Universitas Gadjah Mada Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang
    • Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri
    • Profil Lulusan
    • Prestasi Mahasiswa
    • Dosen
    • Teknisi Laboratorium
  • Pendidikan
    • Kurikulum
  • Riset
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Kemahasiswaan
  • Berita
  • Unduh
  • FAQ
  • Beranda
  • Pengabdian
Arsip:

Pengabdian

UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan

Informasi TerkiniPengabdian Monday, 14 September 2026

Sleman, 14 Agustus 2026 – Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kapasitas kelompok wanita tani (KWT) Guyub Rukun dan UMKM di Desa Purwobinangun, Sleman, melalui pelatihan manajemen ekonomi dan perencanaan usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UGM Skema Pengembangan Tahun 2026 yang diketuai oleh Sonia Dora Febri Esa, S.T.P.,M.Sc dari prodi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi UGM yang diarahkan agar pelaku usaha lokal tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga dapat mengelola keuangan dan merencanakan pengembangan usaha secara berkelanjutan.

Kegiatan berjudul “Penguatan Manajemen Ekonomi dan Perencanaan Usaha UMKM” tersebut dilaksanakan di Ruang Pertemuan Kantor Desa Purwobinangun dengan melibatkan KWT Guyub Rukun, perwakilan UMKM, perwakilan  KWT di Desa Purwobinangun, serta pendamping KWT dari UPT BP4 Wilayah Pakem.

Program ini merupakan bagian dari pendampingan masyarakat yang telah dilakukan secara bertahap sejak 2023. Pada tahap sebelumnya, pendampingan difokuskan pada perancangan dan pengembangan produk pangan lokal hingga fasilitasi sertifikasi halal dan pengajuan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) pada KWT Guyub Rukun. Memasuki 2026, program diarahkan pada penguatan aspek manajerial agar produk yang telah dikembangkan dapat didukung dengan pengelolaan usaha yang lebih baik.

Penguatan kapasitas tersebut relevan dengan besarnya peran UMKM dalam perekonomian Indonesia. Penguatan kemampuan manajemen dan literasi keuangan pelaku UMKM menjadi penting untuk mendukung keberlanjutan usaha.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat UGM bersama KWT dan pelaku UMKM Desa Perwobinangun dalam kegiatan penguatan manajemen ekonomi dan perencanaan usaha.

Materi pelatihan disampaikan oleh Elton Buyung Satrianto, S.E., MBA, dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi UGM. Peserta memperoleh pembekalan mengenai perancangan model bisnis, pengelolaan keuangan, penghitungan biaya produksi, hingga perencanaan keuntungan usaha.

Melalui pendekatan Business Model Canvas (BMC), peserta diajak memetakan elemen penting dalam usaha, mulai dari keunggulan produk, segmen pelanggan, aktivitas utama, hingga mitra yang dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan usaha. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya memisahkan keuangan pribadi dan usaha serta melakukan pencatatan keuangan secara rutin.

Pelatihan tidak berhenti pada pemahaman konsep. Peserta melakukan praktik menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), laba, dan target keuntungan (profit plan) berdasarkan produk yang mereka kembangkan. Melalui praktik tersebut, peserta dapat mengetahui struktur biaya produknya dan menentukan harga serta target keuntungan secara lebih terukur.

Peserta mempraktikkan penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan perencanaan keuntungan berdasarkan produk usaha masing-masing.

Perwakilan Pemerintah Desa Purwobinangun Warsono, S.Pd. selaku Ulu-Ulu (Kepala Seksi Kemakmuran) menyambut baik pendampingan yang dilakukan UGM. Penguatan kemampuan pengelolaan keuangan dinilai penting agar KWT dan pelaku UMKM mampu menjaga keberlanjutan usaha serta mengelola pendapatan dan biaya produksi secara lebih sehat.

Ketua KWT Guyub Rukun, Suyati, juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan perspektif baru bagi pelaku usaha. Pengembangan usaha, menurutnya, tidak cukup hanya dengan menghasilkan dan memasarkan produk, tetapi perlu didukung kemampuan mengelola keuangan dan merencanakan usaha.

Ketua Pelaksana PKM, Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., menjelaskan bahwa program dirancang sebagai pendampingan bertahap agar kelompok memiliki kapasitas untuk mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan.

“Pendampingan ini kami lakukan secara bertahap, mulai dari perencanaan produk hingga pengembangan usaha. Harapannya, KWT tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Sonia.

Setelah penguatan manajemen ekonomi dan perencanaan usaha, program akan dilanjutkan dengan analisis pasar dan penguatan branding produk KWT Guyub Rukun. Tahapan tersebut diarahkan untuk membantu kelompok memahami kebutuhan konsumen sekaligus membangun identitas produk yang lebih kuat dan memiliki daya saing.

Melalui pendampingan berkelanjutan, program Pengabdian kepada Masyarakat UGM di Purwobinangun diharapkan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mampu membangun kapasitas masyarakat dari hulu hingga hilir. Penguatan pengembangan produk, legalitas, manajemen keuangan, analisis pasar, dan branding diharapkan dapat mendorong KWT dan UMKM mengembangkan potensi pangan lokal menjadi usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Mendukung SDGs: SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Penulis : Setyo Nurcahyani

Tingkatkan Pemahaman Petani Bugel dengan Pemahaman Karakteristik dan Penanganan Pascapanen Melon Premium

Informasi TerkiniPengabdian Monday, 14 September 2026

Kegiatan penguatan kapasitas petani melalui teknologi pascapanen melon premium dilaksanakan di Greenhouse Melonku, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis, 10 September 2026 dan diikuti oleh 11 orang peserta dari Kelompok Tani Gisik Pranaji. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi petani untuk meningkatkan pemahaman mengenai karakteristik melon serta pentingnya penanganan pascapanen dalam mempertahankan mutu dan nilai ekonomi produk.

Gambar 1. Sesi Pemaparan Materi

Kegiatan mengangkat materi “Karakteristik Melon dan Urgensi Penanganan Pascapanen” yang disampaikan oleh Dr. Fahrizal Yusuf Affandi, S.T.P., M.Sc. Materi berfokus pada karakteristik buah melon, perubahan mutu setelah panen, serta berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam penanganan produk agar kualitas melon tetap terjaga hingga sampai ke konsumen. Melon merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi dan karakteristik mutu yang perlu diperhatikan secara khusus setelah panen. Penanganan yang kurang tepat dapat memengaruhi kondisi fisik, kesegaran, dan kualitas buah. Oleh karena itu, pemahaman mengenai karakteristik melon menjadi dasar penting bagi petani dalam menentukan penanganan yang sesuai.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik melon dan faktor-faktor yang memengaruhi mutu setelah panen. Materi kemudian diarahkan pada pentingnya penerapan teknologi pascapanen sebagai bagian dari upaya mengurangi penurunan mutu dan mempertahankan nilai jual melon premium. Kegiatan juga menjadi kesempatan bagi petani untuk berdiskusi mengenai kondisi yang dihadapi dalam pengelolaan melon di lapangan. Diskusi membahas penanganan buah setelah panen serta berbagai pertimbangan dalam mempertahankan kualitas produk sebelum dipasarkan. Interaksi tersebut membantu menghubungkan materi yang disampaikan dengan kebutuhan dan pengalaman petani.

Gambar 2. Sesi Tanya Jawab

Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian DPKM UGM Skema Terapan Tahun 2026 yang diketuai oleh Putri Rousan Nabila, S.T., M.T. guna mendorong penerapan pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi yang diterapkan merupakah hasil penelitian yang terintegrasi sehingga dapat diterapkan di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan mengenai karakteristik dan penanganan pascapanen diperkenalkan secara aplikatif untuk mendukung peningkatan kapasitas petani melon di Desa Bugel. Pelaksanaan kegiatan di Greenhouse Melonku turut memberikan konteks langsung terhadap pembahasan karena peserta berada pada lingkungan produksi melon. Pendekatan ini memungkinkan pengetahuan mengenai karakteristik dan penanganan pascapanen dipahami tidak hanya secara teoritis, tetapi juga dikaitkan dengan praktik budidaya dan pengelolaan hasil panen.

Program penguatan kapasitas petani ini dikembangkan melalui pendekatan multihelix dengan menempatkan kolaborasi berbagai pihak sebagai bagian dari penguatan ekosistem pertanian. Sinergi antara akademisi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan pihak terkait diharapkan dapat mendukung pengembangan komoditas melon secara berkelanjutan, mulai dari produksi hingga penanganan pascapanen dan pemasaran. Penguatan kapasitas petani melalui pengetahuan pascapanen turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan kapasitas dan potensi nilai ekonomi komoditas pertanian. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, khususnya melalui upaya mempertahankan mutu dan mengoptimalkan hasil pertanian setelah panen.

Melalui kegiatan ini, petani Bugel diharapkan semakin memahami pentingnya penanganan pascapanen dalam menjaga mutu melon premium. Peningkatan pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan hasil pertanian yang lebih efektif, meningkatkan nilai tambah produk, serta memperkuat kemandirian ekonomi lokal.

Penulis/Editor: Zainab Zahra/ Putri Rousan Nabila
Sumber/Foto: [Dokumentasi Tim Pengabdian DPKM UGM]

JATISARONO BERDAYA: Mendorong Ekonomi Inklusif Melalui Teknologi Tepat Guna dan Branding Berbasis AI Berkelanjutan

Informasi TerkiniPengabdian Tuesday, 18 August 2026

Kalurahan Jatisarono, Nanggulan, memiliki potensi lahan persawahan dan pekarangan yang luas mencapai lebih dari 400 hektar. Namun, tantangan utama yang dihadapi petani lokal adalah cepatnya kerusakan hasil panen jamur tiram yang hanya bertahan 1-3 hari. Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pengembangan Usaha Produktif dan Pertanian Berkelanjutan,” tim dari Universitas Gadjah Mada hadir untuk memberikan solusi integratif yang mendukung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 12 (Produksi yang Bertanggung Jawab).

Gambar 1. Narasumber pada kegiatan pengabdian masyarakat

Salah satu pilar utama pengabdian ini adalah edukasi preservasi dan pengolahan jamur. Jamur tiram yang memiliki kandungan air 85-95% sangat rentan layu. Kami memperkenalkan teknik pendinginan pada suhu 3-4°C yang mampu mengurangi kecokelatan hingga 75%. Lebih jauh lagi, melalui Teknologi Tepat Guna (TTG), jamur segar diolah menjadi Jamur Krispi. Inovasi ini bukan sekadar pengolahan biasa, melainkan strategi peningkatan nilai tambah:

  • Masa Simpan: Meningkat drastis dari 3 hari menjadi 1 tahun.
  • Nilai Tambah: Memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang masuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Efisiensi Ekonomi: Harga bahan baku Rp 20.000/kg dapat diubah menjadi produk bernilai setara Rp 200.000/kg
Gambar 2. Peserta dari UMKM dan KDK antusias mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat

Sejalan dengan SDG 10, program ini menempatkan Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS sebagai mitra utama. Kami percaya bahwa keberlanjutan ekonomi harus bersifat inklusif. Pelatihan diberikan untuk memastikan anggota kelompok memiliki keterampilan manajemen usaha dan produksi yang mandiri. Strategi branding yang kami usung menggunakan prinsip 4C (Crunchy, Clean, Consistent, Community-Care), di mana aspek kepedulian terhadap pemberdayaan disabilitas menjadi jiwa dari merek tersebut. Dalam era digital, identitas visual adalah kunci daya saing. Proses desain kemasan dilakukan dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu UMKM menciptakan logo dan label yang profesional secara efisien. Strategi ini bertujuan agar produk lokal Jatisarono mampu menembus pasar yang lebih luas, baik melalui pasar digital maupun pusat oleh-oleh di Kulon Progo.

Program pengabdian masyarakat di Kelurahan Jatisarono ini secara spesifik dirancang untuk mendukung pencapaian tiga poin utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8, 10, dan 12. Berikut adalah detail kontribusi program terhadap masing-masing tujuan tersebut:

1. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Program ini berfokus pada pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

  • Peningkatan Nilai Tambah: Pengolahan jamur tiram menjadi jamur krispi memberikan rasio nilai tambah sebesar 48%, yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.
  • Penciptaan Lapangan Kerja Lokal: Transformasi dari penjualan jamur segar (seharga ±Rp 20.000/kg) menjadi produk olahan bermerek (setara ±Rp 200.000/kg) menciptakan peluang pendapatan yang lebih layak bagi petani lokal dan UMKM.

2. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan

Aspek utama dari program ini adalah pemberdayaan masyarakat inklusif, yang memastikan kelompok rentan memiliki kesempatan ekonomi yang sama.

  • Fokus pada Kelompok Disabilitas: Mitra utama kegiatan ini adalah Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK) IKHLAS, di mana mereka dilatih untuk mengelola unit usaha produksi jamur krispi secara mandiri dan profesional.
  • Integrasi Sosial: Pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan partisipasi sosial dan ekonomi penyandang disabilitas di Jatisarono, sehingga mengurangi kesenjangan ekonomi di tingkat desa.

3. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Program ini mengusung prinsip pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya yang efisien melalui teknologi tepat guna.

  • Pengurangan Pemborosan Pangan (Food Waste): Melalui teknik preservasi dan pengolahan, masa simpan jamur tiram yang semula hanya 1–3 hari dapat diperpanjang menjadi 1 tahun dalam bentuk produk krispi, sehingga mengurangi risiko produk terbuang karena busuk.

Penulis : Satria Bhirawa Anoraga, Ph.D

Dosen, Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Universitas Gadjah Mada

Penerima Beasiswa UPM–SEARCA

Dorong Inovasi Pangan Lokal dengan Pengembangan Susu Nabati Berbasis Sorgum

Informasi TerkiniPengabdianRiset Wednesday, 27 May 2026

Dalam inisiatif yang inovatif untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong konsumsi yang berkelanjutan, peneliti (Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T.) di Program Studi Sarjana Terapan Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi, telah memulai pengembangan susu nabati yang terbuat dari kombinasi sorgum, kedelai, dan biji rami (flaxseed). Produk inovatif ini dirancang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan minuman sehat berbasis tanaman di pasar modern.

Gambar 1. Jenis serealia yang digunakan 
Sumber gambar: ChatGPT

Pemilihan sorgum sebagai bahan utama sangat signifikan, karena merupakan serealia lokal yang kaya serat dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional.  Kedelai berperan penting dalam formulasi ini, sebagai sumber utama protein nabati. Penambahan ini meningkatkan nilai gizi produk, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang peduli kesehatan. Flaxseed, yang dikenal kaya akan omega-3, serat pangan, dan antioksidan, juga ditambahkan untuk mendukung manfaat kesehatan dari susu nabati ini, menjadikannya pilihan yang seimbang bagi mereka yang mencari alternatif bergizi.

Tim peneliti menggunakan pendekatan berbasis konsumen, menganalisis preferensi konsumen terkait rasa, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan warna produk. Metodologi ini memastikan bahwa formulasi akhir sesuai dengan kebutuhan pasar modern dan harapan konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan adopsi pasar yang sukses. Seiring dengan meningkatnya tren gaya hidup sehat, vegan, dan intoleransi laktosa, produk susu nabati inovatif ini siap memenuhi permintaan dari berbagai kalangan konsumen. 

Lebih jauh lagi, inisiatif ini mendukung diversifikasi sumber pangan lokal, mendorong penggunaan tanaman lokal seperti sorgum. Dengan mengintegrasikan komoditas lokal ini ke dalam rantai pasokan pangan, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mempromosikan pola konsumsi yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya:

  • SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) : Mendukung diversifikasi pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pengembangan sumber pangan alternatif berbasis nabati.
  • SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) : Pengembangan inovasi pangan fungsional berbasis bahan lokal termasuk bentuk inovasi di sektor agroindustri pangan.
  • SDG 12 – Responsible Consumption and Production (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan lokal membantu mendorong sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan impor.

Sebagai kesimpulan, pengembangan susu nabati berbasis sorgum merupakan langkah signifikan menuju pencapaian ketahanan pangan, mendorong diversifikasi industri, dan mendorong konsumsi yang bertanggung jawab. Seiring dengan kemajuan penelitian ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi lebih banyak solusi pangan inovatif yang sejalan dengan tujuan global keberlanjutan dan kesehatan.

Gambar 2. Susu Nabati Berbasis Sorgum
Sumber : Dokumentasi Peneliti

Penulis : Sang Norma Lintang Asmara, S.T., M.T. 

Editor: Putri Rousan Nabila

Pengembangan UMKM Berbasis Potensi Lokal: Branding dan Sterilisasi Produk Pasta Bawang

Pengabdian Friday, 28 November 2025

Wates, Kulon Progo (16 Oktober 2025) – Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pengembangan UMKM Berbasis Potensi Lokal: Branding dan Sterilisasi Produk Pasta Bawang” di Field Research Center (FRC) SV UGM Wates, Kulon Progo. Pengabdian beranggotakan seluruh dosen prodi PPA yang sudah masuk di tahun ke 3. Kegiatan ini menjadi bentuk solusi atas permasalahan yang dihadapi Kelompok Wanita Tani (KWT) Amrih Makmur Desa Demangrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo. Pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi peserta pengabdian dalam memproduksi pasta bawang merah yang berkualitas serta tahan lama dan memberi informasi tentang branding produk.

Acara dibuka oleh Master of Ceremony (MC) dengan pembacaan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan. Sambutan pertama disampaikan oleh Galih Kusuma Aji, S.T.P., M.Agr., Ph.D., selaku Kaprodi Pengembangan Produk Agroindustri, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan pelaku UMKM dalam menciptakan inovasi berbasis potensi lokal. Pengabdian ini juga dihadiri oleh Gunawan selaku Lurah Demangrejo, beliau memberikan sambutan positif atas kolaborasi dalam kegiatan ini agar dapat meningkatkan perekonomian dan wawasan warga desa. Selanjutnya, Bu Ismi, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Demangrejo, turut memberikan sambutan dan apresiasi atas inisiatif kegiatan ini yang diharapkan dapat membantu peningkatan mutu serta daya saing produk olahan pangan mereka.

Kegiatan ini diketuai oleh Putri Rousan Nabila, S.T., M.T., selaku Koordinator Pelaksana Pengabdian. Di bawah koordinasinya, kegiatan disusun secara sistematis dengan menggabungkan pendekatan teoritis dan praktik langsung agar peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif.

Terdapat dua pemateri dalam kegiatan pengabdian ini yang merupakan dosen prodi PPA. Sesi pertama disampaikan oleh Satria Bhirawa Anoraga, S.T.P., M.Sc., yang membawakan materi “Strategi Branding Produk UMKM”. Peserta diajak memahami pentingnya identitas merek, desain kemasan yang menarik, serta strategi komunikasi visual untuk meningkatkan nilai jual dan kepercayaan konsumen. Dilanjutkan dengan sesi kedua oleh Sonia Dora Febri Esa, S.T.P., M.Sc., yang membahas “Sterilisasi Produk Pasta Bawang”. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada prinsip dasar sterilisasi, penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), serta teknik pengolahan yang dapat menjaga kualitas dan memperpanjang umur simpan produk. Sesi ini juga dilengkapi dengan demonstrasi langsung proses sterilisasi, sehingga peserta dapat mempraktikkan teknik yang dipelajari secara nyata. Semua informasi yang disampaikan pada pengabdian ini adalah hasil terbaik dan maksimal dari rangkaian percobaan sebelumnya yang dilakukan oleh mahasiswa prodi PPA dengan arahan dosen yaitu Dr. Sri Wijanarti.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dan pelaku UMKM, khususnya anggota KWT Amrih Makmur, dapat meningkatkan keterampilan dalam mengembangkan produk olahan yang lebih higienis, tahan lama, dan memiliki daya jual tinggi.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara tim pelaksana, narasumber, dan peserta sebagai simbol kolaborasi nyata antara akademisi dan masyarakat dalam mewujudkan pengembangan agroindustri berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Pendampingan Petani Kaliangkrik dalam Inovasi Produk Daun Bawang Kering

Pengabdian Tuesday, 28 October 2025

Fluktuasi harga daun bawang sering menjadi tantangan besar bagi petani di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Saat panen melimpah, harga jual daun bawang bisa turun drastis hingga membuat petani mengalami kerugian. Di sisi lain, muncul peluang baru ketika beberapa industri pangan menawarkan kerja sama untuk menjadikan petani sebagai pemasok daun bawang kering—bahan tambahan yang digunakan dalam produk mie instan. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pengolahan membuat petani belum mampu memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh industri.

Melihat kondisi tersebut, tim peneliti dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, berinisiatif menjalin kerja sama dengan para petani Kaliangkrik untuk mengembangkan teknologi pengeringan daun bawang yang efisien dan sesuai standar industri. Kegiatan ini dimulai dengan Focus Group Discussion (FGD) di lapangan untuk memetakan permasalahan yang dihadapi petani serta potensi pengembangan produk bernilai tambah.

Gambar 1. Focus Group Discussion (FGD) Bersama Petani dan Perangkat Desa
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sebagai tindak lanjut, para petani diundang ke laboratorium Sekolah Vokasi UGM untuk mengikuti pelatihan pengolahan daun bawang kering. Dalam pelatihan tersebut, petani diperkenalkan dengan alat cabinet dryer serta diajarkan bagaimana mengatur suhu, waktu pengeringan, dan perlakuan pendahuluan agar produk yang dihasilkan memiliki warna, aroma, dan kadar air yang sesuai dengan kebutuhan industri.


Gambar 2 dan 3. Kunjungan ke Laboratorium untuk Melaksanakan Praktik Langsung Penggunaan Cabinet Dryer
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tidak berhenti sampai di situ, tim peneliti bersama perwakilan petani juga melakukan serangkaian pertemuan lanjutan untuk mengevaluasi hasil pelatihan, mendiskusikan strategi produksi berkelanjutan, serta menyiapkan langkah konkret agar produk daun bawang kering dari Kaliangkrik dapat menembus pasar industri.


Gambar 4. Diskusi dengan Petani
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus menjadi mitra nyata bagi masyarakat, menjembatani hasil penelitian dan kebutuhan lapangan agar inovasi teknologi tepat guna dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok agroindustri lokal.

Inovasi Pengolahan Salak Pondoh dalam Mewujudkan Produksi Pangan yang Bertanggung Jawab

AgendaPengabdian Tuesday, 28 October 2025

Kecamatan Turi, Sleman, merupakan kawasan penghasil salak pondoh utama di Yogyakarta. Setiap panen raya, buah salak yang dihasilkan melimpah, namun tidak seluruhnya terserap oleh pasar. Sebagian buah yang tidak terjual berpotensi menjadi limbah dan menurunkan nilai ekonomi bagi petani. Kondisi ini mendorong tim dosen Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh Dr. Wildan Fajar Bachtiar, S.T., M.S. untuk melakukan penelitian mengenai pemanfaatan hasil panen salak melalui inovasi produk keripik salak dengan teknologi vacuum frying.

Penelitian ini melibatkan analisis dari aspek pasar, teknis produksi, hingga efisiensi proses untuk menilai potensi usaha yang berkelanjutan. Pengolahan dilakukan melalui tahapan pengupasan, pemotongan, pembekuan, penggorengan, penirisan minyak, dan pengemasan. Proses penggorengan dengan tekanan rendah sekitar –68 cmHg selama 90 menit terbukti menghasilkan keripik yang lebih renyah, tidak berminyak, dan tetap mempertahankan cita rasa asli buah salak. Teknologi ini juga mendukung pemanfaatan bahan baku secara optimal dan mengurangi potensi limbah selama produksi.

Sumber: Dokumentasi Peneliti
Gambar 1. Keripik Salak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal, tetapi juga menggambarkan penerapan proses produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pemanfaatan buah yang sebelumnya berisiko terbuang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi menunjukkan penerapan prinsip zero waste dalam pengolahan hasil pertanian. Oleh karena itu, proses produksi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan pengurangan dampak lingkungan.

Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) yang menekankan pentingnya pola produksi yang efisien, minim limbah, dan berkelanjutan. Melalui penerapan teknologi tepat guna dan pemanfaatan hasil panen lokal, inovasi keripik salak diharapkan dapat menjadi contoh penerapan praktik agroindustri yang berorientasi pada keberlanjutan sekaligus memperkuat daya saing produk pangan daerah.

Membuka Masa Depan Generasi Muda Temanggung: Penandatanganan MoU Kerjasama Sekolah Vokasi & SMKN 01 Temanggung

Informasi TerkiniPengabdian Tuesday, 4 February 2020

[masterslider id=”1″]

Recent Posts

  • Lulusan Pengembangan Produk Agroindustri UGM Angkatan 2020 Raih Penilaian Sangat Positif dari Industri
  • Dosen PPA UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Mengolah Sayuran dengan Cabinet Dryer
  • UGM Perkuat Manajemen Usaha KWT Guyub Rukun Purwobinangun melalui Pendampingan Berkelanjutan
  • Tingkatkan Pemahaman Petani Bugel dengan Pemahaman Karakteristik dan Penanganan Pascapanen Melon Premium
  • Penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi salah satu kunci meningkatkan nilai tambah produk pertanian, efisiensi agroindustri, transparansi produk, serta keberlanjutan ekonomi bagi seluruh pelaku rantai pasok.

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!
  2. SITI ZULAIKHA on Pengembangan Produk Agroindustri
  3. Anung Solo on Kurikulum
  4. Wisnu Hari Murti on Kurikulum
  5. esklapasawit on Peneriman Mahasiswa
Universitas Gadjah Mada

Program Studi Sarjana Terapan
Pengembangan Produk Agroindustri
Sekolah Vokasi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Yacaranda, Sekip Unit II
Yogyakarta, Indonesia 55281
Email: agroindustri-sv@ugm.ac.id
Telp.: (0274) 556771

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY