Yogyakarta — Inovasi produk pangan tidak selalu bermula dari sebuah teknologi baru, namun dalam banyak kasus, inovasi justru dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang dibutuhkan konsumen dan persoalan apa yang dihadapi mitra?
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan kepakaran Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam bidang manajemen desain dan pengembangan produk pangan berbasis riset konsumen dan pemanfaatan bahan lokal. Dalam berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan produk, ia mengintegrasikan riset konsumen, eksplorasi tren, karakterisasi bahan, formulasi, pengujian sensoris, hingga evaluasi karakteristik produk. Pendekatan ini digunakan untuk menerjemahkan kebutuhan konsumen maupun permasalahan mitra menjadi konsep produk yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Peneliti mengungkapkan, “Bagi saya, pengembangan produk bukan hanya tentang membuat produk yang baru. Yang lebih penting adalah menemukan alasan mengapa produk tersebut perlu dibuat, siapa konsumennya, dan masalah apa yang ingin diselesaikan.” Salah satu contoh pengembangan tersebut dilakukan melalui eksplorasi sorgum putih sebagai bahan baku pangan bernilai tambah. Sorgum kemudian dikembangkan ke dalam berbagai bentuk produk, antara lain makaroni keju, brownies kukus, dan susu nabati.
Pengembangan beberapa jenis produk dari satu bahan baku tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan komoditas lokal tidak harus berhenti pada satu jenis produk. Karakteristik bahan, kebutuhan konsumen, serta peluang pengembangan produk dapat menjadi dasar untuk mengeksplorasi berbagai kategori pangan. Pada pengembangan susu nabati berbasis sorgum, misalnya, aspek konsumen menjadi bagian penting dalam menentukan arah formulasi. Pengembangan tidak hanya mempertimbangkan karakteristik fisik dan kimia produk, tetapi juga bagaimana konsumen memandang atribut produk dan bagaimana karakteristik tersebut memengaruhi penerimaan.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada berbagai eksplorasi produk lainnya. Beberapa produk dikembangkan sebagai respons terhadap tren konsumen, seperti brownies crispy, teh herbal, dan premiks martabak manis instan. Eksplorasi tersebut memperlihatkan bahwa riset pengembangan produk dapat dilakukan dengan dua titik awal yang berbeda. Pertama, consumer-driven product development, yaitu mengidentifikasi kebutuhan, preferensi, dan tren konsumen kemudian menerjemahkannya menjadi konsep produk. Kedua, problem-driven product development, yaitu memulai proses dari permasalahan atau kebutuhan mitra dan mencari solusi melalui inovasi produk.
Kedua pendekatan tersebut kemudian dipertemukan melalui proses pengembangan produk yang sistematis, mulai dari eksplorasi ide, pengembangan konsep, pemilihan bahan dan formulasi, pembuatan prototipe, hingga evaluasi produk.
Menghubungkan Konsumen, Teknologi, dan Bahan Lokal
Menurut Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., pengembangan produk pangan berada pada titik temu antara teknologi dan kebutuhan manusia. Karena itu, keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh apakah suatu produk dapat dibuat secara teknis, tetapi juga oleh sejauh mana produk tersebut relevan bagi konsumen dan memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Peran konsumen sangat diperlukan sejak awal proses pengembangan, tidak hanya validasi di akhir ketika produk sudah jadi. Jadi, secara teknis bisa saja produk berhasil, namun belum tentu diterima dan diinginkan oleh konsumen”, imbuhnya.
Perspektif tersebut menjadi dasar dalam pengembangan keilmuan yang menggabungkan consumer and market research, sensory and consumer science, product development, serta pemanfaatan bahan pangan lokal.
Dari Riset ke Hilirisasi
Pendekatan berbasis konsumen dan permasalahan mitra juga sejalan dengan kebutuhan pengembangan agroindustri yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga solusi yang dapat diterapkan. Bagi peneliti, proses pengembangan produk menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di pasar.
“Ketika kita bekerja dengan mitra, persoalannya sering kali bukan sekadar bagaimana menghasilkan produk, tetapi bagaimana produk tersebut dapat menjawab kebutuhan mereka. Di situlah riset dan pengembangan produk menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, bahan pangan lokal seperti sorgum dapat dieksplorasi menjadi berbagai produk dengan karakteristik dan target konsumen yang berbeda. Di sisi lain, tren konsumen dapat diterjemahkan menjadi ide produk yang kemudian diuji dan dikembangkan secara sistematis.
Ke depan, pengembangan kepakarannya diarahkan pada penguatan consumer-driven product development, khususnya dalam pengembangan produk pangan berbasis bahan lokal dan inovasi agroindustri. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara riset konsumen, inovasi teknologi, dan kebutuhan industri sehingga menghasilkan produk yang tidak hanya inovatif secara teknis, tetapi juga memiliki relevansi bagi konsumen dan mitra.