Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

Peran Penting Pretreatment Sebelum Pengeringan dalam Mempertahankan Mutu Daun Bawang Kering.

AgendaRiset Sunday, 14 June 2026

Daun bawang merupakan salah satu sayuran sekaligus bumbu yang memiliki peran penting dalam berbagai masakan. Di Indonesia, daun bawang banyak digunakan pada hidangan seperti soto, bakso, mi ayam, nasi goreng, hingga berbagai produk pangan olahan. Meskipun demikian, daun bawang memiliki kelemahan utama, yaitu kandungan air yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Kondisi ini menyebabkan umur simpan daun bawang segar relatif pendek dan menimbulkan potensi kehilangan hasil pascapanen. Salah satu solusi yang banyak dikembangkan untuk memperpanjang umur simpan daun bawang adalah melalui proses pengeringan. Namun, proses pengeringan bukanlah tanpa tantangan. Masalah yang sering muncul adalah hilangnya aroma segar khas daun bawang dan munculnya aroma gosong akibat paparan panas selama proses pengolahan, serta warna yang tidak merata serta lebih gelap.

Gambar 1 Potongan Daun Bawang
Sumber: Google search

Aroma khas daun bawang berasal dari berbagai senyawa volatil, terutama kelompok senyawa sulfur, yang sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Ketika proses pengeringan dilakukan secara tidak tepat, sebagian senyawa volatil dapat mengalami degradasi sehingga karakter aroma segar berkurang dan pada saat yang sama, reaksi kimia akibat pemanasan dapat menghasilkan aroma gosong yang justru mendominasi produk akhir. Selain aroma, warna juga menjadi parameter penting dalam menentukan kualitas daun bawang kering. Warna hijau pada daun bawang berasal dari pigmen klorofil yang mudah mengalami kerusakan akibat panas dan aktivitas enzim. Kerusakan klorofil akibat panas juga dapat menyebabkan warna hijau berubah menjadi hijau kusam, kekuningan, bahkan kecoklatan. Oleh karena itu, berbagai penelitian berupaya mencari metode pengolahan yang mampu mempertahankan warna dan aroma secara bersamaan.

Gambar 2 Daun Bawang Kering

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan sebelum proses pengeringan adalah pretreatment atau perlakuan pendahuluan. Pretreatment bertujuan untuk menonaktifkan enzim yang dapat mempercepat kerusakan mutu, mempertahankan warna, serta membantu meningkatkan efisiensi proses pengeringan. Pentingnya pretreatment sebelum pengeringan juga menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., MFoodScTech, dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan produk daun bawang kering yang memiliki umur simpan panjang tanpa kehilangan karakter flavor asli daun bawang. Dalam penelitian yang sedang dilakukan, dua jenis pretreatment dibandingkan, yaitu blanching menggunakan air panas (hot water blanching) dan blanching menggunakan uap panas (steam blanching). Kedua metode tersebut telah lama digunakan pada pengolahan sayuran, tetapi efektivitasnya terhadap kualitas daun bawang kering masih perlu dipelajari lebih lanjut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan uap panas mampu memberikan retensi warna hijau dan flavor yang lebih baik sekaligus mempercepat proses pengeringan dibandingkan perlakuan air panas. Fenomena ini diduga terjadi karena kontak langsung dengan air pada metode hot water memungkinkan sebagian komponen penting, termasuk pigmen dan senyawa pembentuk aroma, larut ke dalam media pemanasan. Sebaliknya, steam blanching mampu menonaktifkan enzim tanpa menyebabkan kehilangan komponen yang terlalu besar sehingga mutu bahan lebih terjaga. Temuan ini mengindikasikan bahwa steam blanching berpotensi menjadi metode yang lebih efektif untuk mempertahankan mutu daun bawang sebelum memasuki tahap pengeringan.

Penelitian ini juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui pengembangan teknologi pengeringan yang mampu memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa mengurangi kualitas sensori secara signifikan, penelitian ini berkontribusi pada upaya mengurangi kehilangan hasil pascapanen (post-harvest losses) yang masih menjadi tantangan dalam rantai pasok produk hortikultura. Selain itu, pemanfaatan teknologi pengolahan yang tepat dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperluas peluang pemanfaatan hasil panen, serta mendukung ketersediaan bahan pangan yang lebih awet dan praktis bagi masyarakat. Dari perspektif SDG 12, penelitian ini mendorong produksi pangan yang lebih efisien dengan meminimalkan pemborosan bahan baku dan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan melalui inovasi pengolahan berbasis ilmu pengetahuan.

Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan teknologi pengeringan daun bawang, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan produk bumbu-bumbuan kering berkualitas tinggi yang lebih praktis, tahan lama, dan memiliki karakter sensoris yang tetap disukai konsumen. Retensi flavor yang lebih baik menunjukkan bahwa struktur dan kualitas bahan dapat dipertahankan selama proses pengolahan. Selain itu, kemampuan steam blanching dalam meminimalkan kehilangan senyawa volatil membuka peluang untuk menghasilkan daun bawang kering dengan karakter aroma yang lebih mendekati daun bawang segar. Pada tahap penelitian selanjutnya, berbagai kondisi pengeringan akan dievaluasi lebih lanjut untuk memperoleh kombinasi proses yang optimal, tidak hanya dari sisi umur simpan tetapi juga kualitas flavor. Selain memberikan nilai tambah bagi komoditas hortikultura, inovasi ini juga berpotensi mendukung industri pangan dalam menyediakan bahan baku yang stabil dan mudah digunakan.

Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum

Informasi TerkiniPengabdianRiset Wednesday, 27 May 2026

Dalam inisiatif yang inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong konsumsi yang berkelanjutan, peneliti (Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.) di Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, telah memulai pengembangan susu nabati yang terbuat dari kombinasi sorgum, kedelai, dan biji rami (flaxseed). Produk inovatif ini dirancang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan minuman sehat berbasis tanaman di pasar modern.

Gambar 1. Jenis serealia yang digunakan 
Sumber gambar: ChatGPT

Pemilihan sorgum sebagai bahan utama sangat signifikan, karena merupakan serealia lokal yang kaya serat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional.  Kedelai berperan penting dalam formulasi ini, sebagai sumber utama protein nabati. Penambahan ini meningkatkan nilai gizi produk, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan. Flaxseed, yang dikenal kaya akan omega-3, serat pangan, dan antioksidan, juga ditambahkan untuk mendukung manfaat kesehatan dari susu nabati ini, menjadikannya pilihan yang seimbang bagi mereka yang mencari alternatif bergizi.

Tim peneliti menggunakan pendekatan berbasis konsumen, menganalisis preferensi konsumen terkait rasa, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan warna produk. Metodologi ini memastikan bahwa formulasi akhir sesuai dengan kebutuhan pasar modern dan harapan konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan adopsi pasar yang sukses. Seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup sehat, vegan, dan intoleransi laktosa, produk susu nabati inovatif ini siap memenuhi permintaan dari berbagai kalangan konsumen. 

Lebih jauh lagi, inisiatif ini mendukung diversifikasi sumber pangan lokal, mendorong penggunaan tanaman lokal seperti sorgum. Dengan mengintegrasikan komoditas lokal ini ke dalam rantai pasokan pangan, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mempromosikan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) : Mendukung diversifikasi pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pengembangan sumber pangan alternatif berbasis nabati.
  • SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) : Pengembangan inovasi pangan fungsional berbasis bahan lokal termasuk bentuk inovasi di sektor agroindustri pangan.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan lokal membantu mendorong sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan impor.

Sebagai kesimpulan, pengembangan susu nabati berbasis sorgum merupakan langkah signifikan menuju pencapaian ketahanan pangan, mendorong diversifikasi industri, dan mendorong konsumsi yang bertanggung jawab. Seiring dengan kemajuan penelitian ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak solusi pangan inovatif yang sejalan dengan tujuan global keberlanjutan dan kesehatan.

Gambar 2. Susu Nabati Berbasis Sorgum
Sumber : Dokumentasi Peneliti

Penulis : Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. 

Editor: Putri Rousan Nabila

Mengubah Limbah Kakao Menjadi Nilai Tambah: Inovasi untuk Sistem Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Monday, 27 April 2026

Industri kakao global menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dengan kulit buah kakao (cocoa pod husk/CPH) sebagai fraksi terbesar. Selama ini, CPH umumnya dianggap sebagai limbah pertanian yang kurang dimanfaatkan, bahkan sering menimbulkan permasalahan lingkungan seperti penumpukan biomassa, potensi pencemaran, dan berkembangnya penyakit tanaman. Namun demikian, perkembangan riset terkini menunjukkan bahwa limbah ini memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi, khususnya sebagai sumber pektin—senyawa hidrokolloid yang banyak digunakan dalam industri pangan.

Penelitian doktoral yang dilakukan di Universiti Putra Malaysia dengan dukungan beasiswa UPM-SEARCA dan kerja sama dengan Malaysian Cocoa Board (MCB) berfokus pada upaya valorisasi limbah kulit buah kakao melalui pendekatan teknologi proses yang berkelanjutan. Studi ini menitikberatkan pada optimalisasi metode ekstraksi ramah lingkungan untuk menghasilkan pektin berkualitas tinggi dari CPH, sehingga limbah yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi bahan baku fungsional bagi industri pangan.

Gambar 1. Dokumentasi saat Pengambilan Sampel CPH di MCB Bagan Datuk

Pendekatan utama dalam penelitian ini adalah penerapan teknologi subcritical water extraction, yaitu metode ekstraksi berbasis air pada kondisi suhu dan tekanan terkendali yang memungkinkan pemisahan senyawa bioaktif secara efisien tanpa penggunaan pelarut kimia berbahaya. Selain itu, dilakukan pula perlakuan awal terhadap bahan baku untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia CPH, sehingga proses ekstraksi menjadi lebih optimal dan menghasilkan pektin dengan kualitas yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao memiliki potensi kuat sebagai sumber alternatif pektin yang berkelanjutan dan kompetitif secara industri.

Gambar 2. Pemanenan Pektin Basah dari Ekstraksi CPH

Kontribusi penelitian ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah membuka peluang ekonomi baru bagi petani kakao dan pelaku agroindustri, terutama di wilayah pedesaan.
  2. SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Optimalisasi pemanfaatan hasil samping pertanian mendukung efisiensi sistem pangan dan mengurangi kehilangan sumber daya, sehingga berkontribusi pada ketahanan pangan berkelanjutan.
  3. SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): Pengembangan bahan pangan fungsional seperti pektin mendukung inovasi produk pangan yang lebih sehat dan berkualitas bagi masyarakat.

Lebih dari itu, penelitian ini mencerminkan pendekatan ekonomi sirkular dalam sistem agroindustri, di mana limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari rantai produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Transformasi ini menegaskan bahwa inovasi berbasis sains dan teknologi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan lingkungan dan pangan global.

Salah satu pesan kunci dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga tentang menciptakan nilai dari limbah itu sendiri. Dengan memanfaatkan potensi kulit buah kakao, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Penulis: Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Editor: Putri Rousan Nabila

Kopi Organik Robusta Sleman: Dari Cita Rasa Unggul Menuju Kesejahteraan Petani

Agenda Friday, 31 October 2025

Di perbukitan subur Cangkringan, Sleman, sebuah transformasi terjadi dalam dunia produksi kopi. Para petani lokal, yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunggaksemi, telah mengadopsi praktik pertanian organik untuk membudidayakan kopi Robusta. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk memproduksi kopi berkualitas tinggi tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para petani yang terlibat.

Kopi organik didefinisikan sebagai kopi yang ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis seperti pestisida atau pupuk buatan. Sebaliknya, kopi organik mengandalkan metode pertanian organik yang menjaga kesuburan tanah dan mempromosikan ekosistem yang sehat. Kopi Robusta yang diproduksi di Sleman adalah bukti pendekatan berkelanjutan ini, menunjukkan potensi pertanian organik dalam meningkatkan kualitas produk dan kesejahteraan petani.

Salah satu fitur unggulan dari kopi Robusta organik adalah senyawa bioaktifnya, terutama asam klorogenat dan trigonelline. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada profil rasa unik kopi, yang sering kali lebih kompleks dibandingkan dengan kopi yang ditanam secara konvensional. Selain itu, kopi organik biasanya memiliki kandungan kafein yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih disukai bagi banyak penggemar kopi yang mencari pengalaman yang lebih ringan.

Manfaat pertanian organik melampaui sekadar kopi itu sendiri. Praktik yang terkait dengan pertanian organik menghasilkan tanah yang lebih sehat, yang ditunjukkan dengan kandungan bahan organik yang lebih tinggi dan struktur tanah yang lebih baik. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas kopi yang dihasilkan tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan keseluruhan ekosistem pertanian. Tanah yang sehat sangat penting untuk produktivitas pertanian jangka panjang dan kesehatan lingkungan.

Lebih jauh lagi, pergeseran menuju produksi kopi organik memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut. Dengan fokus pada metode organik, para petani dapat meminta harga yang lebih tinggi untuk produk mereka, karena konsumen semakin bersedia membayar lebih untuk produk organik. Peningkatan pendapatan ini dapat mengarah pada kondisi hidup yang lebih baik, pendidikan, dan perawatan kesehatan bagi para petani dan keluarga mereka.

Dukungan komunitas memainkan peran penting dalam keberhasilan inisiatif ini. Kelompok Wanita Tani Tunggaksemi telah membangun rasa solidaritas di antara anggotanya, mendorong berbagi pengetahuan dan kolaborasi. Upaya kolektif ini tidak hanya memperkuat posisi petani di pasar tetapi juga meningkatkan ketahanan mereka terhadap fluktuasi ekonomi.

Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk produk organik secara global, masa depan tampak menjanjikan bagi para petani Sleman. Komitmen mereka terhadap produksi kopi organik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan pertanian berkelanjutan dan memastikan penghidupan yang layak bagi komunitas pedesaan. Dengan memprioritaskan metode organik, para petani Cangkringan tidak hanya meningkatkan kehidupan mereka sendiri tetapi juga berkontribusi pada planet yang lebih sehat.

Transformasi Sensoris Kopi Robusta Sleman Melalui Perlakuan Roasting

Riset Friday, 31 October 2025

Nanda, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2021, melakukan penelitian yang inovatif mengenai efek roasting terhadap kualitas sensori kopi robusta Sleman. Penelitian ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas kopi lokal, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berkaitan dengan kualitas makanan dan keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana suhu roasting yang berbeda dapat mempengaruhi karakteristik sensori dari varietas kopi yang unik ini.

Penelitian Nanda melibatkan serangkaian eksperimen roasting yang terkontrol, di mana berbagai suhu diterapkan pada biji kopi. Hasilnya dianalisis menggunakan protokol cupping dari Coffee Quality Institute (CQI), yang merupakan metode standar untuk mengevaluasi kualitas kopi jennis Robusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu roasting memiliki dampak signifikan terhadap karakteristik sensori kopi robusta Sleman, dengan nilai p kurang dari 0,05 yang menunjukkan signifikansi statistik yang kuat. Ini berarti bahwa variasi suhu roasting secara langsung mempengaruhi aroma, rasa, dan kualitas keseluruhan kopi, menyoroti pentingnya teknik roasting yang tepat dalam produksi kopi.

Di antara berbagai perlakuan roasting yang diuji, satu metode tertentu menonjol sebagai yang terbaik. Perlakuan roasting optimal ini menghasilkan profil kopi yang ditandai dengan aroma nutty, body tebal, dan rasa pahit/manis yang seimbang. Selain itu, kopi ini juga menunjukkan nuansa dark chocolate dan caramel, dengan aftertaste yang bersih dan keseimbangan keseluruhan yang memberikannya skor akhir 82.
Dengan meningkatkan kualitas kopi robusta Sleman, penelitian ini berkontribusi pada ekonomi lokal dan mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Kopi berkualitas tinggi dapat menarik lebih banyak konsumen, baik secara lokal maupun internasional, sehingga meningkatkan pendapatan petani lokal dan mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, penelitian ini sejalan dengan SDGs dengan menekankan pentingnya produksi makanan berkualitas. Dengan fokus pada peningkatan atribut sensori kopi. Seiring dengan pertumbuhan industri kopi, studi ini sangat penting untuk memastikan bahwa produk lokal dapat bersaing di pasar global. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan berharga bagi produsen kopi tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk penelitian di bidang ilmu kopi di masa depan. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya teknik roasting dalam meningkatkan profil sensori kopi, yang pada akhirnya menguntungkan petani lokal dan mempromosikan praktik makanan yang berkelanjutan.

Saat komunitas kopi di Sleman mengadopsi temuan ini, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi produksi kopi lokal, yang berakar pada kualitas, keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi.

Prodi PPA SV UGM dan Aifarm Temukan Profil Asam Lemak Sehat pada Susu Bubuk Kambing dengan Proses Spray Drying

Riset Tuesday, 28 October 2025

Yogyakarta, Oktober 2025 – Tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan startup peternakan Aifarm, berhasil mengidentifikasi profil asam lemak susu bubuk kambing Etawa hasil proses spray drying yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan dasar formula pertumbuhan anak usia dini.

Hasil analisis menunjukkan bahwa susu bubuk kambing memiliki asam lemak jenuh (SFA) dan  asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang cukup stabil setelah proses pengeringan dengan spray drying.  Kandungan omega-9 (oleic acid) mencapai 36%, jauh lebih tinggi dibandingkan pada susu cair. Omega-9 berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, sistem imun, serta pertumbuhan sel pada anak. Sebaliknya, kadar omega-3 dan omega-6 yang rendah menunjukkan perlunya pengayaan formula untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial anak usia 1–3 tahun sebagaimana direkomendasikan WHO/FAO.

Menurut tim peneliti, kondisi ini memberikan peluang pengembangan formulasi inovatif dengan menambahkan sumber PUFA alami seperti minyak biji bunga matahari, minyak biji chia, atau minyak ikan mikroenkapsulasi. “Masih perlu formulasi lanjutan untuk meningkatkan kandungan omega-3 dan omega-6, tujuannya agar susu bubuk kambing lokal dapat menyaingi susu formula dalam hal komposisi gizi dan stabilitas produk,” jelas ketua tim peneliti, Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.

Riset ini berkontribusi terhadap SDG’s 2 dengan mendorong diversifikasi pangan bergizi berbasis sumber lokal, sekaligus mendukung SDG’s 12 melalui optimalisasi proses spray drying yang hemat energi dan minim limbah. Kolaborasi ini juga memperkuat hubungan akademik–industri untuk menciptakan produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

Pihak Aifarm menyampaikan bahwa penelitian ini membantu mereka memahami korelasi antara parameter spray drying dan profil nutrisi susu, terutama dalam mempertahankan stabilitas lemak selama pengeringan. Penelitian lanjutan akan difokuskan pada optimasi formulasi susu bubuk fungsional untuk anak, pengujian sensoris, serta kajian bioavailabilitas asam lemak esensial. 

Kolaborasi ini membuktikan bahwa riset perguruan tinggi dapat langsung berdampak pada sektor agroindustri lokal, memperkuat kemandirian pangan, dan menghadirkan inovasi gizi berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Infografis:

Ciptakan Susu Bubuk Kambing Berkualitas, Hasil Kerjasama Prodi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi UGM dan Aifarm

Riset Tuesday, 28 October 2025

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi UGM bekerja sama dengan PT. Aifarm Teknologi Agrikultur, startup peternakan kambing, mengembangkan inovasi susu bubuk kambing berkualitas tinggi berbasis teknologi spray drying.

Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 2 – Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penyediaan alternatif pangan hewani bergizi tinggi, SDG 9 – Industri, Inovasi dan Infrastruktur dengan pengembangan teknologi pengolahan agroindustri, serta SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena memanfaatkan hasil peternakan lokal secara optimal dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini bermula dari tantangan yang dihadapi Aifarm dalam mengolah susu kambing segar menjadi susu bubuk menggunakan metode spray drying skala industri. Tim dosen PPA SV UGM (yang terdiri dari Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Dr, Eng. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., Dr. Agr. Sc. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc., Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., M.FoodScTech, dan Satria Bhirawa Anoraga) menangkap kebutuhan tersebut dan merancang penelitian untuk mengoptimalkan proses pengeringan dengan mengatur suhu inlet dan konsentrasi maltodekstrin.

Evaluasi dilakukan melalui analisis mutu fisikokimia (kadar air, kelarutan, warna, komposisi proksimat, dan cemaran mikroba). Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi parameter yang tepat mampu menghasilkan susu bubuk dengan mutu tinggi dan stabil.

Kegiatan ini juga sejalan dengan prinsip konsumsi-produksi berkelanjutan, karena mendorong pemanfaatan hasil peternakan lokal secara efisien, mengurangi limbah, dan menciptakan nilai tambah di tingkat peternak. Proyek ini menunjukkan sinergi antara pendidikan tinggi, inovasi teknologi, dan kewirausahaan berbasis komunitas peternakan rakyat.

Dengan hasil riset yang aplikatif dan berdampak langsung ke masyarakat, kolaborasi ini memperkuat komitmen UGM dalam mendukung hilirisasi riset serta pencapaian SDG secara holistik. Ke depan, diharapkan produk ini dapat dikomersialisasikan melalui kemitraan industri dan mendorong tumbuhnya UMKM berbasis produk hewani fungsional di Indonesia.

Sosialisasi Pembibitan Unggul dan Pengembangan Produk Olahan Bawang Merah Dongkrak Kualitas Petani di Demangrejo

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 November 2024

Sentolo, Kulonprogo – Tim Dosen Prodi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada sukses menggelar sosialisasi pembibitan unggul dan pengembangan produk olahan bawang merah di Kalurahan Demangrejo pada kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung selama Mei – November 2024. Kegiatan yang menyasar kelompok tani bawang merah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas petani.

Tim dosen yang dibantu oleh Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Yogyakarta memberikan pemahaman komprehensif kepada petani mengenai teknik pembibitan unggul, mulai dari pemilihan bibit unggul, persiapan lahan, hingga perawatan bibit. Selain itu, sosialisasi juga mencakup pengenalan berbagai jenis produk olahan bawang merah, khususnya pasta bawang merah yang memiliki potensi pasar yang menjanjikan.

Peserta sangat antusias dengan kegiatan ini karena menjadi lebih paham tentang cara menghasilkan bibit bawang merah yang berkualitas dan peluang untuk mengembangkan produk olahan. Hasil sosialisasi menunjukkan peningkatan pemahaman para peserta. Tingkat pemahaman petani mengenai teknik budidaya bawang merah yang baik meningkat secara signifikan. Mereka kini lebih memahami pentingnya pemilihan bibit unggul, perawatan yang tepat, serta pencegahan penyakit. Selain itu, minat kelompok tani wanita untuk mengembangkan produk olahan bawang merah juga semakin besar.

“Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari antusiasme masyarakat Demangrejo,” ungkap Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Ketua Tim Pengabdian. “Mereka sangat aktif bertanya dan berdiskusi. Ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius dalam mengoptimalkan pertanian bawang merah setempat.”

  

Menanggapi antusiasme petani, tim dosen berencana untuk melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan fokus pada praktik langsung di lahan dan pelatihan pembuatan produk olahan bawang merah hingga siap dipasarkan. Harapannya, melalui kegiatan ini, petani di Demangrejo dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berupaya mewujudkan SDG’s Nomor 2 dengan meningkatkan ketahanan pangan dan SDG’s Nomor 12 dengan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan.

Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan masyarakat, salah satunya di sektor pertanian. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini, diharapkan dapat tercipta petani yang mandiri dan produktif.

 

Kolaborasi Mahasiswa dan BPSIP Yogyakarta Ciptakan Sari Sacha Inchi Kaya Omega-3: Inovasi Unggulan untuk Mendukung SDGs Pangan Berkelanjutan (Nomor 2)

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 24 October 2024

Sania, seorang mahasiswa angkatan 2020 dari program studi pengembangan produk agroindustri, berhasil mengembangkan produk inovasi yaitu sari sacha inchi yang kaya akan Omega-3 dan Omega-6. Proyek ini dikerjakannya pada bulan Januari 2023 hingga Maret 2024, di bawah bimbingan Dr. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., yang bekerja sama dengan Nurdeana Cahyaniingrum dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Yogyakarta.

Apa itu Sacha Inchi? Mungkin dari sebagian pembaca masih merasa asing dengan kata ini. Sacha Inchi dikenal sebagai superfood dan memiliki popularitas karena nilai gizi yang tinggi. Proyek penelitian inimemiliki tujuan yang mulia yaitu mengatasi kesenjangan pangan yang semakin meningkat dengan menyediakan alternatif pangan bergizi bagi mereka yang intoleran laktosa. Sari ini tidak hanya kaya akan asam lemak esensial tetapi juga memiliki rasa yang disukai oleh berbagai kalangan konsumen. Hal ini tebukti dari analisa riset pasar yang telah dilakukan, sehingga Sania dan team memahami preferensi konsumen dan tantangan potensial dalam komersialisasi sari sacha inchi. Riset ini akan membantu menyempurnakan produk dan mengembangkan strategi pemasaran yang efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Pengembangan produk Sari Sacha Inchi tidak akan berhasil tanpa adanya kerja sama dengan BPSIP Yogyakarta. Dalam kerja sama ini, BSIP  memberikan sumber daya dan keahlian yang berharga dalam proses pengembangan produk dan memastikan bahwa sari sacha inchi memenuhi persyaratan kualitas dan keamanan pangan yang diperlukan. Proyek ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara institusi akademis dan pusat penelitian pertanian dalam meningkatkan produksi dan inovasi pangan.

Dr. Annie Mufyda Rahmatika mengungkapkan kebanggaannya terhadap karya Sania yang dapat mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mengatasi keamanan pangan dan mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan (SDGs Nomor 2). “Dengan mengembangkan produk yang tidak hanya bergizi tetapi juga memenuhi kebutuhan diet tertentu, kami berkontribusi pada pengurangan kesenjangan pangan di komunitas kami,” ujarnya.

Sari sacha inchi yang dikembangkan Sania dirancang sebagai produk yang serbaguna yang dapat dikonsumsi dalam berbagai cara, baik sebagai minuman segar maupun sebagai bahan dalam smoothie dan resep lainnya. Fleksibilitas ini menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan yang ingin memasukkan lebih banyak Omega-3 dan Omega-6 ke dalam diet mereka. Selain itu, Sacha Inchi adalah tanaman yang tumbuh subur di berbagai iklim dan membutuhkan sumber daya minimal dibandingkan dengan tanaman lainnya. Dengan mempromosikan produk Sacha Inchi, proyek ini tidak hanya mendukung petani lokal tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.

Sebagai kesimpulan, pendekatan inovatif Sania dalam mengembangkan sari sacha inchi merupakan langkah signifikan menuju pengurangan kesenjangan pangan dan promosi produksi pangan yang berkelanjutan. Dengan dukungan BPSIP Yogyakarta dan bimbingan para mentornya, ia membuka jalan bagi inovasi agroindustri di masa depan yang mengutamakan kesehatan dan keberlanjutan.

Inovasi Minuman Cokelat: Transformasi Kakao Indonesia Menuju Pasar Global dan SDGs

Informasi TerkiniLaboratoriumRiset Wednesday, 16 October 2024

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia, namun produk hilir kakao seperti minuman cokelat instan masih belum berkembang secara signifikan. Menurut laporan dari tim peneliti, banyak produsen kecil di wilayah Yogyakarta yang menghasilkan bubuk kakao dengan kandungan lemak tinggi, sekitar 27% hingga 36%. Potensi inilah yang mendorong penelitian untuk mencari solusi inovatif guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk kakao Indonesia.

Inovasi dalam industri minuman instan terus berkembang, dan kakao lokal Indonesia kini mendapat perhatian lebih besar. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., menyoroti potensi bubuk kakao lokal untuk dikembangkan menjadi minuman cokelat instan berkualitas tinggi. Penelitian ini mengkaji penggunaan bubuk kakao rendah lemak dan tinggi lemak, yang diproses dengan dua metode, yaitu spray drying dan freeze drying. Studi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas produk, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 2 tentang ketahanan pangan, dan SDG 8 terkait pertumbuhan ekonomi.

Metode spray drying dikenal lebih efisien dan cepat dalam menghasilkan minuman instan, meskipun dapat mengurangi beberapa kandungan nutrisi, seperti antioksidan, karena suhu tinggi yang digunakan. Sebaliknya, metode freeze drying, meskipun lebih lambat dan memerlukan biaya lebih tinggi, mampu mempertahankan kandungan nutrisi secara lebih optimal. Penelitian ini secara menyeluruh membandingkan kedua metode tersebut dalam hal kelarutan, viskositas, serta kandungan kimia dan fisik minuman cokelat yang dihasilkan.

Selain dari aspek teknis, penelitian ini diharapkan dapat membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi petani dan produsen kakao di Indonesia. Dengan menciptakan produk bubuk minuman cokelat instan yang berkualitas, penelitian ini membuka peluang pasar baru yang lebih luas, sekaligus mendukung peningkatan pendapatan petani lokal. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mendorong praktik pertanian berkelanjutan dan mendukung SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Tantangan bagi petani kakao lokal selama ini adalah meningkatkan nilai tambah produk mereka agar mampu bersaing di pasar global. Penelitian ini berkontribusi dengan memberikan wawasan mengenai optimalisasi penggunaan kakao lokal. Hasil penelitian juga memperkuat peluang Indonesia dalam memasarkan produk minuman instan berkualitas, baik di pasar domestik maupun internasional. Minuman cokelat instan berbasis kakao lokal memiliki potensi besar untuk diekspor, mengangkat posisi Indonesia dalam industri minuman instan di kancah global.

Recent Posts

  • Inovasi Hijau UGM: Sulap Limbah Sekam Padi Menjadi Bioplastik Kemasan Pangan Berkelanjutan
  • Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur
  • Peran Penting Pretreatment Sebelum Pengeringan dalam Mempertahankan Mutu Daun Bawang Kering.
  • PPA Selenggarakan Kuliah Tamu Bahas Supply Chain di Era Disrupsi  
  • Menembus Dapur Industri Pangan: Mahasiswa Pelajari Mutu dan Keamanan Produk di PT Aerofood ACS Surabaya 

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY