Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer

Informasi Terkini Thursday, 1 October 2026

Dosen Program Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi UGM, berkolaborasi dengan dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM dalam mendampingi anggota Koperasi Produsen Amanah Jaya Abadi di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Kegiatan yang dilaksanakan pada 8 September 2026 di Desa Adipuro ini diikuti oleh 20 peserta yang sebagian besar merupakan keluarga petani. Pendampingan ini menggabungkan aspek teknologi pengolahan hasil pertanian dan pengelolaan usaha. Nadia Awalina B.M., S.T.P., M.FoodScTech., dosen PPA Sekolah Vokasi UGM, menyampaikan materi mengenai teknologi pengeringan menggunakan cabinet dryer. Sementara itu, Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dosen FEB UGM, memberikan materi mengenai pengelolaan usaha dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).

Dalam sesi teknologi pangan, peserta diperkenalkan pada penggunaan cabinet dryer untuk mengolah sayuran segar menjadi produk kering. Alat yang digunakan memiliki kapasitas hingga 12 tray dan dapat mengolah sekitar 5 kg daun bawang dalam satu kali proses, tergantung kondisi bahan dan pengaturan pengeringan. Peserta juga diperkenalkan pada proses pengolahan yang bertujuan mempertahankan kualitas, terutama warna hijau dan karakter aroma daun bawang. Parameter pengeringan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini mengacu pada hasil riset sebelumnya, yaitu steam blanching selama 1–2 menit yang dilanjutkan dengan pengeringan pada suhu 60°C selama sekitar 8 jam.

Selain teknologi pengolahan, peserta belajar menghitung HPP daun bawang segar dan kering serta memahami komponen biaya, margin, keuntungan, dan markup. Materi ini membantu peserta melihat potensi nilai tambah sekaligus memahami aspek ekonomi dalam pengembangan produk olahan hasil pertanian. Peserta juga menunjukkan ketertarikan untuk memanfaatkan cabinet dryer pada komoditas lain, seperti buah dan berbagai hasil pertanian. Hal ini membuka peluang pengembangan produk olahan berbasis komoditas lokal di wilayah Kaliangkrik.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat UGM yang didukung oleh Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang. Program direncanakan berlanjut pada tahun berikutnya dengan fokus pada penguatan kelembagaan dan pendampingan usaha, termasuk melalui kolaborasi dengan mahasiswa KKN. Kolaborasi antara PPA Sekolah Vokasi dan FEB UGM dalam kegiatan ini menunjukkan pendekatan multidisiplin dalam pemberdayaan masyarakat, dengan menggabungkan teknologi pengolahan pangan dan penguatan aspek bisnis untuk mendukung peningkatan nilai tambah hasil pertanian lokal.

Kegiatan ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan pemanfaatan dan pengolahan hasil pertanian, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kapasitas usaha dan peluang nilai tambah bagi petani, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan pengolahan hasil pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan umur simpan lebih panjang.

Penulis : Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., M.Sc.

Pemanfaatan Produk Samping Penggilingan Padi sebagai Camilan Sehat Anak Usia Sekolah

Informasi TerkiniRiset Monday, 3 August 2026

Prodi PPA DTHV memulai kegiatan penelitian untuk pengembangan pangan inovatif yang bertujuan untuk memanfaatkan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan gizi di kalangan anak-anak.

Beras adalah makanan pokok di Indonesia, dan proses penggilingannya menghasilkan sejumlah besar produk samping, yaitu dedak padi yang dikenal juga sebagai bekatul. Secara tradisional, produk samping ini kurang dimanfaatkan dan sering kali digunakan sebagai pakan ternak. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekatul merupakan sumber vitamin B kompleks, yaitu tiamin (B1), asam nikotinat, riboflavin, dan vitamin B6. Bekatul memiliki komposisi nutrisi yag lengkap berupa protein, serat, vitamin, mineral, dan fitokimia bioaktif, sehingga menjadikannya kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi camilan sehat.

Sumber foto: Hello Sehat, Manfaat Bekatul untuk Kesehatan.

Kegiatan pengembangan produk di PPA DTHV bertujuan untuk mengubah produk samping ini menjadi pilihan camilan yang menarik bagi anak usia sekolah. Dengan menggabungkan bekatul ke dalam resep kukis yang diperkaya dengan tepung tempe, inisiatif ini berusaha untuk meningkatkan profil nutrisi makanan tersebut. Pendekatan inovatif ini tidak hanya menangani ketahanan pangan tetapi juga mempromosikan keberlanjutan lingkungan.

Tim dosen peneliti di PPA DTHV yang diketuai oleh Dr. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng. dengan tim dosen  Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Galih Kusuma Aji, S.T.P, M.Agr, Ph.D., dan Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. dan dibantu oleh mahasiswa DIV PPA yaitu Aulya Putri Larasati, Nadhifa Alya Febriana, dan Azizah Sholawah Fatah, serta teknisi laboratorium Rini Setyowati, S.TP, telah mengembangkan prototipe camilan yang lezat dan bergizi. Penelitian ini dapat terlaksana berkat hibah Penelitian Dosen DAMAS Sekolah Vokasi 2026. Peneliti berharap bahwa kebutuhan diet anak usia sekolah dapat terpenuhi dengan cara memberikan mereka nutrisi yang penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak Indonesia. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya mengenalkan anak-anak pentingnya makan yang sehat.

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi.

Untuk mempromosikan camilan baru ini, tim peneliti telah mengorganisir uji sensoris untuk mengetahui kesukaan anak sekolah terhadap produk inovasi ini.  Acara ini bertujuan untuk mengenalkan camilan yang terbuat dari produk samping penggilingan padi. Umpan balik dari anak-anak sangat positif, dengan banyak yang mengungkapkan antusiasme terhadap rasa baru dan ide menggunakan bahan pangan inovatif.

Selain menyediakan pilihan camilan sehat, inisiatif ini juga mendukung petani lokal dan penggiling padi, khususnya dengan menggandeng mitra BUM Desa Binangun Jati Unggul Jatirejo Lendah Kulon Progo, yang memiliki usaha penggilingan padi. Dengan menciptakan pasar untuk produk samping padi, proyek ini mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan dan membantu meningkatkan mata pencaharian mereka yang terlibat dalam produksi padi. Pendekatan holistik ini sejalan dengan SDGs dengan mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.


Sebagai kesimpulan, pemanfaatan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah merupakan langkah signifikan menuju pencapaian SDGs terkait ketahanan pangan dan gizi. Melalui pengembangan pangan inovatif, keterlibatan komunitas, dan praktik berkelanjutan, PPA DTHV membuka jalan untuk masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Penulis : Dr. Ir. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng.

Editor : Putri Rousan Nabila, S.T., M.T.

Peran Penting Pretreatment Sebelum Pengeringan dalam Mempertahankan Mutu Daun Bawang Kering

AgendaRiset Sunday, 14 June 2026

Gambar 1 Potongan Daun Bawang
Sumber: Google search

Daun bawang merupakan salah satu sayuran sekaligus bumbu yang memiliki peran penting dalam berbagai masakan. Di Indonesia, daun bawang banyak digunakan pada hidangan seperti soto, bakso, mi ayam, nasi goreng, hingga berbagai produk pangan olahan. Meskipun demikian, daun bawang memiliki kelemahan utama, yaitu kandungan air yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Kondisi ini menyebabkan umur simpan daun bawang segar relatif pendek dan menimbulkan potensi kehilangan hasil pascapanen. Salah satu solusi yang banyak dikembangkan untuk memperpanjang umur simpan daun bawang adalah melalui proses pengeringan. Namun, proses pengeringan bukanlah tanpa tantangan. Masalah yang sering muncul adalah hilangnya aroma segar khas daun bawang dan munculnya aroma gosong akibat paparan panas selama proses pengolahan, serta warna yang tidak merata serta lebih gelap.

Aroma khas daun bawang berasal dari berbagai senyawa volatil, terutama kelompok senyawa sulfur, yang sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Ketika proses pengeringan dilakukan secara tidak tepat, sebagian senyawa volatil dapat mengalami degradasi sehingga karakter aroma segar berkurang dan pada saat yang sama, reaksi kimia akibat pemanasan dapat menghasilkan aroma gosong yang justru mendominasi produk akhir. Selain aroma, warna juga menjadi parameter penting dalam menentukan kualitas daun bawang kering. Warna hijau pada daun bawang berasal dari pigmen klorofil yang mudah mengalami kerusakan akibat panas dan aktivitas enzim. Kerusakan klorofil akibat panas juga dapat menyebabkan warna hijau berubah menjadi hijau kusam, kekuningan, bahkan kecoklatan. Oleh karena itu, berbagai penelitian berupaya mencari metode pengolahan yang mampu mempertahankan warna dan aroma secara bersamaan.

Gambar 2 Daun Bawang Kering

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan sebelum proses pengeringan adalah pretreatment atau perlakuan pendahuluan. Pretreatment bertujuan untuk menonaktifkan enzim yang dapat mempercepat kerusakan mutu, mempertahankan warna, serta membantu meningkatkan efisiensi proses pengeringan. Pentingnya pretreatment sebelum pengeringan juga menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., MFoodScTech, dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan produk daun bawang kering yang memiliki umur simpan panjang tanpa kehilangan karakter flavor asli daun bawang. Dalam penelitian yang sedang dilakukan, dua jenis pretreatment dibandingkan, yaitu blanching menggunakan air panas (hot water blanching) dan blanching menggunakan uap panas (steam blanching). Kedua metode tersebut telah lama digunakan pada pengolahan sayuran, tetapi efektivitasnya terhadap kualitas daun bawang kering masih perlu dipelajari lebih lanjut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan uap panas mampu memberikan retensi warna hijau dan flavor yang lebih baik sekaligus mempercepat proses pengeringan dibandingkan perlakuan air panas. Fenomena ini diduga terjadi karena kontak langsung dengan air pada metode hot water memungkinkan sebagian komponen penting, termasuk pigmen dan senyawa pembentuk aroma, larut ke dalam media pemanasan. Sebaliknya, steam blanching mampu menonaktifkan enzim tanpa menyebabkan kehilangan komponen yang terlalu besar sehingga mutu bahan lebih terjaga. Temuan ini mengindikasikan bahwa steam blanching berpotensi menjadi metode yang lebih efektif untuk mempertahankan mutu daun bawang sebelum memasuki tahap pengeringan.

Penelitian ini juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui pengembangan teknologi pengeringan yang mampu memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa mengurangi kualitas sensori secara signifikan, penelitian ini berkontribusi pada upaya mengurangi kehilangan hasil pascapanen (post-harvest losses) yang masih menjadi tantangan dalam rantai pasok produk hortikultura. Selain itu, pemanfaatan teknologi pengolahan yang tepat dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperluas peluang pemanfaatan hasil panen, serta mendukung ketersediaan bahan pangan yang lebih awet dan praktis bagi masyarakat. Dari perspektif SDG 12, penelitian ini mendorong produksi pangan yang lebih efisien dengan meminimalkan pemborosan bahan baku dan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan melalui inovasi pengolahan berbasis ilmu pengetahuan.

Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan teknologi pengeringan daun bawang, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan produk bumbu-bumbuan kering berkualitas tinggi yang lebih praktis, tahan lama, dan memiliki karakter sensoris yang tetap disukai konsumen. Retensi flavor yang lebih baik menunjukkan bahwa struktur dan kualitas bahan dapat dipertahankan selama proses pengolahan. Selain itu, kemampuan steam blanching dalam meminimalkan kehilangan senyawa volatil membuka peluang untuk menghasilkan daun bawang kering dengan karakter aroma yang lebih mendekati daun bawang segar. Pada tahap penelitian selanjutnya, berbagai kondisi pengeringan akan dievaluasi lebih lanjut untuk memperoleh kombinasi proses yang optimal, tidak hanya dari sisi umur simpan tetapi juga kualitas flavor. Selain memberikan nilai tambah bagi komoditas hortikultura, inovasi ini juga berpotensi mendukung industri pangan dalam menyediakan bahan baku yang stabil dan mudah digunakan.

Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum

Informasi TerkiniPengabdianRiset Wednesday, 27 May 2026

Dalam inisiatif yang inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong konsumsi yang berkelanjutan, peneliti (Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.) di Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, telah memulai pengembangan susu nabati yang terbuat dari kombinasi sorgum, kedelai, dan biji rami (flaxseed). Produk inovatif ini dirancang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan minuman sehat berbasis tanaman di pasar modern.

Gambar 1. Jenis serealia yang digunakan 
Sumber gambar: ChatGPT

Pemilihan sorgum sebagai bahan utama sangat signifikan, karena merupakan serealia lokal yang kaya serat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional.  Kedelai berperan penting dalam formulasi ini, sebagai sumber utama protein nabati. Penambahan ini meningkatkan nilai gizi produk, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan. Flaxseed, yang dikenal kaya akan omega-3, serat pangan, dan antioksidan, juga ditambahkan untuk mendukung manfaat kesehatan dari susu nabati ini, menjadikannya pilihan yang seimbang bagi mereka yang mencari alternatif bergizi.

Tim peneliti menggunakan pendekatan berbasis konsumen, menganalisis preferensi konsumen terkait rasa, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan warna produk. Metodologi ini memastikan bahwa formulasi akhir sesuai dengan kebutuhan pasar modern dan harapan konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan adopsi pasar yang sukses. Seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup sehat, vegan, dan intoleransi laktosa, produk susu nabati inovatif ini siap memenuhi permintaan dari berbagai kalangan konsumen. 

Lebih jauh lagi, inisiatif ini mendukung diversifikasi sumber pangan lokal, mendorong penggunaan tanaman lokal seperti sorgum. Dengan mengintegrasikan komoditas lokal ini ke dalam rantai pasokan pangan, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mempromosikan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) : Mendukung diversifikasi pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pengembangan sumber pangan alternatif berbasis nabati.
  • SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) : Pengembangan inovasi pangan fungsional berbasis bahan lokal termasuk bentuk inovasi di sektor agroindustri pangan.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan lokal membantu mendorong sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan impor.

Sebagai kesimpulan, pengembangan susu nabati berbasis sorgum merupakan langkah signifikan menuju pencapaian ketahanan pangan, mendorong diversifikasi industri, dan mendorong konsumsi yang bertanggung jawab. Seiring dengan kemajuan penelitian ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak solusi pangan inovatif yang sejalan dengan tujuan global keberlanjutan dan kesehatan.

Gambar 2. Susu Nabati Berbasis Sorgum
Sumber : Dokumentasi Peneliti

Penulis : Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. 

Editor: Putri Rousan Nabila

Mengubah Limbah Kakao Menjadi Nilai Tambah: Inovasi untuk Sistem Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Monday, 27 April 2026

Industri kakao global menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dengan kulit buah kakao (cocoa pod husk/CPH) sebagai fraksi terbesar. Selama ini, CPH umumnya dianggap sebagai limbah pertanian yang kurang dimanfaatkan, bahkan sering menimbulkan permasalahan lingkungan seperti penumpukan biomassa, potensi pencemaran, dan berkembangnya penyakit tanaman. Namun demikian, perkembangan riset terkini menunjukkan bahwa limbah ini memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi, khususnya sebagai sumber pektin—senyawa hidrokolloid yang banyak digunakan dalam industri pangan.

Penelitian doktoral yang dilakukan di Universiti Putra Malaysia dengan dukungan beasiswa UPM-SEARCA dan kerja sama dengan Malaysian Cocoa Board (MCB) berfokus pada upaya valorisasi limbah kulit buah kakao melalui pendekatan teknologi proses yang berkelanjutan. Studi ini menitikberatkan pada optimalisasi metode ekstraksi ramah lingkungan untuk menghasilkan pektin berkualitas tinggi dari CPH, sehingga limbah yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi bahan baku fungsional bagi industri pangan.

Gambar 1. Dokumentasi saat Pengambilan Sampel CPH di MCB Bagan Datuk

Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah penerapan teknologi subcritical water extraction, yaitu metode ekstraksi berbasis air pada kondisi suhu dan tekanan terkendali yang memungkinkan pemisahan senyawa bioaktif secara efisien tanpa penggunaan pelarut kimia berbahaya. Selain itu, dilakukan pula perlakuan awal terhadap bahan baku untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia CPH, sehingga proses ekstraksi menjadi lebih optimal dan menghasilkan pektin dengan kualitas yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao memiliki potensi kuat sebagai sumber alternatif pektin yang berkelanjutan dan kompetitif secara industri.

Gambar 2. Pemanenan Pektin Basah dari Ekstraksi CPH

Kontribusi penelitian ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah membuka peluang ekonomi baru bagi petani kakao dan pelaku agroindustri, terutama di wilayah pedesaan.
  2. SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Optimalisasi pemanfaatan hasil samping pertanian mendukung efisiensi sistem pangan dan mengurangi kehilangan sumber daya, sehingga berkontribusi pada ketahanan pangan berkelanjutan.
  3. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Pengembangan bahan pangan fungsional seperti pektin mendukung inovasi produk pangan yang lebih sehat dan berkualitas bagi masyarakat.

Lebih dari itu, penelitian ini mencerminkan pendekatan ekonomi sirkular dalam sistem agroindustri, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari rantai produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Transformasi ini menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan lingkungan dan pangan global.

Salah satu pesan kunci dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang menciptakan nilai dari limbah itu sendiri. Dengan memanfaatkan potensi kulit buah kakao, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Editor: Putri Rousan Nabila

Kopi Organik Robusta Sleman: Dari Cita Rasa Unggul Menuju Kesejahteraan Petani

Agenda Friday, 31 October 2025

Di perbukitan subur Cangkringan, Sleman, sebuah transformasi terjadi dalam dunia produksi kopi. Para petani lokal, yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunggaksemi, telah mengadopsi praktik pertanian organik untuk membudidayakan kopi Robusta. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memproduksi kopi berkualitas tinggi tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para petani yang terlibat.

Kopi organik didefinisikan sebagai kopi yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti pestisida atau pupuk buatan. Sebaliknya, kopi organik mengandalkan metode pertanian organik yang menjaga kesuburan tanah dan mempromosikan ekosistem yang sehat. Kopi Robusta yang diproduksi di Sleman adalah bukti pendekatan berkelanjutan ini, menunjukkan potensi pertanian organik dalam meningkatkan kualitas produk dan kesejahteraan petani.

Salah satu fitur unggulan dari kopi Robusta organik adalah senyawa bioaktifnya, terutama asam klorogenat dan trigonelline. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada profil rasa unik kopi, yang sering kali lebih kompleks dibandingkan dengan kopi yang ditanam secara konvensional. Selain itu, kopi organik biasanya memiliki kandungan kafein yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih disukai bagi banyak penggemar kopi yang mencari pengalaman yang lebih ringan.

Manfaat pertanian organik melampaui sekadar kopi itu sendiri. Praktik yang terkait dengan pertanian organik menghasilkan tanah yang lebih sehat, yang ditunjukkan dengan kandungan bahan organik yang lebih tinggi dan struktur tanah yang lebih baik. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan keseluruhan ekosistem pertanian. Tanah yang sehat sangat penting untuk produktivitas pertanian jangka panjang dan kesehatan lingkungan.

Lebih jauh lagi, pergeseran menuju produksi kopi organik memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut. Dengan fokus pada metode organik, para petani dapat meminta harga yang lebih tinggi untuk produk mereka, karena konsumen semakin bersedia membayar lebih untuk produk organik. Peningkatan pendapatan ini dapat mengarah pada kondisi hidup yang lebih baik, pendidikan, dan perawatan kesehatan bagi para petani dan keluarga mereka.

Dukungan komunitas memainkan peran penting dalam keberhasilan inisiatif ini. Kelompok Wanita Tani Tunggaksemi telah membangun rasa solidaritas di antara anggotanya, mendorong berbagi pengetahuan dan kolaborasi. Upaya kolektif ini tidak hanya memperkuat posisi petani di pasar tetapi juga meningkatkan ketahanan mereka terhadap fluktuasi ekonomi.

Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk produk organik secara global, masa depan tampak menjanjikan bagi para petani Sleman. Komitmen mereka terhadap produksi kopi organik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan pertanian berkelanjutan dan memastikan penghidupan yang layak bagi komunitas pedesaan. Dengan memprioritaskan metode organik, para petani Cangkringan tidak hanya meningkatkan kehidupan mereka sendiri tetapi juga berkontribusi pada planet yang lebih sehat.

Transformasi Sensoris Kopi Robusta Sleman Melalui Perlakuan Roasting

Riset Friday, 31 October 2025

Nanda, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2021, melakukan penelitian yang inovatif mengenai efek roasting terhadap kualitas sensori kopi robusta Sleman. Penelitian ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas kopi lokal, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berkaitan dengan kualitas makanan dan keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana suhu roasting yang berbeda dapat mempengaruhi karakteristik sensori dari varietas kopi yang unik ini.

Penelitian Nanda melibatkan serangkaian eksperimen roasting yang terkontrol, di mana berbagai suhu diterapkan pada biji kopi. Hasilnya dianalisis menggunakan protokol cupping dari Coffee Quality Institute (CQI), yang merupakan metode standar untuk mengevaluasi kualitas kopi jennis Robusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu roasting memiliki dampak signifikan terhadap karakteristik sensori kopi robusta Sleman, dengan nilai p kurang dari 0,05 yang menunjukkan signifikansi statistik yang kuat. Ini berarti bahwa variasi suhu roasting secara langsung mempengaruhi aroma, rasa, dan kualitas keseluruhan kopi, menyoroti pentingnya teknik roasting yang tepat dalam produksi kopi.

Di antara berbagai perlakuan roasting yang diuji, satu metode tertentu menonjol sebagai yang terbaik. Perlakuan roasting optimal ini menghasilkan profil kopi yang ditandai dengan aroma nutty, body tebal, dan rasa pahit/manis yang seimbang. Selain itu, kopi ini juga menunjukkan nuansa dark chocolate dan caramel, dengan aftertaste yang bersih dan keseimbangan keseluruhan yang memberikannya skor akhir 82.
Dengan meningkatkan kualitas kopi robusta Sleman, penelitian ini berkontribusi pada ekonomi lokal dan mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Kopi berkualitas tinggi dapat menarik lebih banyak konsumen, baik secara lokal maupun internasional, sehingga meningkatkan pendapatan petani lokal dan mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, penelitian ini sejalan dengan SDGs dengan menekankan pentingnya produksi makanan berkualitas. Dengan fokus pada peningkatan atribut sensori kopi. Seiring dengan pertumbuhan industri kopi, studi ini sangat penting untuk memastikan bahwa produk lokal dapat bersaing di pasar global. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan berharga bagi produsen kopi tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk penelitian di bidang ilmu kopi di masa depan. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya teknik roasting dalam meningkatkan profil sensori kopi, yang pada akhirnya menguntungkan petani lokal dan mempromosikan praktik makanan yang berkelanjutan.

Saat komunitas kopi di Sleman mengadopsi temuan ini, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi produksi kopi lokal, yang berakar pada kualitas, keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi.

Prodi PPA SV UGM dan Aifarm Temukan Profil Asam Lemak Sehat pada Susu Bubuk Kambing dengan Proses Spray Drying

Riset Tuesday, 28 October 2025

Yogyakarta, Oktober 2025 – Tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan startup peternakan Aifarm, berhasil mengidentifikasi profil asam lemak susu bubuk kambing Etawa hasil proses spray drying yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar formula pertumbuhan anak usia dini.

Hasil analisis menunjukkan bahwa susu bubuk kambing memiliki asam lemak jenuh (SFA) dan  asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang cukup stabil setelah proses pengeringan dengan spray drying.  Kandungan omega-9 (oleic acid) mencapai 36%, jauh lebih tinggi dibandingkan pada susu cair. Omega-9 berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, sistem imun, serta pertumbuhan sel pada anak. Sebaliknya, kadar omega-3 dan omega-6 yang rendah menunjukkan perlunya pengayaan formula untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial anak usia 1–3 tahun sebagaimana direkomendasikan WHO/FAO.

Menurut tim peneliti, kondisi ini memberikan peluang pengembangan formulasi inovatif dengan menambahkan sumber PUFA alami seperti minyak biji bunga matahari, minyak biji chia, atau minyak ikan mikroenkapsulasi. “Masih perlu formulasi lanjutan untuk meningkatkan kandungan omega-3 dan omega-6, tujuannya agar susu bubuk kambing lokal dapat menyaingi susu formula dalam hal komposisi gizi dan stabilitas produk,” jelas ketua tim peneliti, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.

Riset ini berkontribusi terhadap SDG’s 2 dengan mendorong diversifikasi pangan bergizi berbasis sumber lokal, sekaligus mendukung SDG’s 12 melalui optimalisasi proses spray drying yang hemat energi dan minim limbah. Kolaborasi ini juga memperkuat hubungan akademik–industri untuk menciptakan produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Pihak Aifarm menyampaikan bahwa penelitian ini membantu mereka memahami korelasi antara parameter spray drying dan profil nutrisi susu, terutama dalam mempertahankan stabilitas lemak selama pengeringan. Penelitian lanjutan akan difokuskan pada optimasi formulasi susu bubuk fungsional untuk anak, pengujian sensoris, serta kajian bioavailabilitas asam lemak esensial. 

Kolaborasi ini membuktikan bahwa riset perguruan tinggi dapat langsung berdampak pada sektor agroindustri lokal, memperkuat kemandirian pangan, dan menghadirkan inovasi gizi berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Infografis:

Ciptakan Susu Bubuk Kambing Berkualitas, Hasil Kerjasama Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi UGM dan Aifarm

Riset Tuesday, 28 October 2025

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi UGM bekerja sama dengan PT. Aifarm Teknologi Agrikultur, startup peternakan kambing, mengembangkan inovasi susu bubuk kambing berkualitas tinggi berbasis teknologi spray drying.

Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 2 – Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penyediaan alternatif pangan hewani bergizi tinggi, SDG 9 – Industri, Inovasi dan Infrastruktur dengan pengembangan teknologi pengolahan agroindustri, serta SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena memanfaatkan hasil peternakan lokal secara optimal dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini bermula dari tantangan yang dihadapi Aifarm dalam mengolah susu kambing segar menjadi susu bubuk menggunakan metode spray drying skala industri. Tim dosen PPA SV UGM (yang terdiri dari Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Dr, Eng. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., Dr. Agr. Sc. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc., Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., M.FoodScTech, dan Satria Bhirawa Anoraga) menangkap kebutuhan tersebut dan merancang penelitian untuk mengoptimalkan proses pengeringan dengan mengatur suhu inlet dan konsentrasi maltodekstrin.

Evaluasi dilakukan melalui analisis mutu fisikokimia (kadar air, kelarutan, warna, komposisi proksimat, dan cemaran mikroba). Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi parameter yang tepat mampu menghasilkan susu bubuk dengan mutu tinggi dan stabil.

Kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip konsumsi-produksi berkelanjutan, karena mendorong pemanfaatan hasil peternakan lokal secara efisien, mengurangi limbah, dan menciptakan nilai tambah di tingkat peternak. Proyek ini menunjukkan sinergi antara pendidikan tinggi, inovasi teknologi, dan kewirausahaan berbasis komunitas peternakan rakyat.

Dengan hasil riset yang aplikatif dan berdampak langsung ke masyarakat, kolaborasi ini memperkuat komitmen UGM dalam mendukung hilirisasi riset serta pencapaian SDG secara holistik. Ke depan, diharapkan produk ini dapat dikomersialisasikan melalui kemitraan industri dan mendorong tumbuhnya UMKM berbasis produk hewani fungsional di Indonesia.

Sosialisasi Pembibitan Unggul dan Pengembangan Produk Olahan Bawang Merah Dongkrak Kualitas Petani di Demangrejo

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 November 2024

Sentolo, Kulonprogo – Tim Dosen Prodi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada sukses menggelar sosialisasi pembibitan unggul dan pengembangan produk olahan bawang merah di Kalurahan Demangrejo pada kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung selama Mei – November 2024. Kegiatan yang menyasar kelompok tani bawang merah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas petani.

Tim dosen yang dibantu oleh Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Yogyakarta memberikan pemahaman komprehensif kepada petani mengenai teknik pembibitan unggul, mulai dari pemilihan bibit unggul, persiapan lahan, hingga perawatan bibit. Selain itu, sosialisasi juga mencakup pengenalan berbagai jenis produk olahan bawang merah, khususnya pasta bawang merah yang memiliki potensi pasar yang menjanjikan.

Peserta sangat antusias dengan kegiatan ini karena menjadi lebih paham tentang cara menghasilkan bibit bawang merah yang berkualitas dan peluang untuk mengembangkan produk olahan. Hasil sosialisasi menunjukkan peningkatan pemahaman para peserta. Tingkat pemahaman petani mengenai teknik budidaya bawang merah yang baik meningkat secara signifikan. Mereka kini lebih memahami pentingnya pemilihan bibit unggul, perawatan yang tepat, serta pencegahan penyakit. Selain itu, minat kelompok tani wanita untuk mengembangkan produk olahan bawang merah juga semakin besar.

“Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari antusiasme masyarakat Demangrejo,” ungkap Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Ketua Tim Pengabdian. “Mereka sangat aktif bertanya dan berdiskusi. Ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius dalam mengoptimalkan pertanian bawang merah setempat.”

  

Menanggapi antusiasme petani, tim dosen berencana untuk melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan fokus pada praktik langsung di lahan dan pelatihan pembuatan produk olahan bawang merah hingga siap dipasarkan. Harapannya, melalui kegiatan ini, petani di Demangrejo dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berupaya mewujudkan SDG’s Nomor 2 dengan meningkatkan ketahanan pangan dan SDG’s Nomor 12 dengan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan.

Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan masyarakat, salah satunya di sektor pertanian. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini, diharapkan dapat tercipta petani yang mandiri dan produktif.

 

12

Recent Posts

  • Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer
  • UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan
  • Tingkatkan Pemahaman Petani Bugel dengan Pemahaman Karakteristik dan Penanganan Pascapanen Melon Premium
  • Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.
  • Mengapa Manfaat Kolagen Berbeda pada Setiap Orang? Penelitian Ungkap Peran Penting Enzim Pencernaan

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY