Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.

Informasi Terkini Thursday, 10 September 2026

Perjalanan sebuah produk agroindustri hingga sampai ke tangan konsumen melibatkan proses yang panjang. Produk pertanian tidak berhenti setelah dipanen oleh petani, tetapi melalui tahapan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, pemasaran, hingga akhirnya dikonsumsi masyarakat. Setiap tahapan tersebut melibatkan berbagai pelaku dengan kepentingan, risiko, biaya, dan kontribusi nilai yang berbeda.

Dalam kondisi tersebut, pengembangan agroindustri tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menghasilkan produk. Diperlukan sistem rantai pasok yang mampu menghubungkan petani, kelompok usaha, industri pengolahan, distributor, hingga konsumen secara efisien, transparan, adaptif, dan berkelanjutan. Pendekatan inilah yang menjadi bagian penting dari bidang keilmuan Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan yang dikembangkan oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S., dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.

Bidang tersebut berkembang dari latar belakang keilmuan Teknik Industri dan Agroindustrial Technology Management yang kemudian diterapkan pada berbagai persoalan agroindustri, mulai dari analisis rantai nilai, efisiensi sistem produksi, keterlacakan produk, penerimaan konsumen, sistem jaminan halal, hingga pengembangan nilai tambah komoditas pertanian. Rekam jejak tersebut terlihat antara lain pada penelitian mengenai Javanese Halal Food Supply Chain Performance, kinerja rantai nilai biji kakao di Banjaroya, serta sejumlah penelitian mengenai sustainable traceability pada rantai pasok pangan halal.

Menurut Wildan, tantangan agroindustri saat ini tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meningkatkan jumlah produksi. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan nilai ekonomi dapat terdistribusi lebih baik di sepanjang rantai pasok, bagaimana produk dapat ditelusuri asal-usul dan prosesnya, bagaimana kehilangan produk selama rantai distribusi dapat ditekan, serta bagaimana sistem produksi mampu memenuhi tuntutan konsumen terhadap mutu, keamanan, kehalalan, dan keberlanjutan.

Salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut terlihat pada komoditas kakao. Penelitian mengenai Value Chain Performance of Cocoa Beans in Banjaroya, Kulon Progo menunjukkan perhatian terhadap hubungan antara pelaku, aliran produk, serta penciptaan nilai sepanjang rantai agroindustri kakao. Kajian seperti ini penting karena keberhasilan agroindustri tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk akhir, tetapi juga dipengaruhi oleh kinerja setiap mata rantai mulai dari produsen bahan baku hingga pasar. Penelitian mengenai rantai nilai kakao tersebut menjadi salah satu bagian dari rekam jejak penelitian Wildan di bidang agroindustri.

Pendekatan rantai pasok kemudian berkembang pada aspek traceability atau ketelusuran produk. Pada sistem agroindustri modern, konsumen semakin membutuhkan informasi mengenai asal bahan baku, proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi produk. Dalam konteks pangan halal, penelitian Wildan mengenai halal food sustainable traceability menunjukkan pentingnya integrasi antara ketelusuran, kepatuhan proses, serta kepercayaan konsumen. Rekam jejak tersebut mencakup publikasi Halal Food Sustainable Traceability Framework for the Meat Processing Industry pada 2024 dan Halal Food Sustainable Traceability: A Multi-Group Consumer-Centric Acceptance and Preference Analysis pada 2025.

Pemanfaatan sistem keterlacakan juga membuka peluang transformasi rantai pasok agroindustri melalui teknologi digital. Informasi mengenai bahan baku, proses produksi, mutu, distribusi, dan status produk dapat dikelola secara lebih transparan sehingga memberikan manfaat tidak hanya bagi industri, tetapi juga konsumen dan pemasok. Pada penelitian terkait rantai pasok halal, pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan blockchain juga direkomendasikan sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas rantai pasok.

Dari Efisiensi Menuju Penciptaan Nilai

Rantai pasok agroindustri berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai pergerakan bahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Konsep ini juga berkaitan dengan bagaimana setiap aktivitas dapat menghasilkan nilai tambah secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pada tingkat produsen, peningkatan nilai tambah dapat dilakukan dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Hal tersebut antara lain tergambar dalam penelitian kelayakan pengembangan keripik salak menggunakan teknologi vacuum frying. Pengolahan salak menjadi produk bernilai tambah merupakan salah satu pendekatan untuk memperkuat agroindustri berbasis komoditas lokal sekaligus mengurangi risiko hasil pertanian yang tidak terserap pasar.

Aspek kelayakan ekonomi kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan rantai pasok. Teknologi atau produk baru tidak cukup hanya dapat diproduksi, tetapi harus memiliki pasar, dapat dioperasikan secara efisien, serta memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha. Penelitian keripik salak tersebut menggunakan analisis pasar, aspek teknis, manajemen, dan finansial untuk menilai potensi pengembangan usaha.

Dengan demikian, konsep Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan menempatkan nilai tambah, efisiensi, keterlacakan, mutu, keamanan produk, kelayakan ekonomi, dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan. Pendekatan ini memungkinkan persoalan agroindustri dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari satu titik produksi.

Mendukung Pencapaian SDGs

Pengembangan bidang Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi utama berada pada SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengelolaan rantai pasok yang lebih baik dapat mendukung efisiensi penggunaan bahan baku, menekan kehilangan hasil pertanian, meningkatkan keterlacakan produk, serta mendorong proses produksi yang lebih bertanggung jawab. Prinsip tersebut juga mendukung konsumen memperoleh produk dengan informasi yang semakin transparan.

Bidang ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama melalui peningkatan nilai tambah komoditas pertanian, efisiensi usaha, penguatan UMKM agroindustri, dan terciptanya peluang ekonomi di sepanjang rantai pasok. Ketika hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, manfaat ekonomi yang dapat diperoleh masyarakat berpotensi semakin besar.

Kontribusi terhadap SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur diwujudkan melalui pengembangan sistem produksi, inovasi pengolahan, digitalisasi rantai pasok, serta pemanfaatan teknologi keterlacakan untuk meningkatkan daya saing industri. Teknologi dalam konteks ini bukan hanya digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga untuk menghasilkan sistem agroindustri yang semakin efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, penguatan sistem agroindustri berbasis komoditas pertanian lokal juga berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan meningkatkan produktivitas serta nilai ekonomi sektor pertanian. Kolaborasi antara petani, akademisi, pemerintah, industri, UMKM, dan konsumen selanjutnya memperkuat kontribusi terhadap SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Bagi Wildan, pembangunan agroindustri berkelanjutan pada akhirnya membutuhkan perubahan cara pandang dari sekadar menghasilkan produk menjadi membangun sebuah sistem. Produk yang berkualitas perlu didukung bahan baku yang baik, proses yang efisien, pelaku rantai pasok yang memperoleh manfaat secara proporsional, sistem informasi yang transparan, serta pasar yang mampu memberikan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

Melalui pengembangan keilmuan Rantai Pasok Agroindustri Berkelanjutan, berbagai penelitian dan kegiatan akademik diharapkan dapat terus diarahkan untuk menghasilkan model rantai pasok yang semakin efisien, tangguh, transparan, inklusif, dan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya pertanian Indonesia. Pendekatan dari hulu hingga hilir tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan agroindustri yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Penulis : Dr. Wildan Fajar Bachtiar 

Mengurangi Dampak Lingkungan melalui Green Productivity pada Produksi Kopi Lokal

Informasi TerkiniRisetTugas Akhir Thursday, 20 August 2026

Pertumbuhan industri kopi Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. Di balik meningkatnya permintaan pasar terhadap kopi lokal, terdapat tantangan penting terkait keberlanjutan proses produksi, khususnya pada skala usaha kecil dan kelompok tani. Proses produksi yang belum menerapkan prinsip produksi hijau berpotensi menimbulkan limbah, penggunaan sumber daya yang kurang efisien, serta dampak lingkungan yang semakin besar.

Gambar 1. Dokumentasi kunjungan lokasi Kopi Suroloyo di Samigaluh, Kulon Progo.

Pada tahun 2021, penelitian tugas akhir mahasiswa yang dibimbing oleh Satria Bhirawa Anoraga dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada, mengangkat topik mengenai perhitungan dampak lingkungan (environmental impact) dan alternatif solusi perbaikan pada proses produksi Kopi Suroloyo di Samigaluh, Kulon Progo. Penelitian tersebut dilakukan oleh mahasiswa bernama Muhammad Kusnan dengan fokus pada penerapan konsep green productivity dalam proses produksi kopi rakyat.

Penelitian dilakukan melalui observasi langsung terhadap tahapan produksi kopi, mulai dari pengolahan buah kopi, pencucian, fermentasi, pengeringan, roasting, penggilingan, hingga pengemasan. Analisis menunjukkan bahwa proses produksi menghasilkan beberapa sumber dampak lingkungan, terutama dari penggunaan air, konsumsi energi, emisi gas, serta limbah padat berupa kulit buah kopi dan sisa hasil pengolahan lainnya.

Gambar 2. Dokumentasi limbah kulit kakao.

Melalui pendekatan green productivity, penelitian ini tidak hanya menilai besarnya dampak lingkungan yang dihasilkan, tetapi juga menawarkan solusi praktis dan aplikatif bagi kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah. Salah satu usulan utama adalah pemanfaatan limbah kulit kopi (coffee cherry skin) menjadi produk bernilai tambah seperti teh cascara dan produk pangan berbasis hasil samping kopi. Selain itu, limbah cair hasil produksi diusulkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik bagi perkebunan kopi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa limbah agroindustri sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara tepat. Pemanfaatan produk samping tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal dan meningkatkan nilai tambah komoditas kopi.

Penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  1. SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): melalui upaya pengurangan limbah dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya dalam proses produksi kopi.
  2. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): melalui dorongan penerapan proses produksi yang lebih ramah lingkungan dan efisien energi.
  3. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui pengembangan inovasi produk berbasis limbah kopi yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan keberlanjutan dalam agroindustri tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks atau investasi berskala besar. Perubahan sederhana melalui efisiensi proses produksi, pengurangan limbah, dan pemanfaatan hasil samping dapat memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.

Kegiatan penelitian ini juga menjadi bagian penting dalam penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui keterlibatan langsung kelompok tani dalam diskusi dan identifikasi solusi, pendekatan akademik dapat diterjemahkan menjadi praktik nyata yang relevan dengan kebutuhan lapangan.

Salah satu pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa keberlanjutan dimulai dari kesadaran untuk melihat limbah bukan sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai sumber daya baru yang masih memiliki nilai dan potensi. Dengan pendekatan tersebut, agroindustri lokal dapat berkembang secara lebih berkelanjutan, tangguh, dan berorientasi pada masa depan.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Koordinator Field Research Center [FRC] UGM

JATISARONO BERDAYA: Mendorong Ekonomi Inklusif Melalui Teknologi Tepat Guna dan Branding Berbasis AI Berkelanjutan

Informasi TerkiniPengabdian Tuesday, 18 August 2026

Kalurahan Jatisarono, Nanggulan, memiliki potensi lahan persawahan dan pekarangan yang luas mencapai lebih dari 400 hektar. Namun, tantangan utama yang dihadapi petani lokal adalah cepatnya kerusakan hasil panen jamur tiram yang hanya bertahan 1-3 hari. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pengembangan Usaha Produktif dan Pertanian Berkelanjutan,” tim dari Universitas Gadjah Mada hadir untuk memberikan solusi integratif yang mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 12 (Produksi yang Bertanggung Jawab).

Gambar 1. Narasumber pada kegiatan pengabdian masyarakat

Salah satu pilar utama pengabdian ini adalah edukasi preservasi dan pengolahan jamur. Jamur tiram yang memiliki kandungan air 85-95% sangat rentan layu. Kami memperkenalkan teknik pendinginan pada suhu 3-4°C yang mampu mengurangi kecokelatan hingga 75%. Lebih jauh lagi, melalui Teknologi Tepat Guna (TTG), jamur segar diolah menjadi Jamur Krispi. Inovasi ini bukan sekadar pengolahan biasa, melainkan strategi peningkatan nilai tambah:

  • Masa Simpan: Meningkat drastis dari 3 hari menjadi 1 tahun.
  • Nilai Tambah: Memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang masuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Efisiensi Ekonomi: Harga bahan baku Rp 20.000/kg dapat diubah menjadi produk bernilai setara Rp 200.000/kg
Gambar 2. Peserta dari UMKM dan KDK antusias mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat

Sejalan dengan SDG 10, program ini menempatkan Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS sebagai mitra utama. Kami percaya bahwa keberlanjutan ekonomi harus bersifat inklusif. Pelatihan diberikan untuk memastikan anggota kelompok memiliki keterampilan manajemen usaha dan produksi yang mandiri. Strategi branding yang kami usung menggunakan prinsip 4C (Crunchy, Clean, Consistent, Community-Care), di mana aspek kepedulian terhadap pemberdayaan disabilitas menjadi jiwa dari merek tersebut. Dalam era digital, identitas visual adalah kunci daya saing. Proses desain kemasan dilakukan dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu UMKM menciptakan logo dan label yang profesional secara efisien. Strategi ini bertujuan agar produk lokal Jatisarono mampu menembus pasar yang lebih luas, baik melalui pasar digital maupun pusat oleh-oleh di Kulon Progo.

Program pengabdian masyarakat di Kelurahan Jatisarono ini secara spesifik dirancang untuk mendukung pencapaian tiga poin utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8, 10, dan 12. Berikut adalah detail kontribusi program terhadap masing-masing tujuan tersebut:

1. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Program ini berfokus pada pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

  • Peningkatan Nilai Tambah: Pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Penciptaan Lapangan Kerja Lokal: Transformasi dari penjualan jamur segar (seharga ±Rp 20.000/kg) menjadi produk olahan bermerek (setara ±Rp 200.000/kg) menciptakan peluang pendapatan yang lebih layak bagi petani lokal dan UMKM.

2. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan

Aspek utama dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat inklusif, yang memastikan kelompok rentan memiliki kesempatan ekonomi yang sama.

  • Fokus pada Kelompok Disabilitas: Mitra utama kegiatan ini adalah Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS, di mana mereka dilatih untuk mengelola unit usaha produksi jamur krispi secara mandiri dan profesional.
  • Integrasi Sosial: Pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan partisipasi sosial dan ekonomi penyandang disabilitas di Jatisarono, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat desa.

3. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Program ini mengusung prinsip pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya yang efisien melalui teknologi tepat guna.

  • Pengurangan Pemborosan Pangan (Food Waste): Melalui teknik preservasi dan pengolahan, masa simpan jamur tiram yang semula hanya 1–3 hari dapat diperpanjang menjadi 1 tahun dalam bentuk produk krispi, sehingga mengurangi risiko produk terbuang karena busuk.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Pemanfaatan Produk Samping Penggilingan Padi sebagai Camilan Sehat Anak Usia Sekolah

Informasi TerkiniRiset Monday, 3 August 2026

Prodi PPA DTHV memulai kegiatan penelitian untuk pengembangan pangan inovatif yang bertujuan untuk memanfaatkan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan gizi di kalangan anak-anak.

Beras adalah makanan pokok di Indonesia, dan proses penggilingannya menghasilkan sejumlah besar produk samping, yaitu dedak padi yang dikenal juga sebagai bekatul. Secara tradisional, produk samping ini kurang dimanfaatkan dan sering kali digunakan sebagai pakan ternak. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekatul merupakan sumber vitamin B kompleks, yaitu tiamin (B1), asam nikotinat, riboflavin, dan vitamin B6. Bekatul memiliki komposisi nutrisi yag lengkap berupa protein, serat, vitamin, mineral, dan fitokimia bioaktif, sehingga menjadikannya kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi camilan sehat.

Sumber foto: Hello Sehat, Manfaat Bekatul untuk Kesehatan.

Kegiatan pengembangan produk di PPA DTHV bertujuan untuk mengubah produk samping ini menjadi pilihan camilan yang menarik bagi anak usia sekolah. Dengan menggabungkan bekatul ke dalam resep kukis yang diperkaya dengan tepung tempe, inisiatif ini berusaha untuk meningkatkan profil nutrisi makanan tersebut. Pendekatan inovatif ini tidak hanya menangani ketahanan pangan tetapi juga mempromosikan keberlanjutan lingkungan.

Tim dosen peneliti di PPA DTHV yang diketuai oleh Dr. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng. dengan tim dosen  Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Galih Kusuma Aji, S.T.P, M.Agr, Ph.D., dan Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. dan dibantu oleh mahasiswa DIV PPA yaitu Aulya Putri Larasati, Nadhifa Alya Febriana, dan Azizah Sholawah Fatah, serta teknisi laboratorium Rini Setyowati, S.TP, telah mengembangkan prototipe camilan yang lezat dan bergizi. Penelitian ini dapat terlaksana berkat hibah Penelitian Dosen DAMAS Sekolah Vokasi 2026. Peneliti berharap bahwa kebutuhan diet anak usia sekolah dapat terpenuhi dengan cara memberikan mereka nutrisi yang penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak Indonesia. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya mengenalkan anak-anak pentingnya makan yang sehat.

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi.

Untuk mempromosikan camilan baru ini, tim peneliti telah mengorganisir uji sensoris untuk mengetahui kesukaan anak sekolah terhadap produk inovasi ini.  Acara ini bertujuan untuk mengenalkan camilan yang terbuat dari produk samping penggilingan padi. Umpan balik dari anak-anak sangat positif, dengan banyak yang mengungkapkan antusiasme terhadap rasa baru dan ide menggunakan bahan pangan inovatif.

Selain menyediakan pilihan camilan sehat, inisiatif ini juga mendukung petani lokal dan penggiling padi, khususnya dengan menggandeng mitra BUM Desa Binangun Jati Unggul Jatirejo Lendah Kulon Progo, yang memiliki usaha penggilingan padi. Dengan menciptakan pasar untuk produk samping padi, proyek ini mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan dan membantu meningkatkan mata pencaharian mereka yang terlibat dalam produksi padi. Pendekatan holistik ini sejalan dengan SDGs dengan mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.


Sebagai kesimpulan, pemanfaatan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah merupakan langkah signifikan menuju pencapaian SDGs terkait ketahanan pangan dan gizi. Melalui pengembangan pangan inovatif, keterlibatan komunitas, dan praktik berkelanjutan, PPA DTHV membuka jalan untuk masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Penulis : Dr. Ir. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng.

Editor : Putri Rousan Nabila, S.T., M.T.

Perkuat Legalitas dan Pemasaran Digital, Tim PkM PPA SV UGM Dampingi UMKM Pasta Bawang Merah Demangrejo

Uncategorized Friday, 31 July 2026

Sosialisasi SPP-IRT dan e-commerce diarahkan untuk meningkatkan keamanan pangan, kepercayaan konsumen, serta daya saing produk lokal.

Gambar 1. Tim PkM Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri SV UGM bersama peserta kegiatan di Gedung Field Research Center, Kulon Progo, Senin (20/7/2026).

YOGYAKARTA – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan sosialisasi Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dan e-commerce di Gedung Field Research Center (FRC), Kulon Progo, Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Kelompok Desa Prima yang terdiri atas Kelompok Wanita Tani serta Karang Taruna Sinar Mutiara, Kalurahan Demangrejo.

Gambar 2. Pembukaan di Ballrom Gedung Field Research Center, Kulon Progo Dipimpin oleh Dr. Ir. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S.

Kegiatan yang dipimpin oleh Dr. Ir. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S. tersebut bertujuan memperkuat pemahaman pelaku usaha mengenai legalitas dan keamanan pangan, sekaligus meningkatkan kapasitas pemasaran digital produk pasta bawang merah. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya mendorong produk lokal agar lebih dipercaya konsumen, memiliki akses pasar yang lebih luas, dan mampu bersaing secara berkelanjutan.

Perkembangan perdagangan berbasis digital membuka peluang besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menjangkau konsumen secara lebih luas. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh Kelompok Desa Prima karena keterbatasan literasi pemasaran digital. Di sisi lain, produk pasta bawang merah yang dikembangkan kelompok juga masih memerlukan pemenuhan aspek legalitas sebagai salah satu dasar penguatan mutu dan kepercayaan pasar.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, peserta dibagi ke dalam dua kelas. Anggota Kelompok Wanita Tani mengikuti sosialisasi SPP-IRT, sedangkan anggota Karang Taruna Sinar Mutiara mengikuti pelatihan e-commerce sebagai calon pengelola pemasaran produk secara digital.

Pada kelas SPP-IRT, Dr.Agr.Sc. Ir. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc. menjelaskan pentingnya legalitas pangan bagi UMKM, persyaratan administrasi pengajuan SPP-IRT, serta penerapan sanitasi dan keamanan pangan sesuai Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPOB-IRT). Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai tahapan perizinan dan melakukan simulasi pengisian formulir pendaftaran melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA).

Sementara itu, pada kelas e-commerce, Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. memberikan materi mengenai pemanfaatan platform digital, strategi dasar pemasaran daring, dan pentingnya digitalisasi bagi pengembangan UMKM. Peserta juga diperkenalkan pada aplikasi pembuatan konten, termasuk Canva, untuk mendukung penyusunan materi promosi yang menarik, informatif, dan profesional.

Untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta, tim pelaksana memberikan pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah kegiatan. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat efektivitas pembelajaran sekaligus menjadi dasar bagi pendampingan lanjutan.

Melalui kegiatan ini, Kelompok Desa Prima diharapkan mampu memahami alur pengurusan SPP-IRT dan menyiapkan dokumen persyaratan sebagai langkah awal legalisasi produk. Pada saat yang sama, anggota Karang Taruna diharapkan mampu mengelola akun media sosial, menyusun konten promosi, dan mengembangkan pemasaran digital secara mandiri.

Program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penguatan kapasitas usaha, legalitas produk, keamanan pangan, penerapan CPPOB-IRT, dan perluasan akses pasar bagi UMKM. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui peningkatan kapasitas dan partisipasi ekonomi anggota Kelompok Wanita Tani, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi digital dan platform e-commerce untuk mendukung inovasi pemasaran industri pangan skala kecil. Tim PkM PPA SV UGM berharap kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi menjadi awal dari proses pendampingan yang berkelanjutan hingga produk pasta bawang merah Demangrejo memperoleh legalitas, memiliki identitas pemasaran yang kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Tingkatkan Efisiensi Pengemasan, Mahasiswa Magang Lakukan Analisis OEE di Bogasari Flour Mills

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 30 June 2026

Bekasi – Pengalaman magang menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam lingkungan industri yang sesungguhnya. Hal tersebut dialami oleh Naela Salsabilla, mahasiswa yang melaksanakan magang di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills, yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100, Jl. Selayar Kav. D.9, Bekasi 17520.

Kegiatan magang dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu pada 2 Maret sampai 2 Juni 2026. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa ditempatkan di Divisi Produksi. Penempatan ini memberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai tahapan dalam proses produksi tepung terigu, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan gandum, hingga proses pengemasan produk akhir.

Pada tahap awal, mahasiswa mempelajari proses intake dan wheat silo. Kegiatan ini meliputi pengamatan terhadap proses penerimaan gandum sebagai bahan baku utama, mulai dari penimbangan, pemeriksaan kualitas awal, hingga penyimpanan di wheat silo. Tahap ini memiliki peranan penting karena kualitas gandum yang masuk akan berpengaruh terhadap hasil produksi tepung terigu. Oleh karena itu, pengelolaan bahan baku harus dilakukan secara tepat agar kualitasnya tetap terjaga sebelum memasuki proses produksi.

Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai proses milling atau penggilingan gandum. Dalam proses ini, terdapat beberapa tahapan yang saling berkaitan, seperti cleaning, conditioning, grinding, dan separation. Setiap tahapan memiliki fungsi tersendiri untuk menghasilkan tepung terigu yang sesuai dengan standar mutu perusahaan. Melalui pengamatan langsung di lapangan, mahasiswa dapat mengetahui cara kerja mesin produksi serta pentingnya pengawasan pada setiap proses.

Kegiatan magang juga berlanjut ke bagian packing dan Quality Control (QC). Pada bagian packing, mahasiswa mempelajari alur pengemasan tepung terigu serta cara kerja mesin packing. Proses pengemasan menjadi tahapan penting karena produk yang telah dihasilkan harus dikemas dengan baik sebelum didistribusikan kepada konsumen. Sementara itu, pada bagian QC, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pemeriksaan mutu produk selama proses produksi dan pengemasan. Pengendalian mutu dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan.

Salah satu kegiatan penting selama magang adalah penyusunan project dengan judul “Analisis Efisiensi Mesin Packing Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dalam Meningkatkan Kinerja Proses Pengemasan Tepung Terigu.” Project ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi di divisi packing, di mana masih ditemukan produk atau kemasan yang mengalami reject. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan efisiensi mesin maupun proses pengemasan.

Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas mesin packing. Melalui metode ini, kinerja mesin dapat dianalisis berdasarkan beberapa faktor, seperti tingkat ketersediaan mesin, performa mesin, dan kualitas hasil produksi. Hasil analisis tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi penyebab terjadinya losses atau kehilangan efisiensi, sehingga perusahaan dapat menentukan langkah perbaikan yang lebih tepat dalam meningkatkan kinerja proses pengemasan.

Selama mengikuti kegiatan magang, pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan untuk menyaksikan langsung proses produksi tepung terigu secara menyeluruh, mulai dari tahap intake hingga packing. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sebuah produk diproses dalam skala industri. Selain pembelajaran teknis, mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja, berkomunikasi dengan operator dan staf lapangan, serta memahami pentingnya kerja sama dalam proses produksi.

Dengan adanya kegiatan magang ini, mahasiswa memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat. Kegiatan magang ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman industri yang memperkuat kompetensi mahasiswa. Analisis efisiensi mesin menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui upaya peningkatan produktivitas proses produksi, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui optimalisasi efisiensi dan pengendalian mutu. Pengalaman tersebut sekaligus mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang adaptif dan siap memasuki dunia kerja, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Magang di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills memberikan wawasan yang lebih luas mengenai proses produksi tepung terigu, pengendalian mutu, serta efisiensi mesin dalam kegiatan industri. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Editor : AMR 

Penulis : Melany Ayudya

Terjun ke Lini Produksi Mondelez, Mahasiswa Dalami Kualitas Produk dan Efisiensi Manufaktur Pangan

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Bekasi — Dunia industri manufaktur pangan menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan analisis yang kuat dalam setiap tahapan produksi. Pengalaman tersebut diperoleh Ferania Yusuf, melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, yang berlokasi di Jl. Jababeka VII Kav-K2, Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan magang berlangsung pada 12 Januari hingga 4 April 2026. Selama program berjalan, Ferania ditempatkan pada Production Line. Melalui penempatan tersebut, ia berkesempatan mempelajari secara langsung alur produksi, pengendalian mutu, performa mesin, hingga proses pengemasan dalam industri pangan berskala besar.

Melalui kegiatan ini, Ferania memperoleh pemahaman bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh kestabilan proses produksi, ketepatan pengaturan mesin, efektivitas kerja tim, serta konsistensi pengawasan di lapangan.

Salah satu project utama yang dikerjakan adalah Analisis Variasi Berat Produk pada Proses Sandwiching. Kegiatan ini berfokus pada pengamatan dan pengambilan data berat produk biskuit sandwich, khususnya pada proses pengisian krim. Pengambilan data dilakukan secara berkala pada seluruh row produksi untuk membandingkan berat base cake, krim, dan produk akhir. Melalui project ini, mahasiswa dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi berat produk serta kualitas hasil produksi.

Selain project utama, Ferania juga terlibat dalam kolaborasi project terkait Evaluasi Penyebab Waste Produk dan Performa Mesin. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi langsung terhadap proses produksi, termasuk kondisi operasional mesin, perbedaan jenis mesin, kecepatan produksi, serta sistem pengaturan pada masing-masing row. Pengamatan tersebut membantu mahasiswa memahami hubungan antara performa mesin dan kualitas produk yang dihasilkan.

Project lainnya adalah Analisis Loss Packaging dan Monitoring Proses Produksi. Pada kegiatan ini, Ferania melakukan pengamatan terhadap proses pengemasan untuk mengidentifikasi penyebab kehilangan material packaging. Fokus pengamatan meliputi proses pergantian roll, tahap awal produksi, serta berbagai bentuk ketidaksesuaian kemasan, seperti seal yang tidak sempurna, lipatan yang kurang presisi, dan ketidaksesuaian cetakan. Selain itu, dilakukan pula monitoring terhadap checklist produksi dan cleaning untuk memastikan kesesuaian antara pencatatan dan kondisi aktual di lapangan.

“Selama magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga, terutama dalam memahami alur produksi di industri pangan berskala besar. Saya belajar bahwa kualitas produk tidak hanya bergantung pada bahan baku, tetapi juga pada ketelitian proses, performa mesin, kerja sama tim, dan pengawasan yang konsisten di lapangan,” ujar Ferania.

Kegiatan magang ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan pengalaman pembelajaran langsung di dunia industri. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja profesional.

Pembelajaran mengenai efisiensi produksi, performa mesin, dan pengurangan waste juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pengalaman ini, mahasiswa memahami pentingnya proses produksi yang efisien, terkontrol, dan berorientasi pada kualitas.

Tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, Ferania juga mengembangkan berbagai soft skill, seperti komunikasi profesional, kerja sama tim, kemampuan beradaptasi, ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Kemampuan berpikir analitis juga semakin terasah melalui proses identifikasi masalah dan pencarian solusi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Ferania menyampaikan bahwa salah satu hal paling berkesan selama magang adalah kesempatan untuk merasakan langsung dinamika dunia kerja di industri manufaktur pangan berskala besar. Lingkungan kerja yang terbuka dan suportif turut mendukung proses pembelajaran karena memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan terlibat langsung dalam kegiatan produksi.

Melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, diharapkan mampu memperkuat kompetensi teknis dan profesional di bidang industri pangan. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia kerja secara lebih nyata serta siap berkontribusi di lingkungan industri yang dinamis, kompetitif, dan berorientasi pada mutu.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Mahasiswa PPA UGM Pelajari Riset Pasar dan Pengembangan Produk Bersama Praktisi dari Nestlé

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM telah menyelenggarakan kuliah tamu bagi mahasiswa angkatan 2025 pada hari Sabtu, 30 Mei 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari mata kuliah Pemasaran yang diampu oleh Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. Kuliah tamu menghadirkan Aldian Farabi, S.T.P., M.S., National Key Account Manager di Nestlé, dengan topik “Penerapan Riset Pasar dalam Pengembangan Produk dan Pengambilan Keputusan pada Industri Food and Beverage.”

Melalui kuliah tamu, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya riset pasar dalam mendukung pengembangan produk dan pengambilan keputusan bisnis di industri pangan dan minuman. Narasumber menjelaskan bagaimana data dan informasi konsumen dapat dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan pasar, mengidentifikasi peluang bisnis, serta meminimalkan risiko dalam peluncuran produk baru. Pemahaman tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Selain membahas konsep dasar riset pasar, praktisi juga membagikan berbagai studi kasus yang relevan dengan industri pangan dan fast-moving consumer goods (FMCG). Melalui contoh produk yang beredar di pasar, mahasiswa diajak memahami bagaimana perusahaan menggunakan hasil riset pasar sebagai dasar dalam proses pengembangan produk, mulai dari tahap pencarian ide, pengujian konsep, hingga peluncuran produk. Materi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai keterkaitan antara riset pasar, inovasi produk, dan strategi bisnis yang diterapkan di industri.

Sesi diskusi berlangsung secara interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa. Berbagai pertanyaan diajukan terkait tantangan pelaksanaan riset pasar, pemanfaatan data konsumen dalam pengembangan produk pangan, serta penerapan strategi pemasaran yang relevan dengan kondisi industri di Indonesia. Antusiasme mahasiswa menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap penerapan ilmu pemasaran dalam dunia kerja, khususnya pada sektor pangan dan minuman.

Penyelenggaraan kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya Program Studi PPA dalam menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri. Kehadiran praktisi industri diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai penerapan konsep pemasaran dalam industri food and beverage.

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman praktis dari industri, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kompetensi mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan riset pasar untuk mendorong inovasi produk dan pengambilan keputusan berbasis data.

Persiapkan Kurikulum Terbaru, PPA Bekali Mahasiswa Angkatan 2024 Hadapi Program Magang di Industri 

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Pada Rabu, 3 Juni 2026, program studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM menyelenggarakan Workshop Magang bagi mahasiswa angkatan 2024 sebagai persiapan pelaksanaan magang industri pada semester 6. Kegiatan ini menghadirkan Arza Mandega P., S.T.P., selaku Manager Produksi PT Mazaraat, dan Gayuh Ardian Fajri sebagai narasumber yang membagikan pengalaman serta wawasan terkait dunia industri, khususnya dalam hal kesiapan mahasiswa menghadapi proses magang, pengembangan jejaring profesional, serta strategi memanfaatkan peluang di lingkungan kerja. 

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari pihak program studi mengenai implementasi kurikulum terbaru yang mulai diterapkan pada angkatan 2024. Kepala Program Studi PPA UGM, Dr.Eng. Annie Mufyda Rahmatika, menjelaskan bahwa magang merupakan bagian penting dari proses pembelajaran Vokasi yang bertujuan memperkuat keterkaitan antara kompetensi akademik dan kebutuhan industri.

Data Sosialisasi Magang 2026 

Workshop juga menghadirkan Nadia ABM, S.T.P., M.FoodScTech. selaku penanggung jawab program magang PPA yang memaparkan alur pelaksanaan magang serta berbagai persiapan yang perlu dilakukan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Materi yang disampaikan mencakup proses pencarian industri, pengajuan magang, hingga berbagai hal yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan magang.

Antusiasme mahasiswa terlihat selama sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan terkait pemilihan perusahaan, bidang magang yang sesuai dengan minat, serta strategi menghadapi proses seleksi. Diskusi ini menunjukkan tingginya minat mahasiswa dalam mempersiapkan diri memasuki dunia industri secara lebih terarah.

Melalui workshop magang ini, PPA UGM berharap mahasiswa, khususnya angkatan 2024, dapat mempersiapkan diri dengan lebih matang sebelum memasuki dunia industri. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen program studi dalam menghadirkan pendidikan vokasi yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan industri, serta mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.

Kegiatan tersebut juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman kerja, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kesiapan mahasiswa memasuki dunia profesional, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 16 June 2026

Semarang — Pengembangan produk pangan tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam menciptakan formula, tetapi juga ketelitian dalam memahami karakteristik bahan, melakukan pengujian, serta mengevaluasi hasil secara berulang. Pengalaman tersebut diperoleh Latifah Khoirun Nisa, melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kegiatan magang dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan, mulai 2 Februari hingga 25 Mei 2026. Selama program berlangsung, Latifah ditempatkan pada Divisi Research and Development (R&D). Melalui divisi ini, ia berkesempatan mempelajari secara langsung proses riset dan pengembangan produk, mulai dari identifikasi karakteristik bahan, penyusunan formula, trial-and-error formula produk, hingga evaluasi hasil agar sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan.

Dalam kegiatan magang tersebut, Latifah juga terlibat dalam proses uji hedonik, yaitu pengujian tingkat kesukaan panelis terhadap sampel produk. Hasil uji hedonik kemudian dianalisis sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan formula yang paling sesuai. Proses ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan produk pangan memerlukan tahapan yang sistematis, mulai dari percobaan, pengujian, analisis, hingga penyempurnaan formula.

Selain mempelajari formulasi produk, Latifah juga memperoleh pengalaman dalam pengujian beberapa jenis tepung. Pengujian tersebut meliputi kadar air, pH, gelatinisasi, dan parameter lainnya yang berkaitan dengan karakteristik bahan. Data hasil pengujian ini menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk karena dapat memengaruhi kualitas, tekstur, stabilitas, dan kesesuaian produk akhir.

Kegiatan magang ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya adalah SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran berbasis praktik langsung di dunia industri. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan analisis, serta kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Selain itu, kegiatan riset, formulasi, dan pengujian produk juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Proses pengembangan formula dan evaluasi produk menunjukkan pentingnya inovasi dalam industri pangan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu dan kebutuhan konsumen.

Pemahaman mengenai karakteristik bahan, efisiensi penggunaan bahan, serta evaluasi produk juga mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan R&D, mahasiswa belajar bahwa proses produksi pangan perlu memperhatikan kualitas, ketepatan formulasi, serta tanggung jawab dalam menghasilkan produk yang aman dan bermutu.

Pengalaman magang ini turut mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis yang relevan dengan dunia kerja. Selama magang, Latifah tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga belajar mengenai ketelitian, kedisiplinan, kemampuan menyelesaikan masalah, serta pentingnya beradaptasi dalam lingkungan kerja industri.

Latifah menyampaikan bahwa pengalaman paling berkesan selama menjalani magang adalah dapat melihat secara langsung proses di balik pembuatan suatu produk, mulai dari tahap awal pengembangan hingga produk siap diarahkan sesuai kebutuhan konsumen.

Melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri UGM diharapkan mampu memperkuat kompetensi di bidang riset dan pengembangan produk pangan. Program ini juga menjadi sarana penghubung antara dunia pendidikan dan dunia industri, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman nyata sebagai bekal untuk berkontribusi di dunia profesional.

Penulis: Melany Ayudya

Editor: AMR

123

Recent Posts

  • Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.
  • Mengapa Manfaat Kolagen Berbeda pada Setiap Orang? Penelitian Ungkap Peran Penting Enzim Pencernaan
  • Dari Daun Teh Tua Menjadi Penyerap Oksigen, Inovasi Bahan Alami untuk Kemasan Pangan Berkelanjutan
  • Buah Mengkudu, Potensi yang Hampir Terlupakan
  • Mengurangi Dampak Lingkungan melalui Green Productivity pada Produksi Kopi Lokal

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY