Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Informasi Terkini
Arsip:

Informasi Terkini

Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

AgendaInformasi TerkiniRiset Wednesday, 20 May 2026

Photo source: https://share.google/dQOZ1rqSE4JrHJ0BA 

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal tidak lagi hanya melihat pada tersedianya label semata. Konsumen produk halal ingin tahu lebih jauh, dari mana bahan berasal, bagaimana proses produksinya, hingga bagaimana produk itu sampai ke tangan mereka. Perubahan ini terasa semakin nyata dalam sektor agroindustri, di mana produk pangan berasal dari rantai proses yang panjang, mulai dari petani hingga ke konsumen. Di sinilah konsep traceability atau ketelusuran menjadi semakin penting. Penerapan sistem ketelusuran dalam agroindustri halal tidak hanya meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik produksi dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan rantai pasok pangan halal yang lebih efisien dan terintegrasi. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar selaku dosen program studi Pengembangan Produk Agroindustri menunjukkan bahwa penerapan traceability dan halal supply chain memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan konsumen, khususnya di masyarakat Muslim seperti di Indonesia. Sistem ini memberikan jaminan bahwa produk tidak hanya halal secara klaim, tetapi juga aman, autentik, dan sesuai dengan standar halal di setiap tahap produksi. Dalam agroindustri, hal ini sangat relevan karena produk pangan melewati banyak titik kritis yang berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi non-halal, mulai dari bahan baku hingga distribusi.

Pada studi yang melibatkan 262 responden konsumen halal di Indonesia, para peneliti menemukan bahwa implementasi sistem traceability memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kepercayaan dan penerimaan konsumen. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko kesalahan dalam rantai pasok, serta memastikan kepatuhan terhadap standar halal.

Selain itu, faktor demografi juga mempengaruhi bagaimana konsumen merespon sistem traceability. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia yang lebih matang, khususnya usia 41-50 tahun, cenderung lebih memperhatikan aspek ketelusuran produk. Artinya, pelaku agroindustri perlu menyesuaikan strategi pemasaran dan pendekatan teknologi agar dapat menjangkau berbagai segmen konsumen secara efektif.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Termasuk juga 57 negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang mengutamakan halal dalam meningkatkan kepercayaan konsumen pada produk pangannya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Menurut OIC, setidaknya terdapat 57 negara anggota yang secara kelembagaan terkait dengan ekosistem halal dunia. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Dari sisi bisnis, penerapan rantai pasok halal juga memiliki implikasi ekonomi yang berbeda. Di Indonesia, integrasi halal supply chain relatif lebih mudah karena produksi non-halal lebih terbatas, sehingga biaya operasional cenderung lebih efisien. Akan tetapi, di negara non-Muslim, pemisahan antara proses halal dan non-halal justru meningkatkan kompleksitas dan biaya produksi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku agroindustri yang ingin memperluas pasar secara global, karena strategi harga dan operasional harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Dr. Wildan Fajar Bachtiar beserta timnya merekomendasikan pemanfaatan teknologi seperti blockchain dan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem pelacakan produk. Dengan dukungan teknologi tersebut, transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok halal dapat ditingkatkan, sehingga mampu memperkuat kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, perkembangan ini menunjukkan bahwa dalam agroindustri modern, halal bukan lagi sekadar label, tetapi sebuah sistem yang mencakup transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Traceability dan halal supply chain bukan hanya alat kontrol, tetapi juga menjadi nilai strategis yang menentukan bagaimana produk diterima di pasar. Melalui penelitian ini menegaskan bahwa masa depan industri halal tidak cukup hanya mengandalkan sertifikasi, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu menjamin keterlacakan, keamanan, dan integritas produk dari hulu hingga hilir.

Penulis: Dr. Wildan Fajar Bachtiar

Editor: Putri Rousan Nabila

Sinergi Berkelanjutan: PT Gambino Artisan Prima Fasilitasi Mahasiswa Magang Pengembangan Produk Agroindustri Kembangkan Inovasi QC Berbasis SDGs

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 19 May 2026

JAKARTA PUSAT – Komitmen sektor industri dalam memfasilitasi lahirnya sumber daya manusia (SDM) unggul masa depan kembali diwujudkan oleh PT Gambino Artisan Prima. Melalui program magang industri yang berlangsung dari 12 Januari hingga 15 Mei 2026, perusahaan yang bergerak di industri kopi artisan ini memberikan ruang bagi tiga mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri—Lantang, Rosyid, dan Widya—untuk mengaplikasikan ilmu akademik sekaligus mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). 

Kolaborasi ini menjadi perwujudan nyata dari kontribusi mitra industri dalam mendukung pilar SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pencetakan generasi profesional yang siap kerja.

Bertempat di fasilitas produksi PT Gambino Artisan Prima yang berlokasi di Jl. Kramat Baru No. 15, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, ketiga mahasiswa ini dilibatkan secara aktif di departemen pengendalian mutu atau Quality Control (QC).

Keterlibatan mereka secara langsung mendukung prinsip SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Di sini, sistem pengendalian mutu yang ketat dari perusahaan terbukti esensial untuk:

  • QC Incoming: Melakukan validasi kualitas bahan baku di hulu.
  • QC Finish Good: Mengecek mutu produk akhir sebelum dipasarkan.
  • QC Packaging: Mengawasi kelayakan kemasan demi menjaga higienitas.
  • QC Delivery: Memastikan produk tetap aman hingga tahap distribusi.
  • QC Admin: Mendokumentasikan seluruh data jaminan mutu harian.

Melalui seluruh rangkaian ini, mahasiswa belajar bagaimana QC bertindak sebagai garda terdepan untuk mencegah kegagalan produksi sekaligus meminimalisasi limbah pangan (food waste).

Sebagai bentuk kontribusi nyata pada prinsip SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), ruang terbuka yang diberikan oleh PT Gambino Artisan Prima berhasil memicu lahirnya tiga proyek penelitian inovatif berbasis problem-solving dengan menerapkan metode QC 7 Tools:

  1. Rosyid: Melakukan analisis pengaruh metode hot brew dan cold brew terhadap pembentukan plak pada produk Monami Gula Aren.
  2. Widya: Membedah analisis kejadian pembentukan gumpalan pada leher dan mulut botol pada produk Monami Kesusu guna meningkatkan kelayakan konsumsi.
  3. Lantang: Meneliti analisis hubungan antara jumlah botol dan durasi retort terhadap kualitas organoleptik pada produk kopi latte varian Hazelnut Gambino Coffee.

“Pengalaman terjun langsung ke industri ini memberikan wawasan komprehensif yang jauh melampaui pembelajaran di ruang kelas. Kami menyadari bahwa divisi QC memegang peranan krusial sebagai pelindung konsumen,” ungkap perwakilan mahasiswa magang.

Program magang ini menjadi bukti nyata bahwa kemitraan strategis antara Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri dan PT Gambino Artisan Prima tidak hanya memberikan solusi bagi efisiensi operasional industri, tetapi juga melahirkan generasi profesional yang siap mendukung terwujudnya industri berkelanjutan di masa depan. 

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Mahasiswa PPA UGM Pelajari Sistem Pergudangan di PT Sinar Niaga Sejahtera

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Monday, 18 May 2026

Pada hari Jum’at, 24 April 2026, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM melaksanakan kunjungan industri ke PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) yang beralamat di Jalan Ringroad Barat, Mlangi, Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, D. I Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa PPA angkatan 2024 dan didampingi oleh beberapa dosen, yaitu Nadia ABM, S.T.P., M.FoodScTech, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., dan Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. Kunjungan industri ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai teknik penggudangan dan sistem distribusi di dunia industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami implementasi manajemen warehouse secara nyata di lapangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan di Program Studi PPA.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa mendapatkan pemaparan mengenai sistem pergudangan yang diterapkan pada distribusi produk Garudafood. Materi disampaikan oleh Pak Elvin yang menjelaskan bagaimana warehouse bekerja, mulai dari alur penerimaan barang hingga proses penyimpanan dan distribusi produk. Mahasiswa juga diperkenalkan pada susunan area warehouse serta sistem pengelolaan barang yang digunakan untuk menjaga efisiensi operasional oleh penanggung jawab warehouse, yaitu Pak Wibi. Penjelasan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya manajemen pergudangan dalam mendukung rantai pasok industri pangan. Selain sesi pemaparan materi, mahasiswa juga berkesempatan melakukan observasi langsung terhadap aktivitas pergudangan di lokasi.

Kegiatan kunjungan industri ini memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa untuk memahami proses distribusi dan pengelolaan warehouse secara langsung di lingkungan industri. Pembelajaran di lapangan membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di dunia kerja. Selain meningkatkan wawasan mengenai teknik penggudangan, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap sistem logistik dan distribusi industri pangan. Suasana kunjungan berlangsung interaktif dan antusias, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih mendalam. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi kebutuhan industri di masa mendatang.

Kunjungan industri ke PT Sinar Niaga Sejahtera juga sejalan dengan komitmen Program Studi PPA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pembelajaran berbasis praktik mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa secara aplikatif. Selain itu, pengenalan sistem distribusi dan logistik industri turut mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan pemahaman mahasiswa terhadap sistem industri modern. Melalui kegiatan ini, Program Studi PPA terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan dunia kerja.

Optimalkan Manajemen Pergudangan dan Sistem FEFO, Mahasiswa Magang Berikan Kontribusi Strategis di CV Tera Sukses Abadi

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Friday, 15 May 2026

GRESIK – Program magang industri kembali menjadi wadah efektif bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu akademik ke dalam dunia kerja nyata. Hal ini dibuktikan oleh dua mahasiswa, Oktarina dan Leisya yang baru saja menyelesaikan periode magang di CV Tera Sukses Abadi, sebuah perusahaan yang berlokasi di Driyorejo, Kabupaten Gresik.

Selama periode 12 Januari hingga 2 April 2026, kedua mahasiswa tersebut terjun langsung di tiga departemen krusial, yakni Administrasi, Produksi, dan Penggudangan. Tidak sekadar menjalankan tugas rutin, mereka berhasil menyusun rekomendasi strategis guna meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Salah satu proyek utama yang dijalankan adalah Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage. Mengingat pentingnya area penyimpanan suhu dingin, Oktarina dan Leisya melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift.

Selain aspek keamanan fisik, mereka juga berfokus pada kualitas stok melalui evaluasi sistem First Expired First Out (FEFO). Dalam proyek ini, mereka menganalisis alur keluar-masuk barang untuk memastikan produk dengan tanggal kadaluarsa terdekat didistribusikan lebih awal.

Langkah ini berkontribusi langsung pada SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), di mana optimalisasi sistem FEFO berperan penting dalam meminimalisir potensi kerusakan produk atau pemborosan inventaris (efisiensi sumber daya).

Melalui proyek “Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage“, kedua mahasiswa melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift. Evaluasi ini kemudian dikembangkan menjadi proyek puncak berupa Rekomendasi Integrasi Tata Letak.

Proyek desain layout gudang komprehensif ini mendukung dua poin SDGs sekaligus:

  • SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan di area gudang melalui pengaturan jalur forklift dan stabilitas tumpukan yang aman.
  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Meningkatkan efisiensi, kecepatan distribusi, serta modernisasi manajemen logistik industri terintegrasi.

Bagi Oktarina dan Leisya, pengalaman selama hampir tiga bulan ini memberikan kesan mendalam, baik dari segi peningkatan kompetensi teknis di bidang administrasi keuangan dan manajemen produksi, maupun pengembangan soft skills. Hal ini selaras dengan pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam mempersiapkan lulusan yang siap terap di industri. 

“Hal yang paling berkesan adalah saat kami terlibat langsung dalam evaluasi di cool storage. Kami tidak hanya belajar teori, tapi melihat nyata bagaimana penataan produk sangat berdampak pada kualitas,” ungkap mereka.

Mereka juga menambahkan bahwa budaya kerja yang suportif di perusahaan sangat membantu proses adaptasi mereka. “Budaya kerja di sini sangat kekeluargaan. Pembimbing dan rekan kerja sangat terbuka dan ramah, yang membuat kami lebih percaya diri untuk beradaptasi di dunia kerja.”

Dengan berakhirnya masa magang ini, kedua mahasiswa tersebut membawa pulang pengalaman berharga mengenai pentingnya kerja sama tim, komunikasi profesional, dan inovasi dalam mendukung performa perusahaan yang optimal.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Memahami Preferensi Konsumen Produk Segar: Cermin Masa Depan Agroindustri Indonesia dan SDGs

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 May 2026

Pergi ke pasar tradisional sambil membawa keranjang sendiri, atau membuka aplikasi daring untuk memesan sayur organik yang diantar dalam dua jam, keduanya kini menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia. Cara konsumen kita memilih dan membeli produk segar (fresh produce) seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya tengah bergeser cepat. Pergeseran ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal penting bagi pelaku agroindustri dan, jika dicermati lebih jauh, bersinggungan langsung dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Beberapa pola perilaku konsumen produk segar di Indonesia menarik untuk diamati. Pertama, kesadaran terhadap kesehatan meningkat signifikan setelah pandemi COVID-19. Konsumen kelas menengah kota besar mulai mempertimbangkan kandungan gizi, residu pestisida, dan kebersihan produk. Berbagai survei lembaga riset pasar menunjukkan willingness to pay untuk produk organik atau berlabel “bebas pestisida” terus naik, meski harganya bisa 20–40 persen lebih mahal dibanding produk konvensional.

Kedua, kemudahan (convenience) menjadi nilai jual baru. Platform e-grocery seperti Sayurbox, TaniHub, hingga fitur belanja segar di marketplace umum tumbuh pesat. Konsumen tidak hanya tertarik karena harga lebih murah, tetapi karena tidak perlu menyentuh, menawar, dan membawa belanjaan sendiri. Bagi generasi muda perkotaan, “pasar” kini adalah sebuah aplikasi di layar ponsel.

Ketiga, transparansi asal-usul produk semakin diminati. Label seperti “dari petani Sleman” atau “dipanen kemarin pagi” terbukti efektif menggugah minat beli. Praktik ini mendorong tumbuhnya pertanian kontrak dan rantai pasok pendek yang menghubungkan konsumen langsung dengan petani.

Gambar 1. Ilustrasi Kondisi Preferensi Konsumen terhadap Produk Segar

Namun di balik tren tersebut, sebagian besar konsumen Indonesia, terutama di pedesaan dan kota kecil, masih sangat sensitif terhadap harga. Pasar tradisional masih menyumbang lebih dari separuh transaksi produk segar nasional. Artinya, pergeseran preferensi tidak seragam. Agroindustri kita menghadapi dua wajah pasar yang harus dilayani sekaligus: konsumen premium yang mencari kualitas dan “cerita” di balik produk, serta konsumen mayoritas yang mengutamakan keterjangkauan.

Dari sudut pandang penulis, dinamika ini sangat relevan dengan setidaknya enam tujuan dalam SDGs. Tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tersentuh ketika konsumen mulai memilih produk bergizi dan aman. Tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak) dan ke-1 (Tanpa Kemiskinan) terbantu bila rantai nilai yang lebih pendek meningkatkan pendapatan petani kecil. Tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) menjadi inti, sebab keputusan konsumen mendorong produsen mengadopsi praktik yang lebih efisien dan rendah limbah. Tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) ikut terlibat ketika preferensi pada produk lokal mengurangi jejak karbon dari pengiriman jarak jauh.

Tantangannya, banyak petani kecil belum siap merespons pergeseran ini. Mereka masih bekerja dalam pola produksi musiman tanpa standar kualitas yang konsisten, tanpa pencatatan, dan dengan akses pasar yang terbatas. Di sinilah peran pendidikan vokasi agroindustri menjadi strategis: menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani sisi produksi (petani) dengan sisi permintaan (konsumen modern), melalui penanganan pascapanen, pengemasan, pelabelan, hingga manajemen rantai pasok berbasis digital.

Memahami preferensi dan perilaku konsumen produk segar bukan sekadar urusan pemasaran. Ia adalah peta jalan untuk membangun agroindustri Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Konsumen yang semakin kritis bisa menjadi kekuatan pendorong perubahan asalkan petani, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah bergerak bersama. Pendidikan vokasi di bidang Pengembangan Produk Agroindustri memiliki kesempatan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya membaca pasar, tetapi juga mampu menerjemahkan preferensi konsumen menjadi inovasi produk yang berdampak pada pencapaian SDGs. Pada akhirnya, sebuah keranjang sayur yang dipilih konsumen pagi ini bisa menjadi sumbangan kecil—tetapi nyata—bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Penulis: Galih Kusuma Ajii, Ph.D.

Editor: Putri Rousan Nabila

Inovasi Teknologi Pascapanen untuk Food Preservation Melon: Dosen UGM Raih Pendanaan PDP BIMA 2026

Informasi TerkiniRiset Wednesday, 29 April 2026

Yogyakarta — Pengembangan teknologi food preservation menjadi salah satu kunci dalam menjawab tantangan penurunan kualitas produk hortikultura pascapanen, terutama pada komoditas buah segar yang memiliki umur simpan pendek. Pendekatan berbasis rekayasa proses dan perlakuan pascapanen terus dikembangkan untuk menjaga mutu, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan efisiensi dalam sistem distribusi pangan.

Dalam konteks tersebut, tim peneliti yang diketuai oleh Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada berhasil memperoleh pendanaan dalam program Penelitian Dosen Pemula (PDP) BIMA 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Penelitian yang diusulkan berjudul “Perubahan Sifat Fisika-Kimia Melon Sweet Hami (Cucumis melo var. reticulatus Hamigua) Akibat Pra-Perlakuan Kalsium Klorida (CaCl₂) selama Penyimpanan Pascapanen pada Suhu Dingin.”

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kerentanan kualitas melon pascapanen akibat proses distribusi, penyimpanan, serta paparan mikroba. Melon Sweet Hami sebagai salah satu varietas unggulan memiliki kandungan air tinggi dan bersifat klimakterik, sehingga mengalami percepatan pematangan setelah panen dan memiliki umur simpan relatif singkat. Selama penyimpanan, perubahan fisikokimia seperti pencoklatan, pelunakan tekstur, serta penurunan kandungan nutrisi menjadi tantangan utama yang berdampak pada daya saing produk di pasar.

Gambar 1. Kondisi Melon (varietas lain) Rusak Akibat Penyimpanan

Penyimpanan suhu dingin umum digunakan untuk memperpanjang umur simpan, namun pada melon metode ini berisiko menimbulkan chilling injury yang justru menurunkan kualitas. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pendekatan kombinasi antara perlakuan pra-perendaman menggunakan kalsium klorida (CaCl₂) dengan penyimpanan dingin. Kalsium diketahui berperan dalam menstabilkan membran sel, menekan produksi etilen, serta mengurangi kerusakan jaringan, sehingga berpotensi menjaga kualitas buah selama penyimpanan. Kajian ini menjadi penting karena kombinasi perlakuan tersebut pada melon Sweet Hami masih terbatas diteliti, sehingga memiliki nilai kebaruan dalam pengembangan teknologi pascapanen hortikultura.

Secara keilmuan, penelitian ini memperkuat kepakaran peneliti dalam bidang teknologi pascapanen dan food preservation, khususnya dalam memahami perubahan sifat fisika-kimia bahan pangan selama penyimpanan serta pengembangan strategi untuk mempertahankan kualitas produk hortikultura. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penentuan kondisi penyimpanan yang lebih optimal, baik pada skala industri maupun distribusi.

Selain itu, penelitian ini juga relevan dengan isu perubahan iklim (climate change), terutama dalam konteks peningkatan efisiensi sistem pangan dan pengurangan kehilangan hasil pascapanen. Dengan memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas produk, pemborosan sumber daya dapat ditekan sehingga mendukung praktik produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kontribusi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals, khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dalam pengurangan food loss serta SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya menjaga kualitas nutrisi dan keamanan pangan.

Keberhasilan memperoleh pendanaan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan riset pascapanen berbasis inovasi yang terintegrasi dengan sistem pertanian modern, serta memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas dan daya saing komoditas hortikultura Indonesia.

Penulis dan Penyunting: Putri Rousan Nabila

Dari Teori ke Praktik: Menilik Kegiatan Magang Mahasiswa di Divisi Quality Control PT Charoen Pokphand

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Monday, 27 April 2026

Salatiga – Dalam rangka meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang industri pangan, dua mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, yaitu Jane dan Alya, melaksanakan kegiatan magang di PT Charoen Pokphand Indonesia – Food Division Salatiga. Program ini berlangsung selama empat bulan, terhitung sejak 5 Januari hingga 8 Mei 2026. Kegiatan magang ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kurikulum akademik, tetapi juga sebagai implementasi nyata dalam mengintegrasikan teori dengan praktik industri, khususnya pada perusahaan pangan skala besar yang dikenal melalui produk olahannya seperti Fiesta.

Selama pelaksanaan magang, mahasiswa ditempatkan pada Divisi Quality Control dan Laboratorium, dengan fokus pada penguatan kompetensi di bidang pengendalian mutu (quality control). Mahasiswa terlibat langsung dalam aktivitas pengujian kualitas produk, yang mencakup evaluasi bahan baku, proses produksi, hingga produk akhir. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesesuaian produk terhadap standar mutu dan spesifikasi yang telah ditetapkan perusahaan, sekaligus berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dalam mendukung proses industri yang andal dan berstandar tinggi.

Selain itu, mahasiswa juga mempelajari dan mengimplementasikan Standard Operating Procedure (SOP) serta Good Manufacturing Practices (GMP) sebagai bagian dari sistem jaminan mutu dan keamanan pangan. Penerapan kedua aspek tersebut menjadi landasan penting dalam menjaga konsistensi kualitas produk di industri pangan, serta selaras dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui praktik produksi yang aman dan terkontrol. 

Dalam aspek keamanan pangan (food safety), mahasiswa melakukan analisis menggunakan pendekatan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) pada produk nugget dan sosis untuk mengidentifikasi titik kendali kritis dalam proses produksi. Kegiatan ini dilengkapi dengan identifikasi potensi bahaya kerja melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) sebagai bagian dari penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). 

Selain memperoleh pengalaman teknis, mereka juga mendapatkan manfaat dalam pengembangan relasi profesional serta wawasan yang lebih luas terkait produk dan sistem kerja di perusahaan berskala besar. Dengan demikian, program magang ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang lebih kompeten, profesional, dan siap berkontribusi secara optimal di dunia industri pangan. 

Penulis: Melany Ayudya
Editor: AMR

Mengubah Limbah Kakao Menjadi Nilai Tambah: Inovasi untuk Sistem Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Monday, 27 April 2026

Industri kakao global menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dengan kulit buah kakao (cocoa pod husk/CPH) sebagai fraksi terbesar. Selama ini, CPH umumnya dianggap sebagai limbah pertanian yang kurang dimanfaatkan, bahkan sering menimbulkan permasalahan lingkungan seperti penumpukan biomassa, potensi pencemaran, dan berkembangnya penyakit tanaman. Namun demikian, perkembangan riset terkini menunjukkan bahwa limbah ini memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi, khususnya sebagai sumber pektin—senyawa hidrokolloid yang banyak digunakan dalam industri pangan.

Penelitian doktoral yang dilakukan di Universiti Putra Malaysia dengan dukungan beasiswa UPM-SEARCA dan kerja sama dengan Malaysian Cocoa Board (MCB) berfokus pada upaya valorisasi limbah kulit buah kakao melalui pendekatan teknologi proses yang berkelanjutan. Studi ini menitikberatkan pada optimalisasi metode ekstraksi ramah lingkungan untuk menghasilkan pektin berkualitas tinggi dari CPH, sehingga limbah yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi bahan baku fungsional bagi industri pangan.

Gambar 1. Dokumentasi saat Pengambilan Sampel CPH di MCB Bagan Datuk

Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah penerapan teknologi subcritical water extraction, yaitu metode ekstraksi berbasis air pada kondisi suhu dan tekanan terkendali yang memungkinkan pemisahan senyawa bioaktif secara efisien tanpa penggunaan pelarut kimia berbahaya. Selain itu, dilakukan pula perlakuan awal terhadap bahan baku untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia CPH, sehingga proses ekstraksi menjadi lebih optimal dan menghasilkan pektin dengan kualitas yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao memiliki potensi kuat sebagai sumber alternatif pektin yang berkelanjutan dan kompetitif secara industri.

Gambar 2. Pemanenan Pektin Basah dari Ekstraksi CPH

Kontribusi penelitian ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah membuka peluang ekonomi baru bagi petani kakao dan pelaku agroindustri, terutama di wilayah pedesaan.
  2. SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Optimalisasi pemanfaatan hasil samping pertanian mendukung efisiensi sistem pangan dan mengurangi kehilangan sumber daya, sehingga berkontribusi pada ketahanan pangan berkelanjutan.
  3. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Pengembangan bahan pangan fungsional seperti pektin mendukung inovasi produk pangan yang lebih sehat dan berkualitas bagi masyarakat.

Lebih dari itu, penelitian ini mencerminkan pendekatan ekonomi sirkular dalam sistem agroindustri, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari rantai produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Transformasi ini menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan lingkungan dan pangan global.

Salah satu pesan kunci dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang menciptakan nilai dari limbah itu sendiri. Dengan memanfaatkan potensi kulit buah kakao, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Editor: Putri Rousan Nabila

Mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri Perkuat Kompetensi Industri Melalui Magang di CV Ganep Lintas Generasi

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 16 April 2026

SURAKARTA – Dalam upaya mewujudkan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (Rani, Nurul, dan Prasetyaning) telah sukses menyelesaikan program magang intensif selama tiga bulan (8 Februari – 8 Mei 2026) di CV Ganep Lintas Generasi, Surakarta. Magang ini bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan langkah nyata dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik industri di salah satu perusahaan roti legendaris di Kota Solo.

Di tempatkan di Divisi Produksi, ketiga mahasiswa terlibat aktif dari hulu hingga hilir dalam pembuatan roti basah dan kering. Fokus utama mereka adalah memastikan standar mutu yang ketat melalui Quality Control (QC). Hal ini mencakup pengukuran teknis seperti memastikan konsistensi rasa dari kadar gulanya (°Brix) dan menjamin keamanan dan daya simpan produk dari tingkat keasamannya (pH). Kegiatan ini secara langsung mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui optimalisasi proses produksi skala UMKM/Industri menengah menuju standar yang lebih presisi. Tak hanya di area produksi, mereka juga berkontribusi pada manajemen rantai pasok. Mulai dari pengemasan, pelabelan, hingga sistem distribusi berbasis barcode. 

Salah satu poin unik dalam pengalaman ini adalah keterlibatan mereka dalam pengolahan Kecik, produk tradisional ikonik dari CV Ganep. Proses penggilingan hingga penyajian yang membutuhkan ketelitian tinggi memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga warisan kuliner lokal di tengah arus modernisasi.

Di luar aspek teknis, lingkungan kerja di Jalan Sutan Syahrir No. 176 ini menempa kemampuan kolaborasi dan komunikasi mereka.

“Pengalaman ini tidak hanya mempertajam kemampuan analisis kami dalam menyelesaikan masalah produksi, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang pentingnya kerja tim dan hubungan kemanusiaan di dunia kerja,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.

Penutupan program magang ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi dunia industri dan berkontribusi pada pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan melalui keilmuan yang ditekuni.

Penulis: Melany Ayudya Syauma Putri
Editor: AMR

Program Studi PPA UGM Raih Akreditasi Baik Sekali Periode Tahun 2026–2031

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Thursday, 16 April 2026

Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, resmi memperoleh peningkatan status akreditasi menjadi “Baik Sekali”, terhitung mulai tanggal 17 Maret 2026 sampai dengan 17 Maret 2031, yang diberikan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Capaian ini menjadi langkah strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan serta penguatan daya saing program studi di tingkat nasional. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan di PPA telah memenuhi standar yang lebih tinggi. Hal tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari kualitas dosen hingga sistem tata kelola akademik. Dengan capaian ini, PPA semakin memperkuat posisinya sebagai program studi vokasi yang kompetitif.

Peningkatan akreditasi ini tidak hanya mencerminkan kualitas pendidikan yang semakin baik, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pengembangan program studi secara menyeluruh. Aspek kurikulum, fasilitas pembelajaran, serta sistem manajemen akademik mengalami penguatan yang signifikan. Perubahan status ini turut meningkatkan kepercayaan publik terhadap Program Studi PPA sebagai institusi pendidikan yang kredibel. Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan minat calon mahasiswa serta memperkuat daya tarik program studi dalam menjaring mahasiswa berkualitas. Selain itu, peningkatan akreditasi juga memperluas peluang kerja sama dengan mitra industri, pemerintah, maupun institusi internasional.

Dalam aspek pendanaan, status akreditasi “Baik Sekali” membuka peluang lebih besar bagi program studi untuk mengakses berbagai skema hibah, baik nasional maupun internasional. Banyak program pendanaan yang memprioritaskan institusi dengan akreditasi tinggi sebagai indikator kualitas. Hal ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan kegiatan akademik, penelitian, serta inovasi di lingkungan PPA. Selain itu, kolaborasi dalam bidang riset dan pengembangan program bersama juga menjadi lebih terbuka. Dukungan pendanaan ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Dampak positif dari peningkatan akreditasi juga dirasakan oleh lulusan Program Studi PPA. Lulusan memiliki peluang yang lebih besar untuk diterima di dunia kerja maupun melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Status akreditasi menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan oleh industri dan institusi pendidikan dalam menilai kualitas lulusan. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan PPA semakin diakui dan memiliki daya saing yang lebih kuat. Dengan demikian, peningkatan akreditasi turut berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang agroindustri.

Di sisi internal, proses peningkatan akreditasi mendorong penguatan sistem manajemen, pengembangan kurikulum, serta pelaksanaan evaluasi berkelanjutan. Perbaikan ini menjadi fondasi penting dalam memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga dan terus meningkat. Program studi juga menjadi lebih adaptif dalam merespons perkembangan kebutuhan industri dan dunia kerja. Upaya ini dilakukan secara sistematis untuk mencapai standar yang lebih tinggi di masa mendatang. Dengan demikian, PPA memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkembang menuju tingkat keunggulan.

Capaian ini juga sejalan dengan komitmen Program Studi PPA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Peningkatan mutu pendidikan berkontribusi pada pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Peningkatan kualitas lulusan turut berkontribusi pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Selain itu, penguatan kolaborasi dengan industri mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui capaian ini, Program Studi PPA menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas kolaborasi, serta menghasilkan lulusan yang adaptif dan siap berkontribusi di sektor agroindustri.

123…8

Recent Posts

  • Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen
  • Sinergi Berkelanjutan: PT Gambino Artisan Prima Fasilitasi Mahasiswa Magang Pengembangan Produk Agroindustri Kembangkan Inovasi QC Berbasis SDGs
  • Mahasiswa PPA UGM Pelajari Sistem Pergudangan di PT Sinar Niaga Sejahtera
  • Optimalkan Manajemen Pergudangan dan Sistem FEFO, Mahasiswa Magang Berikan Kontribusi Strategis di CV Tera Sukses Abadi
  • Memahami Preferensi Konsumen Produk Segar: Cermin Masa Depan Agroindustri Indonesia dan SDGs

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY