Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Arsip:

SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 16 June 2026

Semarang — Pengembangan produk pangan tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam menciptakan formula, tetapi juga ketelitian dalam memahami karakteristik bahan, melakukan pengujian, serta mengevaluasi hasil secara berulang. Pengalaman tersebut diperoleh Latifah Khoirun Nisa, melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kegiatan magang dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan, mulai 2 Februari hingga 25 Mei 2026. Selama program berlangsung, Latifah ditempatkan pada Divisi Research and Development (R&D). Melalui divisi ini, ia berkesempatan mempelajari secara langsung proses riset dan pengembangan produk, mulai dari identifikasi karakteristik bahan, penyusunan formula, trial-and-error formula produk, hingga evaluasi hasil agar sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan.

Dalam kegiatan magang tersebut, Latifah juga terlibat dalam proses uji hedonik, yaitu pengujian tingkat kesukaan panelis terhadap sampel produk. Hasil uji hedonik kemudian dianalisis sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan formula yang paling sesuai. Proses ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan produk pangan memerlukan tahapan yang sistematis, mulai dari percobaan, pengujian, analisis, hingga penyempurnaan formula.

Selain mempelajari formulasi produk, Latifah juga memperoleh pengalaman dalam pengujian beberapa jenis tepung. Pengujian tersebut meliputi kadar air, pH, gelatinisasi, dan parameter lainnya yang berkaitan dengan karakteristik bahan. Data hasil pengujian ini menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk karena dapat memengaruhi kualitas, tekstur, stabilitas, dan kesesuaian produk akhir.

Kegiatan magang ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya adalah SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran berbasis praktik langsung di dunia industri. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan analisis, serta kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Selain itu, kegiatan riset, formulasi, dan pengujian produk juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Proses pengembangan formula dan evaluasi produk menunjukkan pentingnya inovasi dalam industri pangan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu dan kebutuhan konsumen.

Pemahaman mengenai karakteristik bahan, efisiensi penggunaan bahan, serta evaluasi produk juga mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan R&D, mahasiswa belajar bahwa proses produksi pangan perlu memperhatikan kualitas, ketepatan formulasi, serta tanggung jawab dalam menghasilkan produk yang aman dan bermutu.

Pengalaman magang ini turut mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis yang relevan dengan dunia kerja. Selama magang, Latifah tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga belajar mengenai ketelitian, kedisiplinan, kemampuan menyelesaikan masalah, serta pentingnya beradaptasi dalam lingkungan kerja industri.

Latifah menyampaikan bahwa pengalaman paling berkesan selama menjalani magang adalah dapat melihat secara langsung proses di balik pembuatan suatu produk, mulai dari tahap awal pengembangan hingga produk siap diarahkan sesuai kebutuhan konsumen.

Melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri UGM diharapkan mampu memperkuat kompetensi di bidang riset dan pengembangan produk pangan. Program ini juga menjadi sarana penghubung antara dunia pendidikan dan dunia industri, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman nyata sebagai bekal untuk berkontribusi di dunia profesional.

Penulis: Melany Ayudya

Editor: AMR

Menembus Dapur Industri Pangan: Mahasiswa Pelajari Mutu dan Keamanan Produk di PT Aerofood ACS Surabaya 

AgendaKegiatan Mahasiswa Sunday, 14 June 2026

Sidoarjo — Dunia industri pangan tidak hanya berfokus pada proses mengolah bahan menjadi produk jadi, tetapi juga menuntut sistem kerja yang ketat, pengawasan mutu yang detail, serta komitmen tinggi terhadap keamanan pangan. Pengalaman tersebut diperoleh lima mahasiswa, yaitu Rindiazafa, Fidela, Elisa, Alya, dan Zakia, selama mengikuti kegiatan magang di PT Aerofood ACS Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Kegiatan magang berlangsung pada 12 Januari hingga 8 Mei 2026. Selama program berjalan, para mahasiswa ditempatkan di tiga divisi berbeda, yaitu Produksi, Engineering, dan Quality Control (QC). Melalui penempatan tersebut, mahasiswa berkesempatan memahami secara langsung sistem kerja industri pangan skala besar yang terstruktur, higienis, efisien, dan berorientasi pada kualitas.

Pada divisi Produksi, mahasiswa mempelajari alur kerja yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan kepatuhan terhadap standar. Sementara itu, pada divisi Quality Control, mahasiswa mendalami pengendalian mutu, khususnya pada aspek mikrobiologi produk. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa pengawasan mutu memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan kelayakan produk pangan.

Di divisi Engineering, mahasiswa mengenal pentingnya pemeliharaan fasilitas dan peralatan produksi untuk mendukung kelancaran proses kerja. Fasilitas yang terawat dengan baik menjadi salah satu faktor utama agar kegiatan produksi dapat berjalan efektif dan sesuai standar keamanan pangan.

Selama magang, mahasiswa juga memperdalam penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), Good Manufacturing Practices (GMP), serta sanitasi sebagai bagian dari sistem keamanan pangan. Selain itu, mahasiswa turut menyusun beberapa luaran kegiatan, seperti Analisis Pengendalian Mutu Mikrobiologi Produk, Analisis HACCP dan GMP, serta Studi Tata Letak dan Efisiensi Fasilitas Produksi.

Kegiatan ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Selain meningkatkan pemahaman teknis, kegiatan magang ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill, seperti komunikasi profesional, kerja sama lintas divisi, kedisiplinan, ketelitian, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja industri.

“Kesempatan untuk terlibat langsung dalam sistem industri pangan skala besar menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Dari kegiatan ini, kami memahami bahwa standar kualitas tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga pada konsistensi penerapan di lapangan,” ungkap para mahasiswa.

Melalui kegiatan magang di PT Aerofood ACS Surabaya, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih utuh tentang pentingnya mutu, keamanan pangan, efisiensi produksi, dan kerja sama dalam dunia industri. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk terus berkembang dan siap berkontribusi di dunia profesional.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Di Balik Mutu Nanas Kaleng: Mahasiswa Agroindustri Belajar Quality Control di Great Giant Foods

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Wednesday, 3 June 2026

LAMPUNG TENGAH – Di balik produk pangan yang sampai ke tangan konsumen, terdapat proses pengendalian mutu yang panjang dan ketat. Hal inilah yang dipelajari secara langsung oleh dua mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Octhateani dan Mutia, selama mengikuti program magang industri di Great Giant Foods (PT Great Giant Pineapple), Lampung Tengah.

Magang yang berlangsung pada 19 Januari hingga 2 Mei 2026 ini dilaksanakan di fasilitas perusahaan yang berlokasi di Jl. Raya Lintas Timur Arah Menggala, Km. 77 Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung. Selama kegiatan berlangsung, kedua mahasiswa ditempatkan di Divisi Quality Control yang berperan penting dalam menjaga kualitas produk agar tetap sesuai dengan standar perusahaan maupun permintaan buyer.

Melalui kegiatan magang ini, Octhateani dan Mutia tidak hanya belajar mengenai proses pengujian mutu, tetapi juga mengasah kemampuan profesional seperti manajemen waktu, analisis dan penyajian data, komunikasi, serta pemecahan masalah. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami ritme kerja industri secara langsung.

Dalam proyeknya, Octhateani berfokus pada validasi proses termal atau pasteurisasi produk nanas kaleng. Pengujian dilakukan menggunakan pendekatan worst case untuk memastikan proses pasteurisasi mampu mencapai standar yang ditetapkan, terutama dalam mendukung inaktivasi mikroba. Ia juga melakukan pengujian distribusi panas pada retort untuk melihat pemerataan suhu, serta validasi raw juice dalam buffer tank guna mengetahui batas waktu penundaan sebelum kualitas produk mengalami penurunan secara sensoris.

Sementara itu, Mutia mengkaji proses pelabelan, pengemasan, dan pengendalian mutu produk akhir. Melalui pendekatan Six Sigma, ia menganalisis penyimpangan pada proses labelling and packaging untuk menyusun rencana perbaikan. Selain itu, ia juga mempelajari pengaruh variasi fill weight dan style produk terhadap perubahan drained weight, sehingga dapat memberikan insight bagi proses produksi nanas kaleng.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Quality Control bukan hanya tentang memeriksa produk akhir, tetapi juga memastikan setiap tahapan produksi berjalan sesuai standar. Mulai dari proses termal, pengemasan, pelabelan, hingga kesesuaian produk dengan kebutuhan buyer, semuanya menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.

Program magang ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pengalaman langsung di industri, mahasiswa dapat memahami bagaimana inovasi, efisiensi, dan pengendalian mutu berperan dalam mendukung produksi pangan yang berkelanjutan.

Bagi Octhateani dan Mutia, salah satu hal paling berkesan selama magang adalah lingkungan kerja yang ramah dan terbuka terhadap mahasiswa magang. Suasana tersebut membuat mereka lebih leluasa untuk belajar, bertanya, dan terlibat dalam kegiatan perusahaan.

“Lingkungan kerja di Great Giant Foods sangat ramah dan terbuka bagi anak magang. Kami merasa diberi kesempatan untuk belajar langsung, berdiskusi, dan memahami proses pengendalian mutu di industri secara lebih nyata,” ungkap mereka.

Melalui program magang ini, mahasiswa diharapkan mampu membawa pengalaman dan wawasan baru dalam bidang Quality Control, sekaligus semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja di industri pangan yang terus berkembang.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Belajar Mutu dari Lini Produksi: Mahasiswa Agroindustri Kembangkan Kompetensi QA di Garuda Beverage Sukses

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Wednesday, 27 May 2026

BOGOR – Dunia industri menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sekaligus memahami penerapan ilmu secara langsung. Melalui program magang industri, dua mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Melany dan Fasa, berkesempatan menjalani pengalaman praktik di PT Triteguh Manunggal Sejati – Garuda Beverage Sukses, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Kegiatan magang yang berlangsung pada 2 Februari hingga 30 April 2026 ini menempatkan kedua mahasiswa di Divisi Quality Assurance. Divisi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga mutu, keamanan, dan konsistensi produk minuman sebelum sampai ke tangan konsumen.

Selama magang, Melany dan Fasa mempelajari berbagai aspek penting dalam industri minuman, mulai dari tahapan proses produksi, analisis alur proses, penerapan standar mutu berbasis Good Manufacturing Practices (GMP), hingga pengenalan HIRADC sebagai bagian dari upaya mendukung Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pengalaman ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan teknis serta kesiapan menghadapi dunia kerja.

Dalam praktiknya, kedua mahasiswa turut mempelajari pengendalian mutu produk Mountea, Okky Jelly Drink, dan Okky Koko Drink melalui pengukuran parameter kritis seperti Brix, pH, dan gramasi nata de coco. Parameter tersebut digunakan untuk memastikan rasa, tingkat keasaman, serta komposisi produk tetap sesuai standar perusahaan. Mereka juga mempelajari proses High Temperature Short Time (HTST) dengan bantuan data logger untuk memantau kestabilan suhu pasteurisasi, sehingga keamanan dan kualitas produk dapat tetap terjaga.

Selain itu, Melany dan Fasa memperoleh pengalaman dalam penyusunan alur proses produksi beserta spesifikasi alat, analisis dan evaluasi mutu produk, uji produksi skala pabrik melalui Pre-Site Acceptance Test (Pre-SAT) dan Site Acceptance Test (SAT), serta uji push-pull pada kemasan produk Mountea dan Okky Jelly Drink. Rangkaian kegiatan tersebut sejalan dengan SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab karena mendukung proses produksi yang lebih terkendali, inovatif, dan berorientasi pada mutu.

“Hal yang paling berkesan adalah mempelajari proses pembentukan jelly yang ternyata penuh dengan tantangan karena rawan cairan yang tidak merata,” ungkap Melany. Proses ini membutuhkan presisi tinggi dalam pengendalian suhu, waktu, dan komposisi bahan untuk menghasilkan tekstur dan konsistensi yang sempurna.

Pengalaman lainnya yang tak terlupakan adalah memahami teori bagaimana nata de coco dapat melayang di dalam medium cair dan jelly. Hal ini membuka wawasan baru tentang hubungan antara kepadatan (density), pH, dan komposisi kimia produk.

“Lingkungan magang sangat menyenangkan karena bertemu dengan mentor berpengalaman dan teman-teman dari universitas lain yang sama-sama bersemangat belajar,” tambah Fasa. Kolaborasi ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan saling mendukung.

Program magang ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan industri dalam menyiapkan mahasiswa yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kerja. Melalui pengalaman langsung di PT Triteguh Manunggal Sejati – Garuda Beverage Sukses, mahasiswa diharapkan mampu membawa wawasan baru dalam pengembangan industri pangan yang berkualitas dan berkelanjutan. 

Penulis : Melany 

Editor : AMR 

Dari 81.800 Pendaftar, Mahasiswi PPA UGM Lolos Google Student Ambassador 2026

Informasi TerkiniPrestasi Mahasiswa Monday, 25 May 2026

Mahasiswi Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM angkatan 2024, Kautsarifa Hasna Maulida, berhasil meraih prestasi sebagai Google Student Ambassador 2026. Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Program Studi PPA sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa mampu berprestasi dan berkembang di tingkat nasional.

Dari 81.800 pendaftar yang berasal dari 1.900 universitas di Indonesia, Kautsarifa berhasil terpilih menjadi bagian dari 2.000 Google Student Ambassadors. Perjalanannya berlanjut hingga terpilih sebagai salah satu dari 150 partisipan yang mengikuti kegiatan Inauguration dan Office Tour Google Jakarta secara luring dengan dukungan penuh (fully funded). Selama kegiatan, ia memperoleh kesempatan untuk mengunjungi kantor Google Jakarta dan bertemu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Kautsarifa, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar baru yang mendorong pengembangan diri dan keberanian untuk mencoba peluang di luar zona nyaman. “Jangan pernah takut untuk bersaing dan mengeksplorasi hal-hal baru di luar zona nyaman. Kesempatan besar itu ada, tinggal bagaimana kita berani mengambil langkah untuk mencobanya,” ungkapnya.

Prestasi ini turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kualitas sumber daya manusia, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui perluasan jejaring dan kolaborasi.

Sinergi Berkelanjutan: PT Gambino Artisan Prima Fasilitasi Mahasiswa Magang Pengembangan Produk Agroindustri Kembangkan Inovasi QC Berbasis SDGs

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 19 May 2026

JAKARTA PUSAT – Komitmen sektor industri dalam memfasilitasi lahirnya sumber daya manusia (SDM) unggul masa depan kembali diwujudkan oleh PT Gambino Artisan Prima. Melalui program magang industri yang berlangsung dari 12 Januari hingga 15 Mei 2026, perusahaan yang bergerak di industri kopi artisan ini memberikan ruang bagi tiga mahasiswa Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri—Lantang, Rosyid, dan Widya—untuk mengaplikasikan ilmu akademik sekaligus mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). 

Kolaborasi ini menjadi perwujudan nyata dari kontribusi mitra industri dalam mendukung pilar SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pencetakan generasi profesional yang siap kerja.

Bertempat di fasilitas produksi PT Gambino Artisan Prima yang berlokasi di Jl. Kramat Baru No. 15, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, ketiga mahasiswa ini dilibatkan secara aktif di departemen pengendalian mutu atau Quality Control (QC).

Keterlibatan mereka secara langsung mendukung prinsip SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Di sini, sistem pengendalian mutu yang ketat dari perusahaan terbukti esensial untuk:

  • QC Incoming: Melakukan validasi kualitas bahan baku di hulu.
  • QC Finish Good: Mengecek mutu produk akhir sebelum dipasarkan.
  • QC Packaging: Mengawasi kelayakan kemasan demi menjaga higienitas.
  • QC Delivery: Memastikan produk tetap aman hingga tahap distribusi.
  • QC Admin: Mendokumentasikan seluruh data jaminan mutu harian.

Melalui seluruh rangkaian ini, mahasiswa belajar bagaimana QC bertindak sebagai garda terdepan untuk mencegah kegagalan produksi sekaligus meminimalisasi limbah pangan (food waste).

Sebagai bentuk kontribusi nyata pada prinsip SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), ruang terbuka yang diberikan oleh PT Gambino Artisan Prima berhasil memicu lahirnya tiga proyek penelitian inovatif berbasis problem-solving dengan menerapkan metode QC 7 Tools:

  1. Rosyid: Melakukan analisis pengaruh metode hot brew dan cold brew terhadap pembentukan plak pada produk Monami Gula Aren.
  2. Widya: Membedah analisis kejadian pembentukan gumpalan pada leher dan mulut botol pada produk Monami Kesusu guna meningkatkan kelayakan konsumsi.
  3. Lantang: Meneliti analisis hubungan antara jumlah botol dan durasi retort terhadap kualitas organoleptik pada produk kopi latte varian Hazelnut Gambino Coffee.

“Pengalaman terjun langsung ke industri ini memberikan wawasan komprehensif yang jauh melampaui pembelajaran di ruang kelas. Kami menyadari bahwa divisi QC memegang peranan krusial sebagai pelindung konsumen,” ungkap perwakilan mahasiswa magang.

Program magang ini menjadi bukti nyata bahwa kemitraan strategis antara Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri dan PT Gambino Artisan Prima tidak hanya memberikan solusi bagi efisiensi operasional industri, tetapi juga melahirkan generasi profesional yang siap mendukung terwujudnya industri berkelanjutan di masa depan. 

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Optimalkan Manajemen Pergudangan dan Sistem FEFO, Mahasiswa Magang Berikan Kontribusi Strategis di CV Tera Sukses Abadi

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Friday, 15 May 2026

GRESIK – Program magang industri kembali menjadi wadah efektif bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu akademik ke dalam dunia kerja nyata. Hal ini dibuktikan oleh dua mahasiswa, Oktarina dan Leisya yang baru saja menyelesaikan periode magang di CV Tera Sukses Abadi, sebuah perusahaan yang berlokasi di Driyorejo, Kabupaten Gresik.

Selama periode 12 Januari hingga 2 April 2026, kedua mahasiswa tersebut terjun langsung di tiga departemen krusial, yakni Administrasi, Produksi, dan Penggudangan. Tidak sekadar menjalankan tugas rutin, mereka berhasil menyusun rekomendasi strategis guna meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Salah satu proyek utama yang dijalankan adalah Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage. Mengingat pentingnya area penyimpanan suhu dingin, Oktarina dan Leisya melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift.

Selain aspek keamanan fisik, mereka juga berfokus pada kualitas stok melalui evaluasi sistem First Expired First Out (FEFO). Dalam proyek ini, mereka menganalisis alur keluar-masuk barang untuk memastikan produk dengan tanggal kadaluarsa terdekat didistribusikan lebih awal.

Langkah ini berkontribusi langsung pada SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), di mana optimalisasi sistem FEFO berperan penting dalam meminimalisir potensi kerusakan produk atau pemborosan inventaris (efisiensi sumber daya).

Melalui proyek “Evaluasi Penataan Produk Berkardus di Cool Storage“, kedua mahasiswa melakukan observasi mendalam terhadap stabilitas tumpukan produk dan kelancaran jalur mobilitas forklift. Evaluasi ini kemudian dikembangkan menjadi proyek puncak berupa Rekomendasi Integrasi Tata Letak.

Proyek desain layout gudang komprehensif ini mendukung dua poin SDGs sekaligus:

  • SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja (K3) karyawan di area gudang melalui pengaturan jalur forklift dan stabilitas tumpukan yang aman.
  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Meningkatkan efisiensi, kecepatan distribusi, serta modernisasi manajemen logistik industri terintegrasi.

Bagi Oktarina dan Leisya, pengalaman selama hampir tiga bulan ini memberikan kesan mendalam, baik dari segi peningkatan kompetensi teknis di bidang administrasi keuangan dan manajemen produksi, maupun pengembangan soft skills. Hal ini selaras dengan pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam mempersiapkan lulusan yang siap terap di industri. 

“Hal yang paling berkesan adalah saat kami terlibat langsung dalam evaluasi di cool storage. Kami tidak hanya belajar teori, tapi melihat nyata bagaimana penataan produk sangat berdampak pada kualitas,” ungkap mereka.

Mereka juga menambahkan bahwa budaya kerja yang suportif di perusahaan sangat membantu proses adaptasi mereka. “Budaya kerja di sini sangat kekeluargaan. Pembimbing dan rekan kerja sangat terbuka dan ramah, yang membuat kami lebih percaya diri untuk beradaptasi di dunia kerja.”

Dengan berakhirnya masa magang ini, kedua mahasiswa tersebut membawa pulang pengalaman berharga mengenai pentingnya kerja sama tim, komunikasi profesional, dan inovasi dalam mendukung performa perusahaan yang optimal.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Memahami Preferensi Konsumen Produk Segar: Cermin Masa Depan Agroindustri Indonesia dan SDGs

AgendaInformasi Terkini Friday, 15 May 2026

Pergi ke pasar tradisional sambil membawa keranjang sendiri, atau membuka aplikasi daring untuk memesan sayur organik yang diantar dalam dua jam, keduanya kini menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia. Cara konsumen kita memilih dan membeli produk segar (fresh produce) seperti sayur, buah, dan hasil pertanian lainnya tengah bergeser cepat. Pergeseran ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal penting bagi pelaku agroindustri dan, jika dicermati lebih jauh, bersinggungan langsung dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Beberapa pola perilaku konsumen produk segar di Indonesia menarik untuk diamati. Pertama, kesadaran terhadap kesehatan meningkat signifikan setelah pandemi COVID-19. Konsumen kelas menengah kota besar mulai mempertimbangkan kandungan gizi, residu pestisida, dan kebersihan produk. Berbagai survei lembaga riset pasar menunjukkan willingness to pay untuk produk organik atau berlabel “bebas pestisida” terus naik, meski harganya bisa 20–40 persen lebih mahal dibanding produk konvensional.

Kedua, kemudahan (convenience) menjadi nilai jual baru. Platform e-grocery seperti Sayurbox, TaniHub, hingga fitur belanja segar di marketplace umum tumbuh pesat. Konsumen tidak hanya tertarik karena harga lebih murah, tetapi karena tidak perlu menyentuh, menawar, dan membawa belanjaan sendiri. Bagi generasi muda perkotaan, “pasar” kini adalah sebuah aplikasi di layar ponsel.

Ketiga, transparansi asal-usul produk semakin diminati. Label seperti “dari petani Sleman” atau “dipanen kemarin pagi” terbukti efektif menggugah minat beli. Praktik ini mendorong tumbuhnya pertanian kontrak dan rantai pasok pendek yang menghubungkan konsumen langsung dengan petani.

Gambar 1. Ilustrasi Kondisi Preferensi Konsumen terhadap Produk Segar

Namun di balik tren tersebut, sebagian besar konsumen Indonesia, terutama di pedesaan dan kota kecil, masih sangat sensitif terhadap harga. Pasar tradisional masih menyumbang lebih dari separuh transaksi produk segar nasional. Artinya, pergeseran preferensi tidak seragam. Agroindustri kita menghadapi dua wajah pasar yang harus dilayani sekaligus: konsumen premium yang mencari kualitas dan “cerita” di balik produk, serta konsumen mayoritas yang mengutamakan keterjangkauan.

Dari sudut pandang penulis, dinamika ini sangat relevan dengan setidaknya enam tujuan dalam SDGs. Tujuan ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tersentuh ketika konsumen mulai memilih produk bergizi dan aman. Tujuan ke-8 (Pekerjaan Layak) dan ke-1 (Tanpa Kemiskinan) terbantu bila rantai nilai yang lebih pendek meningkatkan pendapatan petani kecil. Tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) menjadi inti, sebab keputusan konsumen mendorong produsen mengadopsi praktik yang lebih efisien dan rendah limbah. Tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) ikut terlibat ketika preferensi pada produk lokal mengurangi jejak karbon dari pengiriman jarak jauh.

Tantangannya, banyak petani kecil belum siap merespons pergeseran ini. Mereka masih bekerja dalam pola produksi musiman tanpa standar kualitas yang konsisten, tanpa pencatatan, dan dengan akses pasar yang terbatas. Di sinilah peran pendidikan vokasi agroindustri menjadi strategis: menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani sisi produksi (petani) dengan sisi permintaan (konsumen modern), melalui penanganan pascapanen, pengemasan, pelabelan, hingga manajemen rantai pasok berbasis digital.

Memahami preferensi dan perilaku konsumen produk segar bukan sekadar urusan pemasaran. Ia adalah peta jalan untuk membangun agroindustri Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Konsumen yang semakin kritis bisa menjadi kekuatan pendorong perubahan asalkan petani, pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah bergerak bersama. Pendidikan vokasi di bidang Pengembangan Produk Agroindustri memiliki kesempatan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya membaca pasar, tetapi juga mampu menerjemahkan preferensi konsumen menjadi inovasi produk yang berdampak pada pencapaian SDGs. Pada akhirnya, sebuah keranjang sayur yang dipilih konsumen pagi ini bisa menjadi sumbangan kecil—tetapi nyata—bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Penulis: Galih Kusuma Ajii, Ph.D.

Editor: Putri Rousan Nabila

Mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri Perkuat Kompetensi Industri Melalui Magang di CV Ganep Lintas Generasi

AgendaInformasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 16 April 2026

SURAKARTA – Dalam upaya mewujudkan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (Rani, Nurul, dan Prasetyaning) telah sukses menyelesaikan program magang intensif selama tiga bulan (8 Februari – 8 Mei 2026) di CV Ganep Lintas Generasi, Surakarta. Magang ini bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan langkah nyata dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik industri di salah satu perusahaan roti legendaris di Kota Solo.

Di tempatkan di Divisi Produksi, ketiga mahasiswa terlibat aktif dari hulu hingga hilir dalam pembuatan roti basah dan kering. Fokus utama mereka adalah memastikan standar mutu yang ketat melalui Quality Control (QC). Hal ini mencakup pengukuran teknis seperti memastikan konsistensi rasa dari kadar gulanya (°Brix) dan menjamin keamanan dan daya simpan produk dari tingkat keasamannya (pH). Kegiatan ini secara langsung mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui optimalisasi proses produksi skala UMKM/Industri menengah menuju standar yang lebih presisi. Tak hanya di area produksi, mereka juga berkontribusi pada manajemen rantai pasok. Mulai dari pengemasan, pelabelan, hingga sistem distribusi berbasis barcode. 

Salah satu poin unik dalam pengalaman ini adalah keterlibatan mereka dalam pengolahan Kecik, produk tradisional ikonik dari CV Ganep. Proses penggilingan hingga penyajian yang membutuhkan ketelitian tinggi memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga warisan kuliner lokal di tengah arus modernisasi.

Di luar aspek teknis, lingkungan kerja di Jalan Sutan Syahrir No. 176 ini menempa kemampuan kolaborasi dan komunikasi mereka.

“Pengalaman ini tidak hanya mempertajam kemampuan analisis kami dalam menyelesaikan masalah produksi, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang pentingnya kerja tim dan hubungan kemanusiaan di dunia kerja,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.

Penutupan program magang ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi dunia industri dan berkontribusi pada pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan melalui keilmuan yang ditekuni.

Penulis: Melany Ayudya Syauma Putri
Editor: AMR

Program Studi PPA UGM Raih Akreditasi Baik Sekali Periode Tahun 2026–2031

Informasi TerkiniPengumuman Akademik Thursday, 16 April 2026

Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, resmi memperoleh peningkatan status akreditasi menjadi “Baik Sekali”, terhitung mulai tanggal 17 Maret 2026 sampai dengan 17 Maret 2031, yang diberikan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Capaian ini menjadi langkah strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan serta penguatan daya saing program studi di tingkat nasional. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan di PPA telah memenuhi standar yang lebih tinggi. Hal tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari kualitas dosen hingga sistem tata kelola akademik. Dengan capaian ini, PPA semakin memperkuat posisinya sebagai program studi vokasi yang kompetitif.

Peningkatan akreditasi ini tidak hanya mencerminkan kualitas pendidikan yang semakin baik, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pengembangan program studi secara menyeluruh. Aspek kurikulum, fasilitas pembelajaran, serta sistem manajemen akademik mengalami penguatan yang signifikan. Perubahan status ini turut meningkatkan kepercayaan publik terhadap Program Studi PPA sebagai institusi pendidikan yang kredibel. Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan minat calon mahasiswa serta memperkuat daya tarik program studi dalam menjaring mahasiswa berkualitas. Selain itu, peningkatan akreditasi juga memperluas peluang kerja sama dengan mitra industri, pemerintah, maupun institusi internasional.

Dalam aspek pendanaan, status akreditasi “Baik Sekali” membuka peluang lebih besar bagi program studi untuk mengakses berbagai skema hibah, baik nasional maupun internasional. Banyak program pendanaan yang memprioritaskan institusi dengan akreditasi tinggi sebagai indikator kualitas. Hal ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan kegiatan akademik, penelitian, serta inovasi di lingkungan PPA. Selain itu, kolaborasi dalam bidang riset dan pengembangan program bersama juga menjadi lebih terbuka. Dukungan pendanaan ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

Dampak positif dari peningkatan akreditasi juga dirasakan oleh lulusan Program Studi PPA. Lulusan memiliki peluang yang lebih besar untuk diterima di dunia kerja maupun melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Status akreditasi menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan oleh industri dan institusi pendidikan dalam menilai kualitas lulusan. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan PPA semakin diakui dan memiliki daya saing yang lebih kuat. Dengan demikian, peningkatan akreditasi turut berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang agroindustri.

Di sisi internal, proses peningkatan akreditasi mendorong penguatan sistem manajemen, pengembangan kurikulum, serta pelaksanaan evaluasi berkelanjutan. Perbaikan ini menjadi fondasi penting dalam memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga dan terus meningkat. Program studi juga menjadi lebih adaptif dalam merespons perkembangan kebutuhan industri dan dunia kerja. Upaya ini dilakukan secara sistematis untuk mencapai standar yang lebih tinggi di masa mendatang. Dengan demikian, PPA memiliki kesiapan yang lebih baik untuk berkembang menuju tingkat keunggulan.

Capaian ini juga sejalan dengan komitmen Program Studi PPA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Peningkatan mutu pendidikan berkontribusi pada pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Peningkatan kualitas lulusan turut berkontribusi pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Selain itu, penguatan kolaborasi dengan industri mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui capaian ini, Program Studi PPA menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas kolaborasi, serta menghasilkan lulusan yang adaptif dan siap berkontribusi di sektor agroindustri.

12

Recent Posts

  • Inovasi Hijau UGM: Sulap Limbah Sekam Padi Menjadi Bioplastik Kemasan Pangan Berkelanjutan
  • Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur
  • Peran Penting Pretreatment Sebelum Pengeringan dalam Mempertahankan Mutu Daun Bawang Kering.
  • PPA Selenggarakan Kuliah Tamu Bahas Supply Chain di Era Disrupsi  
  • Menembus Dapur Industri Pangan: Mahasiswa Pelajari Mutu dan Keamanan Produk di PT Aerofood ACS Surabaya 

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY