Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • SDG 2: Tanpa Kelaparan
  • page. 2
Arsip:

SDG 2: Tanpa Kelaparan

Kolaborasi Mahasiswa dan BPSIP Yogyakarta Ciptakan Sari Sacha Inchi Kaya Omega-3: Inovasi Unggulan untuk Mendukung SDGs Pangan Berkelanjutan (Nomor 2)

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 24 October 2024

Sania, seorang mahasiswa angkatan 2020 dari program studi pengembangan produk agroindustri, berhasil mengembangkan produk inovasi yaitu sari sacha inchi yang kaya akan Omega-3 dan Omega-6. Proyek ini dikerjakannya pada bulan Januari 2023 hingga Maret 2024, di bawah bimbingan Dr. Annie Mufyda Rahmatika, S.T., M.T., yang bekerja sama dengan Nurdeana Cahyaniingrum dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Yogyakarta.

Apa itu Sacha Inchi? Mungkin dari sebagian pembaca masih merasa asing dengan kata ini. Sacha Inchi dikenal sebagai superfood dan memiliki popularitas karena nilai gizi yang tinggi. Proyek penelitian inimemiliki tujuan yang mulia yaitu mengatasi kesenjangan pangan yang semakin meningkat dengan menyediakan alternatif pangan bergizi bagi mereka yang intoleran laktosa. Sari ini tidak hanya kaya akan asam lemak esensial tetapi juga memiliki rasa yang disukai oleh berbagai kalangan konsumen. Hal ini tebukti dari analisa riset pasar yang telah dilakukan, sehingga Sania dan team memahami preferensi konsumen dan tantangan potensial dalam komersialisasi sari sacha inchi. Riset ini akan membantu menyempurnakan produk dan mengembangkan strategi pemasaran yang efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Pengembangan produk Sari Sacha Inchi tidak akan berhasil tanpa adanya kerja sama dengan BPSIP Yogyakarta. Dalam kerja sama ini, BSIP  memberikan sumber daya dan keahlian yang berharga dalam proses pengembangan produk dan memastikan bahwa sari sacha inchi memenuhi persyaratan kualitas dan keamanan pangan yang diperlukan. Proyek ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara institusi akademis dan pusat penelitian pertanian dalam meningkatkan produksi dan inovasi pangan.

Dr. Annie Mufyda Rahmatika mengungkapkan kebanggaannya terhadap karya Sania yang dapat mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mengatasi keamanan pangan dan mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan (SDGs Nomor 2). “Dengan mengembangkan produk yang tidak hanya bergizi tetapi juga memenuhi kebutuhan diet tertentu, kami berkontribusi pada pengurangan kesenjangan pangan di komunitas kami,” ujarnya.

Sari sacha inchi yang dikembangkan Sania dirancang sebagai produk yang serbaguna yang dapat dikonsumsi dalam berbagai cara, baik sebagai minuman segar maupun sebagai bahan dalam smoothie dan resep lainnya. Fleksibilitas ini menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan yang ingin memasukkan lebih banyak Omega-3 dan Omega-6 ke dalam diet mereka. Selain itu, Sacha Inchi adalah tanaman yang tumbuh subur di berbagai iklim dan membutuhkan sumber daya minimal dibandingkan dengan tanaman lainnya. Dengan mempromosikan produk Sacha Inchi, proyek ini tidak hanya mendukung petani lokal tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.

Sebagai kesimpulan, pendekatan inovatif Sania dalam mengembangkan sari sacha inchi merupakan langkah signifikan menuju pengurangan kesenjangan pangan dan promosi produksi pangan yang berkelanjutan. Dengan dukungan BPSIP Yogyakarta dan bimbingan para mentornya, ia membuka jalan bagi inovasi agroindustri di masa depan yang mengutamakan kesehatan dan keberlanjutan.

Inovasi Minuman Cokelat: Transformasi Kakao Indonesia Menuju Pasar Global dan SDGs

Informasi TerkiniLaboratoriumRiset Wednesday, 16 October 2024

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia, namun produk hilir kakao seperti minuman cokelat instan masih belum berkembang secara signifikan. Menurut laporan dari tim peneliti, banyak produsen kecil di wilayah Yogyakarta yang menghasilkan bubuk kakao dengan kandungan lemak tinggi, sekitar 27% hingga 36%. Potensi inilah yang mendorong penelitian untuk mencari solusi inovatif guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk kakao Indonesia.

Inovasi dalam industri minuman instan terus berkembang, dan kakao lokal Indonesia kini mendapat perhatian lebih besar. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., menyoroti potensi bubuk kakao lokal untuk dikembangkan menjadi minuman cokelat instan berkualitas tinggi. Penelitian ini mengkaji penggunaan bubuk kakao rendah lemak dan tinggi lemak, yang diproses dengan dua metode, yaitu spray drying dan freeze drying. Studi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas produk, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 2 tentang ketahanan pangan, dan SDG 8 terkait pertumbuhan ekonomi.

Metode spray drying dikenal lebih efisien dan cepat dalam menghasilkan minuman instan, meskipun dapat mengurangi beberapa kandungan nutrisi, seperti antioksidan, karena suhu tinggi yang digunakan. Sebaliknya, metode freeze drying, meskipun lebih lambat dan memerlukan biaya lebih tinggi, mampu mempertahankan kandungan nutrisi secara lebih optimal. Penelitian ini secara menyeluruh membandingkan kedua metode tersebut dalam hal kelarutan, viskositas, serta kandungan kimia dan fisik minuman cokelat yang dihasilkan.

Selain dari aspek teknis, penelitian ini diharapkan dapat membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi petani dan produsen kakao di Indonesia. Dengan menciptakan produk bubuk minuman cokelat instan yang berkualitas, penelitian ini membuka peluang pasar baru yang lebih luas, sekaligus mendukung peningkatan pendapatan petani lokal. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mendorong praktik pertanian berkelanjutan dan mendukung SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Tantangan bagi petani kakao lokal selama ini adalah meningkatkan nilai tambah produk mereka agar mampu bersaing di pasar global. Penelitian ini berkontribusi dengan memberikan wawasan mengenai optimalisasi penggunaan kakao lokal. Hasil penelitian juga memperkuat peluang Indonesia dalam memasarkan produk minuman instan berkualitas, baik di pasar domestik maupun internasional. Minuman cokelat instan berbasis kakao lokal memiliki potensi besar untuk diekspor, mengangkat posisi Indonesia dalam industri minuman instan di kancah global.

12

Recent Posts

  • Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer
  • UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan
  • Tingkatkan Pemahaman Petani Bugel dengan Pemahaman Karakteristik dan Penanganan Pascapanen Melon Premium
  • Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.
  • Mengapa Manfaat Kolagen Berbeda pada Setiap Orang? Penelitian Ungkap Peran Penting Enzim Pencernaan

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY