Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Tugas Akhir
Arsip:

Tugas Akhir

Dari Daun Teh Tua Menjadi Penyerap Oksigen, Inovasi Bahan Alami untuk Kemasan Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRisetTugas Akhir Friday, 4 September 2026

Yogyakarta, 2 September 2026

Tidak semua bagian tanaman yang tersisa setelah panen harus berakhir sebagai limbah. Daun teh tua, misalnya, masih menyimpan senyawa bernilai yang berpotensi dimanfaatkan untuk teknologi pangan.

Daun teh tua yang diperoleh dari proses pemangkasan dan peremajaan tanaman selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk keperluan bernilai tambah rendah, seperti kompos, mulsa, atau pewarna alami. Padahal, daun tersebut secara alami mengandung senyawa fenolik, kelompok senyawa yang dapat mengalami reaksi oksidasi dan berpotensi digunakan untuk menangkap oksigen (O₂).

Di sisi lain, kebutuhan terhadap teknologi pengemasan pangan yang mampu mengendalikan oksigen terus berkembang. Salah satunya adalah active modified atmosphere packaging (a-MAP), yang memungkinkan kondisi atmosfer di dalam kemasan dikendalikan untuk membantu mempertahankan mutu produk.

Dalam sistem tersebut, absorber oskigen atau penyerap oksigen dapat digunakan untuk menurunkan konsentrasi O₂ di dalam kemasan. Penyerap O₂ berbasis besi (Fe) merupakan salah satu jenis yang umum digunakan. Namun, bahan tersebut bergantung pada keberadaan kelembapan untuk bekerja dan memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain sifat higroskopisnya yang dapat menyerap air dari produk serta kekhawatiran terhadap migrasi bahan aktif.

Persoalannya kemudian menjadi menarik, apakah daun teh tua yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi sumber bahan aktif penyerap oksigen berbasis senyawa alami?

Pertanyaan tersebut menjadi dasar tugas akhir Afnita Sekar Dwi Farda, mahasiswa Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Universitas Gadjah Mada. Di bawah bimbingan Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, Afnita mengkaji potensi ekstrak senyawa fenolik dari daun teh tua (Camellia sinensis var. sinensis) sebagai bioabsorber oksigen.

Mengekstrak potensi dari daun teh tua

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Untuk mendapatkan senyawa fenolik dari daun teh tua, digunakan dua pendekatan ekstraksi, yaitu maserasi dan ultrasonic bath. Hasilnya menunjukkan bahwa ultrasonic bath selama 15 menit dapat menjadi metode yang efektif. Metode tersebut mampu menghasilkan kandungan fenolik yang tinggi dengan waktu proses yang jauh lebih singkat dibandingkan maserasi yang dilakukan selama dua hari.

Ekstrak yang diperoleh kemudian dikembangkan menjadi bioabsorber oksigen. Sebagian ekstrak dibuat tanpa enkapsulasi, sementara sebagian lainnya dienkapsulasi menggunakan maltodekstrin dan gum arab sebelum dikeringkan dengan freeze dryer.

Enkapsulasi dilakukan bukan semata-mata untuk mengubah bentuk bahan. Teknik ini diharapkan dapat membantu menghasilkan bahan yang lebih stabil dan memiliki karakteristik fisik yang lebih sesuai untuk dikembangkan sebagai bahan aktif pengemasan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa enkapsulasi menghasilkan bioabsorber dengan warna yang lebih cerah dan water activity (aw) yang lebih rendah. Nilai aw bioabsorber terenkapsulasi mencapai 0,43 ± 0,02, dibandingkan 0,49 ± 0,04 pada bahan tanpa enkapsulasi.

Perubahan visual sampel; TE: Tanpa Enkapsulasi, E: Enkapsulasi (a) TE sebelum pengeringan, (b) TE setelah pengeringan, (c) TE serbuk, (d) E sebelum pengeringan, (e) E setelah pengeringan, (f) E serbuk.

Oksigen benar-benar berkurang

Temuan yang paling penting adalah kemampuan ekstrak daun teh tua untuk menurunkan konsentrasi oksigen.

Aplikasi Bioabsorber O2 pada suhu 25°C,RH 75%; TE: Tanpa Enkapsulasi; E: Enkapsulasi) a) TE sebelum aplikasi, b) TE setelah aplikasi, c) E sebelum aplikasi d) E setelah aplikasi.

Dalam pengujian in vitro menggunakan botol kedap udara, konsentrasi O₂ awal sebesar 20,9% turun menjadi 17,58% setelah delapan hari pada bioabsorber tanpa enkapsulasi. Laju penurunan oksigennya mencapai 0,176 mL O₂ g⁻¹ hari⁻¹.

Pada bioabsorber terenkapsulasi, konsentrasi O₂ turun menjadi 17,96%, dengan laju penurunan 0,162 mL O₂ g⁻¹ hari⁻¹. Perbedaan kedua perlakuan tersebut tidak signifikan secara statistik (p > 0,05).

Secara sederhana, mekanismenya dapat dipahami sebagai berikut: oksigen dari ruang kepala (headspace) di dalam wadah berdifusi menuju matriks bioabsorber. Senyawa fenolik kemudian mengalami oksidasi sehingga sebagian oksigen tersebut dikonsumsi.

Temuan ini menunjukkan bahwa senyawa fenolik dari daun teh tua memiliki aktivitas sebagai penyerap oksigen. Namun, kemampuan tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum dapat langsung disamakan dengan kinerja oxygen absorber komersial.

Dari pengelolaan biomassa menuju teknologi pascapanen

Mengapa kemampuan menyerap oksigen ini penting bagi teknologi pangan?

Produk hortikultura seperti buah dan sayuran masih melakukan respirasi setelah dipanen. Dalam proses tersebut, oksigen digunakan untuk menghasilkan energi. Respirasi yang berlangsung terlalu cepat dapat mempercepat penggunaan cadangan energi dan pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan mutu produk selama penyimpanan.

Karena itu, pengendalian atmosfer di dalam kemasan merupakan salah satu pendekatan dalam teknologi pascapanen. Bioabsorber oksigen berbasis bahan alami seperti ekstrak daun teh tua berpotensi menjadi salah satu komponen yang dapat dikembangkan untuk sistem tersebut.

Meski demikian, penelitian Afnita masih merupakan tahap pembuktian konsep. Pengujian dilakukan in vitro dalam botol borosilikat kedap udara dan belum melibatkan produk pangan secara langsung. Dengan demikian, belum dapat disimpulkan bahwa bioabsorber tersebut telah mampu memperpanjang umur simpan buah atau sayuran.

Tahap selanjutnya masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana kinerja bioabsorber dalam kemasan sebenarnya, termasuk pengaruh kelembapan, stabilitas bahan, kinetika penyerapan O₂, serta interaksinya dengan produk segar.

Ketika “sisa” menjadi sumber inovasi

Nilai penting dari pendekatan ini tidak hanya terletak pada kemampuan daun teh tua dalam menyerap oksigen. Ada gagasan yang lebih besar di baliknya: mengubah biomassa pertanian yang selama ini kurang bernilai menjadi bahan fungsional untuk teknologi pangan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan SDG 12 – Responsible Consumption and Production, terutama melalui upaya meningkatkan nilai guna sumber daya dan mendorong pemanfaatan biomassa secara lebih optimal. Pada saat yang sama, pengembangan bioabsorber berbasis senyawa fenolik alami juga mendukung SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure melalui inovasi material untuk teknologi pengemasan aktif.

Dengan demikian, daun teh tua tidak lagi hanya dipandang sebagai sisa pemangkasan. Di dalamnya terdapat senyawa fenolik yang dapat menjadi titik awal pengembangan teknologi baru.

Dari perkebunan teh hingga kemasan pangan, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inovasi berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal atau teknologi yang rumit. Terkadang, inovasi justru dapat dimulai dengan melihat kembali sesuatu yang selama ini kita anggap tidak terlalu bernilai.

Dari daun yang tersisa, lahir peluang untuk menyerap oksigen, dan dari sana, terbuka kemungkinan baru bagi teknologi kemasan pangan yang lebih berbasis sumber daya hayati.

Penulis : Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, S.T.P., M.Sc. 

Mengurangi Dampak Lingkungan melalui Green Productivity pada Produksi Kopi Lokal

Informasi TerkiniRisetTugas Akhir Thursday, 20 August 2026

Pertumbuhan industri kopi Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. Di balik meningkatnya permintaan pasar terhadap kopi lokal, terdapat tantangan penting terkait keberlanjutan proses produksi, khususnya pada skala usaha kecil dan kelompok tani. Proses produksi yang belum menerapkan prinsip produksi hijau berpotensi menimbulkan limbah, penggunaan sumber daya yang kurang efisien, serta dampak lingkungan yang semakin besar.

Gambar 1. Dokumentasi kunjungan lokasi Kopi Suroloyo di Samigaluh, Kulon Progo.

Pada tahun 2021, penelitian tugas akhir mahasiswa yang dibimbing oleh Satria Bhirawa Anoraga dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada, mengangkat topik mengenai perhitungan dampak lingkungan (environmental impact) dan alternatif solusi perbaikan pada proses produksi Kopi Suroloyo di Samigaluh, Kulon Progo. Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa bernama Muhammad Kusnan dengan fokus pada penerapan konsep green productivity dalam proses produksi kopi rakyat.

Penelitian dilakukan melalui observasi langsung terhadap tahapan produksi kopi, mulai dari pengolahan buah kopi, pencucian, fermentasi, pengeringan, roasting, penggilingan, hingga pengemasan. Analisis menunjukkan bahwa proses produksi menghasilkan beberapa sumber dampak lingkungan, terutama dari penggunaan air, konsumsi energi, emisi gas, serta limbah padat berupa kulit buah kopi dan sisa hasil pengolahan lainnya.

Gambar 2. Dokumentasi limbah kulit kakao.

Melalui pendekatan green productivity, penelitian ini tidak hanya menilai besarnya dampak lingkungan yang dihasilkan, tetapi juga menawarkan solusi praktis dan aplikatif bagi kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah. Salah satu usulan utama adalah pemanfaatan limbah kulit kopi (coffee cherry skin) menjadi produk bernilai tambah seperti teh cascara dan produk pangan berbasis hasil samping kopi. Selain itu, limbah cair hasil produksi diusulkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik bagi perkebunan kopi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa limbah agroindustri sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara tepat. Pemanfaatan produk samping tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal dan meningkatkan nilai tambah komoditas kopi.

Penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): melalui upaya pengurangan limbah dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya dalam proses produksi kopi.
  2. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): melalui dorongan penerapan proses produksi yang lebih ramah lingkungan dan efisien energi.
  3. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui pengembangan inovasi produk berbasis limbah kopi yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan keberlanjutan dalam agroindustri tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks atau investasi berskala besar. Perubahan sederhana melalui efisiensi proses produksi, pengurangan limbah, dan pemanfaatan hasil samping dapat memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.

Kegiatan penelitian ini juga menjadi bagian penting dalam penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui keterlibatan langsung kelompok tani dalam diskusi dan identifikasi solusi, pendekatan akademik dapat diterjemahkan menjadi praktik nyata yang relevan dengan kebutuhan lapangan.

Salah satu pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan dimulai dari kesadaran untuk melihat limbah bukan sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang masih memiliki nilai dan potensi. Dengan pendekatan tersebut, agroindustri lokal dapat berkembang secara lebih berkelanjutan, tangguh, dan berorientasi pada masa depan.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Koordinator Field Research Center [FRC] UGM

Alur Tugas Akhir Mahasiswa PPA UGM tahun 2024

Informasi TerkiniPengumuman AkademikTugas Akhir Friday, 24 May 2024

Pemahaman mengenai alur penyusunan Tugas Akhir (TA) sebagai syarat untuk menyelesaikan studi diperlukan dalam menyelesaikan tugas akhir mahasiswa PPA. Adapun alur penyelesaian Tugas Akhir (TA) sebagai berikut:

Prosedur Pengajuan DPTA 

  1. Mahasiswa menentukan tema Tugas Akhir dan mengajukan usulan DPTA.
  2. Prodi menetapkan DPTA yang dapat diakses disini. 
  3. Mahasiswa yang sudah merencanakan tugas akhir namun belum mengajukan pembimbing, silakan mengajukan calon DPTA-nya melalui link berikut. 
  4. Mahasiswa yang telah mendapatkan DPTA dapat melakukan proses pembimbingan dan penulisan proposal.  

Prosedur Pengajuan Ujian Proposal Tugas Akhir (TA): 

  1. Mahasiswa melakukan pendaftaran Proposal Tugas Akhir di Simaster. 
  2. Melakukan pengisian pembimbingan minimal 8 kali dan tercatat di Simaster. 
  3. Mahasiswa yang berencana untuk mengajukan ujian proposal tugas akhir dimohon untuk: 
  • Mengajukan ujian proposal TA dengan catatan pembimbingan telah 100%. 
  • Melakukan pengecekan plagiasi draft final proposal tugas akhir melalui link: https://linktr.ee/akademikdthv  (Menu cek plagiasi), maksimal skor plagiasi 24%. 
  • Melakukan pendaftaran pengajuan seminar proposal melalui link: https://linktr.ee/akademikdthv (Menu pengajuan seminar proposal). 
  • Informasi penguji dikonsultasikan ke Bu Anjar Ruspita Sari, S.TP., M.Sc. 
  • Informasi waktu ujian dikonsultasikan pada tim penguji. 
  • Informasi ruangan ujian dapat dikonsultasikan ke bagian akademik THV. 
  • Setelah dinyatakan lulus ujian proposal tugas akhir, mahasiswa diminta melakukan pendaftaran Tugas Akhir di Simaster. 

Prosedur Seminar Hasil: 

  1. Telah memiliki hasil tugas akhir yang dapat dipresentasikan. 
  2. Melakukan pendaftaran pengajuan seminar hasil melalui link: https://linktr.ee/akademikdthv (Menu pengajuan seminar hasil). 
  3. Informasi waktu ujian dapat dikonsultasikan ke tim penguji. 
  4. Informasi ruangan ujian dapat dikonsultasikan ke bagian akademik THV. 

Prosedur Tugas Akhir: 

  1. Melakukan pengecekan plagiasi draft final laporan tugas akhir melalui link: https://linktr.ee/akademikdthv (Menu cek plagiasi), maksimal skor plagiasi 24%. 
  2. Melakukan pengisian pembimbingan minimal 8 kali dan tercatat di Simaster. 
  3. Seluruh nilai MK yang diambil telah keluar. 
  4. Telah memenuhi syarat ujian TeVOCS. 
  5. Melakukan pendaftaran ujian tugas akhir melalui link: https://linktr.ee/akademikdthv (Menu pendaftaran ujian tugas akhir). 
  6. Informasi waktu ujian dapat dikonsultasikan ke tim penguji. 
  7. Informasi ruangan ujian dapat dikonsultasikan ke bagian akademik THV. 

Sekian, terima kasih perhatiannya. 

Jangan lupa jaga kesehatan. 

Recent Posts

  • Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.
  • Mengapa Manfaat Kolagen Berbeda pada Setiap Orang? Penelitian Ungkap Peran Penting Enzim Pencernaan
  • Dari Daun Teh Tua Menjadi Penyerap Oksigen, Inovasi Bahan Alami untuk Kemasan Pangan Berkelanjutan
  • Buah Mengkudu, Potensi yang Hampir Terlupakan
  • Mengurangi Dampak Lingkungan melalui Green Productivity pada Produksi Kopi Lokal

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY