Daun bawang merupakan salah satu sayuran sekaligus bumbu yang memiliki peran penting dalam berbagai masakan. Di Indonesia, daun bawang banyak digunakan pada hidangan seperti soto, bakso, mi ayam, nasi goreng, hingga berbagai produk pangan olahan. Meskipun demikian, daun bawang memiliki kelemahan utama, yaitu kandungan air yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Kondisi ini menyebabkan umur simpan daun bawang segar relatif pendek dan menimbulkan potensi kehilangan hasil pascapanen. Salah satu solusi yang banyak dikembangkan untuk memperpanjang umur simpan daun bawang adalah melalui proses pengeringan. Namun, proses pengeringan bukanlah tanpa tantangan. Masalah yang sering muncul adalah hilangnya aroma segar khas daun bawang dan munculnya aroma gosong akibat paparan panas selama proses pengolahan, serta warna yang tidak merata serta lebih gelap.

Sumber: Google search
Aroma khas daun bawang berasal dari berbagai senyawa volatil, terutama kelompok senyawa sulfur, yang sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Ketika proses pengeringan dilakukan secara tidak tepat, sebagian senyawa volatil dapat mengalami degradasi sehingga karakter aroma segar berkurang dan pada saat yang sama, reaksi kimia akibat pemanasan dapat menghasilkan aroma gosong yang justru mendominasi produk akhir. Selain aroma, warna juga menjadi parameter penting dalam menentukan kualitas daun bawang kering. Warna hijau pada daun bawang berasal dari pigmen klorofil yang mudah mengalami kerusakan akibat panas dan aktivitas enzim. Kerusakan klorofil akibat panas juga dapat menyebabkan warna hijau berubah menjadi hijau kusam, kekuningan, bahkan kecoklatan. Oleh karena itu, berbagai penelitian berupaya mencari metode pengolahan yang mampu mempertahankan warna dan aroma secara bersamaan.

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan sebelum proses pengeringan adalah pretreatment atau perlakuan pendahuluan. Pretreatment bertujuan untuk menonaktifkan enzim yang dapat mempercepat kerusakan mutu, mempertahankan warna, serta membantu meningkatkan efisiensi proses pengeringan. Pentingnya pretreatment sebelum pengeringan juga menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., MFoodScTech, dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan produk daun bawang kering yang memiliki umur simpan panjang tanpa kehilangan karakter flavor asli daun bawang. Dalam penelitian yang sedang dilakukan, dua jenis pretreatment dibandingkan, yaitu blanching menggunakan air panas (hot water blanching) dan blanching menggunakan uap panas (steam blanching). Kedua metode tersebut telah lama digunakan pada pengolahan sayuran, tetapi efektivitasnya terhadap kualitas daun bawang kering masih perlu dipelajari lebih lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan uap panas mampu memberikan retensi warna hijau dan flavor yang lebih baik sekaligus mempercepat proses pengeringan dibandingkan perlakuan air panas. Fenomena ini diduga terjadi karena kontak langsung dengan air pada metode hot water memungkinkan sebagian komponen penting, termasuk pigmen dan senyawa pembentuk aroma, larut ke dalam media pemanasan. Sebaliknya, steam blanching mampu menonaktifkan enzim tanpa menyebabkan kehilangan komponen yang terlalu besar sehingga mutu bahan lebih terjaga. Temuan ini mengindikasikan bahwa steam blanching berpotensi menjadi metode yang lebih efektif untuk mempertahankan mutu daun bawang sebelum memasuki tahap pengeringan.
Penelitian ini juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui pengembangan teknologi pengeringan yang mampu memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa mengurangi kualitas sensori secara signifikan, penelitian ini berkontribusi pada upaya mengurangi kehilangan hasil pascapanen (post-harvest losses) yang masih menjadi tantangan dalam rantai pasok produk hortikultura. Selain itu, pemanfaatan teknologi pengolahan yang tepat dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperluas peluang pemanfaatan hasil panen, serta mendukung ketersediaan bahan pangan yang lebih awet dan praktis bagi masyarakat. Dari perspektif SDG 12, penelitian ini mendorong produksi pangan yang lebih efisien dengan meminimalkan pemborosan bahan baku dan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan melalui inovasi pengolahan berbasis ilmu pengetahuan.
Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan teknologi pengeringan daun bawang, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan produk bumbu-bumbuan kering berkualitas tinggi yang lebih praktis, tahan lama, dan memiliki karakter sensoris yang tetap disukai konsumen. Retensi flavor yang lebih baik menunjukkan bahwa struktur dan kualitas bahan dapat dipertahankan selama proses pengolahan. Selain itu, kemampuan steam blanching dalam meminimalkan kehilangan senyawa volatil membuka peluang untuk menghasilkan daun bawang kering dengan karakter aroma yang lebih mendekati daun bawang segar. Pada tahap penelitian selanjutnya, berbagai kondisi pengeringan akan dievaluasi lebih lanjut untuk memperoleh kombinasi proses yang optimal, tidak hanya dari sisi umur simpan tetapi juga kualitas flavor. Selain memberikan nilai tambah bagi komoditas hortikultura, inovasi ini juga berpotensi mendukung industri pangan dalam menyediakan bahan baku yang stabil dan mudah digunakan.










