Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Vokasi UGM
  • Vokasi UGM
Arsip:

Vokasi UGM

Kopi Organik Robusta Sleman: Dari Cita Rasa Unggul Menuju Kesejahteraan Petani

Agenda Friday, 31 October 2025

Di perbukitan subur Cangkringan, Sleman, sebuah transformasi terjadi dalam dunia produksi kopi. Para petani lokal, yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunggaksemi, telah mengadopsi praktik pertanian organik untuk membudidayakan kopi Robusta. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memproduksi kopi berkualitas tinggi tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para petani yang terlibat.

Kopi organik didefinisikan sebagai kopi yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti pestisida atau pupuk buatan. Sebaliknya, kopi organik mengandalkan metode pertanian organik yang menjaga kesuburan tanah dan mempromosikan ekosistem yang sehat. Kopi Robusta yang diproduksi di Sleman adalah bukti pendekatan berkelanjutan ini, menunjukkan potensi pertanian organik dalam meningkatkan kualitas produk dan kesejahteraan petani.

Salah satu fitur unggulan dari kopi Robusta organik adalah senyawa bioaktifnya, terutama asam klorogenat dan trigonelline. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada profil rasa unik kopi, yang sering kali lebih kompleks dibandingkan dengan kopi yang ditanam secara konvensional. Selain itu, kopi organik biasanya memiliki kandungan kafein yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih disukai bagi banyak penggemar kopi yang mencari pengalaman yang lebih ringan.

Manfaat pertanian organik melampaui sekadar kopi itu sendiri. Praktik yang terkait dengan pertanian organik menghasilkan tanah yang lebih sehat, yang ditunjukkan dengan kandungan bahan organik yang lebih tinggi dan struktur tanah yang lebih baik. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan keseluruhan ekosistem pertanian. Tanah yang sehat sangat penting untuk produktivitas pertanian jangka panjang dan kesehatan lingkungan.

Lebih jauh lagi, pergeseran menuju produksi kopi organik memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut. Dengan fokus pada metode organik, para petani dapat meminta harga yang lebih tinggi untuk produk mereka, karena konsumen semakin bersedia membayar lebih untuk produk organik. Peningkatan pendapatan ini dapat mengarah pada kondisi hidup yang lebih baik, pendidikan, dan perawatan kesehatan bagi para petani dan keluarga mereka.

Dukungan komunitas memainkan peran penting dalam keberhasilan inisiatif ini. Kelompok Wanita Tani Tunggaksemi telah membangun rasa solidaritas di antara anggotanya, mendorong berbagi pengetahuan dan kolaborasi. Upaya kolektif ini tidak hanya memperkuat posisi petani di pasar tetapi juga meningkatkan ketahanan mereka terhadap fluktuasi ekonomi.

Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk produk organik secara global, masa depan tampak menjanjikan bagi para petani Sleman. Komitmen mereka terhadap produksi kopi organik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan pertanian berkelanjutan dan memastikan penghidupan yang layak bagi komunitas pedesaan. Dengan memprioritaskan metode organik, para petani Cangkringan tidak hanya meningkatkan kehidupan mereka sendiri tetapi juga berkontribusi pada planet yang lebih sehat.

Transformasi Sensoris Kopi Robusta Sleman Melalui Perlakuan Roasting

Riset Friday, 31 October 2025

Nanda, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2021, melakukan penelitian yang inovatif mengenai efek roasting terhadap kualitas sensori kopi robusta Sleman. Penelitian ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas kopi lokal, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berkaitan dengan kualitas makanan dan keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana suhu roasting yang berbeda dapat mempengaruhi karakteristik sensori dari varietas kopi yang unik ini.

Penelitian Nanda melibatkan serangkaian eksperimen roasting yang terkontrol, di mana berbagai suhu diterapkan pada biji kopi. Hasilnya dianalisis menggunakan protokol cupping dari Coffee Quality Institute (CQI), yang merupakan metode standar untuk mengevaluasi kualitas kopi jennis Robusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu roasting memiliki dampak signifikan terhadap karakteristik sensori kopi robusta Sleman, dengan nilai p kurang dari 0,05 yang menunjukkan signifikansi statistik yang kuat. Ini berarti bahwa variasi suhu roasting secara langsung mempengaruhi aroma, rasa, dan kualitas keseluruhan kopi, menyoroti pentingnya teknik roasting yang tepat dalam produksi kopi.

Di antara berbagai perlakuan roasting yang diuji, satu metode tertentu menonjol sebagai yang terbaik. Perlakuan roasting optimal ini menghasilkan profil kopi yang ditandai dengan aroma nutty, body tebal, dan rasa pahit/manis yang seimbang. Selain itu, kopi ini juga menunjukkan nuansa dark chocolate dan caramel, dengan aftertaste yang bersih dan keseimbangan keseluruhan yang memberikannya skor akhir 82.
Dengan meningkatkan kualitas kopi robusta Sleman, penelitian ini berkontribusi pada ekonomi lokal dan mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Kopi berkualitas tinggi dapat menarik lebih banyak konsumen, baik secara lokal maupun internasional, sehingga meningkatkan pendapatan petani lokal dan mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, penelitian ini sejalan dengan SDGs dengan menekankan pentingnya produksi makanan berkualitas. Dengan fokus pada peningkatan atribut sensori kopi. Seiring dengan pertumbuhan industri kopi, studi ini sangat penting untuk memastikan bahwa produk lokal dapat bersaing di pasar global. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan berharga bagi produsen kopi tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk penelitian di bidang ilmu kopi di masa depan. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya teknik roasting dalam meningkatkan profil sensori kopi, yang pada akhirnya menguntungkan petani lokal dan mempromosikan praktik makanan yang berkelanjutan.

Saat komunitas kopi di Sleman mengadopsi temuan ini, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi produksi kopi lokal, yang berakar pada kualitas, keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi.

Prodi PPA SV UGM dan Aifarm Temukan Profil Asam Lemak Sehat pada Susu Bubuk Kambing dengan Proses Spray Drying

Riset Tuesday, 28 October 2025

Yogyakarta, Oktober 2025 – Tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan startup peternakan Aifarm, berhasil mengidentifikasi profil asam lemak susu bubuk kambing Etawa hasil proses spray drying yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar formula pertumbuhan anak usia dini.

Hasil analisis menunjukkan bahwa susu bubuk kambing memiliki asam lemak jenuh (SFA) dan  asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang cukup stabil setelah proses pengeringan dengan spray drying.  Kandungan omega-9 (oleic acid) mencapai 36%, jauh lebih tinggi dibandingkan pada susu cair. Omega-9 berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, sistem imun, serta pertumbuhan sel pada anak. Sebaliknya, kadar omega-3 dan omega-6 yang rendah menunjukkan perlunya pengayaan formula untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial anak usia 1–3 tahun sebagaimana direkomendasikan WHO/FAO.

Menurut tim peneliti, kondisi ini memberikan peluang pengembangan formulasi inovatif dengan menambahkan sumber PUFA alami seperti minyak biji bunga matahari, minyak biji chia, atau minyak ikan mikroenkapsulasi. “Masih perlu formulasi lanjutan untuk meningkatkan kandungan omega-3 dan omega-6, tujuannya agar susu bubuk kambing lokal dapat menyaingi susu formula dalam hal komposisi gizi dan stabilitas produk,” jelas ketua tim peneliti, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.

Riset ini berkontribusi terhadap SDG’s 2 dengan mendorong diversifikasi pangan bergizi berbasis sumber lokal, sekaligus mendukung SDG’s 12 melalui optimalisasi proses spray drying yang hemat energi dan minim limbah. Kolaborasi ini juga memperkuat hubungan akademik–industri untuk menciptakan produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Pihak Aifarm menyampaikan bahwa penelitian ini membantu mereka memahami korelasi antara parameter spray drying dan profil nutrisi susu, terutama dalam mempertahankan stabilitas lemak selama pengeringan. Penelitian lanjutan akan difokuskan pada optimasi formulasi susu bubuk fungsional untuk anak, pengujian sensoris, serta kajian bioavailabilitas asam lemak esensial. 

Kolaborasi ini membuktikan bahwa riset perguruan tinggi dapat langsung berdampak pada sektor agroindustri lokal, memperkuat kemandirian pangan, dan menghadirkan inovasi gizi berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Infografis:

Ciptakan Susu Bubuk Kambing Berkualitas, Hasil Kerjasama Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi UGM dan Aifarm

Riset Tuesday, 28 October 2025

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi UGM bekerja sama dengan PT. Aifarm Teknologi Agrikultur, startup peternakan kambing, mengembangkan inovasi susu bubuk kambing berkualitas tinggi berbasis teknologi spray drying.

Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 2 – Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penyediaan alternatif pangan hewani bergizi tinggi, SDG 9 – Industri, Inovasi dan Infrastruktur dengan pengembangan teknologi pengolahan agroindustri, serta SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena memanfaatkan hasil peternakan lokal secara optimal dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini bermula dari tantangan yang dihadapi Aifarm dalam mengolah susu kambing segar menjadi susu bubuk menggunakan metode spray drying skala industri. Tim dosen PPA SV UGM (yang terdiri dari Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Dr, Eng. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., Dr. Agr. Sc. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc., Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., M.FoodScTech, dan Satria Bhirawa Anoraga) menangkap kebutuhan tersebut dan merancang penelitian untuk mengoptimalkan proses pengeringan dengan mengatur suhu inlet dan konsentrasi maltodekstrin.

Evaluasi dilakukan melalui analisis mutu fisikokimia (kadar air, kelarutan, warna, komposisi proksimat, dan cemaran mikroba). Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi parameter yang tepat mampu menghasilkan susu bubuk dengan mutu tinggi dan stabil.

Kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip konsumsi-produksi berkelanjutan, karena mendorong pemanfaatan hasil peternakan lokal secara efisien, mengurangi limbah, dan menciptakan nilai tambah di tingkat peternak. Proyek ini menunjukkan sinergi antara pendidikan tinggi, inovasi teknologi, dan kewirausahaan berbasis komunitas peternakan rakyat.

Dengan hasil riset yang aplikatif dan berdampak langsung ke masyarakat, kolaborasi ini memperkuat komitmen UGM dalam mendukung hilirisasi riset serta pencapaian SDG secara holistik. Ke depan, diharapkan produk ini dapat dikomersialisasikan melalui kemitraan industri dan mendorong tumbuhnya UMKM berbasis produk hewani fungsional di Indonesia.

Blanching: Rahasia di Balik Warna Cerah dan Aroma Segar Daun Bawang Kering

Riset Tuesday, 28 October 2025

Daun bawang (Allium fistulosum L.) merupakan salah satu bumbu penting dalam masakan Indonesia, memberikan aroma khas dan rasa gurih yang menggugah selera. Di balik aroma khas yang selalu hadir di setiap masakan Indonesia, daun bawang menyimpan tantangan besar bagi petani dan pelaku usaha pangan: daya simpan yang sangat singkat. Dalam beberapa hari setelah panen, daun bawang bisa layu, berubah warna, dan kehilangan kesegarannya. Kondisi ini sering membuat hasil panen terbuang sia-sia, terutama di musim panen raya.

Salah satu solusi untuk memperpanjang umur simpannya adalah melalui proses pengeringan, yang mampu menurunkan kadar air dan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Namun, dalam praktiknya, proses pengeringan sering kali menyebabkan perubahan warna, tekstur, dan aroma yang tidak diinginkan. Warna daun bawang bisa menjadi kecokelatan, aromanya berkurang, dan tampilannya kurang menarik.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melakukan penelitian untuk mencari cara sederhana namun efektif dalam memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa menurunkan kualitasnya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah blanching, yaitu perlakuan panas ringan sebelum proses pengeringan, yang bertujuan menjaga warna, aroma, dan kandungan gizi daun bawang.

Gambar 1. Daun bawang segar yang telah dipotong (kiri) dan siap untuk dikeringkan (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Penelitian dilakukan di laboratorium pengolahan hasil pertanian Sekolah Vokasi UGM. Daun bawang segar dipotong kecil, kemudian dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan dengan variasi metode blanching antara lain dicelupkan ke dalam air panas, dikukus, dan tanpa blanching. Setelah itu, seluruh sampel dikeringkan menggunakan cabinet dryer pada suhu 45, 55, dan 65°C selama 4, 6, dan 8 jam hingga kadar airnya turun di bawah lima persen.

Gambar 2. Proses blanching dengan pengukusan (kiri) dan perendaman air panas (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Setelah proses pengeringan, peneliti melakukan serangkaian pengujian untuk mengevaluasi perubahan fisik dan kimia daun bawang. Parameter yang diamati antara lain warna (L, a, b*)**, kekerasan (firmness), aktivitas air (aw), kadar air, serta aktivitas antioksidan. Uji sensoris juga dilakukan untuk menilai tampilan dan aroma produk, sementara uji mikrobiologi dilakukan untuk memastikan keamanan produk selama penyimpanan.

Gambar 3. Proses pengujian laboratorium
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan blanching menghasilkan warna hijau yang lebih cerah dan aroma yang lebih kuat dibandingkan sampel tanpa blanching. Proses blanching terbukti mampu menginaktivasi enzim penyebab pencokelatan dan degradasi klorofil, sehingga daun bawang kering tetap terlihat segar dan menarik. Selain itu, blanching juga membantu mengurangi jumlah mikroorganisme awal dan mempertahankan sebagian besar senyawa antioksidan alami pada daun bawang.

Gambar 4. Daun bawang kering dengan beberapa perlakuan berbeda
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara visual, daun bawang yang dikeringkan setelah blanching memiliki penampakan yang lebih cerah dan tekstur yang lebih baik, sementara sampel tanpa blanching menunjukkan kecenderungan warna kecokelatan dan tekstur yang lebih keras akibat reaksi enzimatis dan oksidatif selama pengeringan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan blanching dapat menjadi solusi sederhana bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memproduksi daun bawang kering berkualitas tinggi. Dengan teknologi pengolahan yang relatif mudah diterapkan dan efisien, proses ini berpotensi mengurangi kehilangan hasil panen serta meningkatkan daya saing produk hortikultura lokal di pasar nasional maupun ekspor.

Pendampingan Petani Kaliangkrik dalam Inovasi Produk Daun Bawang Kering

Pengabdian Tuesday, 28 October 2025

Fluktuasi harga daun bawang sering menjadi tantangan besar bagi petani di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Saat panen melimpah, harga jual daun bawang bisa turun drastis hingga membuat petani mengalami kerugian. Di sisi lain, muncul peluang baru ketika beberapa industri pangan menawarkan kerja sama untuk menjadikan petani sebagai pemasok daun bawang kering—bahan tambahan yang digunakan dalam produk mie instan. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pengolahan membuat petani belum mampu memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh industri.

Melihat kondisi tersebut, tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, berinisiatif menjalin kerja sama dengan para petani Kaliangkrik untuk mengembangkan teknologi pengeringan daun bawang yang efisien dan sesuai standar industri. Kegiatan ini dimulai dengan Focus Group Discussion (FGD) di lapangan untuk memetakan permasalahan yang dihadapi petani serta potensi pengembangan produk bernilai tambah.

Gambar 1. Focus Group Discussion (FGD) Bersama Petani dan Perangkat Desa
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sebagai tindak lanjut, para petani diundang ke laboratorium Sekolah Vokasi UGM untuk mengikuti pelatihan pengolahan daun bawang kering. Dalam pelatihan tersebut, petani diperkenalkan dengan alat cabinet dryer serta diajarkan bagaimana mengatur suhu, waktu pengeringan, dan perlakuan pendahuluan agar produk yang dihasilkan memiliki warna, aroma, dan kadar air yang sesuai dengan kebutuhan industri.


Gambar 2 dan 3. Kunjungan ke Laboratorium untuk Melaksanakan Praktik Langsung Penggunaan Cabinet Dryer
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tidak berhenti sampai di situ, tim peneliti bersama perwakilan petani juga melakukan serangkaian pertemuan lanjutan untuk mengevaluasi hasil pelatihan, mendiskusikan strategi produksi berkelanjutan, serta menyiapkan langkah konkret agar produk daun bawang kering dari Kaliangkrik dapat menembus pasar industri.


Gambar 4. Diskusi dengan Petani
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus menjadi mitra nyata bagi masyarakat, menjembatani hasil penelitian dan kebutuhan lapangan agar inovasi teknologi tepat guna dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok agroindustri lokal.

Pengabdian Masyarakat sebagai Pemberdayaan Petani Salak untuk Mewujudkan SDG’s Tanpa Kemiskinan di Turi, Sleman, DI Yogyakarta

Uncategorized Tuesday, 28 October 2025

Kecamatan Turi, Sleman, dikenal sebagai sentra penghasil salak pondoh di Yogyakarta. Melimpahnya hasil panen sering kali belum diiringi dengan penyerapan pasar yang optimal, sehingga sebagian hasil berisiko menjadi limbah pangan. Kondisi ini mendorong tim dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S. melaksanakan program pengabdian masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas salak. Pengabdian tersebut diwujudkan melalui penelitian terkait analisis kelayakan produksi keripik buah salak. Berbasis teknologi vacuum frying.

Penelitian ini meliputi kegiatan analisis pasar, aspek teknis produksi, aspek manajemen serta kelayakan finansial untuk menilai potensi usaha keripik salak berbasis teknologi vacuum frying. Proses pengolahan keripik buah salak meliputi pengupasan, pemotongan, pembekuan, penggorengan, penirisan minyak, dan pengemasan. Penggorengan dilakukan pada tekanan -68 cmHg selama 90 menit. Metode ini efektif dalam menghasilkan keripik yang renyah, tidak berminyak, dan mampu mempertahankan cita rasa alami serta kandungan gizi buah salak.

Sumber: Dokumentasi Peneliti
Gambar 1. Hasil Penggorengan Salak Vacuum Frying

Sumber: Dokumentasi Peneliti
Gambar 2. Keripik Salak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha keripik salak dinilai layak dijalankan dari berbagai aspek. Analisis pasar menunjukkan peluang yang menjanjikan karena tren konsumsi camilan rendah kalori dan sehat terus meningkat, serta potensi ekspor yang terbuka ke negara seperti Hongkong, Korea, Amerika Serikat dan kawasan Eropa. Keripik salak juga dapat dikembangkan dengan berbagai varian rasa seperti original, manis pedas, balado, dan keju yang disukai oleh konsumen dari berbagai kalangan.Secara teknis, kegiatan produksi dapat dilakukan di ruang seluas 24 meter persegi dengan peralatan yang relatif sederhana.

Sumber: Dokumentasi Peneliti
Gambar 3. Persiapan Penggunaan Mesin Vacuum Frying

Aspek manajemen menunjukkan bahwa produksi dapat dikelola oleh tim kecil dengan penjadwalan produksi yang fleksibel untuk mendukung efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis. Dari sisi finansial, analisis menggunakan metode Net Present Value (NPV) menunjukkan nilai positif, Internal Rate of Return (IRR) melebihi tingkat bunga pinjaman, Profitability Index (PI) lebih dari satu, dan Payback Period (PP) menunjukkan waktu pengembalian modal yang cepat. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha keripik salak berpotensi memberikan keuntungan yang menjanjikan dan mendukung keberlanjutan usaha di masa depan.

Program ini bertujuan untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 1 yaitu Tanpa Kemiskinan, dengan membantu masyarakat tani di Turi, Sleman agar mampu mengembangkan usaha olahan salak bernilai tambah. Melalui pendekatan partisipatif, tim dosen dan mahasiswa memberikan pemahaman baru mulai dari analisis pasar, teknik produksi higienis, manajemen usaha kecil, hingga pengelolaan keuangan sederhana. Dengan adanya pengolahan hasil pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah, kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi potensi food loss di tingkat petani. Sebagai tindak lanjut, tim penelitian merekomendasikan peningkatan promosi digital, penerapan strategi pemasaran yang adaptif terhadap pasar global, serta pengembangan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat. Inovasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing agroindustri berbasis komoditas lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di daerah Sleman, khususnya Kecamatan Turi.

 

Meningkatkan Mutu Produk Buah Naga Merah Melalui Teknologi Ramah Lingkungan

AgendaInformasi TerkiniRiset Tuesday, 24 December 2024

Dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), penelitian tentang pengaruh buah naga merah terhadap mutu produk kering-beku menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan dalam sektor pertanian. Penelitian ini fokus pada pengembangan produk pangan berkualitas tinggi dengan metode pengeringan beku ( freeze dry ) yang ramah lingkungan.

Buah naga merah, yang merupakan salah satu komoditas unggulan di Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki umur simpan pendek akibat kerentanannya terhadap kerusakan mikrobiologis. Penelitian yang dilakukan oleh Fahrizal Yusuf Affandi bersama tim dari Sekolah Vokasi UGM ini mengidentifikasi umur panen optimal dan parameter operasional terbaik untuk menghasilkan buah naga kering-beku berkualitas tinggi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat kematangan tidak mempengaruhi kadar air atau betasianin, hasil optimal dicapai dengan mempertimbangkan kekerasan tekstur dan warna produk akhir. Dengan memanfaatkan metode non-termal ini, pengeringan beku mampu mempertahankan tekstur dan warna alami buah, mendukung target SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengurangan limbah pangan.

Inovasi ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan daya saing produk lokal di pasar internasional, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Langkah ini mempertegas pentingnya sinergi antara penelitian dan pemberdayaan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber:

Data diadaptasi dari Prosiding SNTT 2024 oleh Fahrizal Yusuf Affandi dan tim.

Peneliti Ungkap Kualitas Biji Kakao Indonesia: Biji Gunung Kidul Unggul, Wilayah Lain Perlu Perbaikan

Informasi TerkiniRiset Friday, 22 November 2024

Yogyakarta, 22 November 2024 – Indonesia, sebagai salah satu pemain utama dalam industri kakao dunia, memiliki potensi besar untuk menghasilkan cokelat berkualitas tinggi. Namun, kualitas biji kakao yang bervariasi di berbagai daerah menjadi tantangan tersendiri.

Dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim dosen dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, terungkap bahwa proses pascapanen, terutama fermentasi dan pengeringan, sangat krusial dalam menentukan kualitas biji kakao. Penelitian ini melibatkan analisis terhadap sampel biji kakao dari empat daerah di Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Gunung Kidul memiliki tingkat fermentasi biji kakao terbaik dibandingkan dengan daerah lainnya. Fermentasi yang optimal sangat penting karena dapat mengubah rasa pahit alami kakao menjadi senyawa aroma yang lebih disukai konsumen. Sayangnya, hasil dari daerah Papua menunjukkan tingkat fermentasi yang masih rendah, bahkan ditemukan sejumlah biji kakao yang berjamur.

Selain tingkat fermentasi, kadar air pada biji kakao juga menjadi perhatian. Penelitian ini menemukan bahwa rata-rata kadar air biji kakao dari semua daerah yang diteliti masih di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Kadar air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan jamur dan bakteri, sehingga menurunkan kualitas biji kakao. “Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi yang dapat digali untuk meningkatkan kualitas biji kakao Indonesia,” ujar Putri Rousan Nabila, S.T., M.T., selaku ketua penelitian ini. “Dengan memperbaiki proses fermentasi dan pengeringan, serta meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya kualitas, kita dapat meningkatkan daya saing biji kakao Indonesia di pasar internasional.”

Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas biji kakao Indonesia, tetapi juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 12, yaitu produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab. Dengan menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, Indonesia dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi pemborosan.

Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian, tim peneliti merekomendasikan beberapa hal, antara lain:

  • Peningkatan kualitas proses fermentasi: Petani perlu diberikan pelatihan dan pendampingan untuk melakukan proses fermentasi yang benar.
  • Peningkatan fasilitas pengeringan: Fasilitas pengeringan yang memadai diperlukan untuk menurunkan kadar air biji kakao secara efektif.
  • Standarisasi kualitas: Perlu adanya standarisasi kualitas biji kakao sesuai SNI 01-232-2008 yang lebih ketat untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar internasional.

Dengan upaya bersama, diharapkan kualitas biji kakao Indonesia dapat terus ditingkatkan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan industri cokelat nasional.

Sosialisasi Pembibitan Unggul dan Pengembangan Produk Olahan Bawang Merah Dongkrak Kualitas Petani di Demangrejo

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 November 2024

Sentolo, Kulonprogo – Tim Dosen Prodi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada sukses menggelar sosialisasi pembibitan unggul dan pengembangan produk olahan bawang merah di Kalurahan Demangrejo pada kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung selama Mei – November 2024. Kegiatan yang menyasar kelompok tani bawang merah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas petani.

Tim dosen yang dibantu oleh Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Yogyakarta memberikan pemahaman komprehensif kepada petani mengenai teknik pembibitan unggul, mulai dari pemilihan bibit unggul, persiapan lahan, hingga perawatan bibit. Selain itu, sosialisasi juga mencakup pengenalan berbagai jenis produk olahan bawang merah, khususnya pasta bawang merah yang memiliki potensi pasar yang menjanjikan.

Peserta sangat antusias dengan kegiatan ini karena menjadi lebih paham tentang cara menghasilkan bibit bawang merah yang berkualitas dan peluang untuk mengembangkan produk olahan. Hasil sosialisasi menunjukkan peningkatan pemahaman para peserta. Tingkat pemahaman petani mengenai teknik budidaya bawang merah yang baik meningkat secara signifikan. Mereka kini lebih memahami pentingnya pemilihan bibit unggul, perawatan yang tepat, serta pencegahan penyakit. Selain itu, minat kelompok tani wanita untuk mengembangkan produk olahan bawang merah juga semakin besar.

“Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari antusiasme masyarakat Demangrejo,” ungkap Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Ketua Tim Pengabdian. “Mereka sangat aktif bertanya dan berdiskusi. Ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius dalam mengoptimalkan pertanian bawang merah setempat.”

  

Menanggapi antusiasme petani, tim dosen berencana untuk melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan fokus pada praktik langsung di lahan dan pelatihan pembuatan produk olahan bawang merah hingga siap dipasarkan. Harapannya, melalui kegiatan ini, petani di Demangrejo dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berupaya mewujudkan SDG’s Nomor 2 dengan meningkatkan ketahanan pangan dan SDG’s Nomor 12 dengan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan.

Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan masyarakat, salah satunya di sektor pertanian. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini, diharapkan dapat tercipta petani yang mandiri dan produktif.

 

12

Recent Posts

  • Kegiatan Temu Alumni PPA: Menjembatani Kurikulum Akademik dan Kebutuhan Dunia Kerja
  • Mini Expo Inovasi Produk PPA Angkatan 2022: Wadah Apresiasi dan Eksplorasi Inovasi Mahasiswa
  • Pengembangan UMKM Berbasis Potensi Lokal: Branding dan Sterilisasi Produk Pasta Bawang
  • Kopi Organik Robusta Sleman: Dari Cita Rasa Unggul Menuju Kesejahteraan Petani
  • Transformasi Sensoris Kopi Robusta Sleman Melalui Perlakuan Roasting

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY