Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Agenda
Arsip:

Agenda

Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

AgendaInformasi TerkiniRiset Wednesday, 20 May 2026

Photo source: https://share.google/dQOZ1rqSE4JrHJ0BA 

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal tidak lagi hanya melihat pada tersedianya label semata. Konsumen produk halal ingin tahu lebih jauh, dari mana bahan berasal, bagaimana proses produksinya, hingga bagaimana produk itu sampai ke tangan mereka. Perubahan ini terasa semakin nyata dalam sektor agroindustri, di mana produk pangan berasal dari rantai proses yang panjang, mulai dari petani hingga ke konsumen. Di sinilah konsep traceability atau ketelusuran menjadi semakin penting. Penerapan sistem ketelusuran dalam agroindustri halal tidak hanya meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik produksi dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan rantai pasok pangan halal yang lebih efisien dan terintegrasi. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar selaku dosen program studi Pengembangan Produk Agroindustri menunjukkan bahwa penerapan traceability dan halal supply chain memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan konsumen, khususnya di masyarakat Muslim seperti di Indonesia. Sistem ini memberikan jaminan bahwa produk tidak hanya halal secara klaim, tetapi juga aman, autentik, dan sesuai dengan standar halal di setiap tahap produksi. Dalam agroindustri, hal ini sangat relevan karena produk pangan melewati banyak titik kritis yang berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi non-halal, mulai dari bahan baku hingga distribusi.

Pada studi yang melibatkan 262 responden konsumen halal di Indonesia, para peneliti menemukan bahwa implementasi sistem traceability memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kepercayaan dan penerimaan konsumen. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko kesalahan dalam rantai pasok, serta memastikan kepatuhan terhadap standar halal.

Selain itu, faktor demografi juga mempengaruhi bagaimana konsumen merespon sistem traceability. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia yang lebih matang, khususnya usia 41-50 tahun, cenderung lebih memperhatikan aspek ketelusuran produk. Artinya, pelaku agroindustri perlu menyesuaikan strategi pemasaran dan pendekatan teknologi agar dapat menjangkau berbagai segmen konsumen secara efektif.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Termasuk juga 57 negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang mengutamakan halal dalam meningkatkan kepercayaan konsumen pada produk pangannya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Menurut OIC, setidaknya terdapat 57 negara anggota yang secara kelembagaan terkait dengan ekosistem halal dunia. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Dari sisi bisnis, penerapan rantai pasok halal juga memiliki implikasi ekonomi yang berbeda. Di Indonesia, integrasi halal supply chain relatif lebih mudah karena produksi non-halal lebih terbatas, sehingga biaya operasional cenderung lebih efisien. Akan tetapi, di negara non-Muslim, pemisahan antara proses halal dan non-halal justru meningkatkan kompleksitas dan biaya produksi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku agroindustri yang ingin memperluas pasar secara global, karena strategi harga dan operasional harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Dr. Wildan Fajar Bachtiar beserta timnya merekomendasikan pemanfaatan teknologi seperti blockchain dan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem pelacakan produk. Dengan dukungan teknologi tersebut, transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok halal dapat ditingkatkan, sehingga mampu memperkuat kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, perkembangan ini menunjukkan bahwa dalam agroindustri modern, halal bukan lagi sekadar label, tetapi sebuah sistem yang mencakup transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Traceability dan halal supply chain bukan hanya alat kontrol, tetapi juga menjadi nilai strategis yang menentukan bagaimana produk diterima di pasar. Melalui penelitian ini menegaskan bahwa masa depan industri halal tidak cukup hanya mengandalkan sertifikasi, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu menjamin keterlacakan, keamanan, dan integritas produk dari hulu hingga hilir.

Penulis: Dr. Wildan Fajar Bachtiar

Editor: Putri Rousan Nabila

Memahami Preferensi Konsumen Produk Segar: Cermin Masa Depan Agroindustri Indonesia dan SDGs

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 May 2026

Pergi ke pasar tradisional sambil membawa keranjang sendiri, atau membuka aplikasi daring untuk memesan sayur organik yang diantar dalam dua jam, keduanya kini menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia. Cara konsumen kita memilih dan membeli produk segar (fresh produce) seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya tengah bergeser cepat. Pergeseran ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal penting bagi pelaku agroindustri dan, jika dicermati lebih jauh, bersinggungan langsung dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Beberapa pola perilaku konsumen produk segar di Indonesia menarik untuk diamati. Pertama, kesadaran terhadap kesehatan meningkat signifikan setelah pandemi COVID-19. Konsumen kelas menengah kota besar mulai mempertimbangkan kandungan gizi, residu pestisida, dan kebersihan produk. Berbagai survei lembaga riset pasar menunjukkan willingness to pay untuk produk organik atau berlabel “bebas pestisida” terus naik, meski harganya bisa 20–40 persen lebih mahal dibanding produk konvensional.

Kedua, kemudahan (convenience) menjadi nilai jual baru. Platform e-grocery seperti Sayurbox, TaniHub, hingga fitur belanja segar di marketplace umum tumbuh pesat. Konsumen tidak hanya tertarik karena harga lebih murah, tetapi karena tidak perlu menyentuh, menawar, dan membawa belanjaan sendiri. Bagi generasi muda perkotaan, “pasar” kini adalah sebuah aplikasi di layar ponsel.

Ketiga, transparansi asal-usul produk semakin diminati. Label seperti “dari petani Sleman” atau “dipanen kemarin pagi” terbukti efektif menggugah minat beli. Praktik ini mendorong tumbuhnya pertanian kontrak dan rantai pasok pendek yang menghubungkan konsumen langsung dengan petani.

Gambar 1. Ilustrasi Kondisi Preferensi Konsumen terhadap Produk Segar

Namun di balik tren tersebut, sebagian besar konsumen Indonesia, terutama di pedesaan dan kota kecil, masih sangat sensitif terhadap harga. Pasar tradisional masih menyumbang lebih dari separuh transaksi produk segar nasional. Artinya, pergeseran preferensi tidak seragam. Agroindustri kita menghadapi dua wajah pasar yang harus dilayani sekaligus: konsumen premium yang mencari kualitas dan “cerita” di balik produk, serta konsumen mayoritas yang mengutamakan keterjangkauan.

Dari sudut pandang penulis, dinamika ini sangat relevan dengan setidaknya enam tujuan dalam SDGs. Tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tersentuh ketika konsumen mulai memilih produk bergizi dan aman. Tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak) dan ke-1 (Tanpa Kemiskinan) terbantu bila rantai nilai yang lebih pendek meningkatkan pendapatan petani kecil. Tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) menjadi inti, sebab keputusan konsumen mendorong produsen mengadopsi praktik yang lebih efisien dan rendah limbah. Tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) ikut terlibat ketika preferensi pada produk lokal mengurangi jejak karbon dari pengiriman jarak jauh.

Tantangannya, banyak petani kecil belum siap merespons pergeseran ini. Mereka masih bekerja dalam pola produksi musiman tanpa standar kualitas yang konsisten, tanpa pencatatan, dan dengan akses pasar yang terbatas. Di sinilah peran pendidikan vokasi agroindustri menjadi strategis: menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani sisi produksi (petani) dengan sisi permintaan (konsumen modern), melalui penanganan pascapanen, pengemasan, pelabelan, hingga manajemen rantai pasok berbasis digital.

Memahami preferensi dan perilaku konsumen produk segar bukan sekadar urusan pemasaran. Ia adalah peta jalan untuk membangun agroindustri Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Konsumen yang semakin kritis bisa menjadi kekuatan pendorong perubahan asalkan petani, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah bergerak bersama. Pendidikan vokasi di bidang Pengembangan Produk Agroindustri memiliki kesempatan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya membaca pasar, tetapi juga mampu menerjemahkan preferensi konsumen menjadi inovasi produk yang berdampak pada pencapaian SDGs. Pada akhirnya, sebuah keranjang sayur yang dipilih konsumen pagi ini bisa menjadi sumbangan kecil—tetapi nyata—bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Penulis: Galih Kusuma Ajii, Ph.D.

Editor: Putri Rousan Nabila

Mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri Perkuat Kompetensi Industri Melalui Magang di CV Ganep Lintas Generasi

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 16 April 2026

SURAKARTA – Dalam upaya mewujudkan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (Rani, Nurul, dan Prasetyaning) telah sukses menyelesaikan program magang intensif selama tiga bulan (8 Februari – 8 Mei 2026) di CV Ganep Lintas Generasi, Surakarta. Magang ini bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan langkah nyata dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik industri di salah satu perusahaan roti legendaris di Kota Solo.

Di tempatkan di Divisi Produksi, ketiga mahasiswa terlibat aktif dari hulu hingga hilir dalam pembuatan roti basah dan kering. Fokus utama mereka adalah memastikan standar mutu yang ketat melalui Quality Control (QC). Hal ini mencakup pengukuran teknis seperti memastikan konsistensi rasa dari kadar gulanya (°Brix) dan menjamin keamanan dan daya simpan produk dari tingkat keasamannya (pH). Kegiatan ini secara langsung mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui optimalisasi proses produksi skala UMKM/Industri menengah menuju standar yang lebih presisi. Tak hanya di area produksi, mereka juga berkontribusi pada manajemen rantai pasok. Mulai dari pengemasan, pelabelan, hingga sistem distribusi berbasis barcode. 

Salah satu poin unik dalam pengalaman ini adalah keterlibatan mereka dalam pengolahan Kecik, produk tradisional ikonik dari CV Ganep. Proses penggilingan hingga penyajian yang membutuhkan ketelitian tinggi memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga warisan kuliner lokal di tengah arus modernisasi.

Di luar aspek teknis, lingkungan kerja di Jalan Sutan Syahrir No. 176 ini menempa kemampuan kolaborasi dan komunikasi mereka.

“Pengalaman ini tidak hanya mempertajam kemampuan analisis kami dalam menyelesaikan masalah produksi, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang pentingnya kerja tim dan hubungan kemanusiaan di dunia kerja,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.

Penutupan program magang ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi dunia industri dan berkontribusi pada pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan melalui keilmuan yang ditekuni.

Penulis: Melany Ayudya Syauma Putri
Editor: AMR

Dari Praktikum ke Industri, Mahasiswa PPA UGM Pelajari CPPOB Secara Langsung

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Monday, 13 April 2026

Pada hari Rabu, 1 April 2026, mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melaksanakan kunjungan industri ke CV Cita Nasional di Salatiga, Jawa Tengah dalam rangka praktikum mata kuliah Mikrobiologi Industri dan Mutu Sensoris (MIMS). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengamati penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) serta sistem sanitasi di industri pengolahan pangan.

Kunjungan ini diikuti oleh mahasiswa PPA angkatan 2025 dan koasistensi (koas) praktikum, dengan total 109 peserta. Kegiatan ini juga didampingi oleh dosen pengampu, yaitu Nadia Awalina B.M, S.T.P., M.FoodScTech., dan Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., serta teknisi laboratorium, Rini Setyowati, S.T.P.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi seminar dari pihak CV Cita Nasional yang membahas proses produksi serta pengendalian mutu produk susu dan yogurt. Materi ini memberikan gambaran awal mengenai sistem produksi dan standar kualitas yang diterapkan perusahaan.

Selanjutnya, mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap implementasi CPPOB di industri pengolahan susu dan yogurt, mulai dari pengendalian bahan baku, kebersihan fasilitas produksi, hingga prosedur higienitas pekerja. Proses ini mencakup pengawasan kualitas susu segar, pengendalian kontaminasi silang, serta penerapan sanitasi peralatan dan lingkungan produksi secara berkala.

Mahasiswa juga mempelajari alur pengolahan susu dari tahap penerimaan bahan baku hingga distribusi produk jadi, termasuk proses pasteurisasi, homogenisasi, dan pengemasan. Selain itu, mahasiswa memahami bagaimana sistem kontrol kualitas diterapkan pada setiap tahapan produksi untuk memastikan produk memenuhi standar industri.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai implementasi teori yang telah dipelajari dalam praktikum, khususnya dalam aspek pengendalian mutu melalui CPPOB dan sanitasi industri. Pengalaman observasi langsung ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik industri yang sesungguhnya.

“Kegiatan ini berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata dalam mendukung pemahaman mahasiswa terhadap praktik industri,” ujar Ibu Nadia selaku dosen pendamping.

Kunjungan industri ini menjadi bagian dari upaya Program Studi PPA dalam menghadirkan pembelajaran yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis praktik yang meningkatkan dan mempersiapkan kompetensi mahasiswa di dunia kerja, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri. Selain itu, pemahaman mengenai penerapan CPPOB dan sanitasi industri turut mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), terutama dalam memastikan proses produksi pangan yang aman, higienis, dan berkelanjutan.

PPA Laksanakan Kunjungan Industri untuk Penguatan Penelitian, Pengajaran, dan Hilirisasi Produk

AgendaInformasi Terkini Monday, 9 February 2026

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) melaksanakan rangkaian kunjungan industri sebagai upaya penguatan kolaborasi strategis dalam bidang penelitian, pengajaran, dan hilirisasi produk. Kegiatan ini dilaksanakan pada 4–5 Februari 2026 dan menjadi bagian dari langkah prodi dalam memperluas jejaring kemitraan dengan industri makanan dan minuman.

Dalam rangkaian kunjungan ini, tim PPA juga membawa berbagai produk hasil pengembangan yang telah dikemas secara menarik. Produk-produk tersebut merupakan hasil proyek perkuliahan mahasiswa di bawah bimbingan dosen, serta hasil penelitian dosen yang melibatkan mahasiswa. Kehadiran produk ini menjadi gambaran nyata potensi hilirisasi hasil akademik yang siap dikembangkan bersama mitra industri.

Selain fokus pada penguatan kolaborasi penelitian, kunjungan ini juga menjadi ajang validasi implementasi Kurikulum 2026 (K26) yang tengah diterapkan oleh Prodi PPA. Diskusi bersama praktisi industri bertujuan untuk memastikan kompetensi yang diajarkan di kelas selaras dengan kebutuhan dunia kerja serta prinsip link and match antara pendidikan vokasi dan industri.

Kunjungan pertama dilaksanakan pada Rabu, 4 Februari 2026 ke PT Mirota KSM yang berlokasi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh lima dosen PPA yang dipimpin oleh Sekretaris Program Studi, Dr. Ratih Hardiyanti, dan disambut oleh perwakilan Divisi Human Resources Development (HRD) serta Research and Development (R&D) PT Mirota KSM. Pertemuan berlangsung dalam suasana diskusi yang konstruktif dengan fokus pada penjajakan kerja sama berbasis keilmuan dan kebutuhan industri.

PT Mirota KSM merupakan perusahaan dengan lini produksi utama susu bubuk untuk berbagai segmentasi usia, mulai dari ibu menyusui hingga lansia. Dalam pertemuan ini, kedua belah pihak mengidentifikasi sejumlah potensi kolaborasi penelitian, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan dan inovasi produk susu. Selain itu, dibahas pula peluang hilirisasi produk PPA dengan PT Mirota KSM sebagai mitra strategis dalam pengembangan dan pemasaran produk. Pada aspek pengajaran, kerja sama juga diarahkan pada pelaksanaan program magang mahasiswa.

Sebagai kelanjutan rangkaian kegiatan, pada Kamis, 5 Februari 2026, tim PPA melaksanakan kunjungan industri ke PT Charoen Pokphand Indonesia dan CV Cita Nasional di Salatiga. Kunjungan ini diikuti oleh enam dosen PPA dan dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Dr. Eng. Annie Mufyda Rahmatika. Pada kedua perusahaan tersebut, tim PPA disambut oleh perwakilan Divisi HRD dan R&D, serta melakukan diskusi terkait penguatan kolaborasi dalam penelitian terapan, pengajaran berbasis industri, dan hilirisasi produk agroindustri.

Di sela-sela kunjungan, tim dosen juga melaksanakan agenda tilik mahasiswa magang yang sedang bertugas di perusahaan mitra. Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk mengevaluasi performa mahasiswa serta memastikan proses pembelajaran di lapangan berjalan optimal sesuai dengan capaian pembelajaran lulusan yang ditetapkan oleh program studi.

Melalui rangkaian kunjungan industri ini, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri menegaskan komitmennya untuk terus membangun sinergi dengan mitra industri dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi yang berkelanjutan, aplikatif, dan berdampak nyata bagi pengembangan sektor agroindustri.

Sosialisasi dan Diskusi Perubahan Kurikulum Sarjana Terapan PPA Bersama Mitra Industri

AgendaInformasi Terkini Wednesday, 4 February 2026

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Diskusi Perubahan Kurikulum Sarjana Terapan sebagai bagian dari upaya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dan perkembangan dunia industri. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui media Zoom pada hari Jumat, 23 Januari 2026 pukul 08.00–10.45 WIB.

Kegiatan ini melibatkan berbagai mitra industri strategis yang selama ini berperan aktif dalam pengembangan kompetensi mahasiswa PPA. Adapun mitra industri yang hadir dalam kegiatan ini, yaitu:

  • PT Gandum Mas Kencana – Ibu Kinanti Puspita Sari (HR Recruitment)
  • PT Great Giant Pineapple – Ibu Apri Anggraini (QC Section Head)
  • PT Intan Rahmadhani Santosa – Ibu Sri Endah Kurniawati (Pemilik)
  • Danone Indonesia – Bapak Dyanros Rizkiyanto, S.T. (Integrated Work System Lead)
  • PT Sari Husada Generasi Mahardhika – Bapak Hidayat Budi Tranggana (Product Development Supervisor)
  • PT Mazaraat – Ibu Nieta Pricillia (Pemilik)

Selain mitra industri, kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan dan akademisi Universitas Gadjah Mada, yaitu Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Bapak Dr. Leo Indra Wardhana S.E, M.Sc., CFP., Kepala Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner (DTHV), Bapak Ahdiar Fikri Maulana, S.Hut., M.Agr., Ph.D., serta dosen-dosen Program Studi PPA.

Diskusi yang berlangsung menitikberatkan pada penyesuaian kurikulum Sarjana Terapan PPA agar semakin relevan dengan perkembangan industri, khususnya bidang pangan dan agroindustri, kebutuhan kompetensi lulusan, serta tantangan dunia kerja ke depan. Masukan dari para praktisi industri menjadi aspek penting dalam merumuskan kurikulum yang adaptif, aplikatif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata lapangan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi PPA menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan industri dalam mencetak lulusan yang kompeten, siap kerja, dan mampu berkontribusi secara nyata di sektor agroindustri.

Kegiatan Temu Alumni PPA: Menjembatani Kurikulum Akademik dan Kebutuhan Dunia Kerja

AgendaInformasi Terkini Saturday, 27 December 2025

Program Studi D4 Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, telah menyelenggarakan kegiatan Temu Alumni PPA pada Sabtu, 13 Desember 2025 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mempererat hubungan antara program studi dengan para alumni, sekaligus sebagai wadah evaluasi dan pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan dunia kerja.

Temu Alumni ini dikemas dalam bentuk hearing atau diskusi terbuka, di mana para alumni yang saat ini telah bekerja di berbagai sektor industri dan instansi profesional diminta untuk memberikan masukan, kritik, serta rekomendasi strategis terkait kurikulum PPA. Diskusi difokuskan pada kesesuaian kompetensi lulusan dengan tuntutan nyata di lapangan kerja, termasuk apakah materi yang selama ini diajarkan sudah relevan atau masih perlu penambahan dan penyesuaian.

Melalui forum ini, alumni berbagi pengalaman langsung mengenai tantangan yang mereka hadapi di tempat kerja masing-masing, keterampilan apa saja yang paling dibutuhkan, serta kompetensi apa yang dirasa perlu diperkuat sejak bangku perkuliahan. Masukan tersebut menjadi perspektif penting bagi program studi dalam memastikan bahwa kurikulum PPA tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga aplikatif dan responsif terhadap perkembangan industri agroindustri yang dinamis.

Kegiatan ini mencerminkan komitmen Prodi PPA SV UGM untuk terus melakukan peningkatan mutu pendidikan, dengan melibatkan alumni sebagai mitra strategis dalam proses evaluasi kurikulum. Diharapkan, hasil dari Temu Alumni ini dapat menjadi dasar dalam perumusan kurikulum yang lebih adaptif, relevan, dan mampu mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.

Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, Temu Alumni PPA menjadi langkah nyata dalam menyelaraskan dunia akademik dengan kebutuhan industri, demi menghasilkan lulusan Pengembangan Produk Agroindustri yang unggul dan berdampak.

Mini Expo Inovasi Produk PPA Angkatan 2022: Wadah Apresiasi dan Eksplorasi Inovasi Mahasiswa

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Saturday, 27 December 2025

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) Universitas Gadjah Mada secara resmi menyelenggarakan Mini Expo Inovasi Produk sebagai ruang apresiasi bagi mahasiswa angkatan 2022 dalam menampilkan prototipe hasil pengembangan produk. Kegiatan ini menjadi puncak dari rangkaian workshop dan praktikum pengembangan produk yang telah dilaksanakan selama semester berjalan.

Mini Expo Inovasi Produk dilaksanakan pada Selasa, 2 Desember 2025, bertempat di Lobi Gedung Soeparwi, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner (DTHV) UGM, mulai pukul 10.00 hingga 15.00 WIB. Acara ini diikuti oleh beberapa kelompok mahasiswa PPA angkatan 2022 yang menampilkan beragam inovasi produk pangan hasil eksplorasi dan proses pembelajaran mereka.

Berbagai prototipe inovatif dipamerkan dalam kegiatan ini, antara lain cokelat heat resistance, produk turunan berbasis mocaf, serta olahan hortikultura. Setiap kelompok menghadirkan konsep produk yang berbeda, baik dari segi formulasi, karakteristik produk, maupun target pasar. Pengunjung dapat melihat langsung prototipe yang dipamerkan, berdiskusi dengan pengembang produk, serta mencoba tester yang disediakan secara terbatas.

Antusiasme pengunjung terlihat dari interaksi aktif selama pameran berlangsung, termasuk partisipasi dalam sesi diskusi dan voting untuk produk favorit. Hal ini memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memperkenalkan produk kepada publik, menerima masukan konstruktif, serta menguji ketertarikan pasar terhadap inovasi yang mereka kembangkan.

Secara keseluruhan, Mini Expo Inovasi Produk tidak hanya berfungsi sebagai ajang pamer ide, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Kegiatan ini mampu mengasah kemampuan teknis dalam pengembangan produk sekaligus memperkuat soft skills seperti komunikasi, promosi, analisis kebutuhan pasar, dan kerja sama tim. Melalui expo ini, mahasiswa PPA diharapkan semakin siap menghadapi tantangan pengembangan produk agroindustri di dunia nyata.

Kopi Organik Robusta Sleman: Dari Cita Rasa Unggul Menuju Kesejahteraan Petani

Agenda Friday, 31 October 2025

Di perbukitan subur Cangkringan, Sleman, sebuah transformasi terjadi dalam dunia produksi kopi. Para petani lokal, yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunggaksemi, telah mengadopsi praktik pertanian organik untuk membudidayakan kopi Robusta. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memproduksi kopi berkualitas tinggi tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para petani yang terlibat.

Kopi organik didefinisikan sebagai kopi yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti pestisida atau pupuk buatan. Sebaliknya, kopi organik mengandalkan metode pertanian organik yang menjaga kesuburan tanah dan mempromosikan ekosistem yang sehat. Kopi Robusta yang diproduksi di Sleman adalah bukti pendekatan berkelanjutan ini, menunjukkan potensi pertanian organik dalam meningkatkan kualitas produk dan kesejahteraan petani.

Salah satu fitur unggulan dari kopi Robusta organik adalah senyawa bioaktifnya, terutama asam klorogenat dan trigonelline. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada profil rasa unik kopi, yang sering kali lebih kompleks dibandingkan dengan kopi yang ditanam secara konvensional. Selain itu, kopi organik biasanya memiliki kandungan kafein yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih disukai bagi banyak penggemar kopi yang mencari pengalaman yang lebih ringan.

Manfaat pertanian organik melampaui sekadar kopi itu sendiri. Praktik yang terkait dengan pertanian organik menghasilkan tanah yang lebih sehat, yang ditunjukkan dengan kandungan bahan organik yang lebih tinggi dan struktur tanah yang lebih baik. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan keseluruhan ekosistem pertanian. Tanah yang sehat sangat penting untuk produktivitas pertanian jangka panjang dan kesehatan lingkungan.

Lebih jauh lagi, pergeseran menuju produksi kopi organik memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut. Dengan fokus pada metode organik, para petani dapat meminta harga yang lebih tinggi untuk produk mereka, karena konsumen semakin bersedia membayar lebih untuk produk organik. Peningkatan pendapatan ini dapat mengarah pada kondisi hidup yang lebih baik, pendidikan, dan perawatan kesehatan bagi para petani dan keluarga mereka.

Dukungan komunitas memainkan peran penting dalam keberhasilan inisiatif ini. Kelompok Wanita Tani Tunggaksemi telah membangun rasa solidaritas di antara anggotanya, mendorong berbagi pengetahuan dan kolaborasi. Upaya kolektif ini tidak hanya memperkuat posisi petani di pasar tetapi juga meningkatkan ketahanan mereka terhadap fluktuasi ekonomi.

Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk produk organik secara global, masa depan tampak menjanjikan bagi para petani Sleman. Komitmen mereka terhadap produksi kopi organik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan pertanian berkelanjutan dan memastikan penghidupan yang layak bagi komunitas pedesaan. Dengan memprioritaskan metode organik, para petani Cangkringan tidak hanya meningkatkan kehidupan mereka sendiri tetapi juga berkontribusi pada planet yang lebih sehat.

Inovasi Pengolahan Salak Pondoh dalam Mewujudkan Produksi Pangan yang Bertanggung Jawab

AgendaPengabdian Tuesday, 28 October 2025

Kecamatan Turi, Sleman, merupakan kawasan penghasil salak pondoh utama di Yogyakarta. Setiap panen raya, buah salak yang dihasilkan melimpah, namun tidak seluruhnya terserap oleh pasar. Sebagian buah yang tidak terjual berpotensi menjadi limbah dan menurunkan nilai ekonomi bagi petani. Kondisi ini mendorong tim dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S. untuk melakukan penelitian mengenai pemanfaatan hasil panen salak melalui inovasi produk keripik salak dengan teknologi vacuum frying.

Penelitian ini melibatkan analisis dari aspek pasar, teknis produksi, hingga efisiensi proses untuk menilai potensi usaha yang berkelanjutan. Pengolahan dilakukan melalui tahapan pengupasan, pemotongan, pembekuan, penggorengan, penirisan minyak, dan pengemasan. Proses penggorengan dengan tekanan rendah sekitar –68 cmHg selama 90 menit terbukti menghasilkan keripik yang lebih renyah, tidak berminyak, dan tetap mempertahankan cita rasa asli buah salak. Teknologi ini juga mendukung pemanfaatan bahan baku secara optimal dan mengurangi potensi limbah selama produksi.

Sumber: Dokumentasi Peneliti
Gambar 1. Keripik Salak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal, tetapi juga menggambarkan penerapan proses produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pemanfaatan buah yang sebelumnya berisiko terbuang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi menunjukkan penerapan prinsip zero waste dalam pengolahan hasil pertanian. Oleh karena itu, proses produksi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan pengurangan dampak lingkungan.

Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) yang menekankan pentingnya pola produksi yang efisien, minim limbah, dan berkelanjutan. Melalui penerapan teknologi tepat guna dan pemanfaatan hasil panen lokal, inovasi keripik salak diharapkan dapat menjadi contoh penerapan praktik agroindustri yang berorientasi pada keberlanjutan sekaligus memperkuat daya saing produk pangan daerah.

123

Recent Posts

  • Belajar Mutu dari Lini Produksi: Mahasiswa Agroindustri Kembangkan Kompetensi QA di Garuda Beverage Sukses
  • Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum
  • Dari 81.800 Pendaftar, Mahasiswi PPA UGM Lolos Google Student Ambassador 2026
  • Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen
  • Sinergi Berkelanjutan: PT Gambino Artisan Prima Fasilitasi Mahasiswa Magang Pengembangan Produk Agroindustri Kembangkan Inovasi QC Berbasis SDGs

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY