Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
  • SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
Arsip:

SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

JATISARONO BERDAYA: Mendorong Ekonomi Inklusif Melalui Teknologi Tepat Guna dan Branding Berbasis AI Berkelanjutan

Informasi TerkiniPengabdian Tuesday, 18 August 2026

Kalurahan Jatisarono, Nanggulan, memiliki potensi lahan persawahan dan pekarangan yang luas mencapai lebih dari 400 hektar. Namun, tantangan utama yang dihadapi petani lokal adalah cepatnya kerusakan hasil panen jamur tiram yang hanya bertahan 1-3 hari. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pengembangan Usaha Produktif dan Pertanian Berkelanjutan,” tim dari Universitas Gadjah Mada hadir untuk memberikan solusi integratif yang mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 12 (Produksi yang Bertanggung Jawab).

Gambar 1. Narasumber pada kegiatan pengabdian masyarakat

Salah satu pilar utama pengabdian ini adalah edukasi preservasi dan pengolahan jamur. Jamur tiram yang memiliki kandungan air 85-95% sangat rentan layu. Kami memperkenalkan teknik pendinginan pada suhu 3-4°C yang mampu mengurangi kecokelatan hingga 75%. Lebih jauh lagi, melalui Teknologi Tepat Guna (TTG), jamur segar diolah menjadi Jamur Krispi. Inovasi ini bukan sekadar pengolahan biasa, melainkan strategi peningkatan nilai tambah:

  • Masa Simpan: Meningkat drastis dari 3 hari menjadi 1 tahun.
  • Nilai Tambah: Memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang masuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Efisiensi Ekonomi: Harga bahan baku Rp 20.000/kg dapat diubah menjadi produk bernilai setara Rp 200.000/kg
Gambar 2. Peserta dari UMKM dan KDK antusias mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat

Sejalan dengan SDG 10, program ini menempatkan Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS sebagai mitra utama. Kami percaya bahwa keberlanjutan ekonomi harus bersifat inklusif. Pelatihan diberikan untuk memastikan anggota kelompok memiliki keterampilan manajemen usaha dan produksi yang mandiri. Strategi branding yang kami usung menggunakan prinsip 4C (Crunchy, Clean, Consistent, Community-Care), di mana aspek kepedulian terhadap pemberdayaan disabilitas menjadi jiwa dari merek tersebut. Dalam era digital, identitas visual adalah kunci daya saing. Proses desain kemasan dilakukan dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu UMKM menciptakan logo dan label yang profesional secara efisien. Strategi ini bertujuan agar produk lokal Jatisarono mampu menembus pasar yang lebih luas, baik melalui pasar digital maupun pusat oleh-oleh di Kulon Progo.

Program pengabdian masyarakat di Kelurahan Jatisarono ini secara spesifik dirancang untuk mendukung pencapaian tiga poin utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8, 10, dan 12. Berikut adalah detail kontribusi program terhadap masing-masing tujuan tersebut:

1. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Program ini berfokus pada pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

  • Peningkatan Nilai Tambah: Pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Penciptaan Lapangan Kerja Lokal: Transformasi dari penjualan jamur segar (seharga ±Rp 20.000/kg) menjadi produk olahan bermerek (setara ±Rp 200.000/kg) menciptakan peluang pendapatan yang lebih layak bagi petani lokal dan UMKM.

2. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan

Aspek utama dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat inklusif, yang memastikan kelompok rentan memiliki kesempatan ekonomi yang sama.

  • Fokus pada Kelompok Disabilitas: Mitra utama kegiatan ini adalah Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS, di mana mereka dilatih untuk mengelola unit usaha produksi jamur krispi secara mandiri dan profesional.
  • Integrasi Sosial: Pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan partisipasi sosial dan ekonomi penyandang disabilitas di Jatisarono, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat desa.

3. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Program ini mengusung prinsip pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya yang efisien melalui teknologi tepat guna.

  • Pengurangan Pemborosan Pangan (Food Waste): Melalui teknik preservasi dan pengolahan, masa simpan jamur tiram yang semula hanya 1–3 hari dapat diperpanjang menjadi 1 tahun dalam bentuk produk krispi, sehingga mengurangi risiko produk terbuang karena busuk.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Pemanfaatan Produk Samping Penggilingan Padi sebagai Camilan Sehat Anak Usia Sekolah

Informasi TerkiniRiset Monday, 3 August 2026

Prodi PPA DTHV memulai kegiatan penelitian untuk pengembangan pangan inovatif yang bertujuan untuk memanfaatkan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan gizi di kalangan anak-anak.

Beras adalah makanan pokok di Indonesia, dan proses penggilingannya menghasilkan sejumlah besar produk samping, yaitu dedak padi yang dikenal juga sebagai bekatul. Secara tradisional, produk samping ini kurang dimanfaatkan dan sering kali digunakan sebagai pakan ternak. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekatul merupakan sumber vitamin B kompleks, yaitu tiamin (B1), asam nikotinat, riboflavin, dan vitamin B6. Bekatul memiliki komposisi nutrisi yag lengkap berupa protein, serat, vitamin, mineral, dan fitokimia bioaktif, sehingga menjadikannya kandidat yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi camilan sehat.

Sumber foto: Hello Sehat, Manfaat Bekatul untuk Kesehatan.

Kegiatan pengembangan produk di PPA DTHV bertujuan untuk mengubah produk samping ini menjadi pilihan camilan yang menarik bagi anak usia sekolah. Dengan menggabungkan bekatul ke dalam resep kukis yang diperkaya dengan tepung tempe, inisiatif ini berusaha untuk meningkatkan profil nutrisi makanan tersebut. Pendekatan inovatif ini tidak hanya menangani ketahanan pangan tetapi juga mempromosikan keberlanjutan lingkungan.

Tim dosen peneliti di PPA DTHV yang diketuai oleh Dr. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng. dengan tim dosen  Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T., Galih Kusuma Aji, S.T.P, M.Agr, Ph.D., dan Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. dan dibantu oleh mahasiswa DIV PPA yaitu Aulya Putri Larasati, Nadhifa Alya Febriana, dan Azizah Sholawah Fatah, serta teknisi laboratorium Rini Setyowati, S.TP, telah mengembangkan prototipe camilan yang lezat dan bergizi. Penelitian ini dapat terlaksana berkat hibah Penelitian Dosen DAMAS Sekolah Vokasi 2026. Peneliti berharap bahwa kebutuhan diet anak usia sekolah dapat terpenuhi dengan cara memberikan mereka nutrisi yang penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak Indonesia. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya mengenalkan anak-anak pentingnya makan yang sehat.

Sumber foto: Dokumentasi Pribadi.

Untuk mempromosikan camilan baru ini, tim peneliti telah mengorganisir uji sensoris untuk mengetahui kesukaan anak sekolah terhadap produk inovasi ini.  Acara ini bertujuan untuk mengenalkan camilan yang terbuat dari produk samping penggilingan padi. Umpan balik dari anak-anak sangat positif, dengan banyak yang mengungkapkan antusiasme terhadap rasa baru dan ide menggunakan bahan pangan inovatif.

Selain menyediakan pilihan camilan sehat, inisiatif ini juga mendukung petani lokal dan penggiling padi, khususnya dengan menggandeng mitra BUM Desa Binangun Jati Unggul Jatirejo Lendah Kulon Progo, yang memiliki usaha penggilingan padi. Dengan menciptakan pasar untuk produk samping padi, proyek ini mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan dan membantu meningkatkan mata pencaharian mereka yang terlibat dalam produksi padi. Pendekatan holistik ini sejalan dengan SDGs dengan mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan.


Sebagai kesimpulan, pemanfaatan produk samping penggilingan padi sebagai camilan sehat bagi anak usia sekolah merupakan langkah signifikan menuju pencapaian SDGs terkait ketahanan pangan dan gizi. Melalui pengembangan pangan inovatif, keterlibatan komunitas, dan praktik berkelanjutan, PPA DTHV membuka jalan untuk masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Penulis : Dr. Ir. Ratih Hardiyanti, S.T.P., M.Eng.

Editor : Putri Rousan Nabila, S.T., M.T.

Perkuat Legalitas dan Pemasaran Digital, Tim PkM PPA SV UGM Dampingi UMKM Pasta Bawang Merah Demangrejo

Uncategorized Friday, 31 July 2026

Sosialisasi SPP-IRT dan e-commerce diarahkan untuk meningkatkan keamanan pangan, kepercayaan konsumen, serta daya saing produk lokal.

Gambar 1. Tim PkM Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri SV UGM bersama peserta kegiatan di Gedung Field Research Center, Kulon Progo, Senin (20/7/2026).

YOGYAKARTA – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan sosialisasi Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dan e-commerce di Gedung Field Research Center (FRC), Kulon Progo, Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Kelompok Desa Prima yang terdiri atas Kelompok Wanita Tani serta Karang Taruna Sinar Mutiara, Kalurahan Demangrejo.

Gambar 2. Pembukaan di Ballrom Gedung Field Research Center, Kulon Progo Dipimpin oleh Dr. Ir. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S.

Kegiatan yang dipimpin oleh Dr. Ir. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S. tersebut bertujuan memperkuat pemahaman pelaku usaha mengenai legalitas dan keamanan pangan, sekaligus meningkatkan kapasitas pemasaran digital produk pasta bawang merah. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya mendorong produk lokal agar lebih dipercaya konsumen, memiliki akses pasar yang lebih luas, dan mampu bersaing secara berkelanjutan.

Perkembangan perdagangan berbasis digital membuka peluang besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menjangkau konsumen secara lebih luas. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh Kelompok Desa Prima karena keterbatasan literasi pemasaran digital. Di sisi lain, produk pasta bawang merah yang dikembangkan kelompok juga masih memerlukan pemenuhan aspek legalitas sebagai salah satu dasar penguatan mutu dan kepercayaan pasar.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, peserta dibagi ke dalam dua kelas. Anggota Kelompok Wanita Tani mengikuti sosialisasi SPP-IRT, sedangkan anggota Karang Taruna Sinar Mutiara mengikuti pelatihan e-commerce sebagai calon pengelola pemasaran produk secara digital.

Pada kelas SPP-IRT, Dr.Agr.Sc. Ir. Sri Wijanarti, S.T.P., M.Sc. menjelaskan pentingnya legalitas pangan bagi UMKM, persyaratan administrasi pengajuan SPP-IRT, serta penerapan sanitasi dan keamanan pangan sesuai Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPOB-IRT). Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai tahapan perizinan dan melakukan simulasi pengisian formulir pendaftaran melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA).

Sementara itu, pada kelas e-commerce, Anjar Kistia Purwaditya, S.T.P., M.Sc. memberikan materi mengenai pemanfaatan platform digital, strategi dasar pemasaran daring, dan pentingnya digitalisasi bagi pengembangan UMKM. Peserta juga diperkenalkan pada aplikasi pembuatan konten, termasuk Canva, untuk mendukung penyusunan materi promosi yang menarik, informatif, dan profesional.

Untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta, tim pelaksana memberikan pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah kegiatan. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat efektivitas pembelajaran sekaligus menjadi dasar bagi pendampingan lanjutan.

Melalui kegiatan ini, Kelompok Desa Prima diharapkan mampu memahami alur pengurusan SPP-IRT dan menyiapkan dokumen persyaratan sebagai langkah awal legalisasi produk. Pada saat yang sama, anggota Karang Taruna diharapkan mampu mengelola akun media sosial, menyusun konten promosi, dan mengembangkan pemasaran digital secara mandiri.

Program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penguatan kapasitas usaha, legalitas produk, keamanan pangan, penerapan CPPOB-IRT, dan perluasan akses pasar bagi UMKM. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui peningkatan kapasitas dan partisipasi ekonomi anggota Kelompok Wanita Tani, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi digital dan platform e-commerce untuk mendukung inovasi pemasaran industri pangan skala kecil. Tim PkM PPA SV UGM berharap kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi menjadi awal dari proses pendampingan yang berkelanjutan hingga produk pasta bawang merah Demangrejo memperoleh legalitas, memiliki identitas pemasaran yang kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Tingkatkan Efisiensi Pengemasan, Mahasiswa Magang Lakukan Analisis OEE di Bogasari Flour Mills

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 30 June 2026

Bekasi – Pengalaman magang menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk mengenal dunia kerja secara langsung. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam lingkungan industri yang sesungguhnya. Hal tersebut dialami oleh Naela Salsabilla, mahasiswa yang melaksanakan magang di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills, yang berlokasi di Kawasan Industri MM2100, Jl. Selayar Kav. D.9, Bekasi 17520.

Kegiatan magang dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu pada 2 Maret sampai 2 Juni 2026. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa ditempatkan di Divisi Produksi. Penempatan ini memberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai tahapan dalam proses produksi tepung terigu, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan gandum, hingga proses pengemasan produk akhir.

Pada tahap awal, mahasiswa mempelajari proses intake dan wheat silo. Kegiatan ini meliputi pengamatan terhadap proses penerimaan gandum sebagai bahan baku utama, mulai dari penimbangan, pemeriksaan kualitas awal, hingga penyimpanan di wheat silo. Tahap ini memiliki peranan penting karena kualitas gandum yang masuk akan berpengaruh terhadap hasil produksi tepung terigu. Oleh karena itu, pengelolaan bahan baku harus dilakukan secara tepat agar kualitasnya tetap terjaga sebelum memasuki proses produksi.

Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai proses milling atau penggilingan gandum. Dalam proses ini, terdapat beberapa tahapan yang saling berkaitan, seperti cleaning, conditioning, grinding, dan separation. Setiap tahapan memiliki fungsi tersendiri untuk menghasilkan tepung terigu yang sesuai dengan standar mutu perusahaan. Melalui pengamatan langsung di lapangan, mahasiswa dapat mengetahui cara kerja mesin produksi serta pentingnya pengawasan pada setiap proses.

Kegiatan magang juga berlanjut ke bagian packing dan Quality Control (QC). Pada bagian packing, mahasiswa mempelajari alur pengemasan tepung terigu serta cara kerja mesin packing. Proses pengemasan menjadi tahapan penting karena produk yang telah dihasilkan harus dikemas dengan baik sebelum didistribusikan kepada konsumen. Sementara itu, pada bagian QC, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai pemeriksaan mutu produk selama proses produksi dan pengemasan. Pengendalian mutu dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan.

Salah satu kegiatan penting selama magang adalah penyusunan project dengan judul “Analisis Efisiensi Mesin Packing Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dalam Meningkatkan Kinerja Proses Pengemasan Tepung Terigu.” Project ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi di divisi packing, di mana masih ditemukan produk atau kemasan yang mengalami reject. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan efisiensi mesin maupun proses pengemasan.

Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas mesin packing. Melalui metode ini, kinerja mesin dapat dianalisis berdasarkan beberapa faktor, seperti tingkat ketersediaan mesin, performa mesin, dan kualitas hasil produksi. Hasil analisis tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi penyebab terjadinya losses atau kehilangan efisiensi, sehingga perusahaan dapat menentukan langkah perbaikan yang lebih tepat dalam meningkatkan kinerja proses pengemasan.

Selama mengikuti kegiatan magang, pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan untuk menyaksikan langsung proses produksi tepung terigu secara menyeluruh, mulai dari tahap intake hingga packing. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sebuah produk diproses dalam skala industri. Selain pembelajaran teknis, mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja, berkomunikasi dengan operator dan staf lapangan, serta memahami pentingnya kerja sama dalam proses produksi.

Dengan adanya kegiatan magang ini, mahasiswa memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat. Kegiatan magang ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman industri yang memperkuat kompetensi mahasiswa. Analisis efisiensi mesin menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui upaya peningkatan produktivitas proses produksi, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui optimalisasi efisiensi dan pengendalian mutu. Pengalaman tersebut sekaligus mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang adaptif dan siap memasuki dunia kerja, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Magang di PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Flour Mills memberikan wawasan yang lebih luas mengenai proses produksi tepung terigu, pengendalian mutu, serta efisiensi mesin dalam kegiatan industri. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Editor : AMR 

Penulis : Melany Ayudya

Terjun ke Lini Produksi Mondelez, Mahasiswa Dalami Kualitas Produk dan Efisiensi Manufaktur Pangan

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Thursday, 25 June 2026

Bekasi — Dunia industri manufaktur pangan menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan analisis yang kuat dalam setiap tahapan produksi. Pengalaman tersebut diperoleh Ferania Yusuf, melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, yang berlokasi di Jl. Jababeka VII Kav-K2, Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan magang berlangsung pada 12 Januari hingga 4 April 2026. Selama program berjalan, Ferania ditempatkan pada Production Line. Melalui penempatan tersebut, ia berkesempatan mempelajari secara langsung alur produksi, pengendalian mutu, performa mesin, hingga proses pengemasan dalam industri pangan berskala besar.

Melalui kegiatan ini, Ferania memperoleh pemahaman bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh kestabilan proses produksi, ketepatan pengaturan mesin, efektivitas kerja tim, serta konsistensi pengawasan di lapangan.

Salah satu project utama yang dikerjakan adalah Analisis Variasi Berat Produk pada Proses Sandwiching. Kegiatan ini berfokus pada pengamatan dan pengambilan data berat produk biskuit sandwich, khususnya pada proses pengisian krim. Pengambilan data dilakukan secara berkala pada seluruh row produksi untuk membandingkan berat base cake, krim, dan produk akhir. Melalui project ini, mahasiswa dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi berat produk serta kualitas hasil produksi.

Selain project utama, Ferania juga terlibat dalam kolaborasi project terkait Evaluasi Penyebab Waste Produk dan Performa Mesin. Kegiatan ini dilakukan melalui observasi langsung terhadap proses produksi, termasuk kondisi operasional mesin, perbedaan jenis mesin, kecepatan produksi, serta sistem pengaturan pada masing-masing row. Pengamatan tersebut membantu mahasiswa memahami hubungan antara performa mesin dan kualitas produk yang dihasilkan.

Project lainnya adalah Analisis Loss Packaging dan Monitoring Proses Produksi. Pada kegiatan ini, Ferania melakukan pengamatan terhadap proses pengemasan untuk mengidentifikasi penyebab kehilangan material packaging. Fokus pengamatan meliputi proses pergantian roll, tahap awal produksi, serta berbagai bentuk ketidaksesuaian kemasan, seperti seal yang tidak sempurna, lipatan yang kurang presisi, dan ketidaksesuaian cetakan. Selain itu, dilakukan pula monitoring terhadap checklist produksi dan cleaning untuk memastikan kesesuaian antara pencatatan dan kondisi aktual di lapangan.

“Selama magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga, terutama dalam memahami alur produksi di industri pangan berskala besar. Saya belajar bahwa kualitas produk tidak hanya bergantung pada bahan baku, tetapi juga pada ketelitian proses, performa mesin, kerja sama tim, dan pengawasan yang konsisten di lapangan,” ujar Ferania.

Kegiatan magang ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan pengalaman pembelajaran langsung di dunia industri. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja profesional.

Pembelajaran mengenai efisiensi produksi, performa mesin, dan pengurangan waste juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pengalaman ini, mahasiswa memahami pentingnya proses produksi yang efisien, terkontrol, dan berorientasi pada kualitas.

Tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, Ferania juga mengembangkan berbagai soft skill, seperti komunikasi profesional, kerja sama tim, kemampuan beradaptasi, ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Kemampuan berpikir analitis juga semakin terasah melalui proses identifikasi masalah dan pencarian solusi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Ferania menyampaikan bahwa salah satu hal paling berkesan selama magang adalah kesempatan untuk merasakan langsung dinamika dunia kerja di industri manufaktur pangan berskala besar. Lingkungan kerja yang terbuka dan suportif turut mendukung proses pembelajaran karena memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan terlibat langsung dalam kegiatan produksi.

Melalui kegiatan magang di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Cikarang Plant, diharapkan mampu memperkuat kompetensi teknis dan profesional di bidang industri pangan. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia kerja secara lebih nyata serta siap berkontribusi di lingkungan industri yang dinamis, kompetitif, dan berorientasi pada mutu.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

Inovasi Hijau UGM: Sulap Limbah Sekam Padi Menjadi Bioplastik Kemasan Pangan Berkelanjutan

Informasi TerkiniRiset Tuesday, 16 June 2026

YOGYAKARTA – Tim peneliti dari Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan sebuah inovasi material ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah sekam padi menjadi bahan baku bioplastik. 

Penelitian yang dipimpin oleh Annie Mufyda Rahmatika bersama timnya ini mengusung tema besar “Exploring the green syntheses, Technologies, and Material for Sustainable Future”. Langkah inovatif ini menjadi sumbangsih nyata dari dunia akademis dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. 

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen padi terbesar dunia, dengan hasil giling kering mencapai sekitar 54,75 juta ton per tahun. Namun, proses penggilingan ini juga menghasilkan limbah berupa sekam padi yang melimpah, yakni sekitar 20% dari total berat gabah kering. 

Selama ini, potensi sekam padi belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal, limbah pertanian ini memiliki kandungan kimiawi yang sangat berharga, yaitu selulosa sekitar 36–40%, hemiselulosa 12–19%, dan lignin 20%. Karakteristik selulosa dari sekam padi ini menyimpan keunggulan alami berupa kemampuan terurai secara hayati (biodegradability), struktur kristalinitas yang baik, kekuatan mekanis yang kokoh, serta sifatnya yang tidak beracun (nontoxic). 

Berbeda dengan proses isolasi selulosa konvensional di industri yang kerap menggunakan zat kimia berbahaya seperti klorin, amonia, atau asam kuat (seperti H2SO4 dan HCl) yang berisiko mengalami kebocoran dan mencemari lingkungan , tim peneliti UGM memilih jalur kimia hijau. 

Proses delignifikasi (pemisahan lignin) dilakukan menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) dan peracetic acid (asam perasetat). Penggunaan asam lemah sekaligus oksidan kuat ini dinilai jauh lebih aman, efisien, tidak menghasilkan produk sampingan pembusukan yang berbahaya, serta mampu memisahkan lignin dengan tingkat kemurnian selulosa yang tinggi. 

Secara teknis, proses pembuatan bioplastik ini melalui tiga tahapan utama:

  1. Isolasi Selulosa: Sekam padi diekstraksi di dalam autoklaf menggunakan NaOH dan dihidrolisis dengan peracetic acid, menghasilkan bubuk selulosa putih murni dengan rendemen (yield) mencapai 40% dan tingkat kristalinitas 30%. 
  2. Sintesis Carboxymethyl Cellulose (CMC): Selulosa yang didapat kemudian diubah menjadi CMC melalui proses alkalisasi dan karboksimetilasi menggunakan asam monokloroasetat, yang terbukti memenuhi standar nasional yang ditetapkan Indonesia. 
  3. Pembuatan Bioplastik: Bubuk CMC hasil sintesis diformulasikan dengan senyawa Polyethylene Glycol (PEG) sebagai agen pelentur (plasticizer), kemudian dicetak dan dikeringkan menjadi lembaran bioplastik. 

Karakteristik Unggul: Siap Gantikan Plastik Konvensional

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, formulasi terbaik ditemukan pada komposisi rasio seimbang  antara CMC dan PEG. Formulasi ini menghasilkan bioplastik dengan tingkat kejernihan (clarity) paling optimal. 

Lebih dari itu, bioplastik berbasis sekam padi ini menunjukkan karakteristik mekanis yang sangat bersaing dengan Polylactic Acid (PLA)—jenis plastik biodegradable komersil yang saat ini umum digunakan di dunia dari sisi Kekuatan Tarik (Tensile Strength), Regangan Putus (Elongation at Break), Massa Jenis (Density), dan Kemampuan Segel Panas (Heat-Sealability).

Melalui publikasi riset ini, tim Sekolah Vokasi UGM membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya terbarukan yang dilakukan secara bertanggung jawab mampu menjawab tantangan lingkungan global. Inovasi bioplastik sekam padi ini secara langsung mempercepat pencapaian tiga poin penting SDGs, yaitu: 

  • SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Mendorong lahirnya inovasi teknologi material baru berbasis riset sirkular domestik dan proses manufaktur berkelanjutan.
  • SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Mengurangi penumpukan limbah sektor agrikultur sekaligus menyediakan alternatif kemasan ramah lingkungan guna menekan ketergantungan pada plastik sekali pakai.
  • SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Berpotensi menekan emisi karbon global karena proses produksinya menghindari bahan bakar fosil dan tidak menghasilkan residu beracun yang merusak ekosistem bumi. 

Riset ini memberikan pandangan baru yang berharga bahwa dengan meminimalkan penggunaan asam kuat berbahaya, industri masa depan tetap mampu memproduksi material fungsional bernilai ekonomi tinggi tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan hidup. 

Dalami Riset dan Pengembangan Produk Pangan di PT Choice Plus Makmur

Informasi TerkiniKegiatan Mahasiswa Tuesday, 16 June 2026

Semarang — Pengembangan produk pangan tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam menciptakan formula, tetapi juga ketelitian dalam memahami karakteristik bahan, melakukan pengujian, serta mengevaluasi hasil secara berulang. Pengalaman tersebut diperoleh Latifah Khoirun Nisa, melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Kegiatan magang dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan, mulai 2 Februari hingga 25 Mei 2026. Selama program berlangsung, Latifah ditempatkan pada Divisi Research and Development (R&D). Melalui divisi ini, ia berkesempatan mempelajari secara langsung proses riset dan pengembangan produk, mulai dari identifikasi karakteristik bahan, penyusunan formula, trial-and-error formula produk, hingga evaluasi hasil agar sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan.

Dalam kegiatan magang tersebut, Latifah juga terlibat dalam proses uji hedonik, yaitu pengujian tingkat kesukaan panelis terhadap sampel produk. Hasil uji hedonik kemudian dianalisis sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan formula yang paling sesuai. Proses ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan produk pangan memerlukan tahapan yang sistematis, mulai dari percobaan, pengujian, analisis, hingga penyempurnaan formula.

Selain mempelajari formulasi produk, Latifah juga memperoleh pengalaman dalam pengujian beberapa jenis tepung. Pengujian tersebut meliputi kadar air, pH, gelatinisasi, dan parameter lainnya yang berkaitan dengan karakteristik bahan. Data hasil pengujian ini menjadi bagian penting dalam proses pengembangan produk karena dapat memengaruhi kualitas, tekstur, stabilitas, dan kesesuaian produk akhir.

Kegiatan magang ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya adalah SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran berbasis praktik langsung di dunia industri. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan analisis, serta kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Selain itu, kegiatan riset, formulasi, dan pengujian produk juga berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Proses pengembangan formula dan evaluasi produk menunjukkan pentingnya inovasi dalam industri pangan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu dan kebutuhan konsumen.

Pemahaman mengenai karakteristik bahan, efisiensi penggunaan bahan, serta evaluasi produk juga mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan R&D, mahasiswa belajar bahwa proses produksi pangan perlu memperhatikan kualitas, ketepatan formulasi, serta tanggung jawab dalam menghasilkan produk yang aman dan bermutu.

Pengalaman magang ini turut mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis yang relevan dengan dunia kerja. Selama magang, Latifah tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga belajar mengenai ketelitian, kedisiplinan, kemampuan menyelesaikan masalah, serta pentingnya beradaptasi dalam lingkungan kerja industri.

Latifah menyampaikan bahwa pengalaman paling berkesan selama menjalani magang adalah dapat melihat secara langsung proses di balik pembuatan suatu produk, mulai dari tahap awal pengembangan hingga produk siap diarahkan sesuai kebutuhan konsumen.

Melalui kegiatan magang di PT Choice Plus Makmur, mahasiswa Pengembangan Produk Agroindustri UGM diharapkan mampu memperkuat kompetensi di bidang riset dan pengembangan produk pangan. Program ini juga menjadi sarana penghubung antara dunia pendidikan dan dunia industri, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengalaman nyata sebagai bekal untuk berkontribusi di dunia profesional.

Penulis: Melany Ayudya

Editor: AMR

Peran Penting Pretreatment Sebelum Pengeringan dalam Mempertahankan Mutu Daun Bawang Kering

AgendaRiset Sunday, 14 June 2026

Gambar 1 Potongan Daun Bawang
Sumber: Google search

Daun bawang merupakan salah satu sayuran sekaligus bumbu yang memiliki peran penting dalam berbagai masakan. Di Indonesia, daun bawang banyak digunakan pada hidangan seperti soto, bakso, mi ayam, nasi goreng, hingga berbagai produk pangan olahan. Meskipun demikian, daun bawang memiliki kelemahan utama, yaitu kandungan air yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Kondisi ini menyebabkan umur simpan daun bawang segar relatif pendek dan menimbulkan potensi kehilangan hasil pascapanen. Salah satu solusi yang banyak dikembangkan untuk memperpanjang umur simpan daun bawang adalah melalui proses pengeringan. Namun, proses pengeringan bukanlah tanpa tantangan. Masalah yang sering muncul adalah hilangnya aroma segar khas daun bawang dan munculnya aroma gosong akibat paparan panas selama proses pengolahan, serta warna yang tidak merata serta lebih gelap.

Aroma khas daun bawang berasal dari berbagai senyawa volatil, terutama kelompok senyawa sulfur, yang sangat sensitif terhadap suhu tinggi. Ketika proses pengeringan dilakukan secara tidak tepat, sebagian senyawa volatil dapat mengalami degradasi sehingga karakter aroma segar berkurang dan pada saat yang sama, reaksi kimia akibat pemanasan dapat menghasilkan aroma gosong yang justru mendominasi produk akhir. Selain aroma, warna juga menjadi parameter penting dalam menentukan kualitas daun bawang kering. Warna hijau pada daun bawang berasal dari pigmen klorofil yang mudah mengalami kerusakan akibat panas dan aktivitas enzim. Kerusakan klorofil akibat panas juga dapat menyebabkan warna hijau berubah menjadi hijau kusam, kekuningan, bahkan kecoklatan. Oleh karena itu, berbagai penelitian berupaya mencari metode pengolahan yang mampu mempertahankan warna dan aroma secara bersamaan.

Gambar 2 Daun Bawang Kering

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan sebelum proses pengeringan adalah pretreatment atau perlakuan pendahuluan. Pretreatment bertujuan untuk menonaktifkan enzim yang dapat mempercepat kerusakan mutu, mempertahankan warna, serta membantu meningkatkan efisiensi proses pengeringan. Pentingnya pretreatment sebelum pengeringan juga menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Nadia Awalina Bunga Massita, S.T.P., MFoodScTech, dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengembangkan produk daun bawang kering yang memiliki umur simpan panjang tanpa kehilangan karakter flavor asli daun bawang. Dalam penelitian yang sedang dilakukan, dua jenis pretreatment dibandingkan, yaitu blanching menggunakan air panas (hot water blanching) dan blanching menggunakan uap panas (steam blanching). Kedua metode tersebut telah lama digunakan pada pengolahan sayuran, tetapi efektivitasnya terhadap kualitas daun bawang kering masih perlu dipelajari lebih lanjut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan uap panas mampu memberikan retensi warna hijau dan flavor yang lebih baik sekaligus mempercepat proses pengeringan dibandingkan perlakuan air panas. Fenomena ini diduga terjadi karena kontak langsung dengan air pada metode hot water memungkinkan sebagian komponen penting, termasuk pigmen dan senyawa pembentuk aroma, larut ke dalam media pemanasan. Sebaliknya, steam blanching mampu menonaktifkan enzim tanpa menyebabkan kehilangan komponen yang terlalu besar sehingga mutu bahan lebih terjaga. Temuan ini mengindikasikan bahwa steam blanching berpotensi menjadi metode yang lebih efektif untuk mempertahankan mutu daun bawang sebelum memasuki tahap pengeringan.

Penelitian ini juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12: Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui pengembangan teknologi pengeringan yang mampu memperpanjang umur simpan daun bawang tanpa mengurangi kualitas sensori secara signifikan, penelitian ini berkontribusi pada upaya mengurangi kehilangan hasil pascapanen (post-harvest losses) yang masih menjadi tantangan dalam rantai pasok produk hortikultura. Selain itu, pemanfaatan teknologi pengolahan yang tepat dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperluas peluang pemanfaatan hasil panen, serta mendukung ketersediaan bahan pangan yang lebih awet dan praktis bagi masyarakat. Dari perspektif SDG 12, penelitian ini mendorong produksi pangan yang lebih efisien dengan meminimalkan pemborosan bahan baku dan meningkatkan keberlanjutan sistem pangan melalui inovasi pengolahan berbasis ilmu pengetahuan.

Temuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan teknologi pengeringan daun bawang, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan produk bumbu-bumbuan kering berkualitas tinggi yang lebih praktis, tahan lama, dan memiliki karakter sensoris yang tetap disukai konsumen. Retensi flavor yang lebih baik menunjukkan bahwa struktur dan kualitas bahan dapat dipertahankan selama proses pengolahan. Selain itu, kemampuan steam blanching dalam meminimalkan kehilangan senyawa volatil membuka peluang untuk menghasilkan daun bawang kering dengan karakter aroma yang lebih mendekati daun bawang segar. Pada tahap penelitian selanjutnya, berbagai kondisi pengeringan akan dievaluasi lebih lanjut untuk memperoleh kombinasi proses yang optimal, tidak hanya dari sisi umur simpan tetapi juga kualitas flavor. Selain memberikan nilai tambah bagi komoditas hortikultura, inovasi ini juga berpotensi mendukung industri pangan dalam menyediakan bahan baku yang stabil dan mudah digunakan.

PPA Selenggarakan Kuliah Tamu Bahas Supply Chain di Era Disrupsi  

AgendaKegiatan Mahasiswa Sunday, 14 June 2026

Pada 1 Juni 2026, program studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) UGM menyelenggarakan kuliah tamu bagi mahasiswa angkatan 2024 pada mata kuliah Pengelolaan Rantai Pasok yang diampu oleh Nadia ABM, S.T.P., M.FoodScTech. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Sakun Boon-itt dari Thammasat Business School sebagai narasumber dengan topik ‘Supply Chain Management Under Disruption’. Melalui kuliah tamu, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai tantangan pengelolaan rantai pasok di tengah berbagai disrupsi global, mulai dari perubahan pasar dan perkembangan teknologi hingga tuntutan keberlanjutan. Kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya program studi untuk memperkaya perspektif mahasiswa melalui pembelajaran internasional.

Dalam pemaparannya, Prof. Sakun menjelaskan pentingnya membangun rantai pasok yang tangguh (resilient), adaptif, dan berkelanjutan. Materi yang disampaikan mencakup strategi kolaborasi rantai pasok, inovasi model bisnis, serta kemampuan perusahaan dalam merespons perubahan lingkungan bisnis yang dinamis. Mahasiswa juga diperkenalkan pada berbagai praktik pengelolaan rantai pasok berkelanjutan yang telah diterapkan oleh perusahaan di berbagai negara. Contoh-contoh tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana perusahaan dapat mempertahankan kinerja operasional di tengah ketidakpastian.

Topik yang dibahas mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa. Selama sesi diskusi, mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan kritis mengenai peluang dan tantangan penerapan konsep supply chain resilience dan sustainability di Indonesia, khususnya pada sektor pangan dan agroindustri. Diskusi tersebut menunjukkan ketertarikan mahasiswa untuk memahami bagaimana teori dan praktik yang dipaparkan dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi industri nasional. Interaksi yang berlangsung juga memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap isu-isu rantai pasok yang relevan dengan dunia kerja.

Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan tema SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran bersama akademisi internasional, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan pemahaman mengenai inovasi rantai pasok, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengenalan praktik pengelolaan rantai pasok yang berkelanjutan.

Menembus Dapur Industri Pangan: Mahasiswa Pelajari Mutu dan Keamanan Produk di PT Aerofood ACS Surabaya 

AgendaKegiatan Mahasiswa Sunday, 14 June 2026

Sidoarjo — Dunia industri pangan tidak hanya berfokus pada proses mengolah bahan menjadi produk jadi, tetapi juga menuntut sistem kerja yang ketat, pengawasan mutu yang detail, serta komitmen tinggi terhadap keamanan pangan. Pengalaman tersebut diperoleh lima mahasiswa, yaitu Rindiazafa, Fidela, Elisa, Alya, dan Zakia, selama mengikuti kegiatan magang di PT Aerofood ACS Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Kegiatan magang berlangsung pada 12 Januari hingga 8 Mei 2026. Selama program berjalan, para mahasiswa ditempatkan di tiga divisi berbeda, yaitu Produksi, Engineering, dan Quality Control (QC). Melalui penempatan tersebut, mahasiswa berkesempatan memahami secara langsung sistem kerja industri pangan skala besar yang terstruktur, higienis, efisien, dan berorientasi pada kualitas.

Pada divisi Produksi, mahasiswa mempelajari alur kerja yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan kepatuhan terhadap standar. Sementara itu, pada divisi Quality Control, mahasiswa mendalami pengendalian mutu, khususnya pada aspek mikrobiologi produk. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa pengawasan mutu memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan kelayakan produk pangan.

Di divisi Engineering, mahasiswa mengenal pentingnya pemeliharaan fasilitas dan peralatan produksi untuk mendukung kelancaran proses kerja. Fasilitas yang terawat dengan baik menjadi salah satu faktor utama agar kegiatan produksi dapat berjalan efektif dan sesuai standar keamanan pangan.

Selama magang, mahasiswa juga memperdalam penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), Good Manufacturing Practices (GMP), serta sanitasi sebagai bagian dari sistem keamanan pangan. Selain itu, mahasiswa turut menyusun beberapa luaran kegiatan, seperti Analisis Pengendalian Mutu Mikrobiologi Produk, Analisis HACCP dan GMP, serta Studi Tata Letak dan Efisiensi Fasilitas Produksi.

Kegiatan ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Selain meningkatkan pemahaman teknis, kegiatan magang ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill, seperti komunikasi profesional, kerja sama lintas divisi, kedisiplinan, ketelitian, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja industri.

“Kesempatan untuk terlibat langsung dalam sistem industri pangan skala besar menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Dari kegiatan ini, kami memahami bahwa standar kualitas tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga pada konsistensi penerapan di lapangan,” ungkap para mahasiswa.

Melalui kegiatan magang di PT Aerofood ACS Surabaya, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih utuh tentang pentingnya mutu, keamanan pangan, efisiensi produksi, dan kerja sama dalam dunia industri. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk terus berkembang dan siap berkontribusi di dunia profesional.

Penulis : Melany Ayudya

Editor : AMR

1234

Recent Posts

  • JATISARONO BERDAYA: Mendorong Ekonomi Inklusif Melalui Teknologi Tepat Guna dan Branding Berbasis AI Berkelanjutan
  • Lulusan D4 Pengembangan Produk Agroindustri UGM Siap Bersaing di Dunia Kerja
  • Transparansi & Kualitas Pembelajaran: Prodi PPA SV UGM Rilis Evaluasi Kepuasan Mahasiswa Semester Gasal TA 2025/2026
  • Pemanfaatan Produk Samping Penggilingan Padi sebagai Camilan Sehat Anak Usia Sekolah
  • Perkuat Legalitas dan Pemasaran Digital, Tim PkM PPA SV UGM Dampingi UMKM Pasta Bawang Merah Demangrejo

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY