Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Riset
Arsip:

Riset

Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum

Informasi TerkiniPengabdianRiset Wednesday, 27 May 2026

Dalam inisiatif yang inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong konsumsi yang berkelanjutan, peneliti (Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.) di Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, telah memulai pengembangan susu nabati yang terbuat dari kombinasi sorgum, kedelai, dan biji rami (flaxseed). Produk inovatif ini dirancang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan minuman sehat berbasis tanaman di pasar modern.

Gambar 1. Jenis serealia yang digunakan 
Sumber gambar: ChatGPT

Pemilihan sorgum sebagai bahan utama sangat signifikan, karena merupakan serealia lokal yang kaya serat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional.  Kedelai berperan penting dalam formulasi ini, sebagai sumber utama protein nabati. Penambahan ini meningkatkan nilai gizi produk, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan. Flaxseed, yang dikenal kaya akan omega-3, serat pangan, dan antioksidan, juga ditambahkan untuk mendukung manfaat kesehatan dari susu nabati ini, menjadikannya pilihan yang seimbang bagi mereka yang mencari alternatif bergizi.

Tim peneliti menggunakan pendekatan berbasis konsumen, menganalisis preferensi konsumen terkait rasa, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan warna produk. Metodologi ini memastikan bahwa formulasi akhir sesuai dengan kebutuhan pasar modern dan harapan konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan adopsi pasar yang sukses. Seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup sehat, vegan, dan intoleransi laktosa, produk susu nabati inovatif ini siap memenuhi permintaan dari berbagai kalangan konsumen. 

Lebih jauh lagi, inisiatif ini mendukung diversifikasi sumber pangan lokal, mendorong penggunaan tanaman lokal seperti sorgum. Dengan mengintegrasikan komoditas lokal ini ke dalam rantai pasokan pangan, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mempromosikan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) : Mendukung diversifikasi pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pengembangan sumber pangan alternatif berbasis nabati.
  • SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) : Pengembangan inovasi pangan fungsional berbasis bahan lokal termasuk bentuk inovasi di sektor agroindustri pangan.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan lokal membantu mendorong sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan impor.

Sebagai kesimpulan, pengembangan susu nabati berbasis sorgum merupakan langkah signifikan menuju pencapaian ketahanan pangan, mendorong diversifikasi industri, dan mendorong konsumsi yang bertanggung jawab. Seiring dengan kemajuan penelitian ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak solusi pangan inovatif yang sejalan dengan tujuan global keberlanjutan dan kesehatan.

Gambar 2. Susu Nabati Berbasis Sorgum
Sumber : Dokumentasi Peneliti

Penulis : Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. 

Editor: Putri Rousan Nabila

Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

AgendaInformasi TerkiniRiset Wednesday, 20 May 2026

Photo source: https://share.google/dQOZ1rqSE4JrHJ0BA 

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal tidak lagi hanya melihat pada tersedianya label semata. Konsumen produk halal ingin tahu lebih jauh, dari mana bahan berasal, bagaimana proses produksinya, hingga bagaimana produk itu sampai ke tangan mereka. Perubahan ini terasa semakin nyata dalam sektor agroindustri, di mana produk pangan berasal dari rantai proses yang panjang, mulai dari petani hingga ke konsumen. Di sinilah konsep traceability atau ketelusuran menjadi semakin penting. Penerapan sistem ketelusuran dalam agroindustri halal tidak hanya meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik produksi dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan rantai pasok pangan halal yang lebih efisien dan terintegrasi. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar selaku dosen program studi Pengembangan Produk Agroindustri menunjukkan bahwa penerapan traceability dan halal supply chain memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan konsumen, khususnya di masyarakat Muslim seperti di Indonesia. Sistem ini memberikan jaminan bahwa produk tidak hanya halal secara klaim, tetapi juga aman, autentik, dan sesuai dengan standar halal di setiap tahap produksi. Dalam agroindustri, hal ini sangat relevan karena produk pangan melewati banyak titik kritis yang berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi non-halal, mulai dari bahan baku hingga distribusi.

Pada studi yang melibatkan 262 responden konsumen halal di Indonesia, para peneliti menemukan bahwa implementasi sistem traceability memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kepercayaan dan penerimaan konsumen. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko kesalahan dalam rantai pasok, serta memastikan kepatuhan terhadap standar halal.

Selain itu, faktor demografi juga mempengaruhi bagaimana konsumen merespon sistem traceability. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia yang lebih matang, khususnya usia 41-50 tahun, cenderung lebih memperhatikan aspek ketelusuran produk. Artinya, pelaku agroindustri perlu menyesuaikan strategi pemasaran dan pendekatan teknologi agar dapat menjangkau berbagai segmen konsumen secara efektif.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Termasuk juga 57 negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang mengutamakan halal dalam meningkatkan kepercayaan konsumen pada produk pangannya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Menurut OIC, setidaknya terdapat 57 negara anggota yang secara kelembagaan terkait dengan ekosistem halal dunia. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Dari sisi bisnis, penerapan rantai pasok halal juga memiliki implikasi ekonomi yang berbeda. Di Indonesia, integrasi halal supply chain relatif lebih mudah karena produksi non-halal lebih terbatas, sehingga biaya operasional cenderung lebih efisien. Akan tetapi, di negara non-Muslim, pemisahan antara proses halal dan non-halal justru meningkatkan kompleksitas dan biaya produksi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku agroindustri yang ingin memperluas pasar secara global, karena strategi harga dan operasional harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Dr. Wildan Fajar Bachtiar beserta timnya merekomendasikan pemanfaatan teknologi seperti blockchain dan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem pelacakan produk. Dengan dukungan teknologi tersebut, transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok halal dapat ditingkatkan, sehingga mampu memperkuat kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, perkembangan ini menunjukkan bahwa dalam agroindustri modern, halal bukan lagi sekadar label, tetapi sebuah sistem yang mencakup transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Traceability dan halal supply chain bukan hanya alat kontrol, tetapi juga menjadi nilai strategis yang menentukan bagaimana produk diterima di pasar. Melalui penelitian ini menegaskan bahwa masa depan industri halal tidak cukup hanya mengandalkan sertifikasi, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu menjamin keterlacakan, keamanan, dan integritas produk dari hulu hingga hilir.

Penulis: Dr. Wildan Fajar Bachtiar

Editor: Putri Rousan Nabila

Inovasi Teknologi Pascapanen untuk Food Preservation Melon: Dosen UGM Raih Pendanaan PDP BIMA 2026

Informasi TerkiniRiset Wednesday, 29 April 2026

Yogyakarta — Pengembangan teknologi food preservation menjadi salah satu kunci dalam menjawab tantangan penurunan kualitas produk hortikultura pascapanen, terutama pada komoditas buah segar yang memiliki umur simpan pendek. Pendekatan berbasis rekayasa proses dan perlakuan pascapanen terus dikembangkan untuk menjaga mutu, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan efisiensi dalam sistem distribusi pangan.

Dalam konteks tersebut, tim peneliti yang diketuai oleh Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada berhasil memperoleh pendanaan dalam program Penelitian Dosen Pemula (PDP) BIMA 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Penelitian yang diusulkan berjudul “Perubahan Sifat Fisika-Kimia Melon Sweet Hami (Cucumis melo var. reticulatus Hamigua) Akibat Pra-Perlakuan Kalsium Klorida (CaCl₂) selama Penyimpanan Pascapanen pada Suhu Dingin.”

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kerentanan kualitas melon pascapanen akibat proses distribusi, penyimpanan, serta paparan mikroba. Melon Sweet Hami sebagai salah satu varietas unggulan memiliki kandungan air tinggi dan bersifat klimakterik, sehingga mengalami percepatan pematangan setelah panen dan memiliki umur simpan relatif singkat. Selama penyimpanan, perubahan fisikokimia seperti pencoklatan, pelunakan tekstur, serta penurunan kandungan nutrisi menjadi tantangan utama yang berdampak pada daya saing produk di pasar.

Gambar 1. Kondisi Melon (varietas lain) Rusak Akibat Penyimpanan

Penyimpanan suhu dingin umum digunakan untuk memperpanjang umur simpan, namun pada melon metode ini berisiko menimbulkan chilling injury yang justru menurunkan kualitas. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pendekatan kombinasi antara perlakuan pra-perendaman menggunakan kalsium klorida (CaCl₂) dengan penyimpanan dingin. Kalsium diketahui berperan dalam menstabilkan membran sel, menekan produksi etilen, serta mengurangi kerusakan jaringan, sehingga berpotensi menjaga kualitas buah selama penyimpanan. Kajian ini menjadi penting karena kombinasi perlakuan tersebut pada melon Sweet Hami masih terbatas diteliti, sehingga memiliki nilai kebaruan dalam pengembangan teknologi pascapanen hortikultura.

Secara keilmuan, penelitian ini memperkuat kepakaran peneliti dalam bidang teknologi pascapanen dan food preservation, khususnya dalam memahami perubahan sifat fisika-kimia bahan pangan selama penyimpanan serta pengembangan strategi untuk mempertahankan kualitas produk hortikultura. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penentuan kondisi penyimpanan yang lebih optimal, baik pada skala industri maupun distribusi.

Selain itu, penelitian ini juga relevan dengan isu perubahan iklim (climate change), terutama dalam konteks peningkatan efisiensi sistem pangan dan pengurangan kehilangan hasil pascapanen. Dengan memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas produk, pemborosan sumber daya dapat ditekan sehingga mendukung praktik produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kontribusi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals, khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dalam pengurangan food loss serta SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya menjaga kualitas nutrisi dan keamanan pangan.

Keberhasilan memperoleh pendanaan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan riset pascapanen berbasis inovasi yang terintegrasi dengan sistem pertanian modern, serta memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas dan daya saing komoditas hortikultura Indonesia.

Penulis dan Penyunting: Putri Rousan Nabila

Mengubah Limbah Kakao Menjadi Nilai Tambah: Inovasi untuk Sistem Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Monday, 27 April 2026

Industri kakao global menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dengan kulit buah kakao (cocoa pod husk/CPH) sebagai fraksi terbesar. Selama ini, CPH umumnya dianggap sebagai limbah pertanian yang kurang dimanfaatkan, bahkan sering menimbulkan permasalahan lingkungan seperti penumpukan biomassa, potensi pencemaran, dan berkembangnya penyakit tanaman. Namun demikian, perkembangan riset terkini menunjukkan bahwa limbah ini memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi, khususnya sebagai sumber pektin—senyawa hidrokolloid yang banyak digunakan dalam industri pangan.

Penelitian doktoral yang dilakukan di Universiti Putra Malaysia dengan dukungan beasiswa UPM-SEARCA dan kerja sama dengan Malaysian Cocoa Board (MCB) berfokus pada upaya valorisasi limbah kulit buah kakao melalui pendekatan teknologi proses yang berkelanjutan. Studi ini menitikberatkan pada optimalisasi metode ekstraksi ramah lingkungan untuk menghasilkan pektin berkualitas tinggi dari CPH, sehingga limbah yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi bahan baku fungsional bagi industri pangan.

Gambar 1. Dokumentasi saat Pengambilan Sampel CPH di MCB Bagan Datuk

Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah penerapan teknologi subcritical water extraction, yaitu metode ekstraksi berbasis air pada kondisi suhu dan tekanan terkendali yang memungkinkan pemisahan senyawa bioaktif secara efisien tanpa penggunaan pelarut kimia berbahaya. Selain itu, dilakukan pula perlakuan awal terhadap bahan baku untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia CPH, sehingga proses ekstraksi menjadi lebih optimal dan menghasilkan pektin dengan kualitas yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao memiliki potensi kuat sebagai sumber alternatif pektin yang berkelanjutan dan kompetitif secara industri.

Gambar 2. Pemanenan Pektin Basah dari Ekstraksi CPH

Kontribusi penelitian ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah membuka peluang ekonomi baru bagi petani kakao dan pelaku agroindustri, terutama di wilayah pedesaan.
  2. SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Optimalisasi pemanfaatan hasil samping pertanian mendukung efisiensi sistem pangan dan mengurangi kehilangan sumber daya, sehingga berkontribusi pada ketahanan pangan berkelanjutan.
  3. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Pengembangan bahan pangan fungsional seperti pektin mendukung inovasi produk pangan yang lebih sehat dan berkualitas bagi masyarakat.

Lebih dari itu, penelitian ini mencerminkan pendekatan ekonomi sirkular dalam sistem agroindustri, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari rantai produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Transformasi ini menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan lingkungan dan pangan global.

Salah satu pesan kunci dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang menciptakan nilai dari limbah itu sendiri. Dengan memanfaatkan potensi kulit buah kakao, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Editor: Putri Rousan Nabila

Transformasi Sensoris Kopi Robusta Sleman Melalui Perlakuan Roasting

Riset Friday, 31 October 2025

Nanda, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2021, melakukan penelitian yang inovatif mengenai efek roasting terhadap kualitas sensori kopi robusta Sleman. Penelitian ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas kopi lokal, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berkaitan dengan kualitas makanan dan keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana suhu roasting yang berbeda dapat mempengaruhi karakteristik sensori dari varietas kopi yang unik ini.

Penelitian Nanda melibatkan serangkaian eksperimen roasting yang terkontrol, di mana berbagai suhu diterapkan pada biji kopi. Hasilnya dianalisis menggunakan protokol cupping dari Coffee Quality Institute (CQI), yang merupakan metode standar untuk mengevaluasi kualitas kopi jennis Robusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu roasting memiliki dampak signifikan terhadap karakteristik sensori kopi robusta Sleman, dengan nilai p kurang dari 0,05 yang menunjukkan signifikansi statistik yang kuat. Ini berarti bahwa variasi suhu roasting secara langsung mempengaruhi aroma, rasa, dan kualitas keseluruhan kopi, menyoroti pentingnya teknik roasting yang tepat dalam produksi kopi.

Di antara berbagai perlakuan roasting yang diuji, satu metode tertentu menonjol sebagai yang terbaik. Perlakuan roasting optimal ini menghasilkan profil kopi yang ditandai dengan aroma nutty, body tebal, dan rasa pahit/manis yang seimbang. Selain itu, kopi ini juga menunjukkan nuansa dark chocolate dan caramel, dengan aftertaste yang bersih dan keseimbangan keseluruhan yang memberikannya skor akhir 82.
Dengan meningkatkan kualitas kopi robusta Sleman, penelitian ini berkontribusi pada ekonomi lokal dan mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Kopi berkualitas tinggi dapat menarik lebih banyak konsumen, baik secara lokal maupun internasional, sehingga meningkatkan pendapatan petani lokal dan mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, penelitian ini sejalan dengan SDGs dengan menekankan pentingnya produksi makanan berkualitas. Dengan fokus pada peningkatan atribut sensori kopi. Seiring dengan pertumbuhan industri kopi, studi ini sangat penting untuk memastikan bahwa produk lokal dapat bersaing di pasar global. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan berharga bagi produsen kopi tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk penelitian di bidang ilmu kopi di masa depan. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya teknik roasting dalam meningkatkan profil sensori kopi, yang pada akhirnya menguntungkan petani lokal dan mempromosikan praktik makanan yang berkelanjutan.

Saat komunitas kopi di Sleman mengadopsi temuan ini, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi produksi kopi lokal, yang berakar pada kualitas, keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi.

Prodi PPA SV UGM dan Aifarm Temukan Profil Asam Lemak Sehat pada Susu Bubuk Kambing dengan Proses Spray Drying

Riset Tuesday, 28 October 2025

Yogyakarta, Oktober 2025 – Tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan startup peternakan Aifarm, berhasil mengidentifikasi profil asam lemak susu bubuk kambing Etawa hasil proses spray drying yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar formula pertumbuhan anak usia dini.

Hasil analisis menunjukkan bahwa susu bubuk kambing memiliki asam lemak jenuh (SFA) dan  asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang cukup stabil setelah proses pengeringan dengan spray drying.  Kandungan omega-9 (oleic acid) mencapai 36%, jauh lebih tinggi dibandingkan pada susu cair. Omega-9 berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, sistem imun, serta pertumbuhan sel pada anak. Sebaliknya, kadar omega-3 dan omega-6 yang rendah menunjukkan perlunya pengayaan formula untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial anak usia 1–3 tahun sebagaimana direkomendasikan WHO/FAO.

Menurut tim peneliti, kondisi ini memberikan peluang pengembangan formulasi inovatif dengan menambahkan sumber PUFA alami seperti minyak biji bunga matahari, minyak biji chia, atau minyak ikan mikroenkapsulasi. “Masih perlu formulasi lanjutan untuk meningkatkan kandungan omega-3 dan omega-6, tujuannya agar susu bubuk kambing lokal dapat menyaingi susu formula dalam hal komposisi gizi dan stabilitas produk,” jelas ketua tim peneliti, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.

Riset ini berkontribusi terhadap SDG’s 2 dengan mendorong diversifikasi pangan bergizi berbasis sumber lokal, sekaligus mendukung SDG’s 12 melalui optimalisasi proses spray drying yang hemat energi dan minim limbah. Kolaborasi ini juga memperkuat hubungan akademik–industri untuk menciptakan produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Pihak Aifarm menyampaikan bahwa penelitian ini membantu mereka memahami korelasi antara parameter spray drying dan profil nutrisi susu, terutama dalam mempertahankan stabilitas lemak selama pengeringan. Penelitian lanjutan akan difokuskan pada optimasi formulasi susu bubuk fungsional untuk anak, pengujian sensoris, serta kajian bioavailabilitas asam lemak esensial. 

Kolaborasi ini membuktikan bahwa riset perguruan tinggi dapat langsung berdampak pada sektor agroindustri lokal, memperkuat kemandirian pangan, dan menghadirkan inovasi gizi berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Infografis:

Ciptakan Susu Bubuk Kambing Berkualitas, Hasil Kerjasama Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi UGM dan Aifarm

Riset Tuesday, 28 October 2025

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi UGM bekerja sama dengan PT. Aifarm Teknologi Agrikultur, startup peternakan kambing, mengembangkan inovasi susu bubuk kambing berkualitas tinggi berbasis teknologi spray drying.

Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 2 – Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penyediaan alternatif pangan hewani bergizi tinggi, SDG 9 – Industri, Inovasi dan Infrastruktur dengan pengembangan teknologi pengolahan agroindustri, serta SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena memanfaatkan hasil peternakan lokal secara optimal dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini bermula dari tantangan yang dihadapi Aifarm dalam mengolah susu kambing segar menjadi susu bubuk menggunakan metode spray drying skala industri. Tim dosen PPA SV UGM (yang terdiri dari Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Dr, Eng. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., Dr. Agr. Sc. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc., Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., M.FoodScTech, dan Satria Bhirawa Anoraga) menangkap kebutuhan tersebut dan merancang penelitian untuk mengoptimalkan proses pengeringan dengan mengatur suhu inlet dan konsentrasi maltodekstrin.

Evaluasi dilakukan melalui analisis mutu fisikokimia (kadar air, kelarutan, warna, komposisi proksimat, dan cemaran mikroba). Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi parameter yang tepat mampu menghasilkan susu bubuk dengan mutu tinggi dan stabil.

Kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip konsumsi-produksi berkelanjutan, karena mendorong pemanfaatan hasil peternakan lokal secara efisien, mengurangi limbah, dan menciptakan nilai tambah di tingkat peternak. Proyek ini menunjukkan sinergi antara pendidikan tinggi, inovasi teknologi, dan kewirausahaan berbasis komunitas peternakan rakyat.

Dengan hasil riset yang aplikatif dan berdampak langsung ke masyarakat, kolaborasi ini memperkuat komitmen UGM dalam mendukung hilirisasi riset serta pencapaian SDG secara holistik. Ke depan, diharapkan produk ini dapat dikomersialisasikan melalui kemitraan industri dan mendorong tumbuhnya UMKM berbasis produk hewani fungsional di Indonesia.

Blanching: Rahasia di Balik Warna Cerah dan Aroma Segar Daun Bawang Kering

Riset Tuesday, 28 October 2025

Daun bawang (Allium fistulosum L.) merupakan salah satu bumbu penting dalam masakan Indonesia, memberikan aroma khas dan rasa gurih yang menggugah selera. Di balik aroma khas yang selalu hadir di setiap masakan Indonesia, daun bawang menyimpan tantangan besar bagi petani dan pelaku usaha pangan: daya simpan yang sangat singkat. Dalam beberapa hari setelah panen, daun bawang bisa layu, berubah warna, dan kehilangan kesegarannya. Kondisi ini sering membuat hasil panen terbuang sia-sia, terutama di musim panen raya.

Salah satu solusi untuk memperpanjang umur simpannya adalah melalui proses pengeringan, yang mampu menurunkan kadar air dan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Namun, dalam praktiknya, proses pengeringan sering kali menyebabkan perubahan warna, tekstur, dan aroma yang tidak diinginkan. Warna daun bawang bisa menjadi kecokelatan, aromanya berkurang, dan tampilannya kurang menarik.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melakukan penelitian untuk mencari cara sederhana namun efektif dalam memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa menurunkan kualitasnya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah blanching, yaitu perlakuan panas ringan sebelum proses pengeringan, yang bertujuan menjaga warna, aroma, dan kandungan gizi daun bawang.

Gambar 1. Daun bawang segar yang telah dipotong (kiri) dan siap untuk dikeringkan (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Penelitian dilakukan di laboratorium pengolahan hasil pertanian Sekolah Vokasi UGM. Daun bawang segar dipotong kecil, kemudian dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan dengan variasi metode blanching antara lain dicelupkan ke dalam air panas, dikukus, dan tanpa blanching. Setelah itu, seluruh sampel dikeringkan menggunakan cabinet dryer pada suhu 45, 55, dan 65°C selama 4, 6, dan 8 jam hingga kadar airnya turun di bawah lima persen.

Gambar 2. Proses blanching dengan pengukusan (kiri) dan perendaman air panas (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Setelah proses pengeringan, peneliti melakukan serangkaian pengujian untuk mengevaluasi perubahan fisik dan kimia daun bawang. Parameter yang diamati antara lain warna (L, a, b*)**, kekerasan (firmness), aktivitas air (aw), kadar air, serta aktivitas antioksidan. Uji sensoris juga dilakukan untuk menilai tampilan dan aroma produk, sementara uji mikrobiologi dilakukan untuk memastikan keamanan produk selama penyimpanan.

Gambar 3. Proses pengujian laboratorium
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan blanching menghasilkan warna hijau yang lebih cerah dan aroma yang lebih kuat dibandingkan sampel tanpa blanching. Proses blanching terbukti mampu menginaktivasi enzim penyebab pencokelatan dan degradasi klorofil, sehingga daun bawang kering tetap terlihat segar dan menarik. Selain itu, blanching juga membantu mengurangi jumlah mikroorganisme awal dan mempertahankan sebagian besar senyawa antioksidan alami pada daun bawang.

Gambar 4. Daun bawang kering dengan beberapa perlakuan berbeda
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara visual, daun bawang yang dikeringkan setelah blanching memiliki penampakan yang lebih cerah dan tekstur yang lebih baik, sementara sampel tanpa blanching menunjukkan kecenderungan warna kecokelatan dan tekstur yang lebih keras akibat reaksi enzimatis dan oksidatif selama pengeringan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan blanching dapat menjadi solusi sederhana bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memproduksi daun bawang kering berkualitas tinggi. Dengan teknologi pengolahan yang relatif mudah diterapkan dan efisien, proses ini berpotensi mengurangi kehilangan hasil panen serta meningkatkan daya saing produk hortikultura lokal di pasar nasional maupun ekspor.

Meningkatkan Mutu Produk Buah Naga Merah Melalui Teknologi Ramah Lingkungan

AgendaInformasi TerkiniRiset Tuesday, 24 December 2024

Dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), penelitian tentang pengaruh buah naga merah terhadap mutu produk kering-beku menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan dalam sektor pertanian. Penelitian ini fokus pada pengembangan produk pangan berkualitas tinggi dengan metode pengeringan beku ( freeze dry ) yang ramah lingkungan.

Buah naga merah, yang merupakan salah satu komoditas unggulan di Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki umur simpan pendek akibat kerentanannya terhadap kerusakan mikrobiologis. Penelitian yang dilakukan oleh Fahrizal Yusuf Affandi bersama tim dari Sekolah Vokasi UGM ini mengidentifikasi umur panen optimal dan parameter operasional terbaik untuk menghasilkan buah naga kering-beku berkualitas tinggi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat kematangan tidak mempengaruhi kadar air atau betasianin, hasil optimal dicapai dengan mempertimbangkan kekerasan tekstur dan warna produk akhir. Dengan memanfaatkan metode non-termal ini, pengeringan beku mampu mempertahankan tekstur dan warna alami buah, mendukung target SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengurangan limbah pangan.

Inovasi ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan daya saing produk lokal di pasar internasional, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Langkah ini mempertegas pentingnya sinergi antara penelitian dan pemberdayaan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber:

Data diadaptasi dari Prosiding SNTT 2024 oleh Fahrizal Yusuf Affandi dan tim.

Cokelat Kubus One-Bite: Hasil Riset Mendalam untuk Memenuhi Selera Konsumen

Informasi TerkiniRiset Friday, 6 December 2024

R.R. Hana Avika Budiyanto, mahasiswa AP 2021 mengembangkan produk Cokelat Kubus One-Bite sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan akan pilihan cokelat berkualitas tinggi yang nyaman dan sesuai dengan preferensi konsumen modern.

Kakao, sebagai komoditas pertanian yang vital, memainkan peran penting dalam ekonomi Indonesia sebagai sumber devisa negara. Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia untuk konsumsi cokelat, dengan rata-rata yang mengesankan sebesar 7,3 kg per kapita. Tingkat konsumsi yang tinggi ini menyoroti pentingnya cokelat tidak hanya sebagai camilan tetapi juga sebagai makanan penghibur yang membantu mengurangi stres bagi banyak konsumen.

Cokelat Kubus One-Bite dirancang khusus untuk mereka yang menikmati cokelat tanpa merasa bersalah karena mengonsumsinya secara berlebihan. Ukuran satu gigitan menciptakan kesan kualitas premium, menjadikannya pilihan menarik bagi para pecinta cokelat. Pendekatan inovatif Hana melibatkan pengembangan cokelat manis berbentuk kubus  dengan isian kacang dan variasi jumlah lemak kakao. Dengan menggunakan metode Value Engineering, ia mampu mengoptimalkan atribut produk untuk memenuhi harapan konsumen. Penelitian ini berfokus pada atribut kunci seperti warna dan kemudahan konsumsi, yang diidentifikasi sebagai faktor terpenting yang memengaruhi pilihan konsumen.

Temuan penelitian Hana telah dipublikasikan dalam Jurnal Internasional Bereputasi Food Research, Volume 8, Supplementary 4, 2024. Publikasi ini tidak hanya menunjukkan dedikasinya terhadap bidang ini tetapi juga berkontribusi pada diskusi yang lebih luas tentang produksi dan konsumsi makanan yang berkelanjutan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait makanan.

Dalam studinya, Hana menekankan pentingnya memahami perilaku dan preferensi konsumen di pasar cokelat. Dengan menganalisis tren dan melakukan uji rasa, ia mampu menyempurnakan produknya untuk memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan audiens target. Hasilnya adalah cokelat yang tidak hanya memuaskan keinginan tetapi juga sejalan dengan permintaan yang semakin meningkat akan produk premium dan artisanal.

Cokelat Kubus One-Bite diharapkan akan menarik perhatian di pasar lokal, menarik bagi konsumen biasa maupun pencinta cokelat. Desain unik dan bahan berkualitas tinggi memposisikan produk ini sebagai produk unggulan di industri yang kompetitif. Seiring dengan semakin banyaknya konsumen yang mencari produk yang menawarkan kenikmatan dan kualitas, kreasi Hana siap memenuhi kebutuhan ini secara efektif.

Lebih jauh lagi, pengenalan produk ini sejalan dengan SDGs dengan mempromosikan pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Dengan fokus pada kualitas dan keberlanjutan, Cokelat Kubus One-Bite berkontribusi pada sistem pangan yang lebih berkelanjutan, mendorong konsumen untuk membuat pilihan yang tepat tentang produk yang mereka konsumsi.

Artikel Ilmiah Hana dapat diakses melalui tautan: https://www.myfoodresearch.com/uploads/8/4/8/5/84855864/_14__fr-kliafp12-15_budiyanto.pdf

12

Recent Posts

  • Belajar Mutu dari Lini Produksi: Mahasiswa Agroindustri Kembangkan Kompetensi QA di Garuda Beverage Sukses
  • Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum
  • Dari 81.800 Pendaftar, Mahasiswi PPA UGM Lolos Google Student Ambassador 2026
  • Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen
  • Sinergi Berkelanjutan: PT Gambino Artisan Prima Fasilitasi Mahasiswa Magang Pengembangan Produk Agroindustri Kembangkan Inovasi QC Berbasis SDGs

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY