Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • UGM Researchers
  • UGM Researchers
Arsip:

UGM Researchers

Dari Daun Teh Tua Menjadi Penyerap Oksigen, Inovasi Bahan Alami untuk Kemasan Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRisetTugas Akhir Friday, 4 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026

Tidak semua bagian tanaman yang tersisa setelah panen harus berakhir sebagai limbah. Daun teh tua, misalnya, masih menyimpan senyawa bernilai yang berpotensi dimanfaatkan untuk teknologi pangan.

Daun teh tua yang diperoleh dari proses pemangkasan dan peremajaan tanaman selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk keperluan bernilai tambah rendah, seperti kompos, mulsa, atau pewarna alami. Padahal, daun tersebut secara alami mengandung senyawa fenolik, kelompok senyawa yang dapat mengalami reaksi oksidasi dan berpotensi digunakan untuk menangkap oksigen (O₂).

Di sisi lain, kebutuhan terhadap teknologi pengemasan pangan yang mampu mengendalikan oksigen terus berkembang. Salah satunya adalah active modified atmosphere packaging (a-MAP), yang memungkinkan kondisi atmosfer di dalam kemasan dikendalikan untuk membantu mempertahankan mutu produk.

Dalam sistem tersebut, absorber oskigen atau penyerap oksigen dapat digunakan untuk menurunkan konsentrasi O₂ di dalam kemasan. Penyerap O₂ berbasis besi (Fe) merupakan salah satu jenis yang umum digunakan. Namun, bahan tersebut bergantung pada keberadaan kelembapan untuk bekerja dan memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain sifat higroskopisnya yang dapat menyerap air dari produk serta kekhawatiran terhadap migrasi bahan aktif.

Persoalannya kemudian menjadi menarik, apakah daun teh tua yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi sumber bahan aktif penyerap oksigen berbasis senyawa alami?

Pertanyaan tersebut menjadi dasar tugas akhir Afnita Sekar Dwi Farda, mahasiswa Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Universitas Gadjah Mada. Di bawah bimbingan Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, Afnita mengkaji potensi ekstrak senyawa fenolik dari daun teh tua (Camellia sinensis var. sinensis) sebagai bioabsorber oksigen.

Mengekstrak potensi dari daun teh tua

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Untuk mendapatkan senyawa fenolik dari daun teh tua, digunakan dua pendekatan ekstraksi, yaitu maserasi dan ultrasonic bath. Hasilnya menunjukkan bahwa ultrasonic bath selama 15 menit dapat menjadi metode yang efektif. Metode tersebut mampu menghasilkan kandungan fenolik yang tinggi dengan waktu proses yang jauh lebih singkat dibandingkan maserasi yang dilakukan selama dua hari.

Ekstrak yang diperoleh kemudian dikembangkan menjadi bioabsorber oksigen. Sebagian ekstrak dibuat tanpa enkapsulasi, sementara sebagian lainnya dienkapsulasi menggunakan maltodekstrin dan gum arab sebelum dikeringkan dengan freeze dryer.

Enkapsulasi dilakukan bukan semata-mata untuk mengubah bentuk bahan. Teknik ini diharapkan dapat membantu menghasilkan bahan yang lebih stabil dan memiliki karakteristik fisik yang lebih sesuai untuk dikembangkan sebagai bahan aktif pengemasan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa enkapsulasi menghasilkan bioabsorber dengan warna yang lebih cerah dan water activity (aw) yang lebih rendah. Nilai aw bioabsorber terenkapsulasi mencapai 0,43 ± 0,02, dibandingkan 0,49 ± 0,04 pada bahan tanpa enkapsulasi.

Perubahan visual sampel; TE: Tanpa Enkapsulasi, E: Enkapsulasi (a) TE sebelum pengeringan, (b) TE setelah pengeringan, (c) TE serbuk, (d) E sebelum pengeringan, (e) E setelah pengeringan, (f) E serbuk.

Oksigen benar-benar berkurang

Temuan yang paling penting adalah kemampuan ekstrak daun teh tua untuk menurunkan konsentrasi oksigen.

Aplikasi Bioabsorber O2 pada suhu 25°C,RH 75%; TE: Tanpa Enkapsulasi; E: Enkapsulasi) a) TE sebelum aplikasi, b) TE setelah aplikasi, c) E sebelum aplikasi d) E setelah aplikasi.

Dalam pengujian in vitro menggunakan botol kedap udara, konsentrasi O₂ awal sebesar 20,9% turun menjadi 17,58% setelah delapan hari pada bioabsorber tanpa enkapsulasi. Laju penurunan oksigennya mencapai 0,176 mL O₂ g⁻¹ hari⁻¹.

Pada bioabsorber terenkapsulasi, konsentrasi O₂ turun menjadi 17,96%, dengan laju penurunan 0,162 mL O₂ g⁻¹ hari⁻¹. Perbedaan kedua perlakuan tersebut tidak signifikan secara statistik (p > 0,05).

Secara sederhana, mekanismenya dapat dipahami sebagai berikut: oksigen dari ruang kepala (headspace) di dalam wadah berdifusi menuju matriks bioabsorber. Senyawa fenolik kemudian mengalami oksidasi sehingga sebagian oksigen tersebut dikonsumsi.

Temuan ini menunjukkan bahwa senyawa fenolik dari daun teh tua memiliki aktivitas sebagai penyerap oksigen. Namun, kemampuan tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum dapat langsung disamakan dengan kinerja oxygen absorber komersial.

Dari pengelolaan biomassa menuju teknologi pascapanen

Mengapa kemampuan menyerap oksigen ini penting bagi teknologi pangan?

Produk hortikultura seperti buah dan sayuran masih melakukan respirasi setelah dipanen. Dalam proses tersebut, oksigen digunakan untuk menghasilkan energi. Respirasi yang berlangsung terlalu cepat dapat mempercepat penggunaan cadangan energi dan pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan mutu produk selama penyimpanan.

Karena itu, pengendalian atmosfer di dalam kemasan merupakan salah satu pendekatan dalam teknologi pascapanen. Bioabsorber oksigen berbasis bahan alami seperti ekstrak daun teh tua berpotensi menjadi salah satu komponen yang dapat dikembangkan untuk sistem tersebut.

Meski demikian, penelitian Afnita masih merupakan tahap pembuktian konsep. Pengujian dilakukan in vitro dalam botol borosilikat kedap udara dan belum melibatkan produk pangan secara langsung. Dengan demikian, belum dapat disimpulkan bahwa bioabsorber tersebut telah mampu memperpanjang umur simpan buah atau sayuran.

Tahap selanjutnya masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana kinerja bioabsorber dalam kemasan sebenarnya, termasuk pengaruh kelembapan, stabilitas bahan, kinetika penyerapan O₂, serta interaksinya dengan produk segar.

Ketika “sisa” menjadi sumber inovasi

Nilai penting dari pendekatan ini tidak hanya terletak pada kemampuan daun teh tua dalam menyerap oksigen. Ada gagasan yang lebih besar di baliknya: mengubah biomassa pertanian yang selama ini kurang bernilai menjadi bahan fungsional untuk teknologi pangan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan SDG 12 – Responsible Consumption and Production, terutama melalui upaya meningkatkan nilai guna sumber daya dan mendorong pemanfaatan biomassa secara lebih optimal. Pada saat yang sama, pengembangan bioabsorber berbasis senyawa fenolik alami juga mendukung SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure melalui inovasi material untuk teknologi pengemasan aktif.

Dengan demikian, daun teh tua tidak lagi hanya dipandang sebagai sisa pemangkasan. Di dalamnya terdapat senyawa fenolik yang dapat menjadi titik awal pengembangan teknologi baru.

Dari perkebunan teh hingga kemasan pangan, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inovasi berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal atau teknologi yang rumit. Terkadang, inovasi justru dapat dimulai dengan melihat kembali sesuatu yang selama ini kita anggap tidak terlalu bernilai.

Dari daun yang tersisa, lahir peluang untuk menyerap oksigen, dan dari sana, terbuka kemungkinan baru bagi teknologi kemasan pangan yang lebih berbasis sumber daya hayati.

Penulis : Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, S.T.P., M.Sc. 

Buah Mengkudu, Potensi yang Hampir Terlupakan

Informasi TerkiniRiset Monday, 31 August 2026

Sumber foto : Tribratanews Polri, 2024.

Dalam beberapa tahun terakhir, munculnya berbagai penyakit degeneratif telah menyadarkan konsumen akan pentingnya asupan nutrisi yang seimbang bagi tubuh. Pangan tidak hanya harus enak, tetapi juga harus mengandung nutrisi penting yang memberikan manfaat kesehatan. Di Indonesia, buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) telah dikenal dalam beberapa penelitian karena manfaat kesehatannya. Buah mengkudu telah populer sebagai suplemen makanan, bahan pangan fungsional, atau suplemen kesehatan alami karena mengandung senyawa aktif yang memiliki efek antioksidan, antikanker, antimikroba (antibakteri, antijamur), antivirus, antitumor, anthelminthic, analgesik, hipotensif, antiinflamasi, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Meskipun memiliki banyak dampak positif bagi kesehatan, karakteristik fisiologis buah mengkudu, seperti baunya yang khas, bijinya yang banyak dan keras, serta rasanya yang bagi kebanyakan orang tidak enak, membuat konsumen enggan mengonsumsinya secara langsung. Oleh karena itu, teknologi pengolahan yang bertujuan untuk mengekstrak senyawa bioaktif yang terkandung dalam buah mengkudu merupakan metode yang tepat untuk memperoleh manfaatnya. Salah satu metode ekstraksi melibatkan pengambilan polifenol dari buah, yang dapat dimanfaatkan secara efektif.

Kemudahan dalam mengonsumsi produk menjadi faktor penting dalam kegiatan pengembangan produk. Ekstrak buah mengkudu yang mengandung berbagai senyawa aktif perlu dilindungi, salah satunya dapat dicapai melalui teknologi mikroenkapsulasi. Tujuan mikroenkapsulasi di bidang pangan adalah untuk melindungi zat aktif dari kelembaban, oksidasi, panas, cahaya, radiasi ultraviolet, atau kondisi ekstrim lainnya selama pemrosesan dan penyimpanan. Selain itu, mikroenkapsulasi merupakan upaya untuk memperpanjang umur simpan, menutupi atribut pangan yang tidak diinginkan, serta memenuhi permintaan konsumen terhadap kualitas dan fungsionalitas organoleptik.

Bahan dinding yang digunakan untuk melindungi bahan inti dapat berasal dari golongan polisakarida dan protein. Bahan dinding ini dapat membentuk lapisan tipis untuk melindungi bahan inti. Penelitian mengenai ekstraksi dan enkapsulasi bahan aktif dari buah mengkudu telah dilakukan oleh Dr. Ratih Hardiyanti, dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri di Sekolah Vokasi UGM, sebagai bagian dari studi doktoralnya di Teknik Kimia UGM. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat bidang Pengembangan Produk Pangan Fungsional di Prodi PPA SV UGM, mendukung tridharma perguruan tinggi.

Sumber foto: Dokumen Pribadi.

Temuan dari penelitian Dr. Ratih dapat membuka jalan bagi pengembangan produk inovatif yang tidak hanya menyoroti manfaat nutrisi dari buah mengkudu tetapi juga memenuhi preferensi konsumen. Dengan memanfaatkan teknik pengolahan yang tepat, buah mengkudu dapat diubah menjadi bentuk yang lebih enak dan mudah diakses, mendorong konsumsi dan penerimaan yang lebih luas di kalangan masyarakat.

Lebih jauh lagi, potensi buah mengkudu sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan memastikan kehidupan yang sehat. Dengan memanfaatkan bahan bioaktif buah mengkudu, kita dapat berkontribusi pada gerakan global menuju sistem pangan yang lebih sehat dan peningkatan kesehatan masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pangan fungsional, peran bahan lokal seperti buah mengkudu menjadi semakin signifikan. Penting bagi peneliti, teknolog pangan, dan pengusaha untuk berkolaborasi dalam mengembangkan produk inovatif yang tidak hanya memenuhi permintaan pasar tetapi juga mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.

Sebagai kesimpulan, buah mengkudu mewakili potensi yang hampir terlupakan yang, dengan teknologi pengolahan yang tepat dan edukasi konsumen, dapat menjadi aset berharga dalam pencarian opsi pangan yang lebih sehat. Upaya penelitian dan pengembangan yang sedang berlangsung di UGM adalah bukti komitmen untuk memajukan produksi pangan dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Penulis : Dr. Ratih Hardiyanti

Lokasi : THV SV UGM

Waktu : Agustus 2026

Pemanfaatan Produk Samping Penggilingan Padi sebagai Camilan Sehat Anak Usia Sekolah

Informasi TerkiniRiset Monday, 3 August 2026

Prodi PPA DTHV memulai kegiatan penelitian untuk pengembangan pangan inovatif yang bertujuan untuk memanfaatkan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan gizi di kalangan anak-anak.

Beras adalah makanan pokok di Indonesia, dan proses penggilingannya menghasilkan sejumlah besar produk samping, yaitu dedak padi yang dikenal juga sebagai bekatul. Secara tradisional, produk samping ini kurang dimanfaatkan dan sering kali digunakan sebagai pakan ternak. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekatul merupakan sumber vitamin B kompleks, yaitu tiamin (B1), asam nikotinat, riboflavin, dan vitamin B6. Bekatul memiliki komposisi nutrisi yag lengkap berupa protein, serat, vitamin, mineral, dan fitokimia bioaktif, sehingga menjadikannya kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi camilan sehat.

Sumber foto: Hello Sehat, Manfaat Bekatul untuk Kesehatan.

Kegiatan pengembangan produk di PPA DTHV bertujuan untuk mengubah produk samping ini menjadi pilihan camilan yang menarik bagi anak usia sekolah. Dengan menggabungkan bekatul ke dalam resep kukis yang diperkaya dengan tepung tempe, inisiatif ini berusaha untuk meningkatkan profil nutrisi makanan tersebut. Pendekatan inovatif ini tidak hanya menangani ketahanan pangan tetapi juga mempromosikan keberlanjutan lingkungan.

Tim dosen peneliti di PPA DTHV yang diketuai oleh Dr. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng. dengan tim dosen  Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Galih Kusuma Aji, S.T.P, M.Agr, Ph.D., dan Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. dan dibantu oleh mahasiswa DIV PPA yaitu Aulya Putri Larasati, Nadhifa Alya Febriana, dan Azizah Sholawah Fatah, serta teknisi laboratorium Rini Setyowati, S.TP, telah mengembangkan prototipe camilan yang lezat dan bergizi. Penelitian ini dapat terlaksana berkat hibah Penelitian Dosen DAMAS Sekolah Vokasi 2026. Peneliti berharap bahwa kebutuhan diet anak usia sekolah dapat terpenuhi dengan cara memberikan mereka nutrisi yang penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak Indonesia. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya mengenalkan anak-anak pentingnya makan yang sehat.

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi.

Untuk mempromosikan camilan baru ini, tim peneliti telah mengorganisir uji sensoris untuk mengetahui kesukaan anak sekolah terhadap produk inovasi ini.  Acara ini bertujuan untuk mengenalkan camilan yang terbuat dari produk samping penggilingan padi. Umpan balik dari anak-anak sangat positif, dengan banyak yang mengungkapkan antusiasme terhadap rasa baru dan ide menggunakan bahan pangan inovatif.

Selain menyediakan pilihan camilan sehat, inisiatif ini juga mendukung petani lokal dan penggiling padi, khususnya dengan menggandeng mitra BUM Desa Binangun Jati Unggul Jatirejo Lendah Kulon Progo, yang memiliki usaha penggilingan padi. Dengan menciptakan pasar untuk produk samping padi, proyek ini mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan dan membantu meningkatkan mata pencaharian mereka yang terlibat dalam produksi padi. Pendekatan holistik ini sejalan dengan SDGs dengan mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.


Sebagai kesimpulan, pemanfaatan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah merupakan langkah signifikan menuju pencapaian SDGs terkait ketahanan pangan dan gizi. Melalui pengembangan pangan inovatif, keterlibatan komunitas, dan praktik berkelanjutan, PPA DTHV membuka jalan untuk masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Penulis : Dr. Ir. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng.

Editor : Putri Rousan Nabila, S.T., M.T.

Traceability dan Rantai Pasok Halal Jadi Faktor Utama Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

AgendaInformasi TerkiniRiset Wednesday, 20 May 2026

Photo source: https://share.google/dQOZ1rqSE4JrHJ0BA 

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal tidak lagi hanya melihat pada tersedianya label semata. Konsumen produk halal ingin tahu lebih jauh, dari mana bahan berasal, bagaimana proses produksinya, hingga bagaimana produk itu sampai ke tangan mereka. Perubahan ini terasa semakin nyata dalam sektor agroindustri, di mana produk pangan berasal dari rantai proses yang panjang, mulai dari petani hingga ke konsumen. Di sinilah konsep traceability atau ketelusuran menjadi semakin penting. Penerapan sistem ketelusuran dalam agroindustri halal tidak hanya meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik produksi dan konsumsi pangan yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam pengelolaan rantai pasok pangan halal yang lebih efisien dan terintegrasi. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar selaku dosen program studi Pengembangan Produk Agroindustri menunjukkan bahwa penerapan traceability dan halal supply chain memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan konsumen, khususnya di masyarakat Muslim seperti di Indonesia. Sistem ini memberikan jaminan bahwa produk tidak hanya halal secara klaim, tetapi juga aman, autentik, dan sesuai dengan standar halal di setiap tahap produksi. Dalam agroindustri, hal ini sangat relevan karena produk pangan melewati banyak titik kritis yang berpotensi menimbulkan risiko kontaminasi non-halal, mulai dari bahan baku hingga distribusi.

Pada studi yang melibatkan 262 responden konsumen halal di Indonesia, para peneliti menemukan bahwa implementasi sistem traceability memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kepercayaan dan penerimaan konsumen. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko kesalahan dalam rantai pasok, serta memastikan kepatuhan terhadap standar halal.

Selain itu, faktor demografi juga mempengaruhi bagaimana konsumen merespon sistem traceability. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia yang lebih matang, khususnya usia 41-50 tahun, cenderung lebih memperhatikan aspek ketelusuran produk. Artinya, pelaku agroindustri perlu menyesuaikan strategi pemasaran dan pendekatan teknologi agar dapat menjangkau berbagai segmen konsumen secara efektif.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Termasuk juga 57 negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang mengutamakan halal dalam meningkatkan kepercayaan konsumen pada produk pangannya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Menariknya, persepsi konsumen terhadap produk halal ternyata tidak selalu sama di setiap negara. Di negara dengan mayoritas non-Muslim, halal sering dipandang sebagai simbol kebersihan, kualitas, dan manfaat kesehatan. Sementara itu, di Indonesia, aspek kepatuhan terhadap prinsip Islam menjadi prioritas utama. Menurut OIC, setidaknya terdapat 57 negara anggota yang secara kelembagaan terkait dengan ekosistem halal dunia. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelaku agroindustri tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua pasar. Dibutuhkan strategi komunikasi dan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Dari sisi bisnis, penerapan rantai pasok halal juga memiliki implikasi ekonomi yang berbeda. Di Indonesia, integrasi halal supply chain relatif lebih mudah karena produksi non-halal lebih terbatas, sehingga biaya operasional cenderung lebih efisien. Akan tetapi, di negara non-Muslim, pemisahan antara proses halal dan non-halal justru meningkatkan kompleksitas dan biaya produksi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku agroindustri yang ingin memperluas pasar secara global, karena strategi harga dan operasional harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Dr. Wildan Fajar Bachtiar beserta timnya merekomendasikan pemanfaatan teknologi seperti blockchain dan Internet of Things (IoT) untuk memperkuat sistem pelacakan produk. Dengan dukungan teknologi tersebut, transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok halal dapat ditingkatkan, sehingga mampu memperkuat kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, perkembangan ini menunjukkan bahwa dalam agroindustri modern, halal bukan lagi sekadar label, tetapi sebuah sistem yang mencakup transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Traceability dan halal supply chain bukan hanya alat kontrol, tetapi juga menjadi nilai strategis yang menentukan bagaimana produk diterima di pasar. Melalui penelitian ini menegaskan bahwa masa depan industri halal tidak cukup hanya mengandalkan sertifikasi, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu menjamin keterlacakan, keamanan, dan integritas produk dari hulu hingga hilir.

Penulis: Dr. Wildan Fajar Bachtiar

Editor: Putri Rousan Nabila

Kopi Organik Robusta Sleman: Dari Cita Rasa Unggul Menuju Kesejahteraan Petani

Agenda Friday, 31 October 2025

Di perbukitan subur Cangkringan, Sleman, sebuah transformasi terjadi dalam dunia produksi kopi. Para petani lokal, yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunggaksemi, telah mengadopsi praktik pertanian organik untuk membudidayakan kopi Robusta. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memproduksi kopi berkualitas tinggi tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para petani yang terlibat.

Kopi organik didefinisikan sebagai kopi yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti pestisida atau pupuk buatan. Sebaliknya, kopi organik mengandalkan metode pertanian organik yang menjaga kesuburan tanah dan mempromosikan ekosistem yang sehat. Kopi Robusta yang diproduksi di Sleman adalah bukti pendekatan berkelanjutan ini, menunjukkan potensi pertanian organik dalam meningkatkan kualitas produk dan kesejahteraan petani.

Salah satu fitur unggulan dari kopi Robusta organik adalah senyawa bioaktifnya, terutama asam klorogenat dan trigonelline. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada profil rasa unik kopi, yang sering kali lebih kompleks dibandingkan dengan kopi yang ditanam secara konvensional. Selain itu, kopi organik biasanya memiliki kandungan kafein yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih disukai bagi banyak penggemar kopi yang mencari pengalaman yang lebih ringan.

Manfaat pertanian organik melampaui sekadar kopi itu sendiri. Praktik yang terkait dengan pertanian organik menghasilkan tanah yang lebih sehat, yang ditunjukkan dengan kandungan bahan organik yang lebih tinggi dan struktur tanah yang lebih baik. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan keseluruhan ekosistem pertanian. Tanah yang sehat sangat penting untuk produktivitas pertanian jangka panjang dan kesehatan lingkungan.

Lebih jauh lagi, pergeseran menuju produksi kopi organik memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut. Dengan fokus pada metode organik, para petani dapat meminta harga yang lebih tinggi untuk produk mereka, karena konsumen semakin bersedia membayar lebih untuk produk organik. Peningkatan pendapatan ini dapat mengarah pada kondisi hidup yang lebih baik, pendidikan, dan perawatan kesehatan bagi para petani dan keluarga mereka.

Dukungan komunitas memainkan peran penting dalam keberhasilan inisiatif ini. Kelompok Wanita Tani Tunggaksemi telah membangun rasa solidaritas di antara anggotanya, mendorong berbagi pengetahuan dan kolaborasi. Upaya kolektif ini tidak hanya memperkuat posisi petani di pasar tetapi juga meningkatkan ketahanan mereka terhadap fluktuasi ekonomi.

Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk produk organik secara global, masa depan tampak menjanjikan bagi para petani Sleman. Komitmen mereka terhadap produksi kopi organik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan pertanian berkelanjutan dan memastikan penghidupan yang layak bagi komunitas pedesaan. Dengan memprioritaskan metode organik, para petani Cangkringan tidak hanya meningkatkan kehidupan mereka sendiri tetapi juga berkontribusi pada planet yang lebih sehat.

Transformasi Sensoris Kopi Robusta Sleman Melalui Perlakuan Roasting

Riset Friday, 31 October 2025

Nanda, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2021, melakukan penelitian yang inovatif mengenai efek roasting terhadap kualitas sensori kopi robusta Sleman. Penelitian ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas kopi lokal, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berkaitan dengan kualitas makanan dan keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana suhu roasting yang berbeda dapat mempengaruhi karakteristik sensori dari varietas kopi yang unik ini.

Penelitian Nanda melibatkan serangkaian eksperimen roasting yang terkontrol, di mana berbagai suhu diterapkan pada biji kopi. Hasilnya dianalisis menggunakan protokol cupping dari Coffee Quality Institute (CQI), yang merupakan metode standar untuk mengevaluasi kualitas kopi jennis Robusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu roasting memiliki dampak signifikan terhadap karakteristik sensori kopi robusta Sleman, dengan nilai p kurang dari 0,05 yang menunjukkan signifikansi statistik yang kuat. Ini berarti bahwa variasi suhu roasting secara langsung mempengaruhi aroma, rasa, dan kualitas keseluruhan kopi, menyoroti pentingnya teknik roasting yang tepat dalam produksi kopi.

Di antara berbagai perlakuan roasting yang diuji, satu metode tertentu menonjol sebagai yang terbaik. Perlakuan roasting optimal ini menghasilkan profil kopi yang ditandai dengan aroma nutty, body tebal, dan rasa pahit/manis yang seimbang. Selain itu, kopi ini juga menunjukkan nuansa dark chocolate dan caramel, dengan aftertaste yang bersih dan keseimbangan keseluruhan yang memberikannya skor akhir 82.
Dengan meningkatkan kualitas kopi robusta Sleman, penelitian ini berkontribusi pada ekonomi lokal dan mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Kopi berkualitas tinggi dapat menarik lebih banyak konsumen, baik secara lokal maupun internasional, sehingga meningkatkan pendapatan petani lokal dan mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, penelitian ini sejalan dengan SDGs dengan menekankan pentingnya produksi makanan berkualitas. Dengan fokus pada peningkatan atribut sensori kopi. Seiring dengan pertumbuhan industri kopi, studi ini sangat penting untuk memastikan bahwa produk lokal dapat bersaing di pasar global. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan berharga bagi produsen kopi tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk penelitian di bidang ilmu kopi di masa depan. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya teknik roasting dalam meningkatkan profil sensori kopi, yang pada akhirnya menguntungkan petani lokal dan mempromosikan praktik makanan yang berkelanjutan.

Saat komunitas kopi di Sleman mengadopsi temuan ini, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi produksi kopi lokal, yang berakar pada kualitas, keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi.

Prodi PPA SV UGM dan Aifarm Temukan Profil Asam Lemak Sehat pada Susu Bubuk Kambing dengan Proses Spray Drying

Riset Tuesday, 28 October 2025

Yogyakarta, Oktober 2025 – Tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan startup peternakan Aifarm, berhasil mengidentifikasi profil asam lemak susu bubuk kambing Etawa hasil proses spray drying yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar formula pertumbuhan anak usia dini.

Hasil analisis menunjukkan bahwa susu bubuk kambing memiliki asam lemak jenuh (SFA) dan  asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang cukup stabil setelah proses pengeringan dengan spray drying.  Kandungan omega-9 (oleic acid) mencapai 36%, jauh lebih tinggi dibandingkan pada susu cair. Omega-9 berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, sistem imun, serta pertumbuhan sel pada anak. Sebaliknya, kadar omega-3 dan omega-6 yang rendah menunjukkan perlunya pengayaan formula untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial anak usia 1–3 tahun sebagaimana direkomendasikan WHO/FAO.

Menurut tim peneliti, kondisi ini memberikan peluang pengembangan formulasi inovatif dengan menambahkan sumber PUFA alami seperti minyak biji bunga matahari, minyak biji chia, atau minyak ikan mikroenkapsulasi. “Masih perlu formulasi lanjutan untuk meningkatkan kandungan omega-3 dan omega-6, tujuannya agar susu bubuk kambing lokal dapat menyaingi susu formula dalam hal komposisi gizi dan stabilitas produk,” jelas ketua tim peneliti, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.

Riset ini berkontribusi terhadap SDG’s 2 dengan mendorong diversifikasi pangan bergizi berbasis sumber lokal, sekaligus mendukung SDG’s 12 melalui optimalisasi proses spray drying yang hemat energi dan minim limbah. Kolaborasi ini juga memperkuat hubungan akademik–industri untuk menciptakan produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Pihak Aifarm menyampaikan bahwa penelitian ini membantu mereka memahami korelasi antara parameter spray drying dan profil nutrisi susu, terutama dalam mempertahankan stabilitas lemak selama pengeringan. Penelitian lanjutan akan difokuskan pada optimasi formulasi susu bubuk fungsional untuk anak, pengujian sensoris, serta kajian bioavailabilitas asam lemak esensial. 

Kolaborasi ini membuktikan bahwa riset perguruan tinggi dapat langsung berdampak pada sektor agroindustri lokal, memperkuat kemandirian pangan, dan menghadirkan inovasi gizi berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Infografis:

Ciptakan Susu Bubuk Kambing Berkualitas, Hasil Kerjasama Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi UGM dan Aifarm

Riset Tuesday, 28 October 2025

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi UGM bekerja sama dengan PT. Aifarm Teknologi Agrikultur, startup peternakan kambing, mengembangkan inovasi susu bubuk kambing berkualitas tinggi berbasis teknologi spray drying.

Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 2 – Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penyediaan alternatif pangan hewani bergizi tinggi, SDG 9 – Industri, Inovasi dan Infrastruktur dengan pengembangan teknologi pengolahan agroindustri, serta SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena memanfaatkan hasil peternakan lokal secara optimal dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini bermula dari tantangan yang dihadapi Aifarm dalam mengolah susu kambing segar menjadi susu bubuk menggunakan metode spray drying skala industri. Tim dosen PPA SV UGM (yang terdiri dari Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Dr, Eng. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., Dr. Agr. Sc. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc., Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., M.FoodScTech, dan Satria Bhirawa Anoraga) menangkap kebutuhan tersebut dan merancang penelitian untuk mengoptimalkan proses pengeringan dengan mengatur suhu inlet dan konsentrasi maltodekstrin.

Evaluasi dilakukan melalui analisis mutu fisikokimia (kadar air, kelarutan, warna, komposisi proksimat, dan cemaran mikroba). Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi parameter yang tepat mampu menghasilkan susu bubuk dengan mutu tinggi dan stabil.

Kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip konsumsi-produksi berkelanjutan, karena mendorong pemanfaatan hasil peternakan lokal secara efisien, mengurangi limbah, dan menciptakan nilai tambah di tingkat peternak. Proyek ini menunjukkan sinergi antara pendidikan tinggi, inovasi teknologi, dan kewirausahaan berbasis komunitas peternakan rakyat.

Dengan hasil riset yang aplikatif dan berdampak langsung ke masyarakat, kolaborasi ini memperkuat komitmen UGM dalam mendukung hilirisasi riset serta pencapaian SDG secara holistik. Ke depan, diharapkan produk ini dapat dikomersialisasikan melalui kemitraan industri dan mendorong tumbuhnya UMKM berbasis produk hewani fungsional di Indonesia.

Blanching: Rahasia di Balik Warna Cerah dan Aroma Segar Daun Bawang Kering

Riset Tuesday, 28 October 2025

Daun bawang (Allium fistulosum L.) merupakan salah satu bumbu penting dalam masakan Indonesia, memberikan aroma khas dan rasa gurih yang menggugah selera. Di balik aroma khas yang selalu hadir di setiap masakan Indonesia, daun bawang menyimpan tantangan besar bagi petani dan pelaku usaha pangan: daya simpan yang sangat singkat. Dalam beberapa hari setelah panen, daun bawang bisa layu, berubah warna, dan kehilangan kesegarannya. Kondisi ini sering membuat hasil panen terbuang sia-sia, terutama di musim panen raya.

Salah satu solusi untuk memperpanjang umur simpannya adalah melalui proses pengeringan, yang mampu menurunkan kadar air dan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Namun, dalam praktiknya, proses pengeringan sering kali menyebabkan perubahan warna, tekstur, dan aroma yang tidak diinginkan. Warna daun bawang bisa menjadi kecokelatan, aromanya berkurang, dan tampilannya kurang menarik.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, melakukan penelitian untuk mencari cara sederhana namun efektif dalam memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa menurunkan kualitasnya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah blanching, yaitu perlakuan panas ringan sebelum proses pengeringan, yang bertujuan menjaga warna, aroma, dan kandungan gizi daun bawang.

Gambar 1. Daun bawang segar yang telah dipotong (kiri) dan siap untuk dikeringkan (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Penelitian dilakukan di laboratorium pengolahan hasil pertanian Sekolah Vokasi UGM. Daun bawang segar dipotong kecil, kemudian dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan dengan variasi metode blanching antara lain dicelupkan ke dalam air panas, dikukus, dan tanpa blanching. Setelah itu, seluruh sampel dikeringkan menggunakan cabinet dryer pada suhu 45, 55, dan 65°C selama 4, 6, dan 8 jam hingga kadar airnya turun di bawah lima persen.

Gambar 2. Proses blanching dengan pengukusan (kiri) dan perendaman air panas (kanan)
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Setelah proses pengeringan, peneliti melakukan serangkaian pengujian untuk mengevaluasi perubahan fisik dan kimia daun bawang. Parameter yang diamati antara lain warna (L, a, b*)**, kekerasan (firmness), aktivitas air (aw), kadar air, serta aktivitas antioksidan. Uji sensoris juga dilakukan untuk menilai tampilan dan aroma produk, sementara uji mikrobiologi dilakukan untuk memastikan keamanan produk selama penyimpanan.

Gambar 3. Proses pengujian laboratorium
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan blanching menghasilkan warna hijau yang lebih cerah dan aroma yang lebih kuat dibandingkan sampel tanpa blanching. Proses blanching terbukti mampu menginaktivasi enzim penyebab pencokelatan dan degradasi klorofil, sehingga daun bawang kering tetap terlihat segar dan menarik. Selain itu, blanching juga membantu mengurangi jumlah mikroorganisme awal dan mempertahankan sebagian besar senyawa antioksidan alami pada daun bawang.

Gambar 4. Daun bawang kering dengan beberapa perlakuan berbeda
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara visual, daun bawang yang dikeringkan setelah blanching memiliki penampakan yang lebih cerah dan tekstur yang lebih baik, sementara sampel tanpa blanching menunjukkan kecenderungan warna kecokelatan dan tekstur yang lebih keras akibat reaksi enzimatis dan oksidatif selama pengeringan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan blanching dapat menjadi solusi sederhana bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memproduksi daun bawang kering berkualitas tinggi. Dengan teknologi pengolahan yang relatif mudah diterapkan dan efisien, proses ini berpotensi mengurangi kehilangan hasil panen serta meningkatkan daya saing produk hortikultura lokal di pasar nasional maupun ekspor.

Pendampingan Petani Kaliangkrik dalam Inovasi Produk Daun Bawang Kering

Pengabdian Tuesday, 28 October 2025

Fluktuasi harga daun bawang sering menjadi tantangan besar bagi petani di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Saat panen melimpah, harga jual daun bawang bisa turun drastis hingga membuat petani mengalami kerugian. Di sisi lain, muncul peluang baru ketika beberapa industri pangan menawarkan kerja sama untuk menjadikan petani sebagai pemasok daun bawang kering—bahan tambahan yang digunakan dalam produk mie instan. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pengolahan membuat petani belum mampu memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh industri.

Melihat kondisi tersebut, tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, berinisiatif menjalin kerja sama dengan para petani Kaliangkrik untuk mengembangkan teknologi pengeringan daun bawang yang efisien dan sesuai standar industri. Kegiatan ini dimulai dengan Focus Group Discussion (FGD) di lapangan untuk memetakan permasalahan yang dihadapi petani serta potensi pengembangan produk bernilai tambah.

Gambar 1. Focus Group Discussion (FGD) Bersama Petani dan Perangkat Desa
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sebagai tindak lanjut, para petani diundang ke laboratorium Sekolah Vokasi UGM untuk mengikuti pelatihan pengolahan daun bawang kering. Dalam pelatihan tersebut, petani diperkenalkan dengan alat cabinet dryer serta diajarkan bagaimana mengatur suhu, waktu pengeringan, dan perlakuan pendahuluan agar produk yang dihasilkan memiliki warna, aroma, dan kadar air yang sesuai dengan kebutuhan industri.


Gambar 2 dan 3. Kunjungan ke Laboratorium untuk Melaksanakan Praktik Langsung Penggunaan Cabinet Dryer
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tidak berhenti sampai di situ, tim peneliti bersama perwakilan petani juga melakukan serangkaian pertemuan lanjutan untuk mengevaluasi hasil pelatihan, mendiskusikan strategi produksi berkelanjutan, serta menyiapkan langkah konkret agar produk daun bawang kering dari Kaliangkrik dapat menembus pasar industri.


Gambar 4. Diskusi dengan Petani
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus menjadi mitra nyata bagi masyarakat, menjembatani hasil penelitian dan kebutuhan lapangan agar inovasi teknologi tepat guna dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok agroindustri lokal.

12

Recent Posts

  • Lulusan Pengembangan Produk Agroindustri UGM Angkatan 2020 Raih Penilaian Sangat Positif dari Industri
  • Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer
  • UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan
  • Tingkatkan Pemahaman Petani Bugel dengan Pemahaman Karakteristik dan Penanganan Pascapanen Melon Premium
  • Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY