Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Sekolah Vokasi UGM
  • Sekolah Vokasi UGM
  • page. 4
Arsip:

Sekolah Vokasi UGM

Sinergi Berkelanjutan: PT Gambino Artisan Prima Fasilitasi Mahasiswa Magang Pengembangan Produk Agroindustri Kembangkan Inovasi QC Berbasis SDGs

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 19 May 2026

JAKARTA PUSAT – Komitmen sektor industri dalam memfasilitasi lahirnya sumber daya manusia (SDM) unggul masa depan kembali diwujudkan oleh PT Gambino Artisan Prima. Melalui program magang industri yang berlangsung dari 12 Januari hingga 15 Mei 2026, perusahaan yang bergerak di industri kopi artisan ini memberikan ruang bagi tiga mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri—Lantang, Rosyid, dan Widya—untuk mengaplikasikan ilmu akademik sekaligus mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). 

Kolaborasi ini menjadi perwujudan nyata dari kontribusi mitra industri dalam mendukung pilar SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pencetakan generasi profesional yang siap kerja.

Bertempat di fasilitas produksi PT Gambino Artisan Prima yang berlokasi di Jl. Kramat Baru No. 15, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, ketiga mahasiswa ini dilibatkan secara aktif di departemen pengendalian mutu atau Quality Control (QC).

Keterlibatan mereka secara langsung mendukung prinsip SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Di sini, sistem pengendalian mutu yang ketat dari perusahaan terbukti esensial untuk:

  • QC Incoming: Melakukan validasi kualitas bahan baku di hulu.
  • QC Finish Good: Mengecek mutu produk akhir sebelum dipasarkan.
  • QC Packaging: Mengawasi kelayakan kemasan demi menjaga higienitas.
  • QC Delivery: Memastikan produk tetap aman hingga tahap distribusi.
  • QC Admin: Mendokumentasikan seluruh data jaminan mutu harian.

Melalui seluruh rangkaian ini, mahasiswa belajar bagaimana QC bertindak sebagai garda terdepan untuk mencegah kegagalan produksi sekaligus meminimalisasi limbah pangan (food waste).

Sebagai bentuk kontribusi nyata pada prinsip SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), ruang terbuka yang diberikan oleh PT Gambino Artisan Prima berhasil memicu lahirnya tiga proyek penelitian inovatif berbasis problem-solving dengan menerapkan metode QC 7 Tools:

  1. Rosyid: Melakukan analisis pengaruh metode hot brew dan cold brew terhadap pembentukan plak pada produk Monami Gula Aren.
  2. Widya: Membedah analisis kejadian pembentukan gumpalan pada leher dan mulut botol pada produk Monami Kesusu guna meningkatkan kelayakan konsumsi.
  3. Lantang: Meneliti analisis hubungan antara jumlah botol dan durasi retort terhadap kualitas organoleptik pada produk kopi latte varian Hazelnut Gambino Coffee.

“Pengalaman terjun langsung ke industri ini memberikan wawasan komprehensif yang jauh melampaui pembelajaran di ruang kelas. Kami menyadari bahwa divisi QC memegang peranan krusial sebagai pelindung konsumen,” ungkap perwakilan mahasiswa magang.

Program magang ini menjadi bukti nyata bahwa kemitraan strategis antara Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri dan PT Gambino Artisan Prima tidak hanya memberikan solusi bagi efisiensi operasional industri, tetapi juga melahirkan generasi profesional yang siap mendukung terwujudnya industri berkelanjutan di masa depan. 

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Mahasiswa PPA UGM Pelajari Sistem Pergudangan di PT Sinar Niaga Sejahtera

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Monday, 18 May 2026

Pada hari Jum’at, 24 April 2026, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM melaksanakan kunjungan industri ke PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) yang beralamat di Jalan Ringroad Barat, Mlangi, Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, D. I Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa PPA angkatan 2024 dan didampingi oleh beberapa dosen, yaitu Nadia ABM, S.T.P., M.FoodScTech, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., dan Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. Kunjungan industri ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai teknik penggudangan dan sistem distribusi di dunia industri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami implementasi manajemen warehouse secara nyata di lapangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan di Program Studi PPA.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa mendapatkan pemaparan mengenai sistem pergudangan yang diterapkan pada distribusi produk Garudafood. Materi disampaikan oleh Pak Elvin yang menjelaskan bagaimana warehouse bekerja, mulai dari alur penerimaan barang hingga proses penyimpanan dan distribusi produk. Mahasiswa juga diperkenalkan pada susunan area warehouse serta sistem pengelolaan barang yang digunakan untuk menjaga efisiensi operasional oleh penanggung jawab warehouse, yaitu Pak Wibi. Penjelasan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya manajemen pergudangan dalam mendukung rantai pasok industri pangan. Selain sesi pemaparan materi, mahasiswa juga berkesempatan melakukan observasi langsung terhadap aktivitas pergudangan di lokasi.

Kegiatan kunjungan industri ini memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa untuk memahami proses distribusi dan pengelolaan warehouse secara langsung di lingkungan industri. Pembelajaran di lapangan membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di dunia kerja. Selain meningkatkan wawasan mengenai teknik penggudangan, kegiatan ini juga memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap sistem logistik dan distribusi industri pangan. Suasana kunjungan berlangsung interaktif dan antusias, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih mendalam. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi kebutuhan industri di masa mendatang.

Kunjungan industri ke PT Sinar Niaga Sejahtera juga sejalan dengan komitmen Program Studi PPA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pembelajaran berbasis praktik mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa secara aplikatif. Selain itu, pengenalan sistem distribusi dan logistik industri turut mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan pemahaman mahasiswa terhadap sistem industri modern. Melalui kegiatan ini, Program Studi PPA terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan dunia kerja.

Optimalkan Manajemen Pergudangan dan Sistem FEFO, Mahasiswa Magang Berikan Kontribusi Strategis di CV Tera Sukses Abadi

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Friday, 15 May 2026

GRESIK – Program magang industri kembali menjadi wadah efektif bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu akademik ke dalam dunia kerja nyata. Hal ini dibuktikan oleh dua mahasiswa, Oktarina dan Leisya yang baru saja menyelesaikan periode magang di CV Tera Sukses Abadi, sebuah perusahaan yang berlokasi di Driyorejo, Kabupaten Gresik.

Selama periode 12 Januari hingga 2 April 2026, kedua mahasiswa tersebut terjun langsung di tiga departemen krusial, yakni Administrasi, Produksi, dan Penggudangan. Tidak sekadar menjalankan tugas rutin, mereka berhasil menyusun rekomendasi strategis guna meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Salah satu proyek utama yang dijalankan adalah Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage. Mengingat pentingnya area penyimpanan suhu dingin, Oktarina dan Leisya melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift.

Selain aspek keamanan fisik, mereka juga berfokus pada kualitas stok melalui evaluasi sistem First Expired First Out (FEFO). Dalam proyek ini, mereka menganalisis alur keluar-masuk barang untuk memastikan produk dengan tanggal kadaluarsa terdekat didistribusikan lebih awal.

Langkah ini berkontribusi langsung pada SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), di mana optimalisasi sistem FEFO berperan penting dalam meminimalisir potensi kerusakan produk atau pemborosan inventaris (efisiensi sumber daya).

Melalui proyek “Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage“, kedua mahasiswa melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift. Evaluasi ini kemudian dikembangkan menjadi proyek puncak berupa Rekomendasi Integrasi Tata Letak.

Proyek desain layout gudang komprehensif ini mendukung dua poin SDGs sekaligus:

  • SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan di area gudang melalui pengaturan jalur forklift dan stabilitas tumpukan yang aman.
  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Meningkatkan efisiensi, kecepatan distribusi, serta modernisasi manajemen logistik industri terintegrasi.

Bagi Oktarina dan Leisya, pengalaman selama hampir tiga bulan ini memberikan kesan mendalam, baik dari segi peningkatan kompetensi teknis di bidang administrasi keuangan dan manajemen produksi, maupun pengembangan soft skills. Hal ini selaras dengan pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam mempersiapkan lulusan yang siap terap di industri. 

“Hal yang paling berkesan adalah saat kami terlibat langsung dalam evaluasi di cool storage. Kami tidak hanya belajar teori, tapi melihat nyata bagaimana penataan produk sangat berdampak pada kualitas,” ungkap mereka.

Mereka juga menambahkan bahwa budaya kerja yang suportif di perusahaan sangat membantu proses adaptasi mereka. “Budaya kerja di sini sangat kekeluargaan. Pembimbing dan rekan kerja sangat terbuka dan ramah, yang membuat kami lebih percaya diri untuk beradaptasi di dunia kerja.”

Dengan berakhirnya masa magang ini, kedua mahasiswa tersebut membawa pulang pengalaman berharga mengenai pentingnya kerja sama tim, komunikasi profesional, dan inovasi dalam mendukung performa perusahaan yang optimal.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Memahami Preferensi Konsumen Produk Segar: Cermin Masa Depan Agroindustri Indonesia dan SDGs

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 May 2026

Pergi ke pasar tradisional sambil membawa keranjang sendiri, atau membuka aplikasi daring untuk memesan sayur organik yang diantar dalam dua jam, keduanya kini menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia. Cara konsumen kita memilih dan membeli produk segar (fresh produce) seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya tengah bergeser cepat. Pergeseran ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal penting bagi pelaku agroindustri dan, jika dicermati lebih jauh, bersinggungan langsung dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Beberapa pola perilaku konsumen produk segar di Indonesia menarik untuk diamati. Pertama, kesadaran terhadap kesehatan meningkat signifikan setelah pandemi COVID-19. Konsumen kelas menengah kota besar mulai mempertimbangkan kandungan gizi, residu pestisida, dan kebersihan produk. Berbagai survei lembaga riset pasar menunjukkan willingness to pay untuk produk organik atau berlabel “bebas pestisida” terus naik, meski harganya bisa 20–40 persen lebih mahal dibanding produk konvensional.

Kedua, kemudahan (convenience) menjadi nilai jual baru. Platform e-grocery seperti Sayurbox, TaniHub, hingga fitur belanja segar di marketplace umum tumbuh pesat. Konsumen tidak hanya tertarik karena harga lebih murah, tetapi karena tidak perlu menyentuh, menawar, dan membawa belanjaan sendiri. Bagi generasi muda perkotaan, “pasar” kini adalah sebuah aplikasi di layar ponsel.

Ketiga, transparansi asal-usul produk semakin diminati. Label seperti “dari petani Sleman” atau “dipanen kemarin pagi” terbukti efektif menggugah minat beli. Praktik ini mendorong tumbuhnya pertanian kontrak dan rantai pasok pendek yang menghubungkan konsumen langsung dengan petani.

Gambar 1. Ilustrasi Kondisi Preferensi Konsumen terhadap Produk Segar

Namun di balik tren tersebut, sebagian besar konsumen Indonesia, terutama di pedesaan dan kota kecil, masih sangat sensitif terhadap harga. Pasar tradisional masih menyumbang lebih dari separuh transaksi produk segar nasional. Artinya, pergeseran preferensi tidak seragam. Agroindustri kita menghadapi dua wajah pasar yang harus dilayani sekaligus: konsumen premium yang mencari kualitas dan “cerita” di balik produk, serta konsumen mayoritas yang mengutamakan keterjangkauan.

Dari sudut pandang penulis, dinamika ini sangat relevan dengan setidaknya enam tujuan dalam SDGs. Tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tersentuh ketika konsumen mulai memilih produk bergizi dan aman. Tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak) dan ke-1 (Tanpa Kemiskinan) terbantu bila rantai nilai yang lebih pendek meningkatkan pendapatan petani kecil. Tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) menjadi inti, sebab keputusan konsumen mendorong produsen mengadopsi praktik yang lebih efisien dan rendah limbah. Tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) ikut terlibat ketika preferensi pada produk lokal mengurangi jejak karbon dari pengiriman jarak jauh.

Tantangannya, banyak petani kecil belum siap merespons pergeseran ini. Mereka masih bekerja dalam pola produksi musiman tanpa standar kualitas yang konsisten, tanpa pencatatan, dan dengan akses pasar yang terbatas. Di sinilah peran pendidikan vokasi agroindustri menjadi strategis: menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani sisi produksi (petani) dengan sisi permintaan (konsumen modern), melalui penanganan pascapanen, pengemasan, pelabelan, hingga manajemen rantai pasok berbasis digital.

Memahami preferensi dan perilaku konsumen produk segar bukan sekadar urusan pemasaran. Ia adalah peta jalan untuk membangun agroindustri Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Konsumen yang semakin kritis bisa menjadi kekuatan pendorong perubahan asalkan petani, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah bergerak bersama. Pendidikan vokasi di bidang Pengembangan Produk Agroindustri memiliki kesempatan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya membaca pasar, tetapi juga mampu menerjemahkan preferensi konsumen menjadi inovasi produk yang berdampak pada pencapaian SDGs. Pada akhirnya, sebuah keranjang sayur yang dipilih konsumen pagi ini bisa menjadi sumbangan kecil—tetapi nyata—bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Penulis: Galih Kusuma Ajii, Ph.D.

Editor: Putri Rousan Nabila

Inovasi Teknologi Pascapanen untuk Food Preservation Melon: Dosen UGM Raih Pendanaan PDP BIMA 2026

Informasi TerkiniRiset Wednesday, 29 April 2026

Yogyakarta — Pengembangan teknologi food preservation menjadi salah satu kunci dalam menjawab tantangan penurunan kualitas produk hortikultura pascapanen, terutama pada komoditas buah segar yang memiliki umur simpan pendek. Pendekatan berbasis rekayasa proses dan perlakuan pascapanen terus dikembangkan untuk menjaga mutu, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan efisiensi dalam sistem distribusi pangan.

Dalam konteks tersebut, tim peneliti yang diketuai oleh Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada berhasil memperoleh pendanaan dalam program Penelitian Dosen Pemula (PDP) BIMA 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Penelitian yang diusulkan berjudul “Perubahan Sifat Fisika-Kimia Melon Sweet Hami (Cucumis melo var. reticulatus Hamigua) Akibat Pra-Perlakuan Kalsium Klorida (CaCl₂) selama Penyimpanan Pascapanen pada Suhu Dingin.”

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kerentanan kualitas melon pascapanen akibat proses distribusi, penyimpanan, serta paparan mikroba. Melon Sweet Hami sebagai salah satu varietas unggulan memiliki kandungan air tinggi dan bersifat klimakterik, sehingga mengalami percepatan pematangan setelah panen dan memiliki umur simpan relatif singkat. Selama penyimpanan, perubahan fisikokimia seperti pencoklatan, pelunakan tekstur, serta penurunan kandungan nutrisi menjadi tantangan utama yang berdampak pada daya saing produk di pasar.

Gambar 1. Kondisi Melon (varietas lain) Rusak Akibat Penyimpanan

Penyimpanan suhu dingin umum digunakan untuk memperpanjang umur simpan, namun pada melon metode ini berisiko menimbulkan chilling injury yang justru menurunkan kualitas. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pendekatan kombinasi antara perlakuan pra-perendaman menggunakan kalsium klorida (CaCl₂) dengan penyimpanan dingin. Kalsium diketahui berperan dalam menstabilkan membran sel, menekan produksi etilen, serta mengurangi kerusakan jaringan, sehingga berpotensi menjaga kualitas buah selama penyimpanan. Kajian ini menjadi penting karena kombinasi perlakuan tersebut pada melon Sweet Hami masih terbatas diteliti, sehingga memiliki nilai kebaruan dalam pengembangan teknologi pascapanen hortikultura.

Secara keilmuan, penelitian ini memperkuat kepakaran peneliti dalam bidang teknologi pascapanen dan food preservation, khususnya dalam memahami perubahan sifat fisika-kimia bahan pangan selama penyimpanan serta pengembangan strategi untuk mempertahankan kualitas produk hortikultura. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam penentuan kondisi penyimpanan yang lebih optimal, baik pada skala industri maupun distribusi.

Selain itu, penelitian ini juga relevan dengan isu perubahan iklim (climate change), terutama dalam konteks peningkatan efisiensi sistem pangan dan pengurangan kehilangan hasil pascapanen. Dengan memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas produk, pemborosan sumber daya dapat ditekan sehingga mendukung praktik produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kontribusi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals, khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dalam pengurangan food loss serta SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya menjaga kualitas nutrisi dan keamanan pangan.

Keberhasilan memperoleh pendanaan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan riset pascapanen berbasis inovasi yang terintegrasi dengan sistem pertanian modern, serta memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas dan daya saing komoditas hortikultura Indonesia.

Penulis dan Penyunting: Putri Rousan Nabila

Dari Teori ke Praktik: Menilik Kegiatan Magang Mahasiswa di Divisi Quality Control PT Charoen Pokphand

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Monday, 27 April 2026

Salatiga – Dalam rangka meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang industri pangan, dua mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, yaitu Jane dan Alya, melaksanakan kegiatan magang di PT Charoen Pokphand Indonesia – Food Division Salatiga. Program ini berlangsung selama empat bulan, terhitung sejak 5 Januari hingga 8 Mei 2026. Kegiatan magang ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kurikulum akademik, tetapi juga sebagai implementasi nyata dalam mengintegrasikan teori dengan praktik industri, khususnya pada perusahaan pangan skala besar yang dikenal melalui produk olahannya seperti Fiesta.

Selama pelaksanaan magang, mahasiswa ditempatkan pada Divisi Quality Control dan Laboratorium, dengan fokus pada penguatan kompetensi di bidang pengendalian mutu (quality control). Mahasiswa terlibat langsung dalam aktivitas pengujian kualitas produk, yang mencakup evaluasi bahan baku, proses produksi, hingga produk akhir. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesesuaian produk terhadap standar mutu dan spesifikasi yang telah ditetapkan perusahaan, sekaligus berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dalam mendukung proses industri yang andal dan berstandar tinggi.

Selain itu, mahasiswa juga mempelajari dan mengimplementasikan Standard Operating Procedure (SOP) serta Good Manufacturing Practices (GMP) sebagai bagian dari sistem jaminan mutu dan keamanan pangan. Penerapan kedua aspek tersebut menjadi landasan penting dalam menjaga konsistensi kualitas produk di industri pangan, serta selaras dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui praktik produksi yang aman dan terkontrol. 

Dalam aspek keamanan pangan (food safety), mahasiswa melakukan analisis menggunakan pendekatan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) pada produk nugget dan sosis untuk mengidentifikasi titik kendali kritis dalam proses produksi. Kegiatan ini dilengkapi dengan identifikasi potensi bahaya kerja melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) sebagai bagian dari penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). 

Selain memperoleh pengalaman teknis, mereka juga mendapatkan manfaat dalam pengembangan relasi profesional serta wawasan yang lebih luas terkait produk dan sistem kerja di perusahaan berskala besar. Dengan demikian, program magang ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang lebih kompeten, profesional, dan siap berkontribusi secara optimal di dunia industri pangan. 

Penulis: Melany Ayudya
Editor: AMR

Mengubah Limbah Kakao Menjadi Nilai Tambah: Inovasi untuk Sistem Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Monday, 27 April 2026

Industri kakao global menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dengan kulit buah kakao (cocoa pod husk/CPH) sebagai fraksi terbesar. Selama ini, CPH umumnya dianggap sebagai limbah pertanian yang kurang dimanfaatkan, bahkan sering menimbulkan permasalahan lingkungan seperti penumpukan biomassa, potensi pencemaran, dan berkembangnya penyakit tanaman. Namun demikian, perkembangan riset terkini menunjukkan bahwa limbah ini memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi, khususnya sebagai sumber pektin—senyawa hidrokolloid yang banyak digunakan dalam industri pangan.

Penelitian doktoral yang dilakukan di Universiti Putra Malaysia dengan dukungan beasiswa UPM-SEARCA dan kerja sama dengan Malaysian Cocoa Board (MCB) berfokus pada upaya valorisasi limbah kulit buah kakao melalui pendekatan teknologi proses yang berkelanjutan. Studi ini menitikberatkan pada optimalisasi metode ekstraksi ramah lingkungan untuk menghasilkan pektin berkualitas tinggi dari CPH, sehingga limbah yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi bahan baku fungsional bagi industri pangan.

Gambar 1. Dokumentasi saat Pengambilan Sampel CPH di MCB Bagan Datuk

Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah penerapan teknologi subcritical water extraction, yaitu metode ekstraksi berbasis air pada kondisi suhu dan tekanan terkendali yang memungkinkan pemisahan senyawa bioaktif secara efisien tanpa penggunaan pelarut kimia berbahaya. Selain itu, dilakukan pula perlakuan awal terhadap bahan baku untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia CPH, sehingga proses ekstraksi menjadi lebih optimal dan menghasilkan pektin dengan kualitas yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao memiliki potensi kuat sebagai sumber alternatif pektin yang berkelanjutan dan kompetitif secara industri.

Gambar 2. Pemanenan Pektin Basah dari Ekstraksi CPH

Kontribusi penelitian ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah membuka peluang ekonomi baru bagi petani kakao dan pelaku agroindustri, terutama di wilayah pedesaan.
  2. SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Optimalisasi pemanfaatan hasil samping pertanian mendukung efisiensi sistem pangan dan mengurangi kehilangan sumber daya, sehingga berkontribusi pada ketahanan pangan berkelanjutan.
  3. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Pengembangan bahan pangan fungsional seperti pektin mendukung inovasi produk pangan yang lebih sehat dan berkualitas bagi masyarakat.

Lebih dari itu, penelitian ini mencerminkan pendekatan ekonomi sirkular dalam sistem agroindustri, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari rantai produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Transformasi ini menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan lingkungan dan pangan global.

Salah satu pesan kunci dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang menciptakan nilai dari limbah itu sendiri. Dengan memanfaatkan potensi kulit buah kakao, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Editor: Putri Rousan Nabila

Dari Praktikum ke Industri, Mahasiswa PPA UGM Pelajari CPPOB Secara Langsung

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Monday, 13 April 2026

Pada hari Rabu, 1 April 2026, mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melaksanakan kunjungan industri ke CV Cita Nasional di Salatiga, Jawa Tengah dalam rangka praktikum mata kuliah Mikrobiologi Industri dan Mutu Sensoris (MIMS). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengamati penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) serta sistem sanitasi di industri pengolahan pangan.

Kunjungan ini diikuti oleh mahasiswa PPA angkatan 2025 dan koasistensi (koas) praktikum, dengan total 109 peserta. Kegiatan ini juga didampingi oleh dosen pengampu, yaitu Nadia Awalina B.M, S.T.P., M.FoodScTech., dan Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., serta teknisi laboratorium, Rini Setyowati, S.T.P.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi seminar dari pihak CV Cita Nasional yang membahas proses produksi serta pengendalian mutu produk susu dan yogurt. Materi ini memberikan gambaran awal mengenai sistem produksi dan standar kualitas yang diterapkan perusahaan.

Selanjutnya, mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap implementasi CPPOB di industri pengolahan susu dan yogurt, mulai dari pengendalian bahan baku, kebersihan fasilitas produksi, hingga prosedur higienitas pekerja. Proses ini mencakup pengawasan kualitas susu segar, pengendalian kontaminasi silang, serta penerapan sanitasi peralatan dan lingkungan produksi secara berkala.

Mahasiswa juga mempelajari alur pengolahan susu dari tahap penerimaan bahan baku hingga distribusi produk jadi, termasuk proses pasteurisasi, homogenisasi, dan pengemasan. Selain itu, mahasiswa memahami bagaimana sistem kontrol kualitas diterapkan pada setiap tahapan produksi untuk memastikan produk memenuhi standar industri.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai implementasi teori yang telah dipelajari dalam praktikum, khususnya dalam aspek pengendalian mutu melalui CPPOB dan sanitasi industri. Pengalaman observasi langsung ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik industri yang sesungguhnya.

“Kegiatan ini berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata dalam mendukung pemahaman mahasiswa terhadap praktik industri,” ujar Ibu Nadia selaku dosen pendamping.

Kunjungan industri ini menjadi bagian dari upaya Program Studi PPA dalam menghadirkan pembelajaran yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis praktik yang meningkatkan dan mempersiapkan kompetensi mahasiswa di dunia kerja, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri. Selain itu, pemahaman mengenai penerapan CPPOB dan sanitasi industri turut mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), terutama dalam memastikan proses produksi pangan yang aman, higienis, dan berkelanjutan.

Pengumuman Hasil Evaluasi Tata Pamong dan Tata Kelola UTS

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Sunday, 1 March 2026

Semester Gasal Tahun Akademik 2023/2024

Yogyakarta — Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri menyampaikan hasil evaluasi tata pamong dan tata kelola pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Semester Gasal Tahun Akademik 2023/2024. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kualitas layanan akademik selama pelaksanaan UTS.

Evaluasi dilakukan berdasarkan lima aspek kualitas layanan, yaitu:

  1. Keandalan (reliability)
  2. Daya tanggap (responsiveness)
  3. Kepastian (assurance)
  4. Empati (empathy)
  5. Bukti fisik/sarana prasarana (tangible)

Secara umum, hasil evaluasi (gambar di bawah) menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian pada kategori Baik dan Sangat Baik di seluruh aspek. Temuan ini mencerminkan bahwa tata pamong dan tata kelola pelaksanaan UTS telah berjalan dengan baik serta mampu memenuhi harapan mahasiswa.

Pada aspek keandalan, sebagian besar mahasiswa menilai bahwa dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola telah menunjukkan kemampuan yang baik dalam memberikan pelayanan akademik.

Pada aspek daya tanggap, mayoritas responden memberikan penilaian Baik, yang menunjukkan bahwa layanan dinilai cepat dan responsif dalam membantu kebutuhan mahasiswa selama periode UTS.

Aspek kepastian (assurance) juga didominasi penilaian Baik dan Sangat Baik, yang menandakan adanya kepercayaan mahasiswa terhadap kesesuaian prosedur dan ketentuan pelaksanaan UTS.

Pada dimensi empati (empathy), mahasiswa menilai bahwa dosen dan pengelola menunjukkan kepedulian serta perhatian yang memadai selama proses evaluasi berlangsung.

Sementara itu, pada aspek bukti fisik (tangible), meskipun mayoritas penilaian berada pada kategori Baik dan Sangat Baik, terdapat proporsi penilaian Cukup dan Kurang yang relatif lebih tinggi dibandingkan aspek lainnya. Hal ini menjadi perhatian program studi untuk terus meningkatkan kualitas fasilitas, aksesibilitas, dan dukungan teknis dalam pelaksanaan ujian.

Secara keseluruhan, tata pamong dan tata kelola UTS Semester Gasal Tahun Akademik 2023/2024 dinilai telah berjalan efektif dan terstruktur. Hasil evaluasi ini menjadi dasar penyusunan langkah perbaikan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas layanan akademik dan kepuasan mahasiswa pada periode berikutnya.

Demikian pengumuman ini disampaikan sebagai bentuk transparansi dan komitmen terhadap peningkatan mutu layanan akademik.

Pengumuman Hasil Evaluasi Tata Pamong dan Tata Kelola UAS

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Sunday, 1 March 2026

Semester Genap Tahun Akademik 2022/2023

Yogyakarta — Selain evaluasi proses pembelajaran, Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri juga melaksanakan evaluasi terhadap aspek tata pamong dan tata kelola pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Genap Tahun Akademik 2022/2023.

Evaluasi dilakukan berdasarkan lima dimensi kualitas layanan, yaitu:

  1. Keandalan (reliability)
  2. Daya tanggap (responsiveness)
  3. Kepastian (assurance)
  4. Empati (empathy)
  5. Bukti fisik/sarana prasarana (tangible)

Hasil evaluasi (grafik di bawah) menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian pada kategori Baik dan Sangat Baik di seluruh dimensi.

Aspek kepastian (assurance) memperoleh penilaian tertinggi pada kategori Baik, yang menunjukkan bahwa dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola dinilai mampu memberikan layanan sesuai ketentuan serta memberikan keyakinan kepada mahasiswa dalam pelaksanaan UAS.

Pada aspek keandalan (reliability) dan daya tanggap (responsiveness), sebagian besar mahasiswa menilai layanan telah berjalan dengan baik, khususnya dalam ketepatan pelayanan dan kecepatan respons terhadap kebutuhan mahasiswa.

Dimensi empati (empathy) juga menunjukkan hasil positif yang mencerminkan adanya kepedulian dan perhatian terhadap mahasiswa selama proses pelaksanaan ujian.

Sementara itu, pada aspek bukti fisik (tangible), meskipun mayoritas penilaian berada pada kategori Baik dan Sangat Baik, masih terdapat sebagian kecil responden yang memberikan penilaian cukup dan kurang. Hal ini menjadi perhatian program studi untuk meningkatkan aksesibilitas serta mengoptimalkan kualitas fasilitas pendukung.

Secara keseluruhan, tata pamong dan tata kelola UAS Semester Genap Tahun Akademik 2022/2023 dinilai telah berjalan dengan baik dan efektif. Program studi berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan layanan akademik secara sistematis dan berkelanjutan guna meningkatkan kepuasan serta kenyamanan mahasiswa.

Demikian pengumuman ini disampaikan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan akademik.

123456

Recent Posts

  • Kick Off Halal Nexus Dorong Kolaborasi Akademisi Perkuat Ekosistem Halal Indonesia
  • Dari Kulit Melon Menjadi Bahan Baku Pangan Fungsional Bernilai: Inovasi Ekonomi Sirkular untuk Industri Pangan
  • Lulusan Pengembangan Produk Agroindustri UGM Angkatan 2020 Raih Penilaian Sangat Positif dari Industri
  • Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer
  • UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY