk lainnya. Selama ini banyak penelitian hanya berfokus pada jenis kolagen atau ukuran peptida, padahal proses pemecahan oleh enzim di usus juga sangat menentukan apakah senyawa tersebut benar-benar dapat mencapai jaringan tubuh. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan enzim prolidase, bersama enzim pencernaan lainnya, berperan sebagai “penyaring biologis” yang menentukan peptida mana yang dapat bertahan dan memberikan manfaat kesehatan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan pangan fungsional dan suplemen kolagen yang lebih efektif dan memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi.

Bagi dunia agroindustri, hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam pengembangan produk bernilai tambah dari sumber kolagen, seperti kulit, tulang, dan sisik ikan yang selama ini banyak menjadi produk samping industri perikanan. Dengan memahami mekanisme penyerapan peptida kolagen di dalam tubuh, pengembangan teknologi hidrolisis, formulasi produk, hingga metode evaluasi bioavailabilitas dapat dilakukan secara lebih tepat. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa inovasi pangan tidak berhenti pada proses produksi, tetapi juga harus memastikan bahwa senyawa bioaktif yang dihasilkan benar-benar dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh sehingga memberikan manfaat kesehatan yang optimal.

Penulis : Dr. Agr. Sc. Sri Wijanarti

Sumber :

Wijanarti, S., Gu, R., Chen, L., Liu, W., Cai, M., Suzuki, R., & Sato, K. (2024). Substrate specificity of exopeptidases in small intestinal mucosa determines the structure of food-derived collagen peptides in rat lumen and blood. Journal of Food Bioactives, 26. https://doi.org/10.31665/JFB.2024.18378

Dari Daun Teh Tua Menjadi Penyerap Oksigen, Inovasi Bahan Alami untuk Kemasan Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRisetTugas Akhir Friday, 4 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026

Tidak semua bagian tanaman yang tersisa setelah panen harus berakhir sebagai limbah. Daun teh tua, misalnya, masih menyimpan senyawa bernilai yang berpotensi dimanfaatkan untuk teknologi pangan.

Daun teh tua yang diperoleh dari proses pemangkasan dan peremajaan tanaman selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk keperluan bernilai tambah rendah, seperti kompos, mulsa, atau pewarna alami. Padahal, daun tersebut secara alami mengandung senyawa fenolik, kelompok senyawa yang dapat mengalami reaksi oksidasi dan berpotensi digunakan untuk menangkap oksigen (O₂).

Di sisi lain, kebutuhan terhadap teknologi pengemasan pangan yang mampu mengendalikan oksigen terus berkembang. Salah satunya adalah active modified atmosphere packaging (a-MAP), yang memungkinkan kondisi atmosfer di dalam kemasan dikendalikan untuk membantu mempertahankan mutu produk.

Dalam sistem tersebut, absorber oskigen atau penyerap oksigen dapat digunakan untuk menurunkan konsentrasi O₂ di dalam kemasan. Penyerap O₂ berbasis besi (Fe) merupakan salah satu jenis yang umum digunakan. Namun, bahan tersebut bergantung pada keberadaan kelembapan untuk bekerja dan memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain sifat higroskopisnya yang dapat menyerap air dari produk serta kekhawatiran terhadap migrasi bahan aktif.

Persoalannya kemudian menjadi menarik, apakah daun teh tua yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi sumber bahan aktif penyerap oksigen berbasis senyawa alami?

Pertanyaan tersebut menjadi dasar tugas akhir Afnita Sekar Dwi Farda, mahasiswa Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Universitas Gadjah Mada. Di bawah bimbingan Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, Afnita mengkaji potensi ekstrak senyawa fenolik dari daun teh tua (Camellia sinensis var. sinensis) sebagai bioabsorber oksigen.

Mengekstrak potensi dari daun teh tua

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Untuk mendapatkan senyawa fenolik dari daun teh tua, digunakan dua pendekatan ekstraksi, yaitu maserasi dan ultrasonic bath. Hasilnya menunjukkan bahwa ultrasonic bath selama 15 menit dapat menjadi metode yang efektif. Metode tersebut mampu menghasilkan kandungan fenolik yang tinggi dengan waktu proses yang jauh lebih singkat dibandingkan maserasi yang dilakukan selama dua hari.

Ekstrak yang diperoleh kemudian dikembangkan menjadi bioabsorber oksigen. Sebagian ekstrak dibuat tanpa enkapsulasi, sementara sebagian lainnya dienkapsulasi menggunakan maltodekstrin dan gum arab sebelum dikeringkan dengan freeze dryer.

Enkapsulasi dilakukan bukan semata-mata untuk mengubah bentuk bahan. Teknik ini diharapkan dapat membantu menghasilkan bahan yang lebih stabil dan memiliki karakteristik fisik yang lebih sesuai untuk dikembangkan sebagai bahan aktif pengemasan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa enkapsulasi menghasilkan bioabsorber dengan warna yang lebih cerah dan water activity (aw) yang lebih rendah. Nilai aw bioabsorber terenkapsulasi mencapai 0,43 ± 0,02, dibandingkan 0,49 ± 0,04 pada bahan tanpa enkapsulasi.

Perubahan visual sampel; TE: Tanpa Enkapsulasi, E: Enkapsulasi (a) TE sebelum pengeringan, (b) TE setelah pengeringan, (c) TE serbuk, (d) E sebelum pengeringan, (e) E setelah pengeringan, (f) E serbuk.

Oksigen benar-benar berkurang

Temuan yang paling penting adalah kemampuan ekstrak daun teh tua untuk menurunkan konsentrasi oksigen.

Aplikasi Bioabsorber O2 pada suhu 25°C,RH 75%; TE: Tanpa Enkapsulasi; E: Enkapsulasi) a) TE sebelum aplikasi, b) TE setelah aplikasi, c) E sebelum aplikasi d) E setelah aplikasi.

Dalam pengujian in vitro menggunakan botol kedap udara, konsentrasi O₂ awal sebesar 20,9% turun menjadi 17,58% setelah delapan hari pada bioabsorber tanpa enkapsulasi. Laju penurunan oksigennya mencapai 0,176 mL O₂ g⁻¹ hari⁻¹.

Pada bioabsorber terenkapsulasi, konsentrasi O₂ turun menjadi 17,96%, dengan laju penurunan 0,162 mL O₂ g⁻¹ hari⁻¹. Perbedaan kedua perlakuan tersebut tidak signifikan secara statistik (p > 0,05).

Secara sederhana, mekanismenya dapat dipahami sebagai berikut: oksigen dari ruang kepala (headspace) di dalam wadah berdifusi menuju matriks bioabsorber. Senyawa fenolik kemudian mengalami oksidasi sehingga sebagian oksigen tersebut dikonsumsi.

Temuan ini menunjukkan bahwa senyawa fenolik dari daun teh tua memiliki aktivitas sebagai penyerap oksigen. Namun, kemampuan tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum dapat langsung disamakan dengan kinerja oxygen absorber komersial.

Dari pengelolaan biomassa menuju teknologi pascapanen

Mengapa kemampuan menyerap oksigen ini penting bagi teknologi pangan?

Produk hortikultura seperti buah dan sayuran masih melakukan respirasi setelah dipanen. Dalam proses tersebut, oksigen digunakan untuk menghasilkan energi. Respirasi yang berlangsung terlalu cepat dapat mempercepat penggunaan cadangan energi dan pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan mutu produk selama penyimpanan.

Karena itu, pengendalian atmosfer di dalam kemasan merupakan salah satu pendekatan dalam teknologi pascapanen. Bioabsorber oksigen berbasis bahan alami seperti ekstrak daun teh tua berpotensi menjadi salah satu komponen yang dapat dikembangkan untuk sistem tersebut.

Meski demikian, penelitian Afnita masih merupakan tahap pembuktian konsep. Pengujian dilakukan in vitro dalam botol borosilikat kedap udara dan belum melibatkan produk pangan secara langsung. Dengan demikian, belum dapat disimpulkan bahwa bioabsorber tersebut telah mampu memperpanjang umur simpan buah atau sayuran.

Tahap selanjutnya masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana kinerja bioabsorber dalam kemasan sebenarnya, termasuk pengaruh kelembapan, stabilitas bahan, kinetika penyerapan O₂, serta interaksinya dengan produk segar.

Ketika “sisa” menjadi sumber inovasi

Nilai penting dari pendekatan ini tidak hanya terletak pada kemampuan daun teh tua dalam menyerap oksigen. Ada gagasan yang lebih besar di baliknya: mengubah biomassa pertanian yang selama ini kurang bernilai menjadi bahan fungsional untuk teknologi pangan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan SDG 12 – Responsible Consumption and Production, terutama melalui upaya meningkatkan nilai guna sumber daya dan mendorong pemanfaatan biomassa secara lebih optimal. Pada saat yang sama, pengembangan bioabsorber berbasis senyawa fenolik alami juga mendukung SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure melalui inovasi material untuk teknologi pengemasan aktif.

Dengan demikian, daun teh tua tidak lagi hanya dipandang sebagai sisa pemangkasan. Di dalamnya terdapat senyawa fenolik yang dapat menjadi titik awal pengembangan teknologi baru.

Dari perkebunan teh hingga kemasan pangan, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inovasi berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal atau teknologi yang rumit. Terkadang, inovasi justru dapat dimulai dengan melihat kembali sesuatu yang selama ini kita anggap tidak terlalu bernilai.

Dari daun yang tersisa, lahir peluang untuk menyerap oksigen, dan dari sana, terbuka kemungkinan baru bagi teknologi kemasan pangan yang lebih berbasis sumber daya hayati.

Penulis : Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, S.T.P., M.Sc. 

Buah Mengkudu, Potensi yang Hampir Terlupakan

Informasi TerkiniRiset Monday, 31 August 2026

Sumber foto : Tribratanews Polri, 2024.

Dalam beberapa tahun terakhir, munculnya berbagai penyakit degeneratif telah menyadarkan konsumen akan pentingnya asupan nutrisi yang seimbang bagi tubuh. Pangan tidak hanya harus enak, tetapi juga harus mengandung nutrisi penting yang memberikan manfaat kesehatan. Di Indonesia, buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) telah dikenal dalam beberapa penelitian karena manfaat kesehatannya. Buah mengkudu telah populer sebagai suplemen makanan, bahan pangan fungsional, atau suplemen kesehatan alami karena mengandung senyawa aktif yang memiliki efek antioksidan, antikanker, antimikroba (antibakteri, antijamur), antivirus, antitumor, anthelminthic, analgesik, hipotensif, antiinflamasi, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Meskipun memiliki banyak dampak positif bagi kesehatan, karakteristik fisiologis buah mengkudu, seperti baunya yang khas, bijinya yang banyak dan keras, serta rasanya yang bagi kebanyakan orang tidak enak, membuat konsumen enggan mengonsumsinya secara langsung. Oleh karena itu, teknologi pengolahan yang bertujuan untuk mengekstrak senyawa bioaktif yang terkandung dalam buah mengkudu merupakan metode yang tepat untuk memperoleh manfaatnya. Salah satu metode ekstraksi melibatkan pengambilan polifenol dari buah, yang dapat dimanfaatkan secara efektif.

Kemudahan dalam mengonsumsi produk menjadi faktor penting dalam kegiatan pengembangan produk. Ekstrak buah mengkudu yang mengandung berbagai senyawa aktif perlu dilindungi, salah satunya dapat dicapai melalui teknologi mikroenkapsulasi. Tujuan mikroenkapsulasi di bidang pangan adalah untuk melindungi zat aktif dari kelembaban, oksidasi, panas, cahaya, radiasi ultraviolet, atau kondisi ekstrim lainnya selama pemrosesan dan penyimpanan. Selain itu, mikroenkapsulasi merupakan upaya untuk memperpanjang umur simpan, menutupi atribut pangan yang tidak diinginkan, serta memenuhi permintaan konsumen terhadap kualitas dan fungsionalitas organoleptik.

Bahan dinding yang digunakan untuk melindungi bahan inti dapat berasal dari golongan polisakarida dan protein. Bahan dinding ini dapat membentuk lapisan tipis untuk melindungi bahan inti. Penelitian mengenai ekstraksi dan enkapsulasi bahan aktif dari buah mengkudu telah dilakukan oleh Dr. Ratih Hardiyanti, dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri di Sekolah Vokasi UGM, sebagai bagian dari studi doktoralnya di Teknik Kimia UGM. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat bidang Pengembangan Produk Pangan Fungsional di Prodi PPA SV UGM, mendukung tridharma perguruan tinggi.

Sumber foto: Dokumen Pribadi.

Temuan dari penelitian Dr. Ratih dapat membuka jalan bagi pengembangan produk inovatif yang tidak hanya menyoroti manfaat nutrisi dari buah mengkudu tetapi juga memenuhi preferensi konsumen. Dengan memanfaatkan teknik pengolahan yang tepat, buah mengkudu dapat diubah menjadi bentuk yang lebih enak dan mudah diakses, mendorong konsumsi dan penerimaan yang lebih luas di kalangan masyarakat.

Lebih jauh lagi, potensi buah mengkudu sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan memastikan kehidupan yang sehat. Dengan memanfaatkan bahan bioaktif buah mengkudu, kita dapat berkontribusi pada gerakan global menuju sistem pangan yang lebih sehat dan peningkatan kesehatan masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pangan fungsional, peran bahan lokal seperti buah mengkudu menjadi semakin signifikan. Penting bagi peneliti, teknolog pangan, dan pengusaha untuk berkolaborasi dalam mengembangkan produk inovatif yang tidak hanya memenuhi permintaan pasar tetapi juga mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.

Sebagai kesimpulan, buah mengkudu mewakili potensi yang hampir terlupakan yang, dengan teknologi pengolahan yang tepat dan edukasi konsumen, dapat menjadi aset berharga dalam pencarian opsi pangan yang lebih sehat. Upaya penelitian dan pengembangan yang sedang berlangsung di UGM adalah bukti komitmen untuk memajukan produksi pangan dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Penulis : Dr. Ratih Hardiyanti

Lokasi : THV SV UGM

Waktu : Agustus 2026

Mengurangi Dampak Lingkungan melalui Green Productivity pada Produksi Kopi Lokal

Informasi TerkiniRisetTugas Akhir Thursday, 20 August 2026

Pertumbuhan industri kopi Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. Di balik meningkatnya permintaan pasar terhadap kopi lokal, terdapat tantangan penting terkait keberlanjutan proses produksi, khususnya pada skala usaha kecil dan kelompok tani. Proses produksi yang belum menerapkan prinsip produksi hijau berpotensi menimbulkan limbah, penggunaan sumber daya yang kurang efisien, serta dampak lingkungan yang semakin besar.

Gambar 1. Dokumentasi kunjungan lokasi Kopi Suroloyo di Samigaluh, Kulon Progo.

Pada tahun 2021, penelitian tugas akhir mahasiswa yang dibimbing oleh Satria Bhirawa Anoraga dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada, mengangkat topik mengenai perhitungan dampak lingkungan (environmental impact) dan alternatif solusi perbaikan pada proses produksi Kopi Suroloyo di Samigaluh, Kulon Progo. Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa bernama Muhammad Kusnan dengan fokus pada penerapan konsep green productivity dalam proses produksi kopi rakyat.

Penelitian dilakukan melalui observasi langsung terhadap tahapan produksi kopi, mulai dari pengolahan buah kopi, pencucian, fermentasi, pengeringan, roasting, penggilingan, hingga pengemasan. Analisis menunjukkan bahwa proses produksi menghasilkan beberapa sumber dampak lingkungan, terutama dari penggunaan air, konsumsi energi, emisi gas, serta limbah padat berupa kulit buah kopi dan sisa hasil pengolahan lainnya.

Gambar 2. Dokumentasi limbah kulit kakao.

Melalui pendekatan green productivity, penelitian ini tidak hanya menilai besarnya dampak lingkungan yang dihasilkan, tetapi juga menawarkan solusi praktis dan aplikatif bagi kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah. Salah satu usulan utama adalah pemanfaatan limbah kulit kopi (coffee cherry skin) menjadi produk bernilai tambah seperti teh cascara dan produk pangan berbasis hasil samping kopi. Selain itu, limbah cair hasil produksi diusulkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik bagi perkebunan kopi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa limbah agroindustri sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara tepat. Pemanfaatan produk samping tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal dan meningkatkan nilai tambah komoditas kopi.

Penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): melalui upaya pengurangan limbah dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya dalam proses produksi kopi.
  2. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): melalui dorongan penerapan proses produksi yang lebih ramah lingkungan dan efisien energi.
  3. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui pengembangan inovasi produk berbasis limbah kopi yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan keberlanjutan dalam agroindustri tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks atau investasi berskala besar. Perubahan sederhana melalui efisiensi proses produksi, pengurangan limbah, dan pemanfaatan hasil samping dapat memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.

Kegiatan penelitian ini juga menjadi bagian penting dalam penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui keterlibatan langsung kelompok tani dalam diskusi dan identifikasi solusi, pendekatan akademik dapat diterjemahkan menjadi praktik nyata yang relevan dengan kebutuhan lapangan.

Salah satu pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan dimulai dari kesadaran untuk melihat limbah bukan sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang masih memiliki nilai dan potensi. Dengan pendekatan tersebut, agroindustri lokal dapat berkembang secara lebih berkelanjutan, tangguh, dan berorientasi pada masa depan.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Koordinator Field Research Center [FRC] UGM

JATISARONO BERDAYA: Mendorong Ekonomi Inklusif Melalui Teknologi Tepat Guna dan Branding Berbasis AI Berkelanjutan

Informasi TerkiniPengabdian Tuesday, 18 August 2026

Kalurahan Jatisarono, Nanggulan, memiliki potensi lahan persawahan dan pekarangan yang luas mencapai lebih dari 400 hektar. Namun, tantangan utama yang dihadapi petani lokal adalah cepatnya kerusakan hasil panen jamur tiram yang hanya bertahan 1-3 hari. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pengembangan Usaha Produktif dan Pertanian Berkelanjutan,” tim dari Universitas Gadjah Mada hadir untuk memberikan solusi integratif yang mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 12 (Produksi yang Bertanggung Jawab).

Gambar 1. Narasumber pada kegiatan pengabdian masyarakat

Salah satu pilar utama pengabdian ini adalah edukasi preservasi dan pengolahan jamur. Jamur tiram yang memiliki kandungan air 85-95% sangat rentan layu. Kami memperkenalkan teknik pendinginan pada suhu 3-4°C yang mampu mengurangi kecokelatan hingga 75%. Lebih jauh lagi, melalui Teknologi Tepat Guna (TTG), jamur segar diolah menjadi Jamur Krispi. Inovasi ini bukan sekadar pengolahan biasa, melainkan strategi peningkatan nilai tambah:

  • Masa Simpan: Meningkat drastis dari 3 hari menjadi 1 tahun.
  • Nilai Tambah: Memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang masuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Efisiensi Ekonomi: Harga bahan baku Rp 20.000/kg dapat diubah menjadi produk bernilai setara Rp 200.000/kg
Gambar 2. Peserta dari UMKM dan KDK antusias mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat

Sejalan dengan SDG 10, program ini menempatkan Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS sebagai mitra utama. Kami percaya bahwa keberlanjutan ekonomi harus bersifat inklusif. Pelatihan diberikan untuk memastikan anggota kelompok memiliki keterampilan manajemen usaha dan produksi yang mandiri. Strategi branding yang kami usung menggunakan prinsip 4C (Crunchy, Clean, Consistent, Community-Care), di mana aspek kepedulian terhadap pemberdayaan disabilitas menjadi jiwa dari merek tersebut. Dalam era digital, identitas visual adalah kunci daya saing. Proses desain kemasan dilakukan dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu UMKM menciptakan logo dan label yang profesional secara efisien. Strategi ini bertujuan agar produk lokal Jatisarono mampu menembus pasar yang lebih luas, baik melalui pasar digital maupun pusat oleh-oleh di Kulon Progo.

Program pengabdian masyarakat di Kelurahan Jatisarono ini secara spesifik dirancang untuk mendukung pencapaian tiga poin utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8, 10, dan 12. Berikut adalah detail kontribusi program terhadap masing-masing tujuan tersebut:

1. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Program ini berfokus pada pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

  • Peningkatan Nilai Tambah: Pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Penciptaan Lapangan Kerja Lokal: Transformasi dari penjualan jamur segar (seharga ±Rp 20.000/kg) menjadi produk olahan bermerek (setara ±Rp 200.000/kg) menciptakan peluang pendapatan yang lebih layak bagi petani lokal dan UMKM.

2. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan

Aspek utama dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat inklusif, yang memastikan kelompok rentan memiliki kesempatan ekonomi yang sama.

  • Fokus pada Kelompok Disabilitas: Mitra utama kegiatan ini adalah Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS, di mana mereka dilatih untuk mengelola unit usaha produksi jamur krispi secara mandiri dan profesional.
  • Integrasi Sosial: Pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan partisipasi sosial dan ekonomi penyandang disabilitas di Jatisarono, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat desa.

3. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Program ini mengusung prinsip pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya yang efisien melalui teknologi tepat guna.

  • Pengurangan Pemborosan Pangan (Food Waste): Melalui teknik preservasi dan pengolahan, masa simpan jamur tiram yang semula hanya 1–3 hari dapat diperpanjang menjadi 1 tahun dalam bentuk produk krispi, sehingga mengurangi risiko produk terbuang karena busuk.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Lulusan D4 Pengembangan Produk Agroindustri UGM Siap Bersaing di Dunia Kerja

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Tuesday, 4 August 2026

Hasil Tracer Study menunjukkan bahwa lulusan Program Studi D4 Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2020 – 2021 memiliki daya saing yang baik di dunia kerja. Sebagian besar lulusan bekerja pada perusahaan atau instansi berskala nasional maupun multinasional, yang mencerminkan tingginya kepercayaan dunia kerja terhadap kompetensi lulusan.

Gambar Visualisasi Hasil Tracer Study Lulusan PPA Angkatan 2020 dan 2021

Sebanyak 50% lulusan bekerja pada perusahaan/instansi nasional atau badan usaha berbadan hukum, sementara 41,7% bekerja pada perusahaan multinasional/internasional. Hanya 8,3% lulusan yang bekerja pada instansi atau usaha berskala lokal. Data ini menunjukkan bahwa 91,7% lulusan telah terserap di organisasi berskala nasional hingga internasional, yang menjadi indikator kuat daya saing lulusan di pasar kerja.

Dari sisi relevansi kompetensi, hasil tracer study juga menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh selama masa studi dinilai sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Sebanyak 66,7% responden menilai kompetensi yang diperoleh memiliki tingkat relevansi sedang, 25% menilai sangat besar, dan 8,3% menilai besar. Tidak terdapat responden yang menilai relevansi kompetensi pada kategori rendah maupun sangat rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kurikulum dan proses pembelajaran di Program Studi D4 Pengembangan Produk Agroindustri telah mampu membekali lulusan dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Tingginya proporsi lulusan yang bekerja pada organisasi berskala nasional dan internasional, serta penilaian positif terhadap relevansi kompetensi, menjadi bukti bahwa program studi terus menghasilkan lulusan yang adaptif, profesional, dan siap bersaing di berbagai sektor industri maupun pemerintahan.

Ringkasan capaian:

  • 91,7% lulusan bekerja pada organisasi berskala nasional dan internasional.
  • 50% bekerja di perusahaan/instansi nasional berbadan hukum.
  • 41,7% bekerja di perusahaan multinasional/internasional.
  • 100% lulusan menilai kompetensi yang diperoleh memiliki relevansi sedang hingga sangat besar terhadap pekerjaan.
  • Tidak ada lulusan yang menilai kompetensi yang diperoleh memiliki relevansi rendah.

Penulis : Tim Media Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri

Transparansi & Kualitas Pembelajaran: Prodi PPA SV UGM Rilis Evaluasi Kepuasan Mahasiswa Semester Gasal TA 2025/2026

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Tuesday, 4 August 2026

Yogyakarta — Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (SV UGM) merilis hasil evaluasi kepuasan mahasiswa terhadap proses perkuliahan Semester Gasal TA 2025/2026. Evaluasi berkala yang dilakukan pada dua tahap—Pasca-Ujian Tengah Semester (UTS) dan Pasca-Ujian Akhir Semester (UAS)—ini bertujuan untuk menjaga mutu pembelajaran, efektivitas pengajaran dosen, serta kualitas fasilitas pendukung.

Partisipasi Responden

Pemantauan ini melibatkan partisipasi mahasiswa secara aktif dari seluruh tingkat angkatan (2022–2025):

  • Evaluasi Pasca-UTS: Diikuti oleh 221 mahasiswa (didominasi Angkatan 2022 sebesar 41,2% dan Angkatan 2023 sebesar 32,1%).
  • Evaluasi Pasca-UAS: Diikuti oleh 281 mahasiswa (dengan sebaran seimbang dari Angkatan 2023 [32%], 2022 [31,7%], dan 2025 [29,5%]).

Rangkuman Hasil Evaluasi Perkuliahan

Secara umum, kinerja dosen dan kepastian proses pembelajaran dinilai Sangat Baik dan Baik, terutama terkait kejelasan RPS, rencana penilaian, dan kesesuaian materi di awal semester.

Adapun beberapa poin penting serta masukan mahasiswa yang menjadi fokus perbaikan bersama meliputi:

  • Variasi Metode Pengajaran: Mahasiswa mengharapkan metode perkuliahan yang lebih interaktif (penggunaan media digital/kuiz) agar tidak monoton, serta pendampingan ekstra pada mata kuliah berbasis hitungan dan analisis.
  • Manajemen Ujian & Tugas: Perlu adanya penyesuaian alokasi waktu ujian agar seimbang dengan tingkat kesulitan soal analisis (essay/studi kasus).
  • Aksesibilitas & Keteraturan Akademik: Diharapkan konsistensi pengunggahan materi kuliah ke eLOK serta meminimalisasi perubahan jadwal kuliah secara mendadak.
  • Kesiapan Magang & Tugas Akhir: Adanya kebutuhan sosialisasi alur magang industri yang lebih awal, efisiensi alur administrasi/ujian Tugas Akhir (TA), serta dukungan fasilitas laboratorium yang memadai untuk kegiatan praktik/workshop

Tindak Lanjut Prodi

Hasil evaluasi ini disajikan sebagai bahan perbaikan internal rapat dosen dan penjaminan mutu prodi. Pengelola Prodi PPA SV UGM berkomitmen untuk terus menindaklanjuti setiap masukan demi menciptakan iklim akademik yang kondusif, transparan, dan berkualitas tinggi.

Penulis : Putri Rousan Nabila, S.T., M.T.

Pemanfaatan Produk Samping Penggilingan Padi sebagai Camilan Sehat Anak Usia Sekolah

Informasi TerkiniRiset Monday, 3 August 2026

Prodi PPA DTHV memulai kegiatan penelitian untuk pengembangan pangan inovatif yang bertujuan untuk memanfaatkan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan gizi di kalangan anak-anak.

Beras adalah makanan pokok di Indonesia, dan proses penggilingannya menghasilkan sejumlah besar produk samping, yaitu dedak padi yang dikenal juga sebagai bekatul. Secara tradisional, produk samping ini kurang dimanfaatkan dan sering kali digunakan sebagai pakan ternak. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekatul merupakan sumber vitamin B kompleks, yaitu tiamin (B1), asam nikotinat, riboflavin, dan vitamin B6. Bekatul memiliki komposisi nutrisi yag lengkap berupa protein, serat, vitamin, mineral, dan fitokimia bioaktif, sehingga menjadikannya kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi camilan sehat.

Sumber foto: Hello Sehat, Manfaat Bekatul untuk Kesehatan.

Kegiatan pengembangan produk di PPA DTHV bertujuan untuk mengubah produk samping ini menjadi pilihan camilan yang menarik bagi anak usia sekolah. Dengan menggabungkan bekatul ke dalam resep kukis yang diperkaya dengan tepung tempe, inisiatif ini berusaha untuk meningkatkan profil nutrisi makanan tersebut. Pendekatan inovatif ini tidak hanya menangani ketahanan pangan tetapi juga mempromosikan keberlanjutan lingkungan.

Tim dosen peneliti di PPA DTHV yang diketuai oleh Dr. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng. dengan tim dosen  Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Galih Kusuma Aji, S.T.P, M.Agr, Ph.D., dan Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. dan dibantu oleh mahasiswa DIV PPA yaitu Aulya Putri Larasati, Nadhifa Alya Febriana, dan Azizah Sholawah Fatah, serta teknisi laboratorium Rini Setyowati, S.TP, telah mengembangkan prototipe camilan yang lezat dan bergizi. Penelitian ini dapat terlaksana berkat hibah Penelitian Dosen DAMAS Sekolah Vokasi 2026. Peneliti berharap bahwa kebutuhan diet anak usia sekolah dapat terpenuhi dengan cara memberikan mereka nutrisi yang penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak Indonesia. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya mengenalkan anak-anak pentingnya makan yang sehat.

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi.

Untuk mempromosikan camilan baru ini, tim peneliti telah mengorganisir uji sensoris untuk mengetahui kesukaan anak sekolah terhadap produk inovasi ini.  Acara ini bertujuan untuk mengenalkan camilan yang terbuat dari produk samping penggilingan padi. Umpan balik dari anak-anak sangat positif, dengan banyak yang mengungkapkan antusiasme terhadap rasa baru dan ide menggunakan bahan pangan inovatif.

Selain menyediakan pilihan camilan sehat, inisiatif ini juga mendukung petani lokal dan penggiling padi, khususnya dengan menggandeng mitra BUM Desa Binangun Jati Unggul Jatirejo Lendah Kulon Progo, yang memiliki usaha penggilingan padi. Dengan menciptakan pasar untuk produk samping padi, proyek ini mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan dan membantu meningkatkan mata pencaharian mereka yang terlibat dalam produksi padi. Pendekatan holistik ini sejalan dengan SDGs dengan mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.


Sebagai kesimpulan, pemanfaatan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah merupakan langkah signifikan menuju pencapaian SDGs terkait ketahanan pangan dan gizi. Melalui pengembangan pangan inovatif, keterlibatan komunitas, dan praktik berkelanjutan, PPA DTHV membuka jalan untuk masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Penulis : Dr. Ir. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng.

Editor : Putri Rousan Nabila, S.T., M.T.

Tingkatkan Efisiensi Pengemasan, Mahasiswa Magang Lakukan Analisis OEE di Bogasari Flour Mills

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 30 June 2026

Bekasi – Pengalaman magang menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam lingkungan industri yang sesungguhnya. Hal tersebut dialami oleh Naela Salsabilla, mahasiswa yang melaksanakan magang di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills, yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100, Jl. Selayar Kav. D.9, Bekasi 17520.

Kegiatan magang dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu pada 2 Maret sampai 2 Juni 2026. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa ditempatkan di Divisi Produksi. Penempatan ini memberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai tahapan dalam proses produksi tepung terigu, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan gandum, hingga proses pengemasan produk akhir.

Pada tahap awal, mahasiswa mempelajari proses intake dan wheat silo. Kegiatan ini meliputi pengamatan terhadap proses penerimaan gandum sebagai bahan baku utama, mulai dari penimbangan, pemeriksaan kualitas awal, hingga penyimpanan di wheat silo. Tahap ini memiliki peranan penting karena kualitas gandum yang masuk akan berpengaruh terhadap hasil produksi tepung terigu. Oleh karena itu, pengelolaan bahan baku harus dilakukan secara tepat agar kualitasnya tetap terjaga sebelum memasuki proses produksi.

Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai proses milling atau penggilingan gandum. Dalam proses ini, terdapat beberapa tahapan yang saling berkaitan, seperti cleaning, conditioning, grinding, dan separation. Setiap tahapan memiliki fungsi tersendiri untuk menghasilkan tepung terigu yang sesuai dengan standar mutu perusahaan. Melalui pengamatan langsung di lapangan, mahasiswa dapat mengetahui cara kerja mesin produksi serta pentingnya pengawasan pada setiap proses.

Kegiatan magang juga berlanjut ke bagian packing dan Quality Control (QC). Pada bagian packing, mahasiswa mempelajari alur pengemasan tepung terigu serta cara kerja mesin packing. Proses pengemasan menjadi tahapan penting karena produk yang telah dihasilkan harus dikemas dengan baik sebelum didistribusikan kepada konsumen. Sementara itu, pada bagian QC, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pemeriksaan mutu produk selama proses produksi dan pengemasan. Pengendalian mutu dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan.

Salah satu kegiatan penting selama magang adalah penyusunan project dengan judul “Analisis Efisiensi Mesin Packing Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dalam Meningkatkan Kinerja Proses Pengemasan Tepung Terigu.” Project ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi di divisi packing, di mana masih ditemukan produk atau kemasan yang mengalami reject. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan efisiensi mesin maupun proses pengemasan.

Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas mesin packing. Melalui metode ini, kinerja mesin dapat dianalisis berdasarkan beberapa faktor, seperti tingkat ketersediaan mesin, performa mesin, dan kualitas hasil produksi. Hasil analisis tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi penyebab terjadinya losses atau kehilangan efisiensi, sehingga perusahaan dapat menentukan langkah perbaikan yang lebih tepat dalam meningkatkan kinerja proses pengemasan.

Selama mengikuti kegiatan magang, pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan untuk menyaksikan langsung proses produksi tepung terigu secara menyeluruh, mulai dari tahap intake hingga packing. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sebuah produk diproses dalam skala industri. Selain pembelajaran teknis, mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja, berkomunikasi dengan operator dan staf lapangan, serta memahami pentingnya kerja sama dalam proses produksi.

Dengan adanya kegiatan magang ini, mahasiswa memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat. Kegiatan magang ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman industri yang memperkuat kompetensi mahasiswa. Analisis efisiensi mesin menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui upaya peningkatan produktivitas proses produksi, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui optimalisasi efisiensi dan pengendalian mutu. Pengalaman tersebut sekaligus mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang adaptif dan siap memasuki dunia kerja, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Magang di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills memberikan wawasan yang lebih luas mengenai proses produksi tepung terigu, pengendalian mutu, serta efisiensi mesin dalam kegiatan industri. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Editor : AMR 

Penulis : Melany Ayudya

Terjun ke Lini Produksi Mondelez, Mahasiswa Dalami Kualitas Produk dan Efisiensi Manufaktur Pangan

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Bekasi — Dunia industri manufaktur pangan menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan analisis yang kuat dalam setiap tahapan produksi. Pengalaman tersebut diperoleh Ferania Yusuf, melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, yang berlokasi di Jl. Jababeka VII Kav-K2, Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan magang berlangsung pada 12 Januari hingga 4 April 2026. Selama program berjalan, Ferania ditempatkan pada Production Line. Melalui penempatan tersebut, ia berkesempatan mempelajari secara langsung alur produksi, pengendalian mutu, performa mesin, hingga proses pengemasan dalam industri pangan berskala besar.

Melalui kegiatan ini, Ferania memperoleh pemahaman bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh kestabilan proses produksi, ketepatan pengaturan mesin, efektivitas kerja tim, serta konsistensi pengawasan di lapangan.

Salah satu project utama yang dikerjakan adalah Analisis Variasi Berat Produk pada Proses Sandwiching. Kegiatan ini berfokus pada pengamatan dan pengambilan data berat produk biskuit sandwich, khususnya pada proses pengisian krim. Pengambilan data dilakukan secara berkala pada seluruh row produksi untuk membandingkan berat base cake, krim, dan produk akhir. Melalui project ini, mahasiswa dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi berat produk serta kualitas hasil produksi.

Selain project utama, Ferania juga terlibat dalam kolaborasi project terkait Evaluasi Penyebab Waste Produk dan Performa Mesin. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi langsung terhadap proses produksi, termasuk kondisi operasional mesin, perbedaan jenis mesin, kecepatan produksi, serta sistem pengaturan pada masing-masing row. Pengamatan tersebut membantu mahasiswa memahami hubungan antara performa mesin dan kualitas produk yang dihasilkan.

Project lainnya adalah Analisis Loss Packaging dan Monitoring Proses Produksi. Pada kegiatan ini, Ferania melakukan pengamatan terhadap proses pengemasan untuk mengidentifikasi penyebab kehilangan material packaging. Fokus pengamatan meliputi proses pergantian roll, tahap awal produksi, serta berbagai bentuk ketidaksesuaian kemasan, seperti seal yang tidak sempurna, lipatan yang kurang presisi, dan ketidaksesuaian cetakan. Selain itu, dilakukan pula monitoring terhadap checklist produksi dan cleaning untuk memastikan kesesuaian antara pencatatan dan kondisi aktual di lapangan.

“Selama magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga, terutama dalam memahami alur produksi di industri pangan berskala besar. Saya belajar bahwa kualitas produk tidak hanya bergantung pada bahan baku, tetapi juga pada ketelitian proses, performa mesin, kerja sama tim, dan pengawasan yang konsisten di lapangan,” ujar Ferania.

Kegiatan magang ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan pengalaman pembelajaran langsung di dunia industri. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja profesional.

Pembelajaran mengenai efisiensi produksi, performa mesin, dan pengurangan waste juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pengalaman ini, mahasiswa memahami pentingnya proses produksi yang efisien, terkontrol, dan berorientasi pada kualitas.

Tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, Ferania juga mengembangkan berbagai soft skill, seperti komunikasi profesional, kerja sama tim, kemampuan beradaptasi, ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Kemampuan berpikir analitis juga semakin terasah melalui proses identifikasi masalah dan pencarian solusi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Ferania menyampaikan bahwa salah satu hal paling berkesan selama magang adalah kesempatan untuk merasakan langsung dinamika dunia kerja di industri manufaktur pangan berskala besar. Lingkungan kerja yang terbuka dan suportif turut mendukung proses pembelajaran karena memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan terlibat langsung dalam kegiatan produksi.

Melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, diharapkan mampu memperkuat kompetensi teknis dan profesional di bidang industri pangan. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia kerja secara lebih nyata serta siap berkontribusi di lingkungan industri yang dinamis, kompetitif, dan berorientasi pada mutu.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

123…10

Recent Posts

  • Mengapa Manfaat Kolagen Berbeda pada Setiap Orang? Penelitian Ungkap Peran Penting Enzim Pencernaan
  • Dari Daun Teh Tua Menjadi Penyerap Oksigen, Inovasi Bahan Alami untuk Kemasan Pangan Berkelanjutan
  • Buah Mengkudu, Potensi yang Hampir Terlupakan
  • Mengurangi Dampak Lingkungan melalui Green Productivity pada Produksi Kopi Lokal
  • JATISARONO BERDAYA: Mendorong Ekonomi Inklusif Melalui Teknologi Tepat Guna dan Branding Berbasis AI Berkelanjutan

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY