Kalurahan Jatisarono, Nanggulan, memiliki potensi lahan persawahan dan pekarangan yang luas mencapai lebih dari 400 hektar. Namun, tantangan utama yang dihadapi petani lokal adalah cepatnya kerusakan hasil panen jamur tiram yang hanya bertahan 1-3 hari. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pengembangan Usaha Produktif dan Pertanian Berkelanjutan,” tim dari Universitas Gadjah Mada hadir untuk memberikan solusi integratif yang mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 12 (Produksi yang Bertanggung Jawab).

Salah satu pilar utama pengabdian ini adalah edukasi preservasi dan pengolahan jamur. Jamur tiram yang memiliki kandungan air 85-95% sangat rentan layu. Kami memperkenalkan teknik pendinginan pada suhu 3-4°C yang mampu mengurangi kecokelatan hingga 75%. Lebih jauh lagi, melalui Teknologi Tepat Guna (TTG), jamur segar diolah menjadi Jamur Krispi. Inovasi ini bukan sekadar pengolahan biasa, melainkan strategi peningkatan nilai tambah:
- Masa Simpan: Meningkat drastis dari 3 hari menjadi 1 tahun.
- Nilai Tambah: Memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang masuk dalam kategori sangat tinggi.
- Efisiensi Ekonomi: Harga bahan baku Rp 20.000/kg dapat diubah menjadi produk bernilai setara Rp 200.000/kg

Sejalan dengan SDG 10, program ini menempatkan Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS sebagai mitra utama. Kami percaya bahwa keberlanjutan ekonomi harus bersifat inklusif. Pelatihan diberikan untuk memastikan anggota kelompok memiliki keterampilan manajemen usaha dan produksi yang mandiri. Strategi branding yang kami usung menggunakan prinsip 4C (Crunchy, Clean, Consistent, Community-Care), di mana aspek kepedulian terhadap pemberdayaan disabilitas menjadi jiwa dari merek tersebut. Dalam era digital, identitas visual adalah kunci daya saing. Proses desain kemasan dilakukan dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu UMKM menciptakan logo dan label yang profesional secara efisien. Strategi ini bertujuan agar produk lokal Jatisarono mampu menembus pasar yang lebih luas, baik melalui pasar digital maupun pusat oleh-oleh di Kulon Progo.
Program pengabdian masyarakat di Kelurahan Jatisarono ini secara spesifik dirancang untuk mendukung pencapaian tiga poin utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8, 10, dan 12. Berikut adalah detail kontribusi program terhadap masing-masing tujuan tersebut:
1. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Program ini berfokus pada pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
- Peningkatan Nilai Tambah: Pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.
- Penciptaan Lapangan Kerja Lokal: Transformasi dari penjualan jamur segar (seharga ±Rp 20.000/kg) menjadi produk olahan bermerek (setara ±Rp 200.000/kg) menciptakan peluang pendapatan yang lebih layak bagi petani lokal dan UMKM.
2. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan
Aspek utama dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat inklusif, yang memastikan kelompok rentan memiliki kesempatan ekonomi yang sama.
- Fokus pada Kelompok Disabilitas: Mitra utama kegiatan ini adalah Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS, di mana mereka dilatih untuk mengelola unit usaha produksi jamur krispi secara mandiri dan profesional.
- Integrasi Sosial: Pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan partisipasi sosial dan ekonomi penyandang disabilitas di Jatisarono, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat desa.
3. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Program ini mengusung prinsip pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya yang efisien melalui teknologi tepat guna.
- Pengurangan Pemborosan Pangan (Food Waste): Melalui teknik preservasi dan pengolahan, masa simpan jamur tiram yang semula hanya 1–3 hari dapat diperpanjang menjadi 1 tahun dalam bentuk produk krispi, sehingga mengurangi risiko produk terbuang karena busuk.
Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D
Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada
Penerima Beasiswa UPM–SEARCA














